TUKAR PASANGAN

TUKAR PASANGAN
BAB 74. MERASA BINGUNG


__ADS_3

Selain pemecatan maka Samara juga membuat reputasi Kaifan didunia kerja hancur. Karena sifat Samara yang seperti itu, dalam dunia bisnis tidak ada satu orangpun yang berani berhadapan langsung dengannya.


“Aku sudah mendengar semuanya dari Tanta. Kaifan memang keterlaluan sekali dengan mengganggu Reina dirumahnya sendiri.”


 


“Aku heran dengan orang itu, dia entah sudah gila atau nekad tapi dia memang pantas diberi pelajaran.”


Selain dipecat dari perusahaan menurut informasi yang didapat Felix, Kaifan sekarang sedang dirawat dirumah sakit karena terluka parah. Kaifan disiksa oleh anak buah Tanta atas perintah Samara.


“Dia mengganggu wanita yang salah.” sahut Verdi acuh.


 


Dia tidak peduli dengan apa yang dialami oleh Kaifan karena jika neneknya tidak bertindak maka Verdi sendiri yang akan melakukannya. Felix menghela napas panjang, sifat nenek dan sepupunya memang mirip. Keduanya sama-sama dingin dan acuh karena itu mereka bertahan hidup bersama meskipun jarang berinteraksi.


 


Berbeda dengan Felix dan Evelyn yang lebih memilih hidup terpisah dari Samara daripada setiap hari harus menghadapi sikap dingin dan ketusnya. “Permisi, ini kopi anda. Pak.” Reina masuk dan meletakkan cangkir kopi didepan Verdi.


“2 sendok kopi, 1 sendok gula, 150ml susu cair dan 100ml air panas. Ada lagi yang anda inginkan?” tanya Reina dengan senyum tipis yang terkesan dipaksakan.


 


Wajah Verdi pun langsung mengeras, ujung matanya berkedut melihat kopi yang Reina hidangkan. “Pesankan saya makan siang.” perintahnya lagi.


“Baik, Pak. Bagaimana dengan Pak Felix? Apa mau dipesankan makan siang juga?” tanya Reina.


“Pesankan saja makanan yang sama dengan Pak Verdi.” sahut Felix.


 


Setelah mendengar jawaban kedua atasannya, Reina pun pamit dan kembali ke meja kerjanya. Verdi meraih cangkir kopinya kemudian menyesap.


Rasanya enak namun sangat berbahaya bagi lambungnya. Karena itu Verdi hanya meminum satu teguk saja lalu menjauhkan cangkir kopinya.


“Jangan diminum lagi nanti sakit lambungmu bisa kambuh lagi.” ujar Felix.


 


Dia kaget melihat Verdi yang benar-benar menyesap kopinya, biasanya Verdi hanya mencicipnya sedikit.


“Apa terjadi sesuatu?” tanya Felix heran dengan sikap ceroboh sepupunya. Verdi tidak menjawab dan kembali fokus pada pekerjaannya. Sebenarnya Verdi pun merasa bingung dengan dirinya sendiri.


 

__ADS_1


Tapi satu hal yang Verdi tahu bahwa hari ini dia akan memakan dan meminum apapun yang istrinya berikan. Dua puluh menit kemudian Reina masuk sambil membawa makan siang untuk kedua bosnya.


Lagi-lagi ujung mata Verdi berkedut melihat makanan yang Reina berikan. Nasi ayam rica-rica dan dia merasa kecewa dengan sikap acuh istrinya.


 


“Apa ada masalah dengan menu makan siangnya pak?” tanya Reina yang merasa bingung melihat Verdi yang hanya memandangi makanannya.


Felix pun menatap sepupunya dengan sorot mata seakan menanyakan hal yang sama seperti Reina. Verdi menatap Reina sekilas tanpa ragu dia mulai menyantap makanannya. Dia sedikit meringis saat membuka mulutnya lebar-lebar.


 


Dari ujung matanya Verdi melihat reaksi Reina saat melihatnya kesakitan. Tapi wajah Reina tetap datar dan bersikap acuh. Verdi merasa kecewa karena dia mengharapkan perhatian yang Reina berikan dirumah.


Tapi yang didapatnya dikantor malah sebaliknya, Reina tidak mempedulikannya sedikitpun. Felix meringis melihat sepupunya yang sedang memaksakan diri untuk makan.


 


“Reina…..kamu belikan makanan yang lebih lembut untuk Pak Verdi. Dia belum bisa makan yang keras.” ujar Felix menatap Reina.


“Baik pak.” sahut Reina membalikkan badannya hendak pergi namun Verdi melarangnya.


“Tidak perlu. Aku akan memakan apa yang kamu beli tadi.” ucap Verdi.


 


Felix mengeryit dengan sikap Verdi yang aneh, padahal sudah jelas dia kesakitan tapi tetap bersikeras untuk makan. Dia pun menggaruk pipinya yang tidak gatal.


 


Reina menatap jam tangannya yang sudah menunjukkan jam 12.10 siang. “Pak, bolehkah saya pergi? Saya juga harus makan siang karena sekarang adalah jam makan siang saya.”


“Tentu saja. Silahkan.” jawab Felix cepat. Sontak saja Verdi melayangkan tatapan tajam kepada sepupunya. Felix mengeryit tidak paham dengan tatapan tajam Verdi.


 


Reina menatap Verdi meminta persetujuannya. “Sebentar lagi waktu istirahat siang berakhir. Jadi saya harus buru-buru pergi makan siang.” ucap Reina kepada Verdi.


Mendengar perkataan istrinya Verdi bertambah kesal. Bukan hanya bersikap tidak peduli tapi Reina pun lebih memilih pergi daripada menemaninya makan siang.


 


“Apa aku melakukan kesalahan? Kenapa hari ini kamu begitu acuh padaku?” dua pertanyaan yang dari tadi memenuhi benak Verdi akhirnya pun terlontar dari bibirnya.


Dia sudah tidak dapat membendung perasaan kesal dan kecewanya pada istrinya. Reina mengeryit mendengar pertanyaan Verdu yang seakan memintanya untuk memberi perhatian.

__ADS_1


 


“Maaf Pak Verdi! Saya tidak mengerti maksud ucapan bapak. Memangnya saya harus bersikap bagaimana? Apakah sikap saya selama ini salah ya?”


Verdi tertegun, rasa kesalnya pun semakin menjadi-jadi. “Lupakan saja. Kamu boleh pergi.” ucapnya dengan nada kecewa dan putus asa menatap punggung Reina yang menghilang dibalik pintu.


Felix menyentuh bahu sepupunya merasa heran dengan sikap Varen. “Ada apa denganmu hari ini?”


“Reina tidak menganggapku suaminya. Lihatlah sikapnya dirumah dan dikantor berbeda sekali. Kalau dirumah dia sangat perhatian tapi di kantor dia sangat acuh. Aku bingung.” jawab Verdi mengungkapkan kegundahannya.


 


 Felix mendengus sambil tersenyum tipis, “Jadi dari tadi itu kamu bersikap aneh untuk mencari perhatian istrimu iyakan?” Felix menaikkan salah satu alisnya.


“Apa aku salah? Dia tahu aku sedang sakit tapi dia malah mengacuhkan aku.” jawab Verdi yang membuat Felix tertawa terbahak-bahak.


 


“Tentu saja salah. Sikapmu itu tidak salah jika kamu sedang berperan sebagai Varen! Tapi sikapmu akan menjadi salah disaat kamu dalam keadaan seperti sekarang. Verdi…...Reina tidak mengenalimu!” Felix menatap iba sepupunya.


Verdi pun tersentak dan tersenyum getir. Rasa sakit membuatnya tidak bisa berpikir jernih dan menuntut perhatian lebih dari istrinya.


 


Verdi sampai lupa jika dia sedang memerankan dua orang berbeda dalam dirinya. “Aku lelah! Aku ingin segera mengakhiri semua kebohongan ini dan memberitahu Reina. Tapi bagaimana carinya aku melakukan itu? Reina selalu menghindari percakapan tentang Verdi. Felix! Tolong bantu aku!” ucap Verdi sambil menundukkan wajahnya yang terlihat putus asa.


 


Sementara itu di perusahaan, kabar tentang pemecatan Kaifan beredar dengan cepat dan menjadi topik hangat. Semua karyawan membicarakan tentang pria itu dan dari berita pemecatan itu mencuat kabar tentang tingkah laku Kaifan selama ini.


Ternyata selama ini Kaifan suka mengganggu karyawati baru di perusahaan. Selama ini sebagian besar karyawan wanita diganggu dan dilecehkan oleh Kaifan.


 


Dan mereka memilih untuk diam mengingat Kaifan yang menjabat sebagai manajer HRD. Sedangkan sebagian kecil lainnya nekad melapor kepada staf HRD dan bernasib sial. Karyawan yang melapor itu malah berakhir dengan pemecatan.


“Aku bersyukur pria menyebalkan itu akhirnya pergi. Sejujurnya aku juga salah satu korban.” ucap Shania.


 


“Hah? Kamu serius?” Reina menatap Shania sambil menyantap kentang goreng.


Shania mengangguk seraya tersenyum getir, “Dia bahkan sampai berani menyambangi rumahku. Aku sempat berpikir untuk mengundurkan diri tapi secara mendadak sikapnya berubah. Dia tidak lagi mempedulikan aku.” ujar Shania lagi.


 

__ADS_1


__ADS_2