TUKAR PASANGAN

TUKAR PASANGAN
BAB 76. RASA CINTA DAN BENCI


__ADS_3

Verdi kembali berdiri kemudian menutup pintu lift. Dia menekan tiga kali tombol lift berbentuk tanda panah keatas. Tak lama lift pun kembali melaju menuju keatas. Tanpa mempedulikan penolakan Reina sebelumnya Verdi meraih bahu Reina dan membuatnya berdiri.


“Kamu boleh marah setelah tangismu reda.” ucapnya lalu memapah Reina dan membawanya keluar lift.


 


Reina yang masih bingung kemana Verdi akan membawanya hanya bisa pasrah. Apalagi Verdi memaksanya terus berjalan dan saat Verdi mengajaknya melewati pintu berwarna putih, Reina terkejut melihat pemandangan kota yang terbentang luas dengan langit biru yang menjulang diatas mereka. Verdi melepaskan pegangan tangannya dibahu Reina.


 


Kemudian membuka jas mahalnya dan menggelarkan dilantai. “Duduklah! Udara disini sangat segar dan pemandangannya juga indah. Kamu pasti merasa lebih rileks setelah duduk dan menikmati panorama disini.” ucapnya.


Dengan tubuh yang masih terisak Reina pun menghampiri Verdi. Dan benar saja ditempatnya berdiri dia bisa melihat semuanya.


 


Pemandangan lebih indah karena tempatnya lebih tinggi. “Indah bukan? Dari sini kamu bisa melihat pemandangan kota dengan jarak yang lebih jah. Ini tempat tertinggi di gedung perusahaan kita.” ucap Verdi seraya duduk diatas lantai lalu menarik tangan Reina agar duduk diatas jas miliknya. Reina diam seraya mengusap air matanya.


 


Dia masih saja menangis seakan airmatanya tidak mau berhenti keluar. Bahunya pun masih bergetar karena isakannya yang tertahan. “Menangislah kalau masih ingin menangis. Lebih baik menangis ditempat terbuka seperti ini daripada didalam ruangan. Kamu hanya akan merasa pengap jika menangis disana. Anggap saja aku tidak ada, jangan hiraukan aku.”


 


Mendengar kata-kata Verdi membuat isakan Reina mulai terdengar yang berawal dari suara isakan lama-lama berubah menjaadi tangisan. Tangis Reina menggaung terdengar menyedihkan dan memilukan hati.


Verdi etrenyuh mendengar tangisan Reina, hatinya pun ikut bersedih. Verdi merebahkan tubuhnya seraya menumpukan kedua tangannya dibawah kepala.


 


Dia memejamkan matanya seketika bayangan seorang anak perempuan bermain-main dalam ingatannya. Anak perempuan yang cantik dan lucu yang selalu saja menangis. Verdi sering membuat anak perempuan itu menangis dengan mengganggunya atau merebut mainannya.


 


Flashback on


Dua puluh tahun silam.


“Ayen….pemen eina dibuang Eloya. Huaaaaa!” seorang anak perempuan berusia tiga tahun mengadu sambil menangis.


Dia menangis seraya menatap permen loli bertanah ditangannya. Anak laki-laki yang usianya lebih tua tiga tahun darinya itu memberikan permen miliknya. “Varen ganti dengan ini.”


 

__ADS_1


Anak perempuan itu menggeleng seraya mengacungkan permennya. “Pemen eina Ayen….hu hu hu.”


“Varen belikan permen yang baru ya?” anak laki-laki itu memegang tangan anak perempuan dan mengajaknya pergi. Namun anak perempuan itu malah menangis sambil berjongkok.


“Pemen eina Ayen….pemen eina…..” lagi-lagi anak perempuan itu mengacungkan permen loli miliknya.


 


Anak laki-laki itu mengambil permen loli milik anak perempuan lalu menjilatnya hingga tanah yang menempel di permen itu hilang. “Ini sudah bersih. Jangan menangis lagi nanti kamu jelek.” ucap anak laki-laki itu seraya menyerahkan kembali permen loli yang sudah bersih. Seketika itu juga tangis anak perempuan itu berhenti.


 


“Pemen eina?” tanya anak perempuan itu terisak. Anak laki-laki itu mengangguk sambil tersenyum. Tangan kecil anak perempuan itu terulur mengambil permen miliknya.


“Pemen Ayen.” pinta anak itu seraya mengulurkan telapak tangan kirinya. Anak laki-laki itu cemberut karena merasa tidak rela permennya juga diminta.


 


“Pemen Ayen!” pekik anak perempuan itu dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Mau tidak mau anak laki-laki itu menyerahkan permen miliknya. “Janji tidak nangis lagi ya?” tanya Varen.


Anak perempuan itu mengangguk seraya mengambil permen yang diulurkan kepadanya. Sambil tersenyum anak perempuan itu memasukkan kedua permen itu kedalam mulut kecilnya.


Flashback off


 


“Kenapa Reina selalu menghindari percakapan tentang Verdi?” Sekuat apapun Verdi memikirkan alasannya tapi dia tidak menemukan jawabannya. Sangat mustahil bagi seseorang membenci sekaligus menyukai orang yang sama.


 


Apalagi dalam waktu bersamaan tetapi Reina melakukannya. Reina hanya menginginkan Varen tanpa mau menerima keberadaan Verdi. Dan hal itu diperkuat dengan penuturan Reina sendiri didalam lift kalau Reina sangat membencinya.


‘Apa yang harus kulakukan agar kamu mau menerimaku? Aku dan Varen adalah orang yang sama. Kenapa kamu membedakan kami?’ bisik hatinya.


 


Tangannya terulus ingin menyentuh punggung Reina namun berakhir dengan kepalan tangan kosong diudara. Tiba-tiba keberanian Verdi untuk jujur menciut. Bagaimana kalau Reina tidak mau memaafkannya?


Bagaimana kalau Reina malah membenci Varen juga? Bagaimana kalau Reina menjadikan kebohongannya sebagai alasan untuk berpisah darinya.


 


Memikirkan itu semua membuat hatinya dipenuhi ketakutan. Verdi tidak mau kejujurannya malah berdampak buruk bagi hubungannya dengan Reina.

__ADS_1


‘Apa yang harus kulakukan sekarang? Apakah aku sebaiknya berkata jujur saja padanya? Atau aku tetap diam dan melanjutkan hidup dengan dua identitas? Bagaimana dengan Reina?’ bisik hati Verdi.


 


Setelah tangis Reina reda, mereka berdua pun kembali ke kantor. Sekarang Reina sedang menyelesakan pekerjaannya mengetik laporan. Sedangkan Verdi sedang rapat bersama dengan Felix.


Kriiingggg!


Telepon di meja Reina berdering dan dia langsung mengangkatnya. “Reina…..tolong buatkan kopi seperti yang tadi siang kamu buat ya. Nanti antarkan keruang Pak Verdi.” ucap Felix.


“Baik Pak.” sahut Reina. Sambungan telepun terputus dan dia langsung bangkit dari duduknya berjalan menuju ke pantri.


 


Reina meracik kopi sesuai dengan takaran yang diberikan Verdi kepadanya. Hanya saja kali ini Reina mengganti bubuk kopi dengan teh. Setelah minumannya selesai, dia pun mengantrkan ke ruangan Verdi.


Reina mengetuk pintu dan setelah mendengar suara sahutan dia masuk kedalam ruangan. Nampak Verdi dan Felix sedang serius membicarakan sesuatu.


 


“Ini minuman anda, Pak.” ucap Reina seraya meletakkan minuman dihadapan Verdi. Kemudian dia undur diri dari ruangan bosnya.


Felix mengeryit. “Kenapa Reina memberimu minuman? Aku kan yang memintanya membuat kopi?” protesnya. Tadi siang Felix menghabiskan kopi milik Verdi karena dia menyukainya. Jadi Felix meminta Reina membuatkan lagi.


 


Tapi Reina malah menyuguhkan minuman itu kepada Verdi. “Seharusnya ini milikku.” ucap Felix seraya menggeser cangkir dihadapan sepupunya.


Mencium wangi tehnya yang menyeruak membuat Verdi langsung menepis tangan sepupunya. “Ini milikku!”


Felix merengut hendak menelepon Reina dan memintanya membuatkan minuman namun Verdi melarangnya.


 


“Buat minumanmu sendiri atau suruh OB yang membuatkannya. Jangan ganggu istriku!”


Felix menggerakkan bibirnya tidak jelas mencibir pada Verdi. Bukannya tersinggung Verdi malah tertawa. Dia senang karena Reina tidak lagi marah padanya. Setidaknya kali ini dia memberinya teh, bukan kopi yang membahayakan lambungnya.


 


Verdi menyesap tehnya. “Aku mau segera pulang.” ucapnya. Felix memutar matanya jengah. Sebal dengan sikap sepupunya yang mendadak labil, tadi siang dia frustasi dengan sikap istrinya tapi sekarang dia malah bersemangat mau pulang.


“Selain membuat orang menjadi bodoh ternyata cinta juga membuat orang jadi tidak konsisten.” bibir Felix.

__ADS_1


__ADS_2