
Dan kemarahan Reina terus berlanjut sampai dia hendak berangkat kerja. Wanita itu tetap mengacuhkannya dan tidak mau bicara dengannya. Varen semakin bingung dengan sikap istrinya itu.
“Rei…..jangan diam begini dong. Tolong bicara padaku, jangan terus diam begini.”
Mendengar permintaan suaminya, Reina menatap Varen dengan mata berkaca-kaca karena sebenarnya dia pun merasa tidak nyaman mendiamkan suaminya tapi dia masih merasa kesal.
‘Aku tidak bisa lemah dan memaafkannya. Dia sudah membuatku sedih dan menangis.’ bisik hatinya. Tanpa menghiraukan suaminya, Reina mengambil tasnya dari kamar lalu berjalan keluar rumah tanpa pamit pada suaminya, dia berangkat kerja.
Taksi yang biasa mengantarnya sudah menunggu seperti biasanya. Reina masuk kedalam taksi dan menutup pintu. Sepanjang perjalanan menuju ke kantor dia hanyut dalam diam. Tanta yang melirik dari spion didepannya merasa heran dengan sikap Reina yang tidak seperti biasanya. Tapi dia tak mau ikut campur dengan urusan istri majikannya itu.
Sesampainya di kantor, Reina melangkah dengan gontai menuju kantornya. Sepanjang langkahnya dia mengingat kejadi tadi dan dia sadar kalau sebenarnya Varen tidak bersalah. Dialah yang terlalu berlebihan dalam bersikap dan panik mengira kalau Varen akan pergi meninggalkannya. Sebenarnya Reina merasa trauma dengan semua kejadian yang dialaminya selama ini.
Hal yang paling tidak diinginkannya adalah sendirian dan ditinggalkan. Dia sudah tidak sanggup menanggung jika dirinya kembali ditinggalkan. Dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi, bahkan keluarganya tidak pernah menganggapnya ada. Mereka hanya memperlakukannya tak lebih dari seorang pembantu selama ini.
Tapi perasaan takut yang dirasakan Reina membuatnya ingin mendiamkan Varen. Dia tidak terima Varen meninggalkannya tanpa meninggalkan pesan dan tanpa memberi alasan sebelumnya. Ketika dia sampai didepan lobi seperti biasanya Reina menyapa satpam yang berjaga didepan gedung kantor dan menyapa Shania yang sudah berada di meja resepsionis.
Karena suasana hatinya yang sedang buruk pagi ini, dia langsung pergi menuju lift tanpa mau berbincang lebih lama seperti biasanya.
“Hai Reina. Selamat pagi.” sapa seseorang yang suaranya dikenali oleh Reina. Dia lalu menatap ke lift sebelah kanan. Reina mengeryit menatap Kaifan yang berdiri didepan pintu lift.
“Ehm…..” hanya itu balasan yang diberikan Reina pada Kaifan karena dia tidak suka sikap pria itu.
Sedangkan Kaifan menatap Reina dengan tatapan kagum, dari awal dia melihat Reina sejak saat itu dia sudah jatuh hati padanya. Kaifan ingin mengenal Reina lebih jauh namun setelah mengetahui wanita itu sudah menikah, dia pun menyerah pada perasaannya. Tapi sejak kejadian kemarin, semangatnya kembali berkobar untuk mendapatkan Reina kembali.
Dia sangat yakin kalau dirinya lebih pantas bersanding dengan Reina daripada suaminya yang tak punya pekerjaan itu. Dengan penuh percaya diri dan senyum diwajahnya, Kaifan menyodorkan sesuatu kepada Reina. “Ini bunga dan coklat untukmu. Aku harap kamu suka.”
__ADS_1
“Terima kasih tapi maaf ya saya tidak bisa terima.” jawab Reina menolak dengan tegas lalu berjalan kearah lift lalu menscan ID Cardnya.
“Reina tunggu!” Kaifan mencekal tangan wanita itu dengan erat, dia tidak akan membiarkan Reina pergi begitu saja. “Bunga dan coklat ini kubeli khusus untukmu, jadi tolong diterima ya.” ucapnya memaksa Reina untuk menerimanya.
“Maaf, tapi saya tidak bisa menerima ini. Saya ingatkan anda jika mungkin anda lupa kalau saya sudah menikah. Saya tidak bisa menerima pemberian dari pria manapun selain suami saya! Jadi tolong lepaskan tangan saya.” Reina mendorong pemberian Kaifan namun pria itu malah memberikan coklat dan bunga ketangan Reina lalu pergi.
“Ehem….” Verdi berdehem dibelakang Reina.
“Eh, selamat pagi pak.” sapa Reina yang terkejut.
Saat melihat bunga dan coklat di tangan Reuna, rahang Verdi mengeras dan emosinya muncul.
“Dari siapa barang-barang ini kamu dapat?”
“Oh ini dari Pak Kaifan.” jawab Reina acuh karena merasa dia tidak perlu menjelaskan apapun pada atasannya itu.
Verdi berhenti didepan Reina dan berkata, “Tolong kamu ganti bunga diruangan saya dengan bunga yang kamu pegang itu! Berikan coklat itu padaku.” perintah Verdi seraya mengulurkan tangannya,
“Hah? Tapi pak ini----”
“Cepat berikan1”
Reina yang memang sedang bad mood pun terpancing emosinya dengan sikap atasannya itu. Matanya mendelik menatap Verdi, “Tidak bisa. Maaf ini punya saya.” tolak Reina menyembunyikan kedua barang itu dibelakang punggungnya. Itu justru membuat Verdi pun semakin marah dan tak senang.
“Kenapa? Berikan pada saya! Saya ini atasanmu!” tanya Verdi penuh penekanan. Rahangnya menegang hingga otot leher dan kepalanya ikut menegang menatap Reina dengan tajam. “Apa karena itu pemberian Kaifan makanya kamu menolak memberikan pada saya?”
__ADS_1
“Iya! Coklat dan bunga ini bukan milik bapak. Jadi saya tidak bisa memberikannya pada bapak.”
Verdi semakin geram, tanpa berkata apapun lagi dia berbalik dan pergi meninggalkan Reina. Sedangkan Reina mengerutkan keningnya menatap kepergian Varen yang semakin menjauh.
“Apa dia marah ya? Aneh! Bisa-bisanya minta bunga dan coklat ini? Aku juga balikin kok sama Pak Kaifan? Huh! Lagian yang seharusnya kasih aku bunga itu Varen bukan pria lain.” dengusnya.
“Pak Verdi juga aneh! Masak marah gara-gara tidak dikasih coklat? Kekanak-kanakan sekali sih.” Reina melanjutkan langkahnya menuju ke meja kerjanya lalu menyimpan barang-barang itu dibawah meja kerjanya lalu meraih gagang telepon. “Tolong suruh OB keruanganku sekarang ya.” pinta Reina pada orang yang dihubunginya.
Sementara itu didalam ruangan CEO tampak Verdi yang uring-uringan dan terlihat sangat kesal. Dirumah, istrinya mengasuhkannya dan dikantor juga istrinya malah berani menerima pemberian dari pria lain.
PRAAAKKKK!
Verdi melempar dokumen ditangannya hingga berserakan di lantai. Dia melonggarkan dasinya seraya membuka kancing kemejanya, dia merasa panas dan dadanya sesak.
Seumur hidup baru kali ini dia merasa kesal dan dia bingung bagaimana menenangkan dirinya dan menghilangkan kekesalannya.
Ceklek!
Pintu ruang kerjanya terbuka dan Felix memasuki ruangan. Matanya melotot melihat keadaan ruangan itu yang berantakan. Felix memunguti dokumen yang berserakan lalu duduk dihadapan sepupunya yang tampak galau. Matanya menyipit saat melihat penampilan Verdi yang juga berantakan.
“Kamu kenapa? Apa yang terjadi disini?” tanya Felix.
“Apa semua wanita akan senang jika diberikan bunga dan coklat?” tanya Varen dengan tatapan tajam.
“Hah? Kenapa kamu bertanya hal seperti itu padaku? Ada apa sih?”
“Jawab saja! Jangan balik bertanya!” ucap Verdi seraya menggertakkan giginya.
“Ya memang benar. Semua wanita pastilah suka dengan barang yang indah dan manis. Tak ada seorang wanitapun yang menolak diberi bunga dan coklat.” jawab Felix dengan santai tanpa tahu apa yang sedang terjadi pada sepupunya itu.
“Jadi bunga dan coklat itu menurutmu indah dan manis? Apa wanita akan berhenti marah kalau diberikan kedua barang itu?” tanya Verdi lagi.
__ADS_1