TUKAR PASANGAN

TUKAR PASANGAN
BAB 75. LUKA HATI


__ADS_3

Reina mengerutkan keningnya, menurut kabar yang beredar Kaifan tidak akan berhenti sampai dia mendapatkan apa yang di inginkannya. Tapi kenapa tiba-tiba dia berhenti mengganggu Shania?


“Kalau boleh tahu kapan dia mulai berhenti mengganggumu?” tanya Reina seraya menyuapkan kentang gorengnya sambil menatap Shania dengan serius.


 


Shania menautkan alisnya mencoba mengingat-ingat kapan terakhir kali Kaifan mendatanginya. “Kalau tidak salah…...sekitar seminggu lalu. Sejak aku pertama kali melihat suamimu didepan kantor.”


UHUK! Reina tersedak makanan. Buru-buru Shania memberikan air minum padanya.


“Hati-hati Reina.” ucapnya sambil memberikan tisu.


 


Reina terbatuk kemudian menyesap air minumnya. Dia kaget karena seminggu lalu adalah awal mula Kaifan mengganggunya. Reina masih ingat karena hari itu Verdi merajuk meminta bunga dan coklat yang diberikan oleh Kaifan.


Pak Verdi? Tiba-tiba Reina teringat dengan bosnya, muncul sedikit perasaan bersalah dalam hatinya. Mungkin dia yang sudah salah paham pada bosnya itu.


 


Sejujurnya Reina sadar jika Verdi sedang sakit karena beberapa kali Reina mendapati bosnya meringis sambil memegangi wajahnya. Tapi Reina sengaja berpura-pura tidak melihatnya. Sejak kejadian dirumah sakti tempo hari, rasa benci Reina kepada Verdi semakin besar. Bukan hanya kesal tapi Reina membencinya sampai keubun-ubun.


 


Tanpa sadar Reina mengepalkan kedua telapak tangannya. “Ada apa?” tanya Shania heran melihat ekspresi wajah Reina yang tiba-tiba muram. Reina terlonjak kaget lalu menatap


Shania sambil memaksakan tersenyum. “Tidak apa-apa kok. Hanya teringat sesuatu yang kurang menyenangkan.”


“Ya sudah. Jangan diingat lagi lebih baik segera habiskan makananmu.” ucap Shania.


 


Shania kembali menyantap makanannya dna tidak bertanya lebih lanjut pada Reina. Dia tidak mau membuat Reina semakin muram. “Reina, untung saja Kaifan dipecat! Sebenarnya aku takut dia mengganggumu. Beberapa kali aku memperhatikan dia selalu menatapmu dengan berbeda. Aku selalu perhatikan dia memperhatikanmu di lobi.”


 


Reina tersenyum getir, “Aku juga bersyukur dia sudah tidak ada diperusahaan ini lagi.” ucapnya seraya tersenyum tipis. 'Ah lega rasanya tidak akan bertemu lagi dengan pria menyebalkan itu.' bisik hatinya.


Andai Shania tahu alasan sebenarnya Kaifan dipecat karena dirinya, mungkin Shania akan syok. Tapi Reina memilih diam dan dia tidak mau mengingat pria itu lagi. Awalnya Reina kaget mendengar kabar pemecatan Kaifan.

__ADS_1


 


Apalagi alasan pemecatan Kaifan sampai dipajang di papan pengumuman dan juga diterbitkan di website perusahaan. Reina sempat merasa iba kepadanya tapi setelah mendengar penuturan beberapa korban Kaifa.


Reina pun bersyukur Samara memecat pria sialan itu. Reina tahu Samara yang memecatnya karena dimuat di website perusahaan.


 


Di website perusahaan juga terdapat video permintaan maaf Samara terhadap para karyawannya yang sudah menjadi korban kebejatan Kaifan selama ini.


“Reina…..aku duluan nggak apa-apa ya? Netty sakit perut dan minta digantikan.” ujar Shania yang sudah selesai makan.


Reina mengangguk. “Iya tidak apa-apa. Sebentar lagi aku juga sudah selesai makan kok.”


 


Shania pun bangkit lalu pergi meninggalkan Reina sendirian. Sepeninggal Shania, bukannya buru-buru menghabiskan makanannya, Reina malah menatap makanannya dengan tidak bersemangat.


Dia teringat suaminya dan perasaan Reina berubah tidak menentu kala mengingat luka yang dialami Varen. Dia mencemaskan keadaan suaminya.


 


“Varen bahkan tidak bisa makan dengan benar. “ gumamnya lalu bangkit tanpa menghabiskan sisa makanannya. Reina berjalan menuju lift tepat ketika dia masuk kedalam lift tiba-tiba Bobby juga ikut masuk menyusulnya.


 


Reina mengeryitkan dahinya kalau tidak salah, lantai 16 dikhususkan untuk tempat penyimpanan barang dan jarang dikunjungi orang. Tanpa sempat bertanya, Bobby menarik Reina keluar dari lift.


“Katakan padaku anak siapa yang ada dalam kandunganmu? Apakah itu anakku? Varen? Felix? Atau Pak Verdi?” tanya Bobby tanpa basa basi. "Cepat katakan padaku!"


 


Reina terkesiap dan merasa bingung dengan maksud pertanyaan mantan suaminya itu. “Apa maksudmu bertanya begitu? Anak siapa? Apa-apaan kamu ini?”


Bobby berdecak. “Jangan pura-pura bodoh ya Reina! Aku tahu kamu sedang hamil sekarang. Cepat katakan anak siapa itu? Anakku atau anak---”


PLAKKK!


Reina mendaratkan pukulanya di wajah Bobby. Sontak saja Bobby menatapnya dengan nyalang. Ini adalah kedua kalinya Reina menamparnya dengan keras. “Kamu---”

__ADS_1


“Dengar ya Bobby! Aku tidak sedang hamil!” potong Reina seraya mengangkat telunjuknya ke wajah Bobby dan menatapnya dengan nyalang.


 


“Kalaupun aku hamil, aku akan mengandung anak suamiku! Bukan anakmu atau anak pria lain! Aku bukan dirimu ataupun istrimu yang tukang selingkuh! Aku wanita baik-baik yang hanya akan setia kepada suamiku saja, VAREN! Paham kamu?” tanpa menunggu reaksi Bobby, dia pun langsung pergi meninggalkan mantan suaminya.


 


Bobby tercengang dengan kemarahan Reina, hatinya juga kecewa saat mengetahui kebenaran bahwa Reina tidak sedang hamil. Perasaannya tersentil kala Reina menyebutnya tukang selingkuh dan Bobby merasa terganggu saat Reina mengatakan dengan jelas jika suaminya adalah Varen. Melihat Reina yang akan memasuki lift Bobby segera mengejarnya.


 


“Reina tunggu! Kita masih harus bicara!” ujar Bobby. "Kita harus tuntaskan sekarang juga!"


Reina berbalik seraya menatap Bobby dengan sengit. “Sudah tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan Bobby! Urusan kita sudah selesai sejak kamu menceraikan aku dan menikahi kakakku. Jangan pernah menggangguku karena aku sudah muak melihat wajah munafikmu itu!”


 


Dengan langkah lebar, Reina memasuki lift dan langsung menutup pintu. Tubuh Reina merosot kala lift mulai melaju.d ia menangis karena Bobby sungguh keterlaluan. Belum cukupkah semua penghinaannya pada malam saat Bobby menceraikannya? Masih teringat dalam ingatan Reina kata-kata menyakitkan Bobby.


 


Mantan suaminya itu membanding-bandingkan dirinya dengan Elora. Dan sekarang Bobby malah menuduhnya mengandung anak pria lain. Sungguh brengsek! Bobby tidak berperasaan!


“Apa salahku? Kenapa kamu sampai hati menghinaku dan memandangku rendah?” ucap Reina seraya memukul-mukul dadanya.


 


Waktu tujuh belas hari belum cukup untuk mengobati luka hatinya karena Bobby dan sekarang dia malah menorehkan luka lain. Mantan suaminya itu memang benar-benar brengsek!


Ting!


Pintu lift terbuka namun Reina masih belum bisa menghentikan tangisnya. Tubuhnya pun terasa lemas seakan merasakan sakit karena luka hatinya yang kembali menganga.


Tiba-tiba pintu lift kembali terbuka dan Reina mendongak menatap sosok yang berdiri dihadapannya. Terlihat Verdi yang tengah berdiri didepan lift sambil menatapnya terkejut.


 


“Pal Verdi…..hiks….” tangis Reina semakin kencang kala melihat wajah pria yang beberapa hari ini sangat dibencinya. Verdi pun mendekati Reina lalu berjongkok dihadapannya.

__ADS_1


“Bangunlah! Bajumu akan kotor jika kamu duduk dilantai begitu.” ucap Verdi seraya membantu Reina untuk berdiri. Dengan sisa-sisa tenaganya Reina menghempaskan tangan Verdi yang hendak membantunya.


“Aku benci kalian! Kalian semua penipu! Kalian…..hiks…..” teriak Reina sambil menangis tersedu-sedu.


__ADS_2