TUKAR PASANGAN

TUKAR PASANGAN
BAB 24. PERMINTAAN MAAF


__ADS_3

Refleks wanita itu meringsut menjauhi Varen, dia tersadar kalau dirinya masih memeluk Varen. “Ma---maaf ya.” ucapnya terbata-bata.


“Aku tidak bisa tidur. Tolong bangunkan aku satu jam lagi dan buatkan aku kopi.” ucap Varen.


“Kamu begadang?” tanya Reina menatap wajah Varen yang terlihat lelah.


 


Bukannya menjawab, pria itu malah memejamkan matanya. Tak lama dia sudah pulas dan tampak dadanya naik turun dan tarikan napasnya terdengar kasar. Reina mendengus, “Orang lain bangun kamu malah tidur. Apa yang kamu lakukan semalaman?”


 


Dia bangkit dari ranjang dan melirik jam diatas nakas yang menunjukkan pukul empat tiga puluh menit. Dia kembali menatap wajah suaminya lalu tersenyum dan menyelimuti tubuh suaminya. Dia pergi ke kamar mandi membersihkan diri, lima belas menit kemudian Reina keluar dari kamar mando dan pergi kedapur. Melihat Varen yang masih tertidur pulas, dia tidak tega membangunkannya.


 


Reina berkutat dengan bahan makanan untuk membuat sarapan didapur. Setelah selesai memasak dia menata makanan dimeja makan. Lalu beranjak ke dapur untuk membuat kopi tapi saat dia menghirup aroma kopi tiba-tiba dia teringat dengan bosnya dikantor yang menyebalkan. Dia pun membuang kopi ketempat sampah. Akhirnya dia membuat wedang jahe sebagai gantinya.


 


Ketika Reina ingin membangunkan Varen tapi pria itu sudah keluar dari kamar duluan. Wajahnya tampak segar dan dia sudah mandi. ‘Kenapa tidak membangunkan aku?” tanyanya.


“Tidurmu pulas jadi aku tidak tega membangunkanmu.” jawab Reina tersenyum manis.


Varen tertegun, senyum Reina selalu menyihirnya membuat semua rasa lelahnya hilang dan merasa lebih bersemangat.


 


“Mana kopiku?” tanya Varen yang tak melihat kopi dimeja makan.


“Tidak ada kopi. Aku benci kopi, jangan pernah minum kopi lagi. Kamu minumnya ini saja ya, wedang jahe lebih bagus loh. Tubuhmu akan lebih segar daripada minum kopi.” jawab Reina.


Varen mengangkat cangkirnya dan menyesap minuman yang baru pertama kalinya dia minum.


 


“Enak.” gumamnya.


“Aku membuatnya sendiri dari bahan-bahan dapur. Pokoknya ya mulai hari ini sampai seterusnya tidak akan pernah ada kopi dirumah kita.”


“Kenapa?” tanya Varen kembali menyeruput minumannya. Dia benar-benar menyukai wedang jahenya.


 


“Aku benci kopi! Gara-gara bos ku yang menyebalkan dikantor itu. Perutku mual setiap kali mencium bau kopi. Jangan pernah lagi minum kopi! Tidak baik!”

__ADS_1


UHUKKK!


Varen tersedak wedang jahenya mendengar perkataan Reina. Hidungnya terasa perih dan panas gara-gara air yang masuk kesaluran pernapasannya.


 


“Hati-hati minumnya. Jangan terburu-buru, aku nggak akan merebut minumanmu kok.” ucap Reina memberikan air putih sambil menepuk pelan punggung suaminya.


“Terima kasih. Apa yang bosmu lakukan sampai kamu membenci kopi?”


Reina agak ragu untuk mengatakan tentang bosnya, dia tidak mau Varen jadi khawatir. Tapi melihat wajah Varen yang penasaran membuat wanita itu mau tidak mau terpaksa memberitahunya.


 


“Pak Verdi menyuruhku membuat kopi sampai dua belas kali. Dia sangat menjengkelkan! Aku bersyukur sudah menikah denganmu jadi aku tidak perlu takut dia akan menjadi jodohku! Karena kata orang kalau kita terlalu membenci seseorang bisa berjodoh!”


UHUKKK!


Varen kembali tersedak ludahnya. Dia berjengit didalam hatinya dan meringis. Meskipun ekspresi wajahnya datar namun didalam hati dia menyesali kejahilannya yang sudah mempermainkan Reina.


Varen memang selalu mengetes kesungguhan sekretarisnya. Dia tidak suka bekerja dengan wanita yang hanya mengandalkan kecantikan saja.


 


“Akan kupastikan kamu tidak akan mengalaminya lagi.” ucap Varen.


 


“Memangnya apa yang bisa kamu lakukan? Kamu kenal sama yang punya perusahaan itu?”


“Kamu mau aku mendatanginya dan bicara padanya?” Varen menaikkan kedua alisnya.


“EH...tidak! Jangan lakukan itu! Aku bukan anak kecil yang suka mengadu. Nanti dia malah berpikir begitu pula. Aku hanya perlu bersabar saja menghadapinya.”


 


Reina duduk lalu sejenak menatap suaminya yang sedang menyesap minumannya. Saat Varen meliriknya, Reina segera mengalihkan pandangannya dengan wajah merona merah. Dia lalu meletakkan nasi dipiring Varen, “Mau ikan atau ayam?”


“Ayam saja!” jawab Varen.


 


Reina meletakkan ayam keatas piring Varen lalu mereka mulai sarapan dengan tenang. Sesekali Reina mencuri pandang menatap suaminya yang tampan. Didalam hatinya dia bersyukur Varen tidak pernah memprotes apapun yang dimasaknya. Dia selalu menyantap semua makanan yang dimasak Reina dengan lahap.


 

__ADS_1


Setelah selesai sarapan, Reina bersiap-siap untuk berangkat kerja. Karena hari ini dia harus menemani Verdi meninjau proyek diapun  memutuskan untuk mengenakan celana panjang sebagai bawahan. Sedangkan atasannya Reina memilih baju berwarna soft brown dengan motif bunga-bunga kecil. Dia mematut penampilannya didepan cermin.


 


Sambil merias wajahnya dengan makeup warna natural seperti biasa tapi kali ini lebih ke warna nude. Lalu dia mengoleskan lipstik dibibirnya. Setelah dia merasa penampilannya sempurna dia pun keluar dari kamar. Terlihat taksi langganannya sudah menunggu didepan rumah. Setiap pagi Varen rutin memesankan taksi untuknya.


Bahkan kadang Varen sudah memesankan taksi untuk menjemputnya pulang. Reina sudah melarangnya melakukan itu tapi Varen selalu mengtaakan dia merasa lebih tenang jika Reina pulang dan pergi dengan taksi yang dipesannya.


 


Dia menghampiri suaminya yang sedang mengobrol dengan supir taksi. Entah apa yang mereka bicarakan namun supir itu hanya menunduk tanpa berani mengangkat wajahnya menatap Varen.


“Ada apa dengan mereka ya?” gumam Reina. Melihat raut wajah Varen yang nampak serius dia yakin kalau pria itu sedang memarahi supir taksi.


 


Saat Reina semakin mendekat, supir taksi itu langsung masuk kedalam mobilnya.


“Apa ada masalah?” tanya Reina saat berada dibelakang suaminya.


Varen memutar tubuhnya dan tertegun dengan penampilan istrinya. Varen mengutuki semua pakaian yang dibelinya untuk Reina. Semua pakaian itu membuat Reina semakin cantik dan penampilannya sempurna.


 


Terlebih lagi dengan pakaian yang dikenakannya sekarang, dia nampak cantik dan menawan. Varen jadi gundah gulana karena dia tidak suka jika Reina menjadi pusat perhatian.


Apalagi saat dirinya tidak selalu bersamanya. Karena Varen tidak menjawab pertanyaannya Reina semakin mendekat lalu melambaikan tangannya didepan wajah pria itu.


 


“Varen!” Reina memanggil sehingga membuat pria itu terlonjak kaget. “Apa ada masalah


“Tidak. Tidak ada masalah apapun.” ucapnya menggeleng cepat.


“Lalu kenapa wajahmu tegang begitu?” ujarnya mencondongkan badannya kedepan mengurangi jarak mereka berdua. Varen langsung menegang, jarak mereka begitu dekat dan saking dekatnya Varen sampai bisa mencium wangi shampoo dari rambut Reina.


 


Wangi bunga yang segar ditambah aroma madu yang manis.


“Kamu tadi memarahi supir taksinya ya?” bisik Reina.


“Aku tidak marah! Aku hanya memintanya untuk menjemputmu sepulang kerja.” jawab Varen.


“Aku bisa pulang dengan taksi lain. Aku bukan anak kecil yang harus diantar jemput! Lagipula hari ini aku keluar kantor karena harus menemani pak Verdi meninjau proyek. Takutnya aku pulang telat seperti semalam.”

__ADS_1


__ADS_2