
“Bahkan kalaupun kami menyakiti hati Reina itu semata-mata demi kebaikannya sendiri. Sejak kecil Elora selalu merasa iri dan cemburu pada adiknya. Padahal kami sudah memberikan dan memperlakukan mereka sama. Dia selalu iri jika melihat adiknya mendapat barang baru apalagi barang yang lebih bagus darinya. Kalau dia melihat kami memberikan barang baru pada Reina maka Elora tidak akan segan-segan menyerang adiknya.” ucap Indira menjelaskan.
“Kamu lihat bekas luka di pipi Reina? Saat Elora dan Reina masih kecil, mama membelikan boneka yang sama untuk mereka. Elora tidak menyukainya dan dia merusak boneka milik Reina lalu mencakar wajah adiknya dengan gunting. Untung saja lukanya tidak terlalu dalam, walau tetap membekas.” Indira terisak mengingat sikap putri sulungnya itu.
“Elora itu jika sudah punya keinginan maka dia akan melakukan apapun untuk mewujudkannya. Dia bahkan tidak segan-segan untuk menyakiti adiknya sendiri. Apa kamu tahu alasan sebenarnya kami menyetujui permintaan Elora untuk bertukar suami?” tanya Indira seraya menegakkan duduknya lalu menatap wajah menantunya.
Varen menggelengkan kepalanya. Indira tersenyum lalu berkata, “Karena kami tahu jika Elora bukan istri yang baik untukmu dan Bobby bukan suami yang baik untuk Reina. Verdi Bimantya Kenzie! Kami tahu kalau kamu mengetahui perselingkuhan mereka.”
DEG!
Varen terlonjak kaget mendengar nama yang disebut oleh ibu mertuanya. “Mama?”
Varen duduk dihadapan kedua mertuanya, meskipun banyak pertanyaan yang muncul dikepalanya tapi dia tidak berani memulai pembicaraan. Varen pun hanya diam seraya memasang wajah datar untuk menyembunyikan kebingungannya.
“Kami tidak bisa terlalu lama berada disini. Jadi tanyakan saja apa yang ingin kamu ketahui.” ucap Indira seakan tahu apa yang ada dalam benak menantunya itu.
Beberapa menit yang lalu Indira mengajak Varen keluar dari kamar karena dia tidak mau putrinya yang sedang tidur terganggu karena percakapan mereka.
Sekarang Indira dan Chandra tengah berada diruang makan dengan Varen yang duduk dihadapan mereka. “Sejak kapan kalian tahu kalau aku adalah Verdi Bimantya Kenzie?” tanya Varen.
“Kami tahu sejak kakek Reina berniat menjodohkan kamu dengan salah satu putri kami. Meskipun kamu cucu dari teman baiknya kami tidak mungkin melepas putri kami begitu saja.” jawab Indira.
__ADS_1
“Jadi kami juga harus menyelidiki latar belakangmu dulu. Kami ingin mengetahui sifat pria yang akan dijodohkan dengan putri kami.” jawab Chandra menimpali ucapan istrinya.
Varen tercengang, “Lalu kenapa kalian tidak pernah mengatakan apapun selama ini?”
“Karena kamu tidak pernah bertanya.” jawab Chandra.
Mulut Varen terbuka sedikit lalu tertutup lagi setelah mendengar jawaban dari ayah mertuanya itu. Chandra tersenyum bijak, “Permasalahan kamu dan keluarga ayahmu itu bukan urusan kami. Jadi kami tidak berhak untuk ikut campur! Kami hanya perlu memastikan putri kami menikah dengan pria baik-baik. Tapi kami sungguh kecewa kepadamu.” ujar Chandra.
Varen menautkan kedua alisnya, dia tidak paham dengan maksud perkataan ayah mertuanya. Chandra terlihat menghela napas dan menatap Varen lekat-lekat.
“Mengenai hubungan Elora dan Bobby. Kami menikahkan Elora denganmu dengan harapan dia tidak akan mengganggu suami adiknya. Tapi kamu malah tidak menjaga istrimu.”
“Kamu bahkan membiarkan begitu saja hubungan terlarang mereka berlanjut begitu saja.” tutur Chandra dengan suara berat. “Padahal kamu punya peluang untuk mencegah itu terjadi.”
Varen menundukkan kepalanya tanpa berusaha untuk menyanggah perkataan ayah mertuanya.
“Maaf.”
“Reina itu terlalu polos dan sangat mempercayai suaminya. Dia tidak pernah menaruh curiga terhadap Bobby ataupun Elora. Tapi kami tidak begitu, kami melihat sikap Bobby yang terlalu dekat dengan kakak iparnya itu membuat kami curiga.” lanjutnya. Tatapan Chandra menerawang teringat saat dia melihat Bobby sering mengantar jemput Elora ke kantor tanpa sepengetahuan istrinya.
“Kami kira hubungan mereka akan berhenti saat Elora sudah menikah. Namun hubungan mereka malah semakin menjadi-jadi. Kami sudah sering mengingatkan Elora dan Bobby tapi mereka tidak mau mendengar. Sampai tercetuslah permintaan Elora untuk bertukar suami.” ucap Chandra dengan suara gemetar. Tersirat kesedihan dalam raut wajahnya.
“Kami tahu jika permintaan Elora itu terdengar gila tapi kami pikir itu sebuah solusi tepat untuk mengakhiri perselingkuhan mereka. Kami tidak rela Elora disentuh tanpa ikatan pernikahan dan kami juga tidak mau Reina tetap bersama pria bejat seperti Bobby. Pria itu tidak pantas!”
__ADS_1
Chandra Hasena mengusap wajahnya dengan gusar, “Untuk itulah kami menyetujui permintaan mereka. Bertukar suami dan bertukar istri walau sangat berat bagi kami karena masih harus menerima Bobby sebagai menantu lagi. Tapi hanya itu jalan terbaik yang bisa kami lakukan.” Chandra dan Indira menitikkan airmata.
Varen terhenyak dengan kenyataan yang baru saja didengarnya. Dia tidak pernah menyangka jika ada alasan besar dibalik pertukaran pernikahan yang dilakukannya. Varen pun hanya bisa diam tak bisa mengatakan sepatah katapun seraya menatap haru kedua mertuanya itu.
“Kami terpaksa mengambil keputusan berat dengan menyakiti Reina. Tapi kami melakukan itu untuk menyelamatkan hidupnya dan masa depannya. Jika dia tidak lepas dari Bobby maka entah bagaimana hancurnya kehidupannya nanti.” ucap Chandra Hasena.
Varen menatap lekat wajah kedua mertuanya. Dia bisa melihat kasih sayang yang terpancar dari raut wajah mereka.
“Lalu kenapa mama mengusir Reina malam itu?” tanya Vaen kepada ibu mertuanya. Dia teringata bagaimana Indira mengusir Reina dengan kejam dari pesta pernikahan Elora dan Bobby.
Indira tersenyum getir, dia sudah menebak kalau Varen akan mengungkit hal itu. “Mama terpaksa mengusirnya karena itu cara terbaik untuk menjauhkan Reina dari Bobby dan Elora.”
“Sebagai orangtua, hati kami sakit melihat kesedihan Reina ketika menghadiri acara resepsi kakaknya. Dan kami juga tidak bisa membayangkan bagaimana terpuruknya Reina jika harus tinggal satu rumah dengan mereka. Itulah mengapa kami mengusirnya pergi dan kami bersyukur saat kamu menemaninya dan membawanya kerumah ini.” ucap Indira.
“Sejujurnya kami takut kalau kamu akan membawanya ke rumah keluarga Bimantya, luka hati Reina belum sembuh dan kami tidak mau jika Reina mendapat luka yang baru disana.” sambungnya. Varen tercengang mendengar penuturan mertuanya, ternyata semuanya yang terjadi sudah ada dalam perhitungan mereka.
“Seminggu lalu kami datang kesini untuk menjemput Reina. Kami takut kamu menelantarkannya dan dia masih bersedih karena Bobby. Kami sudah menyiapkan sebuah tempat untuknya di kafe dan kami juga berencana mengalihkan pengurusan kafe kepadanya. Tapi ternyata Reina sudah bekerja ditempat lain. Kami merasa lega melihatnya sudah punya pekerjaan dan kegiatan setidaknya dia tidak memikirkan Bobby terus.” ucap Chandra.
“Tapi kami kecewa saat melihat kamu membiarkannya sendirian dirumah. Kamu bahkan membiarkan Reina pulang kerja sendirian dan kami merasa khawatir, Reina itu orangnya penakut. Tapi kami lega saat mendengar suara mobilmu waktu itu.” ujar Indira menimpali. Mendengar ucapan kedua mertuanya, Varen merasa iri dengan istrinya.
__ADS_1
Reina mempunyai orang tua yang sangat menyayanginya hingga mengenal baik sifat dan kebiasaannya. Tidak ada lagi yang Varen ragukan dari kasih sayang mereka untuk istrinya.