
“Mending tidak waras daripada tidak punya akhlak! Percuma waras kalau nggak punya akhlak, mengacau rumah tangga orang lain! Merebut suami orang! Bangga pula dengan pencapaiannya! Kalau ada penghargaan khusus pelakor ya aku akan berikan pada seseorang yang menurutku adalah pelakor terhebat sepanjang sejarah manusia! Sudahlah tidak waras, tidak punya akhlak, tidak punya malu dan tidak punya otak! Paket komplit!” Reina bicara sambil tertawa.
“Reina! Apa maksudmu bicara begitu?” teriak Elora yang merasa tersindir dengan perkataan adiknya. Dia tahu pasti yang dimaksud oleh Reina itu adalah dia. “Jangan bicara sembarangan ya kamu!”
“Yang merasa pelakor ataupun pengkhianat pasti tersinggung! Kamu pelakor ya?” Reina menunjuk Elora dengan jari telunjuknya sambil tertawa terbahak-bahak.
Melihat istrinya yang tertawa terlihat menggemaskan membuat Varen pun tak kuasa menahan senyum. Wajah datar yang biasa diperlihatkan kini menyunggingkan senyum yang membuatnya bertambah tampan. Sontak saja para wanita meleleh termasuk Elora yang baru ini melihat Varen tersenyum.
“Jangan senyum! Kamu mau menggoda wanita disini? Mau ikutan jadi pebinor kayak si onohhh?” Reina bicara dengan memelototi suaminya.
Bukannya berhenti tersenyum, malah sebaliknya Varen tertawa eenyah. Tawa yang tak pernah diperlihatkan kepada siapapun kecuali Felix dan Samara. Kedua orang itu kebetulan sekali juga melihat bagaimana Varen dibully sedangkan Samara sudah duluan melihat bagaimana cucunya dipermalukan sejak awal dan bagaimana Reina menyikapi situasi itu.
“Sssttt…...berhenti tertawa! Kalau mau tertawa tunggu nanti sampai dirumah!” bisiknya kesal.
Reina langsung menyeret Varen untuk pergi dari sana tanpa mempedulikan pujian yang dilontarkan orang-orang.
Reina tak menoleh lagi pada Bobby dan Elora yang mempermalukan Varen, dia tidak mau kedua pengkhianat itu membuat keributan semakin besar yang akan merugikan dirinya dan Varen.
“Dasar tidak sopan!” pekik Elora kesal dengan kedua orang itu yang pergi tanpa mengatakan sepatah katapun. Didalam hatinya Elora pun terkesima melihat senyum dan tawa Varen yang belum pernah dilihatnya. Ketampanan pria itu semakin naik level sekarang.
Berbeda dengan Elora yang kesal dan marah, justru Bobby merasa cemburu melihat bagaimana Reina menggandeng tangan Varen dan membawanya pergi. Dulu Reina tidak pernah bersikap posesif seperti itu padanya. Reina cenderung acuh dan jarang menunjukkan perasaan cintanya.
‘Sial! Brengsek! Aarrggggg…….kenapa sekarang Reina berubah?’ bisik hati Bobby.
__ADS_1
Para karyawan yang tadi berkerumun mulai membubarkan diri karena jam kerja memang sudah usai. Dari kejadian tadi ada satu orang yang merasa senang karena dia punya peluang untuk mendapatkan Reina.
'Ah, wajahku juga tampan dan aku punya pekerjaan bagus. Aku lebih baik dari suaminya, hanya perlu merayu Reina agar mau meninggalkan suaminya.’ ucap Kaifan didalam hatinya.
Melihat kerumunan karyawan sudah bubar, Felix pun segera meninggalkan kantor. Bibirnya tak berhenti tersenyum mengingat sepupunya yang tertawa. Dia mengenal sepupunya dengan baik dan melihat Varen memperlakukan Reina berbeda.
‘Dia jatuh cinta pada wanita itu. Aku sangat yakin kalau dia sudah jatuh cinta! Dia tidak pernah bersikap seperti itu pada siapapun selama ini.’ gumamnya melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.
Samara yang sejak awal sudah memperhatikan kejadian tadi pun, keluar meninggalkan gedung itu. Sebenarnya dia memang ingin mengikuti Varen sejak tadi tapi dia melihat kejadian tadi dan cukup terkejut dengan sikap Reina yang menentang saudaranya demi membela cucunya. Dia pun meminta supirnya untuk mengikuti taksi yang membawa Varen dan Reina.
“Ezra! Cari informasi tentang keluarga Hasena secepatnya!” perintah Samara kepada supir merangkap asisten pribadinya itu.
“Baik Nyonya!”
Reina menghibur suaminya karena melihat ekspresi wajah Varen yang masam, dia pikir mungkin Varen sedang menahan kekesalan dan menyembunyikan kesedihannya akibat dipermalukan oleh Elora dan Bobby tadi.
“Varen, tidak perlu dipikirkan perkataan Elora dan Bobby. Mereka itu banyak omong kosong dan tidak tahu apapun tentang kita.”
Reina mendongakkan wajahnya melihat wajah Varen yang masih datar, dia terus menghiburnya. “Kita tidak perlu mendengarkan pendapat orang lain tentang kita. Aku tidak masalah dengan statusmu kok. Kamu kerja atau penggangguran sekalipun, kamu itu tetap suamiku! Aku tahu kesulitanmu mencari kerja, sekarang aku punya pekerjaan bagus dengan gaji tinggi. Gajiku cukup untuk kita berdua. Saat aku sudah punya uang cukup maka aku akan buka usaha saja supaya kamu punya pekerjaan sendiri.”
Varen tercengang mendengar kata-kata istrinya. Dia tidak tahu mau menangis atau tertawa. Dia bingung dengan keadaannya yang sekarang ini jauh berbeda dengan pemikirannya. Seharusnya dia kan yang menghibur Reina? Bukan malah sebaliknya? Lagipula Varen juga tidak mempedulikan semua yang dikatakan Elora dan Bobby.
__ADS_1
Reina mengatakan hal-hal yang mencengangkan sekaligu lucu, Reina bahkan ingin bekerja mengumpulkan uang untuk modal usaha untuknya supaya punya pekerjaan sendiri. Padahal semua itu adalah tanggung jawab Varen untuk membuat hidup Reina nyaman dan tidak kekurangan tapi wanita itu justru tidak mempermasalahkannya.
Varen jadi bertanya-tanya pada dirinya, kebaikan apa yang pernah dia lakukan sehingga mendapat istri sebaik dan setulus Reina. Istrinya bahkan berterima kasih karena dia selalu menunggunya dan berjanji tidak meninggalkannya. Padahal memang sudah kewajibannya sebagai suami untuk selalu setia dan melindunginya.
Varen melepaskan pelukan Reina lalu berkata, “Aku baik-baik saja. Tak perlu mengkhawatirkanku.” Varen menyentuh luka yang berusaha Reina tutupi dengan makeup. “Apa ini masih sakit? Siapa yang melakukan ini padamu? Apa Elora?” tanyanya.
Meskipun dia sudah tahu kalau neneknya yang tadi menampar Reina di kantor. Namun dia masih harus berpura-pura dan tidak mengungkap identitasnya sekarang,
“Apa pipiku nampak bengkak? Padahal aku sudah tutupi dengan riasan supaya tidak kelihatan.” ujar Reina meraba pipinya. Tadi dia sengaja pergi ke toilet untuk menutupi memar di pipinya supaya tidak ketahuan sama Varen.
Dia tidak mau suaminya itu merasa khawatir lalu memintanya untuk berhenti bekerja sedangkan dia sangat menyukai pekerjaan ini karena gaji yang diterimanya tinggi.
Tapi sepertinya semuanya percuma saja karena Varen mengetahuinya. Dia bisa melihat pipinya yang bengkak dan memar meskipun sudah ditutupi makeup. “Pak singgah di apotik sebentar ya.” kata Varen kepada Tanta.
“Baik pak.”
“Mau ngapain ke apotik?” tanya Reina mengeryit.
“Beli obatlah! Masa beli roti! Lukamu harus diobati biar bengkaknya cepat hilang.” jawab Varen.
“Aku baik-baik saja. Hanya perih sedikit nanti cukup kompres es saja bengkaknya juga hilang.”
Reina merasa terenyuh dengan perhatian Varen padanya. Sebenarnya dia ingin menceritakan apa yang dialaminya di kantor hari ini tapi dia takut kalau Varen sampai salah paham.
__ADS_1
‘Aku akan mengatakan yang sebenarnya kalau Varen bertanya. Tapi, untuk sekarang ini sebaiknya aku tidak mengatakan apapun padanya. Bagaimana kalau dia memintaku berhenti kerja?’