TUKAR PASANGAN

TUKAR PASANGAN
BAB 84. MENCARI MASALAH


__ADS_3

“Selamat pagi pak.” terdengar suara wanita yang sudah menjadi penyebab dia didiamkan istrinya. Walaupun Varen tidak tahu apa yang Elora katakan pada Reina tapi ada satu hal yang Varen tahu kalau dia harus menjaga jarak dengan wanita itu. Verdi mengangguk kecil sebagai jawaban dari sapaan Elora. Dia bahkan tidak menatap wanita itu.


 


Tidak ada segaris senyumpun dalam raut wajahnya, Verdi berekspresi datar seperti biasanya. Berbeda dengan Verdi yang merasa kesal sedangkan Elora justru bergetar dan semaki tertantang dengan sikap dingin Verdi. Dia pun berencana untuk berbasa basi dengannya selagi Bobby sedang tidak ada didekatnya saat ini.


 


“Pak Verdi seperti yang bapak ketahui kalau saya adalah mantan sekretaris Pak Felix selama empat tahun ini. Jadi jika ada hal yang bisa saya bantu dengan senang hati saya akan melakukannya.” ucap Elora dengan suara lembut dan senyum yang dibuat semanis mungkin.


“Ehm!”


Terdengar suara deheman wanita disamping Verdi. Dia menoleh ternyata itu adalah Reina.


 


Verdi mengeryit ketika Reina mendekat padanya padahal biasanya Reina paling anti berdekatan dengannya. “Maaf Pak Verdi! Saya ingin mengingatkan tentang meeting pagi ini. Apa mungkin kita segera naik sekarang?” tanya Reina.


Verdi mengerutkan kedua alisnya merasa bingung dengan ucapan sekretarisnya.


 


“Ya tentu saja.” jawab Verdi seraya melangkah menuju lift tanpa menghiraukan Elora. Sekilas Verdi melihat kakak beradik itu beradu pandang dengan sinar kebencian dimata keduanya.


Reina mendelik tajam kepada kakaknya begitu dia masuk kedalam lift. Reina segera mentutup pintu dan menekan tombol nomor lima puluh.


 


Bulu kuduk Reina meremang ketika melihat pantulan bayangan Verdi yang tengah menatapnya dengan tajam. Dia pun meremas tangannya dengan kuat saat pria itu berdehem seraya berkata, “Seingat saya pagi ini kita tidak ada meeting? Atau mungkin saya belum kamu konfirmasi soal itu?”


Reina menunduk dalam seraya memainkan cincin dijari manisnya.


 


Matanya terpejam dengan bibirnya berkomat kamit merutuki kebodohannya. Dia takut penilaian kinerjanya akan menurun gara-gara masalah ini. Verdi mengulum senyum melihat pantulan wajah istrinya yang nampak gugup terlihat sangat menggemaskan. Setelah tadi pagi Reina mengomelinya dirumah sekarang Reina malah tertunduk takut kepadanya.


 


“Kamu sengaja memanfaatkan saya ya?” tuduh Verdi.


Refleks Reina memutar tubuhnya lalu membungkuk. “Maafkan saya! Saya pikir penawaran ibu Elora berlebihan! Mana boleh dia menawarkan hal seperti itu saat bapak sudah mempunyai sekretaris dan dia juga punya tugasnya sendiri.” jawab Reina dengan cepat.


 


Salah satu alasan Reina menjauhkan Elora dari Verdi karena dia takut bosnya terpengaruh. Dia takut jika bosnya akan mendengarkan perkataan Elora dan mengganti sekretarisnya. Reina sangat takut kehilangan pekerjaannya.


Baginya pekerjaan ini sangat penting karena dia mendapat gaji yang tinggi, dia bisa menyimpan uangnya untuk masa depan.

__ADS_1


 


“Tidak perlu khawatir. Meskipun ada 1000 wanita seperti Elora yang melamar jadi sekretaris saya, hanya kamu yang akan saya pilih.” ucap Verdi sambil tersenyum menggoda.


Verdi terus menatap istrinya untuk melihat ekspresi dan reaksinya. Dia tahu kalau saat ini Reina pasti salah tingkah mendengar ucapannya.


 


Deg!


Entah mengapa jantung Reina berdebar kencang setelah mendengar ucapan Verdi. Seharusnya hanya suaminya saja yang boleh membuat dirinya salah tingkah begini. Perasaan apa ini? Kenapa dia merasakan perasaan ini pada bosnya?


Ini tidak benar! Tapi Reina semakin tidak bisa mengendalikan kondisi jatungnya yang semakin berdebar kencang.


 


Sementara itu di ruang kerjanya Bobby menatap istrinya yang sedang sibuk memainkan ponsel. Entah kenapa akhir-akhir ini Elora terasa acuh kepadanya. Dia sudah jarang mengajak Bobby mengobrol dan hanya sibuk dengan ponselnya. Bobby pun penasaran apa yang sebenarnya Elora lakukan dengan ponselnya.


 


“Sayang….tolong buatkan kopi. Sebentar lagi aku meeting takut ngantuk.” pinta Bobby. Elora terlonjak melihat Bobby yang tiba-tiba sudah berdiri dihadapannya.


Dia pun tersenyum manis kepada suaminya. “Baik. Tunggu sebentar ya.” ucapnya dia pun menyimpan ponselnya lalu bangkit dan pergi ke ruang pantry untuk membuat kopi suaminya.


 


‘Terima kasih untuk kemarin siang.’


‘Oh iya, terima kasih juga untuk hadiahnya.’


‘Ternyata kamu masih ingat apa yang aku suka.’


 


“Sialan! Jadi mereka masih berhubungan?” geram Bobby seraya mengenggam erat ponsel istrinya. Berbagai pikiran buruk berkecamuk dalam kepalanya. Dari pesan yang dikirim istrinya Bobby sangat yakin kalau Varen yang lebih dulu mengganggu Elora.


“Brengsek! Aku harus membuat perhitungan dengan penggangguran itu!” umpatnya.


 


Sebelum Elora datang, Bobby menyimpan kembali ponsel Elora seperti semula. Tak lama kemudian Elora masuk dengan membawa secangkir kopi ditangannya. “Terima kasih sayang.” ucap Bobby.


Dia pun kembali keruang kerjanya untuk meeting. Setelah Bobby pergi Elora kembali membuka ponselnya. Dia mengecek pesan yang dikirimnya pada Varen.


 


Elora sengaja mengirim pesan yang mengundang kesalahpahaman untuk membuat Reina cemburu. Elora ingin membalas Reina yang sudah menjauhkannya dari Verdi tadi pagi.

__ADS_1


Sementara itu diruang CEO, Verdi dan Reina sibuk mengecek laporan keuangan ketika ada pesan masuk ke ponsel Verdi.


 


Dia membaca pesan itu sekilas dan saat melihat pesan dari Elora yang tidak ada hubungannya dengannya Verdi pun mengira Elora salah mengirim pesan. Dia pun tidak menghiraukannya.


“Reina…..coba carikan laporan dari bagian keuangan dua hari lalu.” pinta Verdi.


Dengan segera Reina memberikan laporan yang Verdi minta. “Ini laporannya Pak.”


 


Verdi mengambil map dari Reina kemudian membacanya. Keningnya berkerut ketika melihat jumlah angka yang tidak sesuai dengan perhitungannya.


“Reina…..kamu sudah cek ini? Kenapa ini jumlahnya berbeda dengan laporan sebelumnya?” tanya Verdi memperlihatkan kolom yang bermasalah. Reina segera bangkit kemudian berdiri disamping Verdi.


 


Reina melihat kolom angka yang Verdi maksud dengan seksama. “Untuk total ini ditambah jumlah barang yang…..”


Karena jarak mereka yang cukup dekat, Verdi tidak fokus pada apa yang dijelaskan istrinya. Dia malah fokus dengan wajah istrinya yang terlihat serius ketika menjelaskan. Tatapan Verdi beralih pada bibir Reina yang terus bicara sambil sesekali tersenyum.


 


Bibir Reina mengingatkan Verdi pada ciuman mereka ketika Reina sakit. Ciuman yang panas dan menggairahkan. Rasa-rasanya Verdi ingin mengulanginya, dia ingin menarik tangan Reina agar duduk dipangkuannya lalu ******* bibirnya.


“Bagaimana pak?” tanya Reina membuyarkan lamunan Verdi.


 


“Manis. Saya suka.” jawab Verdi asal.


Reina mengeryit, “Apanya yang manis pak?”


“Kamu! Eh! Maksud saya…..laporan ini membuat saya mengantuk. Tolong buatkan teh manis.” ralat Verdi gelagapan.


“Baik pak.” Reina mengangguk lalu pergi keluar dari ruangan bosnya.


 


Verdi menghela napas lega saking terpesonanya pada Reina membuatnya salah bicara. Hampir saja dia ketahuan sedang mengagumi wajah Reina. Verdi melirik jam yang masih menunjukkan pukul tiga.


“Kenapa waktu berjalan lambat? Aku ingin segera pulang.”


Sementara diruang pantry Reina menggerutu,


“Dasar bos menyebalkan! Bisa-bisanya dia memandangi istri orang seperti itu. Mau yang manis? Oke aku kasih manis!”

__ADS_1


__ADS_2