TUKAR PASANGAN

TUKAR PASANGAN
BAB 64. KEDATANGAN MANTAN


__ADS_3

“Kenapa kamu malah membawa mereka kesini?” desis Varen seraya melayangkan tatapan tajamnya pada dua orang yang berada dibelakang Felix. Felix mengusap tengkuknya seraya tersenyum kikuk.


“Panjang ceitanya. Tapi mereka itu kan kakak iparmu jadi tidak ada salahnya jika mereka ingin menjenguk istrimu.” ucap Felix.


 


Dia bicara seraya menyelonong masuk kedalam rumah begitu saja tanpa mengindahkan Varen. Varen berdecak kesal sebenarnya dia tidak masalah dengan kehadiran Bobby dan Elora tapi dia hanya takut jika Reina akan merasa terganggu dengan kehadiran mereka. Varen selalu mengkhawatirkan Reina yang selalu saja diganggu oleh kedua orang ini.


 


Elora tidak mempedulikan raut wajah Varen yang berubah kesal. Dia melihat sekeliling dan amarahnya terpancing saat melihat kehidupan Reina yang ternyata sangat nyaman.


Kenapa Varen dulu tidak menunjukkan rumah ini dan bertingkah seperti pengangguran miskin? Tangan Elora mengepal kuat. Sekarang dia sudah tidak peduli pada apapun lagi, dia harus meminta penjelasan Varen.


 


Elora dan Bobby menghampiri Reina tanpa disuruh Bobby masuk begitu saja. Sedangkan Elora tiba-tiba mencekal tangan Varen, “Beraninya kamu membohongiku selama ini!”


Elora menatap Varen dengan tajam dan sinar matanya tampak marah karena dia merasa telah ditipu oleh mantan suaminya itu.


 


Andai dia tahu kalau Varen akan mendapatkan warisan tanah berharga mahal mana mungkin dia akan meminta cerai dan menikah dengan Bobby tanpa mendapatkan harta sebelum perceraian.


“Apa maksudmu?” tanya Varen seraya melepaskan cekalan tangan Elora. Dia tidak mengerti dengan tuduhan mantan istri sekaligus kakak iparnya itu.


 


“Seharusnya kamu itu berkata jujur tentang harta warisanmu! Seharusnya kita membagi dua semuanya sebelum bercerai. Kamu menipuku Varen! Kamu sengaja tidak mengatakan tentang harga warisanmu secara detail agar aku tidak menuntut hak milikku iyakan?” tuduh Elora dengan mata membulat karena kesal. Dia benar-benar merasa bodoh karena sudah tertipu oleh Varen.


 


Varen hanya mendengus, Elora memang tidak pernah berubah. Dikepalanya hanya ada uang...uang dan uang. Selalu saja itu  yang dipikirkannya.


“Kamu kan tidak pernah bertanya padaku jadi aku tidak berkewajiban untuk menjelaskan apapun. Tanah ini warisanku, hak milikku sepenuhnya.” tandas Varen dengan tegas dan hendak melangkah pergi namun Elora kembali mencekal tangannya.


“Urusan kita belum selesai!”

__ADS_1


 


“Ada urusan apa kamu dengan suamiku? Jangan sentuh suamiku!” Reina menghampiri Elora dan mencengkeram tangannya lalu menghempaskan dengan kasar.


Beberapa menit yang lalu Reina kaget dengan kedatangan Bobby dan dia pun bertanya tentang Elora. Ketika tahu jika kakaknya ikut datang diapun segera memaksakan diri menyusul suaminya yang tak kunjung kembali padanya.


 


Elora mendengus menatap sinis adiknya. “Bukan urusanmu! Ini urusan rumah tangga kami yang belum selesai!” ujar Elora mendongakkan dagunya dengan angkuh menatap Reina.


“Semua urusan rumah tangga kalian sudah selesai saat Varen menceraikanmu dan menikahiku. Jangan coba-coba kamu mengganggu suamiku. Kali ini aku tidak akan tinggal diam membiarkan pelakor sepertimu beraksi!”


 


Reina menatap kakaknya dengan sengit. Elora hendak membalas namun Reina sudah lebih dulu memotongnya. “Masuk atau pergi dari rumahku sekarang juga! Jangan pernah datang lagi kesini dan mengganggu suamiku! Cukup kamu mengganggu rumah tanggaku dulu! Aku tidak akan membiarkan untuk kedua kalinya, Elora!”


 


Elora menatap nyalang adiknya yang juga menatapnya tak kalah tajamnya. Tatapan Elora melemah ketika mendengar suara Felix dan Bobby yang sedang mengobrol. Dia pun teringat dengan kehadiran bosnya itu.


‘Sekarang bukan waktu yang tepat untuk membicarakan warisan. Bisa gawat jika Felix melihat aku ribut dengan Reina. Aku akan mencari waktu luang untuk membahas ini dengan Varen.’


 


 


Hampir saja dia terjatuh namun Varen sudah lebih dulu menyangga tubuhnya. “Hati-hati. Kamu masih belum pulih sepenuhnya.” Varen menggandeng bahu Reina dan membantunya kembali berdiri.


Reina hendak menjauhi suaminya tapi rasa sakit yang menyerang kepalanya membuat tubuh Reina serasa melayang. Padahal tadi kepalanya baik-baik saja ketika dia marah-marah kepada Elora.


“Kepalaku sakit sekali!” keluh Reina seraya menyandarkan diri ketubuh suaminya.


Tanpa aba-aba Varen mengangkat tubuh Reina dan membawanya ke sofa. Dia mendudukan Reina dan menyandarkan punggungnya dengan nyaman.


 


“Minumlah!” ucap Varen seraya membantunya minum teh hangat kepada istrinya. Namun Reina nampak mual dan akan muntah. “Mual lagi?”

__ADS_1


Reina mengangguk lemah lalu Varen membenahi posisi duduk istrinya agar lebih nyaman. “Aku buatkan teh jahe untukmu.” ucapnya kemudian dia menghadapkan dirinya kepada para tamu yang memendanginya sejak tadi.


 


Mereka menatapnya dengan mulut terbuka. “Mau minum apa?” tanya Varen.


Ketiga orang tamu itu terlonjak karena ketahuan sedang memandangi kemesraan tuan rumah.


“Apa saja boleh.” jawab Felix dengan cepat.


Varen mengalihkan pandangannya kepada Bobby dan Elora namun mereka acuh jadi Varen langsung pergi ke dapur untuk mengambilkan minuman.


 


‘Sial! Kenapa Varen begitu perhatian pada Reina? Apa karena dia sedang sakit?’ bisik hati Elora.


‘Kenapa Reina jadi manja begitu? Biasanya juga kalau dia sedang sakit tidak pernah bersikap manja padaku. Dan itu juga baju yang dipakainya kenapa dia harus memakai baju Varen segala sih?’ bisik hati Bobby yang tidak suka melihat kemesraan Reina dan Varen.


 


“Apa kamu mengalami mual parah?” tanya Felix memecah keheningan.


Reina mengangguk lemas, “Hari pertama biasanya begitu tapi besok mungkin akan membaik. Maaf ya hari ini saya tidak bisa masuk kantor.” ucapnya. “Mudah-mudahan besok aku sudah membaik, aku akan masuk kantor lagi.” tambahnya.


 


“Tidak perlu khawatir. Kamu istirahat saja sampai benar-benar sembuh. Aku bisa menghandle semuanya kok. Oh iya, ada titipan dari teman-teman kantor untukmu. Tadinya mereka memaksa mau ikut tapi aku larang. Takut mengganggu istirahatmu jadi aku ajak pak Bobby dan Elora saja kesini.”


 


Reina menatap bingkisan yang Felix maksud. Beberapa paket buah-bauhan dan beberapa plastik besar yang entah apa isinya tapi memang jumlahnya lumayan banyak. Reina pun merasa terharu atas kebaikan dan perhatian para rekan kantornya padahal dia baru bekerja disana.


“Tolong sampaikan rasa terima kasih saya kepada mereka..” tutur Reina.


Varen datang dengan membawa baki lalu menyuguhkan jus jeruk untuk para tamunya lalu membantu istrinya minum air jahe.


 

__ADS_1


Felix membicarakan banyak hal dengan Reina meskipun pembicaraan mereka tidak menentu. Tapi Reina terlihat nyaman bebricara dengan Felix sedangkan Bobby dan Elora hanya menimpali saja. Sesekali Bobby terlihat mencuri pandang pada Reina sedangkan Varen lebih banyak diam seraya memperhatikan istrinya.


__ADS_2