
‘Bodoh! Seharusnya aku memastikan identitasnya dulu sebelum setuju menikah dengannya.’ umpat Elora dalam hati. ‘Bagaimana kalau seandainya Varen itu tidak seperti yang kelihatannya? Bisa saja kan kalau dia itu sebenarnya anak orang kaya yang berpura-pura miskin? Aihhh…..aku kebanyakan baca novel jadi berpikir sampai kesana!’ keluhnya
Ting!
Pintu lift terbuka, Elora dan Bobby berjalan keluar dari dalam lift dan ketika mereka memasuki lobi keduanya merasa heran melihat banyak orang yang sedang mengelilingi Felix. Ada apa ini ramai-ramai? Kenapa mereka mengerumuni Felix? Bobby dan Elora pun mempercepat langkah untuk menghampiri kerumunan di lobi.
“Pak! Ijinkan saya ikut ya. Saya juga ingin mengucapkan selamat kepada Reina.” pinta Shania yang meminta ijin kepada bosnya itu untuk ikut menjenguk Reina.
Felix menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia tidak menyangka jika berita kehamilan Reina akan cepat tersebar padahal seingat Felix tadi dia hanya mengatakan kepada beberapa orang yang hadir diruang rapat.
“Kami dari bagian HRD juga ingin mengucapkan selamat untuk Reina. Jadi kalau bapak berkenan kita bisa berangkat bersama-sama.” ucap Kaifan yang membawa keranjang buah ditangannya.
Bukan hanya Kaifan saja tapi orang-orang dari divisi lain pun ingin ikut menjenguk Reina. Dan kebanyakan dari mereka adalah wanita, selain tidak mau kalah dari divisi lainnya mereka juga bersemangat menjenguk Reina karena ingin bertemu Varen. Mereka jadi punya alasan yang tepat untuk bisa bertemu Varen.
Tanpa Reina dan Elora ketahui bahwa ketampanan Varen sudah menjadi buah bibir para pegawai. Banyak dari mereka yang memuji-muji bahkan mengagumi ketampanan pria itu.
Jadi ketika mereka ditunjuk kepala divisi untuk mewakili divis mereka masing-masing, merekapun menerima dengan senang hati. Felix tambah bingung karena Varen pasti marah jika tahu rumahnya akan dikunjungi banyak orang.
Sekilas Felix melihat Elora dan Bobby yang berjalan menghampiri lalu dia pun mendapatkan ide cemerlang. “Ibu Elora dan Pak Bobby! Kalian ikut saya kerumah Reina.” tunjuk Felix.
Elora dan Bobby saling melempar pandang tidak paham kenapa mereka harus ikut dengan Felix.
“Tidak baik berkunjung kerumah orang malam-malam dengan beramai-ramai. Nanti disangka mau demo pula.” ujar Felix tersenyum.
“Jadi saya rasa saya akan membawa Pak Bobby dan Ibu Elora saja sebagai perwakilan dari kalian semua. Kalau ada yang mau dititipkan silahkan titipkan pada mereka.” setelah mengatakan hal itu, Felix melenggang pergi meninggalkan Elora dan Bobby yang langsung dikerumuni rekan kantornya.
Elora menatap Felix dengan tajam karena sudah lewat jam kantor dia jadi tidak segan-segan untuk mengungkapkan kekesalannya. “Maksud kamu apa meminta kami ikut menjenguk Reina?” tanya Elora dengan nada kesal menatap tajam pada Felix yang langsung membalikkan badan.
__ADS_1
Felix tersenyum kecil, “Aku hanya tidak ingin mereka semua pergi kerumah Reina. Dia sedang sakit dan butuh istirahat jadi aku mengajak kalian berdua sebagai perwakilan perusahaan.”
Elora mendelik, “Tapi ini sudah diluar jam kerja. Kami juga butuh istirahat setelah seharian bekerja kami juga lelah.”
Elora tidak terima jika dirinya dan Bobby harus dilibatkan dengan Reina. Lebih tepatnya dia tidak sudi bertemu dengan adiknya itu. Dia terlihat sangat marah karena dia ingin segera pulang.
“Aku kira kamu tidak keberatan menjenguk Reina karena dia adikmu. Benar kan?” ucap Felix dengan wajah tanpa dosa menatap Elora dan Bobby bergantian.
“Bu---bukan begitu. Kami juga berencana menjenguknya tapi bukan malam ini.” kilah Elora. Dia semakin kesal dan merutuki hubungan darahnya dengan Reina. Kalau sudah disangkut pautkan dengan status keluarga Elora selalu tidak bisa menolak.
Dia juga tak ingin dicap sebagai kakak yang jahat karena tidak mau menjenguk adiknya. Apalagi orang yang mengajaknya adalah Felix, bosnya.
“Jadi kalian memang tidak bisa ikut?” tanya Felix memastikan tapi nada suaranya sudah berubah.
“Baguslah kalau begitu kita pergi.” Felix masuk kedalam mobilnya sedangkan Bobby dan Elora pun masuk ke mobil mereka. Kedua mobil itu keluar dari area perkantoran dan melaju beriringan.
Dalam perjalanan, Felix menghubungi Varen dan memberitahu tentang kunjungannya untuk menjenguk Reina. Namun dia tidak memberitahu tentang kedatangan Bobby dan Elora yang ikut bersamanya.
Felix takut jika Varen melarangnya datang. Didalam mobil yang melaju dibelakang Felix, nampak Elora yang sedang kesal karena harus menyetujui permintaan Felix. Dia juga iri melihat perhatian para rekan kantornya kepada Reina, bahkan semuanya tampak antusias ingin menjenguk Reina.
“Sial! Padahal Reina pegawai baru dikantor tapi kenapa sudah banyak yang peduli padanya?” gerutu Elora sambil melirik titipin untuk Reina yang memenuhi jok belakang mobilnya.
Berbeda dengan Elora yang terus mengomel, justru Bobby tampak senang karena akan bertemu dengan mantan istrinya. Dia sudah tidak sabar ingin memastikan anak yang ada dalam kandungan Reina adalah anaknya.
Tadinya Bobby akan mencuri-curi waktu untuk menemui Reina tapi dia bersyukur malam ini Felix justru mengajaknya dan Elora untuk menjenguk. Tiba-tiba seringai muncul di bibir Elora, dia menduga-duga tempat tinggal Reina saat ini.
__ADS_1
Mengingat kakek Varen yang hanya mewariskan sepetak tanah dan cerita orang tuanya yang mengatakan bahwa keadaan rumah yang ditempati Reina sudah tua.
Elora sangat yakin jika Reina tinggal ditempat yang tidak layak huni.Mobil Bobby memasuki jalanan disekitar rumah Reina dan begitu memasuki pekarangan rumah, Elora tercengang melihat bangunan rumah yang ternyata sangat unik. Ekspresi wajah Elora mengeras saat menyadari rumah antik Reina dibangun diatas tanah yang luas.
‘Aku tidak tahu Varen akan mendapatkan warisan tanah dilokasi strategis seperti ini. Harga tanah disini pasti sangat mahal.’ gumamnya dalam hati. Bobby memarkirkan mobilnya berdampingan dengan mobil Felix.
Begitu turun dari mobil, Bobby terkesima dengan rumah yang ditempati Reina. Mungkin bagi orang awam rumah itu terlihat tua dan menyeramkan.
Tapi berbeda bagi Bobby yang paham dengan seluk beluk bangunan. Menurut pengalaman Bobby, rumah Reina dibangun dengan seni arsitektur tinggi dan membutuhkan biaya mahal untuk membangunnya.
Dia memandang rumah itu dengan takjub mengagumi interior luar rumah yang sangat uni sehingga Bobby menebak jika bagian dalam rumah pasti sama bagusnya.
“Reina tinggal dirumah ini? Kecil sekali! Bangunannya juga tua.” cibir Elora saat melihat Bobby mengamati bangunan tempat tinggal Reina dengan seksama seolah sedang meneliti struktur rumah itu.
“Jangan salah! Harga rumah ini bahkan jauh lebih mahal dibandingkan rumahku! Bangunannya dibangun dengan menggunakan bahan berkualitas tinggi.” celetuk Bobby.
Elora ternganga dengan mata membulat lalu melirik suaminya. “Kamu yakin rumah ini mahal?”
Bobby mengangguk tanpa melirik istrinya.
‘Sial! Seharusnya aku menyelidiki semuanya sebelum bercerai dengan Varen. Bodohnya aku! Aku harus membuat perhitungan dengan Varen!’ bisik hati Elora yang merasa sudah tertipu.
“Ayo masuk.” ajak Felix kepada Bobby dan Elora. Tak lupa dia meminta supir untuk mengeluarkan seluruh barang titipan dari mobil Bobby. Ketika mendengar suara mobil diluar rumahnya, Varen pun bergegas menyampirkan selendang ke tangan Reina. Sejak Felix menelepon dan memberitahu tentang kedatangannya, Varen sibuk berbenah rumahnya.
Dia juga membantu Reina bersiap-siap. Dia sudah meminta Reina untuk berbaring ditempat tidur tapi Reina menolak karena bosa sudah tiduran seharian. “Kalau kamu merasa pusing harus bilang. Jangan memaksakan diri menyambut tamu.” ucap Varen.
Reina menjawab dengan menganggukkan kepakanya. Kemudian Varen membukakakn pintu mengeryit melihat kedatangan Felix yang tidak sendirian.
__ADS_1