
Reina kaget saat dia membuka matanya dan melihat sekelilingnya dengan mengerutkan alis, dia mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi pada dirinya dan kapan dia sampai dirumah. Seingatnya dia masih didalam taksi bersama Varen lalu suaminya memberinya obat pereda sakit dan setelah itu dia tidak ingat apa-apa lagi.
“Hoaaammm…..apa aku ketiduran ya selama perjalanan? Dimana Varen?” gumamnya. Dia mengedarkan pandangan namun tak mendapati siapapun di kamar. “Varen!!!!!” panggilnya seraya turun dari tempat tidur.
Dia berjalan menuju kamar mandi namun tidak terdengar suara apapun dari dalam. Reina mengetuk pintu kamar mandi namun tak ada jawaban lalu dia mendorong pintu mendapati kamar mandi kosong.
“Varen???” panggilnya lagi keluar dari kamar dan mengedarkan pandangan ke ruang tengah, tak ada siapapun disana. Reina mulai khawatir, dia berlari kedapur lalu lari ke belakang rumah namun tak menemukan sosok Varen. Dia berlari kencang keluar rumah dan berdiri di teras memindai setiap sudut halaman rumahnya yang sepi.
Dia tidak melihat Varen dimana-mana, ketakutan mulai muncul dan tak sadar airmata menetes disudut matanya. Tubuhnya merosot di teras rumah sembari menangis, matanya memandang suasana pagi yang masih gelap dan lampun pun masih menyala terang. Reina kebingungan kemana Varen pergi sepagi itu dan kemana dia harus mencarinya.
Ketakutannya semakin besar, dia tidak biasa sendirian dan menyukai kesepian. Lalu Reina berdiri dan melangkah ke kamarnya mengambil tas dan mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Varen namun nomor yang dia tuju tidak aktif.
Dengan langkah lebar dia kembali keluar rumah dan terus berjalan ke depan pagar lalu membukanya. Sambil terus menangis terisak Reina menatap persimpangan jalan yang bercabang. Karena bingung dan tak tahu harus kemana mencari suaminya, dia pun memutuskan untuk menunggu sambil berjongkok di depan pagar sambil memperhatikan jalanan yang masih sepi.
Hari semakin terang, Reina sudah berjongkok didepan pagar selama hampir satu jam. Dia mulai merasa kakinya keram tapi Varen masih belum pulang juga. Akhirnya Reina berdiri dan memutuskan untuk mencarinya karena sudah satu setengah jam berlalu namun suaminya belum juga kelihatan. Dia mengingat kalau Varen suka pergi ke taman untuk berolahraga, dia pun memutuskan untuk pergi kesana untuk mencari.
Baru beberapa dia berjalan, terdengar suara yang familiar memanggilnya. “Reina! Mau kemana?”
Reina langsung menoleh dan melihat wajah suaminya yang berpeluh.
Bukannya menjawab pertanyaan suaminya, Reina langsung berlari sambil menangis tersedu-sedu memeluk Varen yang juga langung membawa Reina kedalam pelukannya.
“Kamu kenapa menangis? Mau pergi kemana sepagi ini?” tanya Varen menatap lekat-lekat wajah istrinya sambil mengusap airmatanya dengan tangan.
“Aku mau pergi mencarimu.” jawab Reina kembali terisak yang membuat Varen tertegun. Dia memang sengaja pergi tanpa meninggalkan pesan pada Reina karena dia niatnya akan pulang sebelum istrinya bangun.
__ADS_1
Varen menatap kaki Reina yang tak memakai sandal dan terlihat kotor, “Kenapa kamu tidak pakai sendal? Berapa lama kamu menungguku?” tanya Varen yang merasa iba melihat istrinya yang masih menangis pilu.
Dia serba salah, satu sisi merasa kasihan dan iba melihat istrinya menangis sesenggukan tapi disisi lain dia mau ketawa karena Reina sangat kekanakan dan menggemaskan.
“Sejak masih gelap, aku tidak lihat jam tapi mungkin sekitaran jam lima.” jawab Reina.
Varen kembali menghapus air mata Reina dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya memeluk pinggang wanita itu.
“Aku tadi berolahraga sebentar lalu pergi ke pasar membeli bahan makanan. Aku pikir kamu masih tidur saat aku pulang makanya aku tidak membangunkanmu. Maaf ya?”
Reina menatap plastik besar yang terletak di dekat kaki Varen, entah mengapa dia menjadi kesal. Apa susahnya membangunkannya atau meninggalkan pesan sebelum pergi kan dia tidak cemas dan ketakutan. Kenapa malah pergi begitu saja sehingga membuatnya sedih dan menangis.
Reina tidak menghiraukan suaminya langsung melepaskan diri dari pelukan Varen dan melangkah memasuki rumah meninggalkan Varen yang terpelongo kebingungan.
‘Loh! Aku salah apa? Bukankah tadi Reina menangis tersedu-sedu? Kenapa sekarang tangisannya langsung berhenti dan justru marah padanya?’ gumam Varen didalam hatinya. Dia mengambil plastik besar yang tadi diletakkannya didekat kaki lalu menyusul istrinya.
Setelah selesai memasak, Varen menata makanan diatas meja dan memanggil Reina yang tampak sudah rapi tapi masih dengan wajah ditekuk. Reina memandangi makanan didepannya dengan kesal, gara-gara semua makanan ini dia menangisi Varen seperti orang gila. Mengingat bagaimana tingkahnya tadi membuat Reina merasa sangat malu.
Dia pun menyantap makanannya dengan wajah menunduk tak berani menatap wajah suaminya.
Drrrrttt…..drrrrtttt….drrrttttttt
“Reina! Ponselmu berdering terus dari tadi.” ucap Varen memberikan ponsel Reina yang tengah dipegangnya tanpa melihat siapa yang menelepon.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Reina mengambil ponselnya lalu menatap nomor tak dikenal yang muncul dilayar ponsel dengan kening berkerut. Dia lalu menjawab panggilan itu.
“Ah…..akhirnya kamu menjawab teleponku juga. Dari tadi aku menghubungimu.”
__ADS_1
“Maaf ya anda ini siapa?” tanya Reina saat mendengar suara pria yang meneleponnya.
“Selamat pagi Reina. Ini aku Kaifan, manajer HRD. Apa kamu masih ingat aku?” tanya Kaifan.
“Ya selamat pagi Pak Kaifan. Ada apa ya anda menghubungi saya sepagi ini?”
“Aku hanya ingin bertanya, kamu sedang apa sekarang? Apa sudah sarapan?” tanya Kaifan dengan suara lembut dan tersenyum senang karena Reina menjawab teleponnya.
Reina menjauhkan ponsel dari telinganya dan menatap heran ke layar ponselnya, dia merasa aneh dengan pertanyaan Kaifan yang tidak penting. Reina pun langsung memutuskan sambungan teleponnya.
‘Dasar orang aneh! Ngapain juga dia tanya-tanya begitu? Tidak penting banget!’ gumamnya didalam hati.
“Siapa yang telepon?” tanya Varen dengan wajah datar namun dari nada suaranya terdengar seperti penasaran.
Reina yang masih marah pada suaminya tak menjawab, alih-alih dia mengetikkan sesuatu dilayar ponselnya lalu memberikannya pada Varen.
Mata Varen menyipit saat melihat kata ‘Kaifan HRD’ pada layar ponsel istrinya. “Kenapa dia meneleponmu pagi-pagi begini? Apa maunya?”
“Mana aku tahu! Dia nanya kamu sedang apa? Apa sudah sarapan?” Reina berbalik dan kembali menyibukan diri menyantap makanannya.
Rahang Varen mengeras dan tangannya menggenggam erat ponsel Reina. “Lain kali tidak perlu menjawab telepon yang tidak jelas! Kamu sudah menikah dan punya suami, hindari berinteraksi dengan pria lain.” ucap Varen terdengar kesal.
Reina menoleh sekejap lalu kembali menundukkan wajahnya kembali menyantap makanannya. Melihat itu Varen semakin mengeratkkan giginya, dia bingung dan kesal dengan sikap Reina yang mengacuhkannya tanpa dia tahu dimana kesalahannya. Setelah selesai sarapan, Reina berdiri dan membawa piring kotor ke dapur untuk di cuci.
Varen masih kesal lalu bertanya, “Kamu marah padaku?”
Bukannya menjawab, Reina mempercepat mencuci piring lalu pergi menuju kamar. Varen hanya menatap punggung Reina dengan wajah bingung, kenapa dengan istrinya? Dia tidak tahu bagaimana harus meredakan kemarahan wanita itu padahal dia sudah meminta maaf.
__ADS_1