
Varen tersenyum kecut, dia meragukan perkataan Reina. Selama ini Varen merasa neneknya hanya menganggapnya sebagai pengganti putranya. Dia menuntut Varen untuk bisa seperti ayahnya, Samara bahkan mengubah namanya dengan nama ayahnya. ‘Kalau wajahku tidak mirip papa, mungkin nenek tidak akan pernah menganggapku cucuna.’ bisik hati Varen.
Sementara itu, disebuah rumah mewah bergaya Eropa tampak Samara sedang berdiri didepan jendela sambil memegang teralis besi yang membingkai jendela. Tangannya mengepal kuat pada teralis hingga membuat jarinya memutih.
“Jadi Varen masih bersama wanita itu sekarang?” tanya Samara dengan suara dingin.
Pria paruh baya yang sedang berdiri dibelakangnya pun mengangguk, “Iya Nyonya. Kemungkinan besar istri tuan muda memang tidak berpura-pura.”
Samara berbalik seraya tersenyum sini. “Tapi dia mudah tergoda uang! Pakai alasan untuk modal usaha bersama suaminya pula! Dia pikir aku ini bodoh?”
Pria itu menunduk karena takut perkataannya menyinggung perasaan nyonya besar itu. Samara berjalan menuju ke sofa mewahnya lalu duduk dan mengambil bingkai foto dihadapannya. Ditatapnya wajah pria bernetra biru yang sedang tersenyum sambil memeluk Samara.
“Aku tidak mau Varen terjebak dengan wanita mata duitan seperti ibunya dulu. Setelah gagal mendapatkan uangku, wanita itu malah nekad menyabotase mobil suaminya hanya untuk mendapatkan uang asuransi. Aku tidak mau kehilangan untuk yang kedua kalinya.”
Samara memejamkan matanya sambil menarik napas panjang. Mengingat kembali penyebab kecelakaan yang menimpa putranya. Dia masih mengingat dengan jelas perkataan terakhir putranya yang meminta Samara untuk menjauhkan Varen dari keluarga ibunya. Ayah Varen bernama Verdi Bimantya Kezie, sebelum meninggal mengatakan jika istrinya dan ayah mertuanya mendekatinya demi uang.
Dia baru mengetahui itu saat mendengar percakapan ayah mertuanya dengan Hasena mengenai hutang yang dimiliki Ginto Saskara kepadanya. Setelah mengetahui kenyataan itu, Verdi bermaksud menjemput varen dari rumah mertuanya saat itu dan membawanya pergi. Namun, Ivana yang memergoki Verdi berdiri didepan ruang kerja ayahnya langsung mencegahnya pergi.
Mereka pun bertengkar hebat lalu Verdi masuk kedalam mobilnya dan tanpa sadar Ivana ikut masuk menyusulnya. Saat mobil yang dikendarai Verdi melaju dijalan raya, Ivana baru menyadari kalau mobil suaminya sudah rusak. Dia pun meminta Verdi untuk menghentikan mobilnya. Namun terlambat saat sebuah truk melaju kencang kearah mereka dan Verdi kehilangan kendali.
Rem mobilnya sudah disabotase, akhirnya kecelakaan pun terjadi yang merenggut nyawa keduanya. Verdi hanya bertahan sehari setelah kecelakaan sedangkan Ivana mengalama koma selama beberapa hari dan akhirnya meninggal. Samara menitikkan airmatanya.
__ADS_1
“Setelah kehilangan putrinya, Kupikir Saskara akansadar tapi ternyata aku salah. Dia malah memanfaatkan Varen untuk membayar hutangnya kepada Hasena.”
“Andai aku tahu rencana licik pria itu, aku tidak akan pernah mengijinkan cucuku pulang untuk menemuinya.” tutur Samara dengan suara bergetar. Meredam semua perasaan marah, kecewa dan benci didalam hatinya.
Ezra menatap wanita tua dihadapannya dengan perasaan iba, dia tahu betul semua kesulitan yang dihadapi Samara gara-gara keluarga Saskara. “Apa yang akan Nyonya lakukan sekarang? Bukankah sebaiknya nyonya menjelaskan semuanya kepada tuan muda supaya dia tahu alasan dan kenyataan yang sebenarnya?”
Samara menatap Ezra dengan tajam, “Apa yang harus aku jelaskan padanya? Apa aku harus mengatakan jika Saskara sengaja menikahkannya dengan cucu Hasena demi untuk mencarikan uang asuransi yang ditinggalkan ayahnya?”
Emosi Samara mencuat saat mengingat rencana licik Ginto Saskara dibalik pernikahan cucunya. Beberapa hari setelah Varen menikah, Samara mengetahui bahwa uanga suransi putranya yang selama ini dibekukan sudah dicairkan pada hari pernikahan Varen. Samara mengira kalau uang itu sengaja dibekukan karena Saskara menyesal sehingga tidak pernah mau menggunakannya.
Tetapi ternyata yang itu memang tidak bisa dicairkan karena Verdi mengubah pemegang polis asuransi jiwanya menjadikan Varen sebagai ahli waris. Dan uang asuransi itu akan dicairkan kalau Varen menikah. Saskara yang mengetahui itu memanfaatkan Varen. Dia dengan sengaja mengatur perjodohan Varen dengan cucu Hasena agar sebagian uang asuransi itu jatuh ketangan Hasena sebagai pelunas hutang.
Butuh kerja keras untuk mengorek rahasia ini, Samara mengetahui semuanya dari penuturan pengacara keluarga Saskara yang juga mendapatkan keuntungan dari uang asuransi yang ditinggalkan Verdi.
“Aku tidak mau membuat Varen kembali terpuruk. Cukup denganku saja dia merasakan terluka, biarlah dia menganggap kakeknya benar-benar mencintainya.” ucap Samara.
“Untuk sementara kau awasi saja gerak gerik wanita itu. Aku dengar kalau sifatnya berbeda dari keluarganya. Tapi kita tetap harus berhati-hati. Bagaimanapun darah lebih kental daripada air. Jika kakak dan kedua orang tuanya adalah orang yang licik, wanita itupun pasti tidak jauh berbeda.”
Ezra menganggukkan kepalanya. “Baik nyonya.”
“Sekarang pergilah. Aku mau sendiri.” Samara mengibaskan tangannya.
__ADS_1
Tanpa diminta dua kalipun Ezra segera pergi meninggalkan Samara yang masih memandangi foto putranya yang sudah meninggal.
Pagi ini seperti biasanya, Reina bangun pagi lalu mandi, memasak dan sarapan bersama Varen.
Tapi ada hal yang membuat Reina kesal pagi ini. Bukan Varen yang tiba-tiba menghilang lagi seperti pagi sebelumnya tapi suara getar ponselnya yang terus saja mengganggunya.
Dretttt dreeettttt dreeettttt……
Lagi-lagi suara getaran ponsel itu terdengar, entah untuk yang keberapa kalinya Reina melihat nama Kaifan HRD muncul dilayar ponselnya. “Mau apa sih pria itu terus menerus menelepon?” gerutu Reina kesal. Dia pun terpaksa menjawab panggilan itu dengan suara dingin dan ketus.
“Selamat pagi Reina. Kamu sedang apa? Sudah sarapan belum? Aku kirimkan sarapan buat kamu ya?”
Reina mengeryit mendengar pertanyaan tidak penting seperti itu dari Kaifan. Pertanyaan-pertanyaan itu mengingatkannya pada Bobby, mantan suaminya. Dulu ketika Bobby mendekatinya juga sering menanyakan pertanyaan yang sama seperti Kaifan. Itu yang membuatnya kesal dan jijik pada pria ini.
“Maaf Pak Kaifan. Apapun yang sedang saya lakukan dan kerjakan. Anda tidak berhak mengetahuinya. Dan lagi ya, saya mau ingatkan kalau saya mau sarapan atau tidak itu bukan urusan anda. Jadi tolong jangan menelepon saya lagi. Karena saya dan suami saya merasa sangat terganggu dengan anda.”
Reina segera memutuskan panggilan setelah dia selesai bicara dan meletakkan ponselnya dengan kasar.
“Dasar tidak sopan! Laki-laki tidak punya otak! Sudah tahu orang menikah masih saja mengganggu!”
Reina sangat kesal karena Kaifan bersikap seakan tidak tahu kalau Reina sudah menikah. Padahal Kaifan pernah bertemu dengan Varen. Reina memang sengaja bersikap dingin dan tegas padanya karena dia tidak mau timbul kesalahpahaman antara dirinya dan Varen.
Varen keluar dari dalam kamar, dia mengeryit mendengar Reina yang mengomel sendiri. Dia pun menghampiri istrinya. “Ada apa? Kenapa pagi-pagi sudah marah-marah begitu?” tanya Varen.
Reina terlonjak kaget karena Varen sudah ada dibelakangnya, hampir saja piringnya jatuh.
“Bisa tidak ya kamu itu jangan mengagetkanku terus?”
__ADS_1
“Aku tidak mengagetkanku. Kamu aja yang terlalu fokus marah-marah.” sanggah Varen. “Sudah hampir jam enam. Bersiaplah ke kantor, biar aku saja yang melanjutkan cuci piringnya.” Varen mengambil piring penuh busa dari tangan istrinya dan melanjutkan mencuci piring. Dia mendengar ponsel Reina bergetar dan meraih ponsel itu.