TUKAR PASANGAN

TUKAR PASANGAN
BAB 92. MAU KAWIN LARI


__ADS_3

Sudah hampir satu jam Reina menunggu Verdi tapi dia masih belum muncul juga. Hampir seminggu ini Verdi selalu datang terlambat dan itu membuat Reina kesal. Terpaksa Reina harus menelepon bosnya. Reina pun menekan nomor ponsel Verdi namun tidak ada jawaban tapi Reina tidak menyerah begitu saja. Dia kembali menelepon Verdi.


 


“Reina?” suara Verdi terdengar serak seperti orang baru bangun tidur.


“Anda baru bangun? Apa anda lupa jika hari ini ada dokumen yang harus ditandatangani?”


“Semuanya sudah aku kerjakan. Buka saja laptopku. Oh iya! Aku akan ke kantor setelah jam makan siang nanti. Kamu handle dulu semua pekerjaanku.” Verdi mematikan sambungan telepon begitu saja.


 


Reina menatap layar ponselnya dengan kesal. Dia pun segera menyalakan alptop milik bosnya dan dia pun tertegun melihat foto dirinya dijadikan wallpaper pada laptop Verdi.


“Apa-apaan ini?” keningnya mengeryit tak percaya jika bosnya menjadikan fotonya jadi wallpaper. Mendadak degup jantung Reina semakin kencang.


 


Tak terasa waktu berjalan cepat, Reina termenung seraya menatap layar laptop didepannya. Diliriknya jam yang sudah menunjukkan 13.45 siang. Tatapannya beralih dari pintu ruangan Verdi.


Beberapa menit lalu Verdi datang dan sekarang sedang bicara dengan neneknya. Tadi tak berselang lama setelah kedatangan Verdi, Nyonya Samara masuk ke ruangannya.


BRAK!


“Jangan mengharapkan restuku! Aku tidak akan pernah mengizinkanmu menikahinya!” terdengar suara barang yang dilempar disertai teriakan marah Samara yang menggelegar.


Reina dan kedua rekannya terlonjak kaget. Tak lama setelah teriakan Nyonya Samara terdengar, Verdi menutup kaca ruangannya dan semuanya terasa hening.


 


Reina yakin kalau Verdi mengaktifkan mode kedap suara dalam ruangannya. “Bu Reina, apa yang terjadi? Apa Pak Verdi akan menikah dan Nyonya Samara tidak menyetujuinya?” tanya Windy dengan antusias, dia terlihat sangat penasaran.


“Iya bu. Sebenarnya ada apa dengan Pak Verdi dan Nyonya Samara?” sahut Tiara ikut penasaran.


 


Reina menghela napas menatap Windy dan Tiara dengan tajam. “Kerjakan saja pekerjaan kalian! Jangan ikut campur urusan orang lain! Masalah pribadi Pak Verdi bukan urusan kita!” jawab Reina dengan suara yang tenang namun jantungnya berdebar kencang. Perasaan Reina tidak tenang.


“Nenek! Tunggu Verdi…..dengarkan dulu penjelasan Verdi!”


 


Pintu ruangan Verdi terbuka dan terlihat Verdi yang sedang memohon sambil mengejar langkah neneknya. Reina melihat keduanya pergi menuju ke lift. Matanya melebar saat Samara menampar Verdi dengan sekuat tenaga. Tak lama Verdi kembali keruangannya dengan langkah gontai dengan pipi yang memar akibat tamparan neneknya.


 

__ADS_1


“Tiara! Handle semua panggilan masuk untuk Pak Verdi. Katakan saja pak Verdi sedang rapat.”


“Baik bu.” Tiara mengangguk. Reina pun bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke pantry. Dia membuat teh hangat dan mengambil irisan lemon lalu Reina juga mengambil es batu. Kemudian dia membawanya keruangan Verdi.


 


Saat masuk terlihat Verdi yang sedang bersandar dikursinya sambil memejamkan matanya. “Wajah anda agak bengkak sebaiknya segera diobati dan dikompres.” ucap Reina seraya menempelkan alat kompres dipipi Verdi. Mata pria itu terbuka dan menatap Reina dengan sendu. Iris biru Verdi yang selalu terlihat tegas dan tajam kini terlihat rapuh.


 


Nampak kesedihan dan keputusasaan dalam sorot matanya. Reina meraih tangan Verdi dan membimbingnya untuk memegang kompres yang tertempel dipipinya.


“Kompres bagian yang sakit biar tidak bengkak.” ucap Reina. Dia hendak melepaskan tangannya tapi Verdi menahannya.


“Tolong lakukan untukku.” pintanya.


 


Reina menatap Verdi dengan lekat, pipu Verdi terlihat bengkak dan sudut bibirnya berdarah. Sorot mata Verdi yang redup seakan meminta pertolongan darinya. Iris birunya yang selalu membuat Reina kesal kali ini membuatnya merasa iba. Reina melepaskan tangan Verdi yang menyentuh tangannya.


“Apa wanita itu sangat berharga? Sampai-sampai anda harus bertengkar dengan nenek anda.”


 


“Dia lebih berharga dari apapun. Bahkan dari diriku sendiri.” jawab Verdi.


 


Reina tertegun sambil menatap wajah Verdi yang terlihat datat dan tenang. Verdi sangat pandai menyembunyikan emosinya sama seperti Varen membuat Reina tersenyum tipis.


“Cinta memang buta! Lalu apa yang akan anda lakukan selanjutnya? Menikah diam-diam atau anda mau kawin lari saja?”


 


Tiba-tiba Verdi tertawa sambil meringis. Reina mengeryit tidak mengerti kenapa bosnya tertawa seperti itu. Reina akui tawa Verdi mampu membuat jantungnya berdebar kencang tak karuan. Inilah alasannya dia membenci Verdi karena pria itu membuat jantungnya selalu berkhianat kepada Varen.


“Kawin lari? Aku tidak akan melakukan perbuatan pengecut seperti itu.” jawab Verdi.


 


“Apapun yang terjadi, aku akan dapatkan restu Nenek sebelum pernikahan kami terjadi.” ucapnya.


Reina mendengus karena;;; rasa percaya diri Verdi sudah kembali. “Kalau begitu saya hanya bisa mendoakan semoga usaha anda berhasil!” Reina menjauh dari Verdi dan menyodorkan tehnya.


“Minumlah! Teh ini akan membuat perasaan anda lebih tenang.” ucap Reina.

__ADS_1


 


 Verdi langsung mengambil cangkir berisi teh itu dari tangan Reina. Eskpresi wajahnya menunjukkan senyum datar, kadang Reina merasa bingung dan tak mengerti dengan orang-orang seperti bosnya ini yang irit ekspresi.


Apa mereka tidak bosan menekuk wajah sepanjang hari tanpa senyum? Apakah orang-orang seperti bosnya ini bisa bersikap rileks layaknya orang lain?


 


Apa yang sebenarnya membuat mereka begitu pelit senyum, sulit untuk terlihat ceria, marah atau kesal? Apa mereka rugi besar kalau mengekspresikan perasaan mereka sendiri? Bukankah lebih melelahkan berekspresi datar dan dingin seperti itu?


“Kalau sudah tidak ada yang lainnya, saya harus kembali bekerja. Permisi.”


 


Reina membawa nampan dan alat kompres lalu berbalik dan melangkah keluar dari ruangan bosnya itu.


“Reina!” panggil Verdi. Reina menoleh menatap pria itu seraya mengeryitkan dahinya. “Terima kasih.” ucap Verdi yang hanya dibalas Reina dengan senyum tipis kemudian melangkah keluar dari ruangan. Setelah dia menutup pintu dibelakangnya, seorang OG segera menghentikannya.


 


“Bu Reina. Biar saya saja yang bawakan ke pantri.” ujar OG yang kebetulan baru selesai membersihkan lantai. Dia pun mengambil nampan dari tangan Reina lalu pergi ke pantri. Sedangkan Reina kembali duduk di kursi kerjanya, tatapannya tertuju ke ponselnya. Dengan ragu dia meraih ponsel lalu mencoba menelepon ibunya.


 


“Mama…..” sapanya ketika ibunya sudah menjawab panggilan teleponnya.


“Ada apa kamu menelepon?” tanya Indira masih seperti biasanya, nada dingin.


“Mama mengenal Nyonya Samara Bimantya? Pemilik perusahaan tempat aku dan Elora bekerja?”


“Hmmmm! Memangnya kenapa dengan nenek sombong itu?” tanya Indira.


 


“Ehm…..begini ma. Reina mau menemuinya sore ini. Bisakah mama siapkan buah tangan untuk kubawa kesana nanti? Aku bingung harus membawa apa untuknya.” jawab Reina.


Indira tidak merespon dan keduanya sama-sama diam beberapa menit. Dari seberang telepon Reina hanya bisa mendegar suara ribut-ribut para pelayan cafe.


 


“Mama akan siapkan untukmu. Jam berapa kamu mau menemuinya? Nanti mama suruh supir mengantarmu kesana.” ujar Indira lagi.


“Sepulang kerja ma. Tapi Varen…...”


“Biar mama yang urus soal itu. Pastikan saja kamu berpenampilan rapi dan jaga sopan santunmu. Wanita angkuh itu akan menghinamu habis-habisan kalau kamu tidak terlihat rapi. Jangan permalukan dirimu sendiri.”

__ADS_1


__ADS_2