TUKAR PASANGAN

TUKAR PASANGAN
BAB 94. KAMU WANITA GILA


__ADS_3

“Yang saya inginkan cuma satu, kembalikan suami saya Varen Saskara! Andai mereka orang yang berbeda mungkin semuanya tidak akan serumit ini. Saya bisa hidup dengan Varen tanpa bayang-bayang sosok Verdi! Tapi semuanya tidak mungkin karena keinginan saya mustahil terwujud! Varen dan Verdi adalah orang yang sama, cucu yang anda sayangi adalah pria yang saya cintai.”


“Pria yang menikah dengan saya adalah orang yang sangat peduli pada anda. Mereka orang yang sama tapi kenapa identitas mereka berbeda? Saya sulit memahami permainan apa yang kalian mainkan dan saya tidak bisa menerima keduanya. Saya hanya menginginkan suamiku saja.”


Reina menarik napas dalam-dalam menatap Samara dengan tatapan tajam.


Samara tercengang dengan permintaan Reina. Dia menganggap perkataan Reina sesuatu yang gila, “Apa maksud kamu? Bagaimana bisa kamu meminta seseorang untuk berpisah dari dirinya sendiri?”


“Itu yang ingin saya tanyakan pada Nyonya. Bagaimana bisa dua identitas yang berbeda hidup dalam satu tubuh dan berperan sebagai orang yang berbeda?”


Reina tidak peduli apapun alasannya tapi dia tidak bisa menerima kenyataan bahwa Varen dan Verdi adalah orang yang sama. “Sebagaimana anda tidak mau mengakui Varen Saskara sebagai cucu anda maka saya juga tidak mau menerima Verdi Bimantya sebagai suami saya! Tidak, saya tidak pernah menganggap Verdi sebagai suami saya! Bagi saya mereka adalah dua orang yang berbeda.”


Samara terdiam dan paham betul maksud perkataan Reina. Seperti yang Reina katakan selama Varen menyandang gelar Saskara dibelakang namanya maka Samara tidak akan pernah menerimanya sebagai cucu.


Bagi Samara cucunya hanya satu yaitu Verdi Bimantya. Tapi mengapa semua kini menjadi rumit? Kenapa muncul orang lain yang berpikiran sama dengannya?


Dia hanya menginginkan orang yang berbeda, Samara menginginkan Verdi sedangkan Reina menginginkan Varen. “Katakan apa maumu sekarang?”


Reina menatap Samara dengan tegas. “Nyonya, orang yang menikah dengan saya adalah Varen Saskara bukan Verdi Bimantya. Lalu kenapa anda mencampur adukkan urusan keduanya?”


Samara mengeryitkan dahinya.


“Nyonya jika anda meminta Varen untuk meninggalkan saya maka saya akan membuat Verdi meninggalkan anda! Jika anda mencoba memisahkan Varen dan saya maka saya akan meminta Varen untuk memilih antara kehidupannya sebagai Varen atau Verdi! Ini peringatan pertama dan terakhir untuk anda.”


“Jangan pernah mengganggu kehidupan Varen dan saya, atau saya akan membuat Verdi menghilang untuk selamanya dan anda tidak akan pernah bisa bertemu dengannya lagi.” ancam Reina.


Samara tertawa kering, “Dasar wanita gila!”


Dia sama sekali tidak menyangka jika Reina berani bicara seperti itu padanya tanpa rasa takut sedikitpun.

__ADS_1


******


Sepanjang perjalanan menuju ke rumah, Reina hany termenung karena dia merasa bingung dengan dirinya sendiri. Entah keputusannya benar atau salah tapi apa yang diucapkannya tadi kepada Samara adalah sebuah kebenaran.


Reina tidak bisa menerima sosok Verdi sebagai suaminya. Sejak Reina terbangun dirumah sakit, tiga puluh delapan hari yang lalu hatinya dipenuhi kebimbangan.


Dia berusaha menyakinkan dirinya kalau apa yang didengarnya waktu itu hanyalah sebuah mimpi atau ilusi belaka. Reina berusaha menyangkalnya karena menurutnya tidak mungkin Varen suaminya adalah Verdi bosnya ditempat kerjanya. Masih teringat dalam benaknya semua kata-kata Verdi waktu itu. Kata-kata yang mengungkapkan tentang jati dirinya.


Reina ingat kalau dia memanggil Varen sebelum pingsan, mungkin saat itu dia sudah mengenalinya. Karena dia merasa ingin tahu makanya dia pura-pura tidur. Ingin rasanya dia mati waktu itu, luka hatinya karena Bobby dan keluarganya belum sembuh total tapi Varen sudah menorehkan luka baru dengan menipunya.


Saat Reina memberanikan diri membuka matanya, dia berharap orang yang menemaninya waktu itu adalah Varen. Dia tidak mengharapkan kehadiran Verdi sama sekali disampingnya. Reina berharap waktu itu orang yang memegang tangannya adalah Varen suaminya tapi harapannya hancur seketika saat dia melihat wajah cemas Verdi didepan matanya.


Pada pertemuan pertama dengan Verdi dulu, meskipun Reina sempat salag mengenalinya sebagai Varen namun tidak pernah terlintas sedikitpun dalam benaknya jika Varen dan Verdi adalah orang yang sama. Keadaan mereka berdua berbeda dan Reina tidak bisa menerimanya. Ketika Reina menyakinkan diri untuk menelepon suaminya hatinya hancur.


Dia melihat nomor telepon Varen tersimpan dalam kontak Felix.dan ketika ponsel Verdi menyala bertepatan dia menelepon Varen. Dan saat itu ingin rasanya dia mencakar-cakar dan mencabik-cabik wajah Verdi. Tapi dia tidak siap kehilangan Varen, dia tidak siap kehilangan pria yang sudah menjadi penyemangat hidupnya.


Orang yang membuatnya tegar walau suami dan keluarganya mengkhianatinya. Orang yang membuatnya percaya diri kembali dan memberinya kasih sayang hingga Reina melupakan semua rasa sakit dalam sekejap mata. Reina tak mau kehilangan Varen dalam hidupnya, setiap hari dia semakin mengenal Varen maka dia semakin membenci sosok Verdi.


Dia selalu menganggap Varen sebagai suaminya tapi tidak dengan Verdi. Tapi hari ini ketika Reina melihat kerapuhan dalam sorot mata Verdi, dia pun merasa Varen yang sedang meminta tolong padanya.


Sorot mata keputuasaan dan kesedihan membuat Reina tersiksa dan satu hal yang dia sadari jika Verdi menderita maka Varen juga ikut menderita. Karena itulah Reina memutuskan untuk mengunjungi Samara.


Memintanya untuk tidak mengganggu Varen dan mengancamnya agar tidak memojokkannya. Semua Reina lakukan untuk suaminya bukan untuk dirinya atau Verdi.


“Nyonya…...kita sudah sampai.” suara supir membuyarkan lamunan Reina. Belum sempat dia menyahut pintu mobil tiba-tiba terbuka dan tampak wajah Varen.


“Akhirnya kamu pulang juga.” ucap Varen mengulurkan tangannya. Reina tertegun sekejap menatap uluran tangan Varen. Beberapa minggu lalu Reina pernah ragu untuk menyambut uluran tangan itu.


Hatinya terlalu sakit karena dibohongi tapi dia sadar kalau dia tidak bisa berpijak pada kakinya sendiri tanpa tangan itu. Dia membutuhkan Varen disampingnya.

__ADS_1


“Kenapa? Apa terjadi sesuatu?” tanya Varen heran menatap istrinya yang melamun.


Reina menggeleng, “Tidak apa-apa.” ucapnya seraya keluar dari mobil sambil memegang tasnya.


Dengan sigap Varen mengambil ras dari tangan istrinya lalu mengaitkan tangannya pada Reina.


“Terima kasih pak sudah mengantarkan saya.” ucap Reina kepada supir. Pria paruh baya itu melajukan mobilnya meninggalkan rumah Reina.


“Sebenarnya kamu pergi kemana sih? Kenapa tiba-tiba mama meminta bantuanmu?” selidik Varen.


Reina menatap suaminya walau ekspresi wajahnya datar tapi terlihat kecemasan dalam sorot matanya. “Mama sedang sibuk jadi dia memintaku pergi mewakilinya. Varen…..aku lapar.” ujar Reina.


Varen menggandeng tangan Reina menuju kerumah. “Tadi aku beli sate kambing dan soto ayam. Aku juga beli es doger dan cemilan.”


“Kenapa kamu membeli makanan banyak? Sayang kalau tidak habis.” ujar Reina.


“Biar kamu tidak langsung tidur. Temani aku nonton bola.”


“Aku tidak suka bola.”


“Makanya aku belikan cemilan supaya kamu tidak bosan.”


“Kamu ini ya pemaksa sekali.”


“Sekali-kali tidak apa kan?”


“Hahahaha!”


“Jangan tertawa. Tawamu membuatku gemas, bikin aku pengen memakanmu.”

__ADS_1


“Dasar mesum!”


“Awwww…..sakit Reina.”


__ADS_2