TUKAR PASANGAN

TUKAR PASANGAN
BAB 73. PESONA SANG MANTAN


__ADS_3

Elora terkejut melihat wajah tampan mantan suaminya dipenuhi luka dan bengkak. “Kenapa dengan wajahmu? Kamu berkelahi ya?” tanya Elora mengungkap rasa penasarannya.


Bobby mengeryit tak senang seraya menatap nanar istrinya. Dia merasa terganggu dengan pertanyaan Elora yang seakan memperhatikan mantan suaminya itu.


 


“Sepertinya selain pengangguran, sekarang kamu juga ternyata preman ya. Atau jangan-jangan ada penagih hutang yang datang dan memukulimu?” cibir Bobby mencoba mengalihkan perhatian Elora yang masih menatap wajah mantan suaminya. Elora mendengus mendengar ucapan suaminya. Sepertinya tebakan Bobby itu masuk akal juga.


 


Keraguannya terhadap identitas Varen mendorongnya untuk ikut menyakini tebakan suaminya. “Benarkah? Kamu terlibat hutang? Ckck….kasihan sekali. Padahal kamu bisa mendapatkan uang banyak dari hasil penjualan rumah dan tanah warisanmu.” ujar Elora dengan nada mencibir.


Mendengar Elora menyinggung soal warisan miliknya membuat Varen terpancing.


 


“Daripada mengurusi kehidupanku, lebih baik kalian urus saja kehidupan kalian masing-masing.” Varen melangkah melewati Elora namun wanita itu justru mencekal tangannya.


“Apa kamu melihat foto yang aku kirimkan?” tanya Elora menanyakan foto yang dikirimkannya beberapa hari lalu. Sorot mata Elora menyiratkan rasa penasaran yang mendalam.


 


Varen memutar tangannya melepaskan cekalan kakak iparnya, “Urus saja urusanmu sendiri. Jangan ikut campur urusan orang lain.”


Tanpa menghiraukan tatapan Bobby yang tajam, Varen pergi meninggalkan kedua kakak iparnya itu dan ketika dia melewati beberapa orang nampak mereka menatap kearahnya dan berbisik membicarakan dirinya.


 


Varen mengerutkan alisnya namun dia tidak peduli pada sekitarnya. Dia terus berjalan menuju taksi yang diparkirkan Tanta diluar gedung perusahaan.


“Antarkan aku langsung ke basement kantor.” titiah Varen kepada Tanta setelah dia masuk kedalam taksi yang dikendarai Tanta. Taksi itupun melaju mengitari jalan sekitar gedung kemudian masuk ke basement gedung perusahaan.


 


Didalam lift sejak pertemuannya dengan Varen ekspresi wajah Elora menjadi lebih muram. Dia kesal dengan jawaban yang diberikan adik iparnya itu. Dari sorot mata Varen tadi Elora sangat yakin jika Varen sudah melihat foto yang dikirimkannya waktu itu.


Tapi kenapa Varen tidak mengambil tindakan terhadap Reina? Kenapa dia masih bersama Reina dan membiarkannya bekerja seperti biasa?


 

__ADS_1


Awalnya Elora mengira jika Varen sengaja memendam sebentar kemarahannya karena Reina sedang sakit. Dan akan bertindak setelah Reina sembuh tapi ternyata sikap Varen terlihat biasa saja dan seperti tidak terpengaruh sama sekali pada foto itu. Memikirkan ini membuat Elora semakin kesal.


“Apa yang kamu pikirkan?” tanya Bobby merangkul pundak istrinya.


 


Elora tersentak lalu tersenyum kikuk kepada suaminya. “Hah? Apa? Aku tidak memikirkan apa-apa.”


Bobby tersenyum getir seraya menguatkan kepalan tangannya. Istrinya sedang memikirkan pria lain dan sebenarnya Bobby ingin menanykan mengenai foto yang dimaksudkan Elora kepada Varen. Tapi menyadari istrinya memikirkan pria itu Bobby pun mengurungkan niatnya.


 


Dia akan menyelesaikan sendiri masalahnya dengan Varen. Meskipun sikap Elora selalu terlihat kasar terhadap Varen tetapi sebagai pria dan pasangan Elora, dia sadar kalau Elora masih memiliki ketertarikan kepada mantan suaminya itu. Hanya saja karena sikap Varen yang selalu acuh membuat Elora kesal dan melampiaskannya dengan kemarahan.


 


Bobby memasang senyum palsu seraya merapatkan tubuh istrinya, “Apa kamu mencintaiku?” tanya Bobby dengan suara pelan. Mendengar pertanyaan konyol suaminya itu membuat Elora mendengus geli.


“Tentu saja aku mencintaimu. Kenapa kamu bertanya seperti itu? Apa kamu meragukanku?” tanya Elora seraya tersenyum lebar.


 


Ting! Pintu lift terbuka dan masuklah enam orang karyawan yang akan menuju ke lantai empat puluh delapan. “Pagi pak, bu.” sapa mereka dengan ramah dan tersenyum kepada Bobby dan Elora.


 


Kedua atasan mereka itu membalas sapaan mereka hanya dengan senyuman ramah. “Hei kamu lihat tidak, tadi suami sekretaris CEO kita wajahnya  terluka. Kira-kira kenapa ya?”


“Aku juga tidak tahu. Tapi dia tetap terlihat tampan, malah lebih tampan sih. Jadi mirip-mirip bad boy gitu. Iyakan? Lebih macho kelihatannya.”


“Eh, kalian lihat tidak saat dia tersenyum. Hatiku jadi meleleh. Andai saja aku bisa melihat wajah tampannya setiap hari….waduuuhhhh aku pasti senang sekali dan hidup lebih bersemangat lagi.”


“Aku juga berharap begitu. Andai aku bisa melihatnya setiap hari ohhhh….pasti menyenangkan sekali. Kira-kira besok dia akan mengantar Reina lagi ngak sih? Aku ingin memberinya hadiah.”


 


“Wah! Itu ide bagus. Kita harus memberikan sesuatu padanya supaya dia tahu kalau kita menyukainya. Dengan begitu mungkin ada peluang untuk kenalan.”


“Ehem!” Elora berdehem keras sengaja menghentikan obrolan karyawan itu. Sontak para bawahannya langsung terdiam dan menundukkan wajah mereka.

__ADS_1


 


Ekspresi wajah Elora mengeras, dia tidak suka mendengar perbincangan bawahannya. Mana bisa mereka memperbincangkan pria milik wanita lain. ‘Dasar pelacur.’ umpat Elora didalam hatinya.


Ting!


Begitu pintu lift terbuka, Elora langsung melangkah keluar dengan langkah lebar. Dia bahkan meninggalkan Bobby yang masih berada dibelakangnya.


“Elora…..” gumam Bobby seraya mengepalkan kedua tangannya dengan erat.


 


Sementara itu didalam ruang kerja direktur tampak Verdi yang sedang menatap layar monitor dihadapannya dengan pandangan kosong. Sesekali dia meringis sambil memegangi rahangnya, rasa sakit yang dialaminya membuat Verdi sulit berkonsentrasi. Kepalanya pun ikut berdenyut nyeri setiap kali berbicara menimpali penjelasan karyawannya.


 


Felix yang duduk disebelahnya menyadari penderitaan sepupunya. Dia pun langsung mengetuk meja dihadapan Verdi untuk mendapatkan perhatiannya. “Apa lebih baik kita tunda saja rapatnya?” bisiknya.


Verdi mengangguk setuju dengan susulan sepupunya.Setelah pembahasan dari karyawan yang sedang presentasi selesai, Felix segera berdiri.


 


Dia pun menghentikan rapat dan mengumumkan jadwal rapat selanjutnya dan mempersilahkan semua karyawan untuk kembali keruangan masing-masing. Sekilas Verdi menatap istrinya yang juga ikut meninggalkan ruang rapat. Berbeda dengan sikap Reina saat dirumah, sikap Reina di kantor begitu sinis dan acuh padanya.


 


Dia menampakkan rasa tidak sukanya dengan sangat kentara. “Reina…..” panggil Verdi saat sekretarisnya itu akan melangkah keluar. Reina langsung berbalik dan menatap Verdi dengan senyum tipisnya.


Dia berdiri diambang pintu untuk menunggu isntruksi selanjutnya. “Tolong buatkan saya kopi!” ujar Verdi.


 


“Baik pak.” sahut Reina tanpa senyum sedikitpun. Kemudian melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan bosnya. Felix mengeryit mendengar permintaan sepupunya.


“Lambungmu bisa kambuh kalau minum kopi.” ujarnya mengingatkan tentang penyakit lambung yang diderita sepupunya. Verdi hanya diam tak merespon ucapan Felix.


 


Dia malah melanjutkan membaca laporan ditangannya. “Aku dengar nenek memecat Kaifan.” tutur Verdi yang lebih mirip seperti pertanyaan.

__ADS_1


“Ya nenek benar-benar membuat karirnya hancur. Setelah ini aku tidak yakin akan ada perusahaan yang mau menerimanya.” jelas Felix. Jika Samara Bimantya bertindak, dia tidak akan setengah-setengah.


__ADS_2