
Karena merasa khawatir, Varen memutuskan untuk mencarinya sendiri namun saat Varen akan keluar dari lift kebetulan dia bertemu Reina. Masih teringat jelas dalam ingatannya bagaimana keadaan Reina saat itu. Wajahnya yang terlihat lelah, bibirnya kering dan kakinya yang agak bengkak karena kebanyakan jalan kaki.
Hampir saja waktu itu dia merengkuh Reina kedalam pelukannya namun Felix lah yang menghentikannya. Felix tidak mau Samara murka kepada Verdi karena mengungkapkan identitasnya.
Terpaksa waktu itu dia diam saja dan berharap Reina bisa mengenalinya. Tapi sayangnya Reina terlalu lugu untuk bisa mengenalinya. Reina malah mengatakan kalau dia sangat mirip dengan suaminya.
“Mungkin Nyonya Reina masih ada didalam kantor, tuan.” ucap Tanta membuyarkan lamunan Varen.
“Aku akan mencarinya. Kamu tunggu saja disini.” ucapnya lalu berlari masuk kedalam perusahaan.
Ketika dia berada didepan lobi, kebetulan sekali Elora dan Bobby hendak masuk kedalam mobil pun melihatnya. Mereka berdua bergegas menghampirinya.
“Ohhhoooooo…..lihatlah siapa ini yang datang?” teriak Elora dengan sengaja meninggikan suaranya tanpa mempedulikan orang-orang yang berada disana.
Varen menoleh namun tidak melihat Reina. Elora dan Bobby terlihat memandangnya dengan tatapan meremehkan dan mencibir.
“Mau apa kamu kesini? Mau cari pekerjaan juga ya? Jam kerja sudah lewat, jadi sebaiknya kamu datang lagi besok pagi!” ujar Bobby dengan angkuhnya merendahkan Varen.
“Minggir! Aku tidak ada urusan dengan kalian berdua!” jawab Varen hendak pergi namun Bobby malah meneriakinya dengan kencang.
“Eh! Mau kemana kamu? Kamu tidak liat ya para karyawan sudah pulang? Ini sudah lewat jam kerja! Selain karyawan dilarang masuk! Atau jangan-jangan kamu mau mencuri ya makanya sengaja datang di jam segini?” teriak Bobby sekencangnya.
Melihat Varen yang mengacuhkannya membuat Bobby semakin geram lalu dia pun memanggil satpam. “Satpam! Kemarilah! Jangan biarkan pria ini masuk. Dia mau mencari pekerjaan takutnya malah membuat keributan didalam! Besok-besok kalau kalian melihatnya lagi, langsung usir saja! Saya khawatir kalau dia ini pencuri.” seru Bobby lagi.
__ADS_1
Dua satpam itupun terdiam, mereka memperhatikan penampilan Varen yang sedikitpun tidak menunjukkan penampilan orang yang hendak mencari pekerjaan. Para karyawan yang baru keluar pun mulai berkerumaun, merasa penasaran dengan keributan yang terjadi didepan lobi perusahaan.
Varen menatap tajam pada Bobby. “Aku kesini bukan untuk mencari pekerjaan. Aku mau menjemput Reina istriku! Jangan menyebar kebohongan yang nanti membuatmu malu sendiri!”
“Ckckckck! Dasar pria tidak tahu malu! Aku kira kamu akan segera sadar diri dan mencari pekerjaan. Fuuuhh! Ternyata hanya ingin mencari istrimu? Kamu pasti mau minta uang sama dia kan? Dasar laki-laki tidak berguna!” cibir Elora. Melihat wajah Varen yang datar selalu membuatnya merasa kesal.
“Maaf pak! Memangnya siapa pria ini ya? Bapak kenal dengannya?” tanya Kaifan memberanikan diri bertanya karena percakapan mereka yang didengarnya tak sengaja itu membawa-bawa nama Reina. Wanita yang disukainya sejak pertama kali melihatnya, ibarat jatuh cinta pada pandangan pertama.
“Wah, Pak Kaifan ada disini ternyata! Kebetulan sekali pak. Dia ini adik ipar saya, suaminya Reina adikku. Dia belum mempunyai pekerjaan sampai sekarang masih menganggur. Kalau ada pekerjaan sebagai cleaning service atau apalah itu mungkin bapak bisa memberikan padanya. Kasihan sekali Reina harus terbebani karena menanggung hidup suaminya yang pengangguran ini.” ujar Elora semakin merendahkan Varen.
Kaifan pun terkejut, dia tidak percaya jika apa yang dikatakan Elora itu benar kalau suami Reina pengangguran. Pantas saja Reina meminta gajinya dibayar harian ternyata ini alasannya. Kaifan pun menjadi kasihan dan iba pada Reina.
Tapi dia melihat ini sebagai peluang untuk mendekati Reina, toh dia juga tampan meskipun suami Reina jauh lebih tampan darinya. Tapi setidaknya dia punya pekerjaan bagus dengan posisi manajer.
Kaifan berpikir pasti pakaian Varen itu murahan. Varen makin kesal bukan karena perkataan Bobby dan Elora ataupun Kaifan tetapi karena mereka menghalanginya untuk mencari Reina.
Varen menatap tajam pada Kaifan lalu berkata, “Terima kasih atas tawarannya tapi saya kesini untuk mencari istriku.” ucap Varen berbalik dan hendak pergi namun Bobby meneriakinya.
“Satpam! Hentikan dia! Jangan biarkan dia masuk!”
“BOBBY!” Reina meneriaki mantan suaminya itu dengan penuh amarah. Wajahnya menegang dengan mata merah menatap Bobby dan Elora bergantian juga Kaifan yang berdiri disamping kedua pengkhianat itu. Dia tidak terima suaminya di permalukan, lalu Reina menghampiri suaminya.
__ADS_1
Semua orang yang berada disana melihat keributan itu dan menatap Reina sambil berbisik-bisik.
“Kebetulan sekali kamu disini Reina! Suami kamu itu memang tidak tahu malu ya. Aku sudah meminta Pak Kaifan memberinya pekerjaan tapi dia sok jual mahal pula. Dasar tidak tahu malu hanya jadi beban istrinya saja!” ujar Bobby tersenyum miring.
“Sudah selesai bicaranya? Kamu itu memangnya siapa? Bernai-beraninya menilai suamiku seperti itu? Nilai saja dirimu sendiri yang berselingkuh dengan kakakku! Dengar baik-baik ya! Mau suamiku itu kerja atau tidak, Varen tidak pernah menjadi beban untukku.” Reina bicara dengan nada tegas.
Bobby dan elora tercengang kemudian mereka tertawa mengejek.
“Sudahlah Reina. Kamu tidak usah membela suami pengangguranmu yang tidak tahu diri itu! Lebih baik kamu bujuk saja dia supaya mau bekerja besok sebagai pelayan di kantin. Setidaknya hidupnya berguna sedikitlah! Gaji pelayan kantin kan lumayan juga daripada kerjaan tidak jelas? Pergi pagi pulang sore entah apa yang dikerjakan!” Elora mendengus.
“Itu bukan urusanmu! Eh Elora, aku tidak akan pernah membiarkan wajah tampan suamiku ini terpampang di kantin perusahaan atau dimanapun juga! Lebih baik aku yang bekerja dan menyembunyikan wajah tampan suamiku dari para pelakor sepertimu!”
Sontak semua orang melotot mendengar ucapan Reina. Mereka kembali berbisik-bisik namun kali ini yang terdengar mereka menyebutkan nama Elora. Maat Elora pun melotot, dia tidak senang dengan sindiran Reina. “Dasar perempuan bodoh! Buat apa suami tampan tapi penggangguran. Merepotkan!”
“Ya bagi perempuan sepertimu memang merepotkan karena kamu itu hidup kan mau enaknya saja! Lebih bagus suamiku diam dirumah daripada membiarkannya keluyuran diluar dengan gaji tidak seberapa. Di lirik-lirik perempuan lain diluar sana, issss…...aku masih sanggup membiayai suamiku. Aku yakin semua perempuan akan sependapat denganku! Hanya perempuan punya otak pastinya!”
Semua orang tertawa dan berbisik membenarkan perkataan Reina.
“Apa yang dikatakan Reina benar! Aku juga kalau punya suami setampan itu bakalan aku sembunyikan dirumah! Bahaya bebs….sekarang banyak pelakor berkeliaran dimana-mana.”
“Benar! Aku setuju daripada suami digoda pelakor iyakan? Mending di kurung dirumah saja.”
“Dia memang tampan. Kalau pria itu suamiku bakalan aku simpan dalam brankas biar aman dan tidak bisa keluar! Hari gini, jangankan suami tampan yang tidak tampan saja diembat pelakor! Apalagi suami setampan itu? Bisa gawat darurat deh.”
__ADS_1
Reina terkekeh mendengar pendapat para karyawan sedangkan Elora mendengus kesal dan mencemooh. “Dasar manusia-manusia tidak waras!” umpatnya.