
Reina menatap kedua orang tuanya, “Kalian berdua kenapa bisa tahu aku ada disini? Darimana? Ada tujuan apa kalian datang kesini?” tanya Reina dengan rasa penasaran. Dia bahkan enggan memanggil kedua orang itu dengan panggilan papa dan mama. Karena baginya kedua orang tuanya sudah mati sejak mereka menghancurkan hidupnya.
Indira dan Chandra saling beradu pandang, lalu Chandra berdehem menjawab pertanyaan Reina. “Kami tahu kamu tinggal disini dari Anton, kami kesini mau mengajakmu pulang.”
Reina terkesiap mendengar perkataan ayahnya. Seulas senyum tipis muncul dibibirnya tapi dia tidak percaya pada kedua orang itu jika mereka masih peduli padanya.
“Bisnis katering mama sedang banyak pesanan. Mama butuh kamu untuk bantu-bantu dirumah karena kekurangan orang buat kerja. Nanti mama kasih kamu uang saku. Ikut kami pulang ya.” jelas Indira.
Hati Reina hancur semakin hancur mendengar perkataan ibunya, dia tersenyum getir karena dugaannya benar. Kedua orangtuanya datang karena ada maunya.
“Jadi kalian datang kesini karena ingin aku pulang untuk bantu-bantu dirumah ya? Oh begitu ternyata. Kalau kekurangan orang kenapa tidak merekrut pegawai tambahan saja? Lebih efisien kan? Oh aku tahu! Kalian mengharapkan bisa memperbudakku seperti selama ini kalian lakukan?” ujar Reina menatap tajam kedua orangtuanya.
Orang tua Reina menjalankan bisnis katering dan juga kafe yang cukup besar. Mereka bahkan memiliki beberapa cabang, boleh dibilang Reina berasal dari keluarga berkecukupan tapi dia tidak pernah merasakan semua itu.
Hanya Elora yang dianggap sebagai anak oleh kedua orang tuanya. Selama ini jika pesanan katering ibunya sedang banyak, Reina selalu membantunya karena dia juga tidak punya pekerjaan hanya seorang ibu rumah tangga.
Itupun tidak pernah diberikan gaji layaknya karyawan lain. Hanya diberikan uang saku saja dan makanan untuk dibawa pulang tapi dia tidak pernah mempermasalahkan selama ini.
“Untuk apa mama menambah pegawai lagi kalau ada kamu. Pegawai kan harus dibayar gajinya setiap bulan kalau kamu kan tidak. Mama cukup kasih uang saku seadanya dan makan saja.” jawab Indira dengan entengnya tanpa rasa bersalah dan malu sedikitpun.
“Maaf ya. Aku tidak bisa! Aku sudah punya pekerjaan bagus dengan gaji tinggi! Dan aku juga bukan keluarga Hasena sejak kalian menghancurkan pernikahan dan hidupku! Bukankah kalian sendiri yang menganggapku bukan anak selama ini? Kalian hanya butuh tenaga gratisanku saja iyakan?”
__ADS_1
“Apa katamu? Keluar saja dari pekerjaanmu! Daripada kerja ditempat lain nggak jelas mendingan kamu bantu mama. Berbakti kepada orang tua dan membalas budi!” ujar Indira mendelik.
“Tidak ya tidak! Aku sudah bekerja dan tidak akan meninggalkan pekerjaanku. Aku betah disini meskipun rumahku tidak bagus seperti rumah kalian. Berbakti? Hanya orang tua yang baik yang pantas dibalas budinya! Tidak untuk kalian yang tega menghancurkan hidup anak kalian sendiri.”
Wajah Indira merah padam mendengar perkataan Reina, “Dasar anak tidak tahu terima kasih! Kami mengurusmu dari kecil tapi begini balasan kamu? Diminta bantuan saja tidak mau!”
“Ya aku memang tidak mau! Tidak akan pernah membantu kalian gratis lagi!Aku sudah berbakti pada kalian selama ini! Jadi kurasa cukup sudah apa yang kuberikan untuk membalas budi pada kalian.”
“Halaaahhhhh banyak alasan kamu! Benar kata Elora, kamu itu memang anak tidak berguna! Percuma saja kami datang jauh-jauh kemari! Huhhhh sudah miskin banyak gaya pula. Dasar anak bodoh, lebih memilih hidup melarat dan tinggal dirumah bobrok ini daripada pulang dan tinggal dirumah gedongan.” ujar Chandra.
Hati Reina sakit mendengar perkataan ayahnya. Sudah cukup dia berbakti pada mereka selama ini, dia sudah lelah diperlakukan semena-mena dan dianggap seperti pembantu. Hatinya bahkan sering terluka dengan kata-kata mereka yang tajam.
“Ayo pa! Lebih baik kita pulang saja. Biarkan dia hidup melarat disini. Cih! Tidak tahu diuntung, baru juga punya kerjaan gaji nggak seberapa sudah sombong! Kamu itu tidak akan pernah bisa seperti Elora yang punya karir bagus di perusahaan besar!” tanpa mengindahkan perasaan Reina kedua orang itu pergi dari rumah itu. Masih sempat-sempatnya Indira memaki Reina sebelum mobil mereka melaju pergi.
Reina langsung membanting pintu setelah keduanya pergi. Dia menangis, hatinya terluka karena tak sekalipun orang tuanya memperlakukannya dengan kasih sayang yang layak. Dimata mereka, dia bukan seorang anak tapi tak lebih seorang pembantu gratisan. Padahal Reina sangat merindukan kasih sayang orang tuanya.
Varen menghentikan mobilnya didepan gedung perusahaan tempat biasanya Reina menunggu taksi. Dia mencari sosok Reina namun tidak menemukan keberadaannya. Padahal baru beberapa menit yang lalu wanita itu keluar tapi sudah menghilang begitu cepat. “Apa Reina sudah dapat taksi ya?”
Varen melajukan mobilnya pelan-pelan. Melirik ke kanan dan kiri memastikan istrinya sudah tidak ada dijalanan. Lalu dia menekan pedal gas semakin dalam berusaha menyusul Reina ketempat biasa mereka bertemu sehabis kerja.
__ADS_1
Dia merutuki dirinya sendiri yang harus menjalani hidup dalam dua identitas. Varen tidak bermaksud membohongi Reina namun keadaanlah yang memaksanya melakukan itu. Semua berawal dari perseteruan keluarga ayah dan ibunya. Samara nenek Varen dari pihak ayahnya sangat membenci keluarga Saskara, keluarga ibunya.
Samara menganggap kematian anaknya Verdi Aditya Kenzie disebabkan oleh Ivana Saskara, ibunya Varen. Karena saat orang tua Varen yaitu Verdi dan Ivana menikah tanpa persetujuan pihak keluarga pria.
Samara menginginkan putranya melanjutkan studi namun Verdi lebih memilih menikah. Verdi pun diusir dari keluarga dan dianggap bukan keluarga Kenzie lagi.
Tepat lima tahun setelah mereka menikah, Verdi dan Ivana mengalami kecelakaan. Mereka meregang nyawa dalam kecelakaan tersebut. Samara kehilangan putranya dan dia mengambil hak asuh Varen dan merubah namanya menjadi Verdi Aditya Kenzi, sama seperti nama ayahnya.
Empat bulan lalu Varen yang masih tinggal di luar negeri mendapatkan kabar dari Anton, pengacara keluarga Saskara tentang keadaan kakeknya yang sakit keras.
Ginto Saskara mengidap penyakit keras dan ingin bertemu dengan Varen sebelum dia meninggal. Mendengar kabar kakeknya sakit, Varen pun memaksa untuk pulang. Setelah perdebatan yang panjang akhirnya Samara mengijinkan Varen pulang dan menetap di Indonesia. Dengan syarat Varen harus menjalankan perusahaan keluarga Kenzie yang selama ini dipegang Felix, sepupunya.
Tak lama setelah kepulangan Varen ke Indonesia, Ginto Saskara pun meninggal dan meninggalkan wasiat pada Varen untuk menikah dengan cucu dari keluarga Hasena, teman baiknya. Wasiat kakeknya itu dibuat karena dia mendengar kabar jika Varen selalu menolak menikah dan lebih memilih bermain wanita diluar sana.
Sebagai imbalan pernikahan tersebut, Ginto Saskara mewariskan seluruh harta kekayaannya termasuk rumah mendiang orangtuanya yang selama ini Varen incar. Karena alasan rumah itulah Varen akhirna setuju menikah dengan Elora. Saat akan menikahi Elora, neneknya kembali meradang. Dia tidak setuju Varen menikahi wanita yang dipilih kakeknya.
Namun, demi mendapatkan rumah mendiang orang tuanya, Varen kembali menentang neneknya. Akhirnya Samara mengambil paksa seluruh fasilitas yang Varen dapat sebagai cucu Kenzie. Dan melarangnya menampakkan netra biru khas keluarga Kenzie kepada siapapun. Dengan terpaksa, Varen pun memakai kontak lensa untuk menutupi matanya.
Sebelum menikah dengan Elora, Varen sudah memperhitungkan semuanya. Rencananya dia akan menceraikan Elora saat rumah orangtuanya sudah jatuh ketangannya. Karena itulah Varen tidak meminta warisan uang sedikitpun, karena dia memang tidak membutuhkannya. Warisan uang dua milyar sepenuhnya diberikan kepada Elora.
Varen tidak pernah mengharapkan apapun dari pernikahannya dengan Elora. Selain dia tidak tertarik padanya, Varen pun mengetahui kalau Elora berselingkuh dengan Bobby. Dia tidak terlalu memusingkan hubungan mereka justru mengumpulkan bukti perselingkuhan mereka untuk memperkuat gugatan cerainya.
__ADS_1