
“Kalau seandainya nanti terasa sakit lagi, sebaiknya langsung kerumah sakit untuk CT Scan ya.”
“Baik dokter.” jawab Reina mengangguk. Selanjutnya dokter memeriksa luka Varen yang meskipun luka Varen lebih banyak tapi dokter mengatakan tidak serius kecuali bagian hidungnya.
“Saya resepkan obat untuk ibu Reina dan bapak Varen. Sebaiknya segera ditebus.”
Dokter pun menuliskan resep obat kemudian menyerahkannya pada Samara. Alis Samara bertaut melihat tulisan dalam kertas yang dipegangnya.
“Saya meresepkan obat penghilang rasa sakit dan salep untuk luka memar mereka.” ucap dokter menjawab kebingungan Samara.
“Segera tebus obatnya dan antarkan dokter.” perintah Samara pada Ezra.
Ezra mengangguk lalu mempersilahkan dokter untuk ikut keluar bersamanya. “Terima kasih Nyonya. Maaf kami jadi merepotkan anda.” ujar Reina.
Samara menatap Varen dan Reina dengan tajam kemudian berdecak kesal. “Kalian berdua ini memang bodoh. Siapa sebenarnya pria itu?” tanyanya.
Reina menatap suaminya yang sedang menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sebenarnya Reina tidak merasa berkewajiban untuk menjelaskan apa-apa kepada Samara. Wanita itu hanya tamu dirumahnya.
“Pria itu terus mengganggu Reina jadi tadi pagi Varen memberinya peringatan.” jawab Varen.
“Kamu yang memukulnya lebih dulu?” tanya Samara dengan ekspresi terkejut.
Varen mengangguk. Samara berdecak kesal, “Dasar ceroboh! Seharusnya kalau mau melakukan sesuatu itu harus sampai tuntas jangan setengah-setengah.” ujar Samara menatap cucunya dengan tajam.
Sementara Varen hanya menundukkan kepala saja. Saat dia mendengar perkataan neneknya, dia mendongak dengan alis bertaut tidak paham dengan perkataan neneknya.
“Mengurus satu cecunguk saja tidak becus! Tapi sudah mau berumah tangga. Kevin, akan mengantarkan obat untuk kalian.” cibir Samara. Tanpa pamit dia langsung melangkah pergi meninggalkan rumah itu.
“Nenek…..” panggil Varen hendak menyusul Samara namun Reina mencekal tangannya.
“Kenapa kamu memanggil Nyonya Samara dengan sebutan nenek? Memangnya dia nenekmu?”
Varen terkesiap dengan pertanyaan Reina. Terlihat beberapa kerutan menghiasi kening istrinya. Varen menyakinkan diri mungkin ini saat yang tepat untuk mengatakan yang sebenarnya.
“Reina…..sebenarnya aku---”
Tok Tok Tok
__ADS_1
Terdengar suara ketukan dipintu depan.
“Sepertinya itu orang yang akan mengantarkan obat. Biar aku saja yang bukakan pintu.” ucap Reina seraya bangkit dari tempat duduknya. Varen mencekal tangan Reina karena tidak mau kehilangan momen baik untuk berkata jujur kepada istrinya.
“Reina dengarkan dulu. Sebenarnya Nenek Samara adalah nenekku.”
Reina tertegun, dia menatap Varen dengan ekspresi kosong kemudian seulas senyum muncul dibibirnya. “Aku sudah tahu dari Pak Felix. Kamu dan dia saling mengenal jadi tidak ada salahnya mengganggap nenek temanmu sebagai nenekmu sendiri.”
“Bukan begitu maksudnya Reina. Dia memang nenekku.” ujar Varen.
“Aku ambilkan dulu obatnya. Kamu harus segera diobati lagian kasihan orangnya nunggu didepan.” Reina melepaskan tangan Varen dan berjalan menuju ke pintu depan. Reina membukakan pintu nampak seorang pria paruh baya berdiri didepan pintu rumahnya.
“Berapa yang harus saya bayar?” tanya Reina ketika pria itu meyodorkan bungkusan berisi obat.
“Tidak perlu Nyonya. Semuanya sudah dibayar oleh Nyonya Besar.” jawab Ezra.
“Tunggu sebentar.” pinta Reina melangkah masuk dengan tergesa. Dia mengambil dompetnya. “Apa segini cukup?” gumam Reina seraya mengeluarkan uang berwarna merah sebanyak lima lembar.
“Mengganti biaya pemeriksaan dan obat.” jawab Reina menatap varen sekilas kemudian kembali berjalan ke pintu depan. Terlihat pria paruh baya berpakaian setelan hitam masih menunggunya diluar. Reina menyodorkan uang miliknya.
“Semoga ini cukup. Terima kasih atas bantuannya.” ucap Reina.
Ezra hendak menolak namun Reina menyelipkan uang itu di saku jasnya. Lalu dia menyambar bungkusan obat dari tangan Ezra.
“Maaf…..saya harus segera mengobati suami saya.” ucap Reina saat Ezra hendak mengembalikan uang yang dia berikan. Lalu Reina menutup pintu rumah dan duduk kembali disamping suaminya.
Terlihat Varen tengah duduk tegak seraya memegangi hidungnya. Reina menyimpan obat yang dibawanya.”Apa Kevin meminta uangmu?” tanya Varen dengan suara sengau. Tadi dia hendak menyusul Reina namun tiba-tiba hidungnya kembali mengeluarkan darah.
“Aku hanya tidak mau berhutang.” jawab Reina seraya menatap sendu Varen yang sedang menghentikan pendarahan dihidungnya.
“Sakit ya? Lain kali jangan berkelahi lagi.” ucap Reina dengan suara bergetar. Varen melirik Reina dengan ujung matanya dia terkesiap melihat airmata diwajah istrinya.
__ADS_1
“Reina…..” panggil Varen dengan menatap istrinya yang menundukkan wajahnya dengan ekspresi sedih. Varen jadi merasa sangat bersalah.
“Perkelahian hanya akan memicu dendam dan pertumpahan darah. Kenapa kamu memukul Kaifan? Apa karena aku makanya kamu sampai menghajarnya begitu?” Reina melepaskan tangannya dari hidung Varen dan menatapnya tajam.
“Reina…..pria itu tidak akan berhenti mengganggumu kalau aku tidak bertindak.” jawab Varen.
Reina mengambil kompres dan menempelkan k hidung Varen. “Apa dia akan berhenti setelah kamu memukulnya? Buktinya dia malah balik melukaimu.” ucap Reina terisak. Varen terdiam sambil mengepalkan tangannya. Dia tidak menyesal karena sudah memukul Kaifan tapi dia menyesal karena tidak membuat Kaifan kapok.
“Seharusnya aku patahkan saja kaki dan tangannya.” gumam Varen lagi. Reina langsung menekan kompres ditangannya sedikit kuat. Dia kesal karena Varen bukannya menyadari kesalahannya malah mengatakan hal yang mengerikan seperti itu. Varen meringis kesakitan dan melayangkan tatapan tajam kepada istrinya.
Terlihat airmata menggenang dikedua manik hitamnya. “Aduh...sakit….” keluh Varen.
“Makanya jangan berkelahi kalau tidak mau sakit. Kamu pikir aku akan berterima kasih karena kamu sudah memukul Kaifan? Dengar ya Varen, Kaifan akan bosan juga menggangguku jika aku mengacuhkannya. Seharusnya kamu tidak bertindak seperti itu.”
Varen menatap istrinya dengan wajah mengeras, Reina terlalu polos dan naif. “Perasaan pria tidak sesederhana itu Reina. Jika sudah menyangkut masalah hati jangankan bosan dan menyerah yang ada dia akan semakin nekad mendekatimu. Dia tidak akan berhenti mengganggumu sampai dia benar-benar memilikimu. Baru dia akan berhenti jadi jangan terlalu naif dalam berpikir.”
Reina terdiam sambil menatap wajah Varen dengan tatapan sendu. “Apa kamu juga akan melakukannya? Jika aku menginginkan kamu pergi, apa kamu tetap akan mempertahankan aku?” tanya Reina sambil memperhatikan ekspresi wajah suaminya. Varen menarik tangan Reina hingga tubuhnya terjatuh kedalam pelukannya.
“Kenapa kamu menanyakan hal seperti itu?” tanya Varen dengan suara berat. Dia memeluk Reina erat.
“Karena semakin aku mengenalmu, aku semakin membencimu. Aku membencimu Varen.” jawab Reina dengan tangisnya yang lantang. Dia membalas memeluk Varen dengan erat. ‘Ya aku membencimu karena membuatku tidak bisa jauh darimu.’ bisiknya dalam hati.
Sementara itu ditempat lain. Samara menatap jalanan yang dilaluinya dengan tatapan kosong. Ditangannya tergenggam benda pipih yang memperlihatkan foto menantunya dan limalembar uang kertas berwarna merah. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh wanita tua itu.
“Kita sudah sampai Nyonya Besar.” ucap Ezra.
Samara mengalihkan pandangannya menatap cafe didepannya. Terlihat cafe itu dikunjungi banyak orang. Disebelahnya ada sebuah restoran yang tidak kalah ramainya dari pengunjung. Hasena Cafe dan Hasena Resto nama kedua tempat yaang sedang diperhatikan oleh Samara.
“Dimana orang tua wanita itu sekarang?” tanya Samara dengan suara datar dan dingin.
__ADS_1
“Mereka sedang berada di cafe, Nyonya Besar.” jawab Ezra.