TUKAR PASANGAN

TUKAR PASANGAN
BAB KERAGUAN


__ADS_3

Reina sadar tadi Verdi memperhatikan dirinya, Sebenarnya Reina ingin menegur tapi takut bosnya tersinggung dan malah disangka menuduhnya.


“Teh termanis sudah siap! Kita lihat bagaimana reaksinya saat meminum teh manis ini.” ujar Reina seraya tersenyum. Dia membawa teh manis diatas nampan. Reina memasuki ruangan CEO dan dia melihat Felix berada diruangan itu.


 


“Ini tehnya pak.” ucap Reina sambil meletakkan cangkir dihadapan Verdi. Baru saja dia meletakkan cangkir itu diatas meja tiba-tiba Felix mengambil teh milik Verdi.


“Untuk saya saja.” ucapnya langsung mengambil cangkir itu. Reina hendak melarang tapi sudah terlambat.


BYUR!!


 


Felix menyemburkan teh yang diminumnya. “Asiiiinnn!” pekiknya.


Karena kejadian itu Reina harus berbohong dengan mengatakan kalau dia salah mencampur gula yang ternyata garam. Verdi pun mencatat dua hal negatif darinya, pelupa dan teledor. Pelupa karena salah mengingat jadwal dan dianggap teledor karena tidak bisa membedakan gula dan garam.


 


Padahal Reina bukan tipe wanita seperti itu. Dia tipe wanita yang teliti dan hati-hati dalam segala hal.


“Maaf pak. Sekali lagi saya minta maaf. Biar saya buatkan yang baru.” ucap Reina gelagapan apalagi saat dia melihat Verdi menatapnya tajam. Reina semakin cemas dan ketakutan jika hal ini akan membuatnya kehilangan pekerjaan.


 


Saat jam sudah menunjukkan pukul 04.30 sore, Reina pun segera merapikan barang-barangnya dan bersiap hendak pulang saat jam kerja usai. Karena tidak mau berada di satu lift bersama Verdi dan Felix, dia pun bergegas pergi menuju lift dengan langkah lebar.


Benar dugaannya kedua pria itu keluar tepat pada saat dirinya masuk kedalam lift. Karena jarak mereka jauh Reina pura-pura tidak melihat dan segera menekan tombol untuk menutup pintu lift.


 


“Tunggu!”


Reina terbelalak saat Felix secepat kilat berlari kearahnya lalu menahan pintu yang hampir tertutup.


“Kita turun sama-sama.” ucap Felix seraya terkekeh memperlihatkan deretan giginya lalu mempersilahkan Verdi untuk memasuki lift.


“Untung saja lariku cepat. Jadi kita bisa turun kebawah sama-sama.” tutur Felix bangga.


 


Verdi berdiri tepat disamping Reina dengan bibir mengulum senyum saat melihat ekspresi wajah istrinya yang terlihat kesal. Tanpa berkata apapun Reina menekan tombol menuju lobi. Didalam hatinya Reina merutuki Felix yang berhasil mengejarnya. Berbeda dengan Verdi dan Felix yang senang berada di satu lift dengannya tapi Reina malah sebaliknya.


 


Dia merasa tidak nyaman berada dalam satu ruangan tertutup bersama Verdi dan Felix. Apalagi Reina merasa Verdi dari tadi memperhatikan dirinya. Rasanya Reina ingin segera keluar dari kotak besi itu.

__ADS_1


Ting!


Begitu pintu terbuka Reina pun buru-buru melangkah keluar dengan cepat.


 


“Saya pulang duluan.” ucap Reina seraya membungkukkan badan. Tanpa menghiraukan Verdi dan Felix. Reina bergegas pergi meninggalkan mereka berdua yang menatapnya heran.


“Reina!”


Reina berhenti ketika mendengar seseorang memanggil namanya. Dia menoleh dan ternyata itu adalah Elora yang memanggilnya.


 


“Ada apa lagi, hem?” ketus Reina bertanya.


Elora tersenyum ramah ingin menunjukkan image dihadapan rekan kerjanya yang berlalu lalang dilobi. “Aku ingin menitipkan ini untuk Varen.” ujar Elora sambil tersenyum.


Tangan Reina mengepal ketika melihat bungkusan yang Elora berikan padanya.


 


“Tolong berikan pada suamimu dan ucapkan terima kasih dariku untuknya.” Elora tersenyum lebar lalu meninggalkan Reina yang sedang terbakar api cemburu.


Reina menatap paper bag keci disamping jok tempat duduknya. Rasanya ingin sekali dia membuang barang itu tapi tidak…..Varen harus menerimanya dan menjelaskan semuanya.


 


“Pria dimana-mana memang sama saja! Brengsek semua!” geram Reina seraya mengepalkan tangannya. "Awas saja Varen! Aku akan menghukummu!"


 


Tanta mengeryit melihat kemarahan diwajah istri majikannya. Dia ingin bertanya tapi nyalinya menciut ketika mendengar kata ‘pria’ yang Reina ucapkan. Dia pun lebih memilih bungkam dan mengemudikan taksinya. Tanta tidak mau statusnya sebagai pria menjadi pelampiasan amukan nyonya-nya. Bahkan dinginnya AC mobil pun tidak bisa menghilangkan rasa panas akibat kemarahan majikannya.


 


“Berhenti disini bu?” tanya Tanta hati-hati ketika sampai di persimpangan tempat biasa dia menurunkan istri majikannya.


“Iya pak. Terima kasih ya.” ucap Reina ketus. Dia pun meraih paper bag disebelahnya. Melihat istrinya datang Varen bergegas menghampirinya dan membukakan pintu mobil.


 


Dia mengeryit saat melihat wajah istrinya yang muram. “Ada apa Rei----”


BUG!


Tiba-tiba saja seseorang menarik kerah baju Varen dan melayangkan sebuah tinju ke wajahnya.

__ADS_1


“Bobby! Apa-apaan kamu?” pekik Reina ketika melihat orang yang memukulnya adalah Bobby.


 


Dengan geram Reina pun langsung melindungi tubuh Varen dibelakang tubuhnya. Tanta segera keluar mobil tapi dia masih mengawasi keadaan.


“Kenapa kamu tiba-tiba memukul suamiku?” tanya Reina lagi.


Bobby mendengus merasa kasihan sekaligus kesal kepada Reina yang membela suaminya.


 


“Tanyakan saja kepada suamimu apa yang sudah dia lakukan bersama Elora dibelakang kita. Reina…..suamimu dan Elora masih berhubungan!” Bobby menunjuk wajah Varen dengan geram.


“Jangan menuduh sembarangan!” sangkal Varen dengan cepat. Dia tidak mau istrinya kembali salah paham dan marah padanya.


 


Cukup tiga hari saja Reina marah dan membuatnya merasa hidup di neraka. Varen tidak mau lagi merasakannya. Varen menarik tubuh Reina kebelakang tubuhnya, dia tidak mau istrinya kena pukul seperti yang terjadi terakhir kali.


“Atas dasar apa kamu menuduhku seperti itu?” tanya Varen. Meskipun hatinya ketar ketir khawatir jika Reina terpancing.


 


Tapi Varen masih berusaha bersikap tenang.


“Aku tahu kalian sering berkirim pesan. Aku membacanya sendiri!” jawab Bobby penuh percaya diri.


Reina geram dan mencoba melepaskan genggaman tangan Varen namun dengan tegas Varen menahan tangannya. Dia tidak mau melepaskan genggaman tangan Reina.


 


Varen memberi kode pada Reina agar tetap berdiri dibelakangnya. Dengan salah satu tangannya yang bebas, Varen meraih ponsel di saku jaketnya. Kemudian mengulurkan ponselnya kepada Bobby. “Buktikan saja sendiri! Apakah tuduhanmu benar atau tidak.” ucapnya tanpa ragu.


Bobby meraih ponsel Varen dengan kasar. Dia mencari pesan Varen dengan istrinya dan dia sedikit tercengang dengan isi pesan yang ada diponsel Varen. Kalau di ponsel Elora semua percakapan mereka sebelumnya dihapus tapi berbeda dengan Varen.


Varen masih menyimpan semua pesan dirinya dan Elora. Bahkan pesan-pesan yang terdahulu saat mereka masih menjadi suami istri pun masih ada.


 


Rata-rata pesan yang masuk ke ponsel Varen adalah pesan yang Elora kirimkan. Varen hanya mengirim beberapa pesan saja dan itupun hanya berupa balasan singkat.


‘Baiklah.’


‘Tidak apa-apa.’


‘Lakukan saja.’

__ADS_1


__ADS_2