
“Atur remnya. Ayo dikayuh lebih kuat!” Varen terus memberikan isntruksi pada istrinya. Tanpa sedikitpun melepaskan tangannya dari sepeda yang Reina kendarai.
Saat Varen merasa kalau Reina sudah mulai bisa mengayuh dengan lancar, dia pun melepaskan tangannya tanpa sepengetahuan Reina. Lalu dia tersenyum menatap Reina dari belakang.
“Varen…...jangan dilepaskan. Tetap pegang dengan erat! Nanti aku jatuh!” ucap Reina dengan pandangan fokus kedepan.
“Tidak apa-apa. Kamu sudah lancar, untuk apa aku pegangi lagi sepedanya? Itu hanya akan menghambatmu saja. Ayo kejar! Kalau berhasil menyusul aku belikan es krim.” tantang Varen.
Dia berlari mendahului Reina sambil menyemangati istrinya. Melihat Varen yang tidak lagi memegangi sepedanya, dia pun oleh hampir saja terjatuh. Tapi untungnya kaki kiri Reina lebih dulu menyangga sepedanya.
“Katanya akan dipegang?” teriak Reina kesal. Namun Varen malah tertawa mendengar teriakannya membuat Reina tertegun melihat wajah Varen yang ceria.
Reina pun mulai mengayuh lagi sepedanya untuk menyusul suaminya. Tapi sayangnya kecepatan lari Varen lebih cepat daripada sepeda yang Reina kendarai.
“Varen….aku lelah.” teriak Reina lelah. Terlihat suaminya sudah berada jauh didepannya. Varen kembali berlari kebelakang menghampiri istrinya yang sudah keringatan.
Melihat wajah Reina yang sudah berkeringat, Varen memintanya segera turun dari sepeda. Lalu dia mengambil alih sepedanya. “Naiklah. Kita pergi beli es krim lalu pulang.” ucapnya seraya menarik tubuh Reina agar duduk dibagian depan sepeda.
“Ini tidak akan jatuh kan?” tanya Reina sedikit ragu.
“Ada aku menjagamu tidak akan terjadi apa-apa. Percayalah padaku.” Varen mulai menjalankan sepedanya. Dia mengajak Reina bersepeda keliling taman dan menikmati kebersamaan.
Reina mendongak menatap Varen dari bawah dagunya. Senyumnya mengembang melihat wajah Varen yang terlihat senang. Reina melepaskan pegangannya di stang depan dan beralih memeluk tubuh suaminya.
Sontak Varen menghentikan laju sepedanya, “Apa yang kamu lakukan?” Varen menatap heran istrinya. Dia kaget Reina tiba-tiba saja memeluknya.
“Memeluk suamiku. Memangnya nggak boleh ya?” jawab Reina terkekeh.
“Bukan tidak boleh tapi kamu mengagetkanku.” ucap Varen sambil mengayuh kembali sepedanya.
__ADS_1
Reina memejamkan matanya, dia merasakan kehangatan yang menjalar dari tubuh Varen membuatnya nyaman. Walau tubuh suaminya berkeringat tapi Reina tidak risih memeluknya. Dia malah semakin menempelkan tubuhnya dan menikmati aroma khas tubuh suaminya. ‘Sepertinya aku semakin hari semakin gila.’ bisik hati Reina.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang tengah memperhatikan kebersamaan mereka. Tangan orang itu terkepal kuat pada stri mobilnya. Hampir setengah jam lebih dia menyaksikan kemesraan Reina dan Varen. Dan sekarang hatinya mulai terbakar api cemburu dan iri. ‘Awas saja kalau sampai terjadi sesuatu pada calon bayiku.’ bisiknya.
‘Aku akan buat kamu menyesal Varen!’ desis Bobby kesal dan melajukan mobilnya meninggalkan taman. Pagi ini Bobby bermaksud menemui Reina untuk menanyakan perihal kandungannya.
Tapi dia malah melihat Reina dan Varen pergi ke taman. Tadinya Bobby ingin membuntuti mereka sebentar saja tapi entah mengapa dia malah mematung melihat kemesraan mereka.
‘Sial! Kenapa Reina terlihat sangat menyukai Varen sih? Dia bahkan memeluknya lebih dulu padahal baru dua minggu dia berpisah denganku. Tapi Reina sepertinya sudah melupakan aku. Dia banyak berubah sekarang.’ gerutu Bobby. Melihat sikap Reina kepada Varen tadi membuat pikiran Bobby dipenuhi berbagai prasangka.
“Apa benar anak yang dikandung Reina adalah anakku? Bagaimana kalau anak itu bukan milikku? Bukankah Reina juga pernah tidur dengan Felix dan Verdi? Aku harus segera memastikan semuanya.” tuduhnya.
Dengan memendam rasa kesal dan marah Bobby melajukan kendaraannya menuju ke kantor. Sengaja dia tidak pergi bersama Elora pagi ini.
“Reina harus tahu perbuatan suaminya.” umpatnya lalu meraih ponselnya dari saku jasnya. Kaifan mencari sebuah foto dan setelah menemukannya dia menyebutkan alamat yang tertulis di foto itu kepada supir taksi. “Lihat saja ya. Apa yang aku akan lakukan pada istrimu itu. Aku akan membalasmu lebih dari ini.” ucap Kaifan seraya tersenyum miring.
Saat menjelang siang, Reina yang bosan memutuskan untuk pergi membeli cemilan ke persimpangan. Setelah pulang dari bersepeda tadi Varen langsung pergi keluar rumah seperti hari sebelumnya.
Tepat ketika Reina sedang mengunci gerbang, sebuah taksi berhenti tepat dihadapannya. “Bu Reina mau pergi?” tanya supir taksi itu.
Reina mengeryitkan dahinya seraya tersenyum. “Iya Pak. Kebetulan sekali ya ketemu disini. Bisa antarkan saya ke persimpangan itu? Ke mini market disana.”
“Baik. Silahkan masuk.” sahut Tanta.
__ADS_1
Reina menaiki taksi Tanta dan sejenak dia menautkan alisnya seraya menatap Tanta dari belakang. Reina merasa ada keanehen dengan taksi Tanta yang selalu berkeliaran di sekitaran rumahnya.
“Bu Reina, kata Pak Varen kalau ibu sedang sakit? Apa sekarang sudah baikan?” tanya Tanta mengagetkan Reina dari lamunannya.
“Sudah lebih baik pak. Makanya sekarang bisa keluar rumah.” jawab Reina sambil tersenyum.
“Saya juga sudah dua hari ini tidak mengambil penumpang karena saya harus menunggui orang sakit. Dan hari ini saya baru keluar lagi. Kebetulan rumah saya tidak jauh dari rumah ibu.” tutur Tanta.
Mendengar penjelasan Tanta, Reina tersenyum malu karena dia sudah salah sangka. Pantas saja taksi Tanta selalu berkeliaran di sekitarnya ternyata rumahnya memang ada disekitaran sini.
“Pak, berhenti disini. Pak Tanta bisa menunggu sebentar? Saya cuma mau beli cemilan saja sebentar.” pinta Reina sambil menyerahkan ongkosnya.
Tanta mengangguk, “Baik bu. Saya akan tunggu disini.”
Reina pun pergi menuju ke minimarket yang ada dipersimpangan. Dia tidak mau membuat Tanta menunggu lama. Setelah melihat Reina memasuki minimarket, Tanta pun bernapas lega karena dia terpaksa berbohong karena melihat Reina yang curiga padanya.
“Aku harus mulai lebih berhati-hati. Aku tidak mau Nyonya Reina mencurigaiku.” gumamnya. Tiga puluh menit kemudian Reina keluar dari minimarket dengan membawa dua plastik besar. Melihat itu Tanta menghampirinya dan membawakan barang belanjaannya.
“Terima kasih Pak Tanta.” ucap Reina ketika Tanta mengambil alih kantong plastik ditangannya.
Saat Reina hendak memasuki taksi, dia melihat tukang rujak yang dagangannya sepi. Dia merasa kasihan dan membeli tiga paket rujak untuk dibawa pulang. Setelah membayar Reina masuk ke taksi.
“Langsung pulang ya pak.” ucap Reina.
Tanta menyalakan mobilnya lalu berputar arah tepat ketika mobil Tanta akan melaju, tiba-tiba seorang wanita tua melintas didepan mobilnya.
Ciiiiittt! Bug!
Tanta mengerem mobilnya dan Reina melihat wanita tua yang terduduk didepan taksi Tanta. Dia langsung turun untuk menolong. “Bu? Ibu tidak apa-apa?” tanya Reina. Wanita tua itu menolah menatap Reina. Mata Reina langsung membulat saat melihat wajah wanita tua itu.
__ADS_1
“Nyo----Nyonya?”
Karena Samara tidak mau dibawa ke rumah sakit, Reina pun membawa Samara ke rumahnya untuk membantu mengobati luka ditangannya.