TUKAR PASANGAN

TUKAR PASANGAN
BAB 28. CEMBURU


__ADS_3

Verdi menoleh lalu berkata, “Memangnya kamu mau tinggal disini?”


Reina menautkan alisnya dan berpikir kemudian memalingkan wajahnya menatap lurus kedepan. “Pemandangan disini memang bagus. Tapi saya lebih suka rumah daripada apartemen. Saya lebih nyaman tinggal dirumah kecil yang mempunyai halaman luas.seperti rumah saya saat ini.”


 


Reina terlihat tersenyum bahagia saat dia membayangkan rumah yang dia tempati sekarang. Dia berpikir jika suatu hari nanti dia punya uang yang cukup, mungkin dia bisa merenovasi bagian-bagian rumah itu yang agak rusak. Dia menyukai rumah tua itu, dengan halamannya yang luas.


 


“Jadi kamu tidak mau tinggal disini?” tanya Verdi seraya menatap wajah istrinya lekat-lekat.


Reina kembali menautkan alisnya tak mengerti lalu tersenyum, “Kalau suami saya mau tinggal disini saya juga mau. Meskipun saya merasa lebih nyaman tinggal dirumah tapi saya akan ikut kemanapun suami saya.”


 


Verdi terkekeh, “Jadi kmau menolak dan tetap bertahan dengan rumah kecil kamu?”


Reina melirik Verdi sambil memicingkan matanya yang kena terpaan angin.


“Sebenarnya bukan masalah rumahnya tapi orang yang tinggal didalamnya. Saya mau ikut kemanapun suami saya pergi. Entah itu apartemen atau rumah selama saya bersamanya saya tidak keberatan.”


 


Verdi tersenyum lebar, senyum menawan yang mampu meluluhkan hati banyak wanita kecuali Reina. Menurut Reina jika senyum Varen jauh lebih manis dan menawan dibandingkan dengan senyum pria bernetra biru dihadapannya ini.


Tanpa mereka sadari Felix dan Bobby memperhatikan mereka berdua. Bobby yang melihat kedekatan keduanya merasa cemburu dan tak suka.


 


Dia tidak suka melihat senyum yang wajah mantan istrinya itu.


“Mereka serasi sekali bukan?” ujar Felix memanasi Bobby.


“Reina sudah punya suami! Seharusnya dia tidak boleh berdeatan dengan pria lain seperti itu! Tidak baik dilihat orang lain bisa menimbulkan fitnah!” sahut Bobby yang terbakar emosi dan cemburu.


Felix hanya tersenyum tipis sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Ayo kita cek unit lainnya.”


 


Meskipun Bobby enggan mengikuti Felix karena dia penasaran ingin melihat Reina namun dia pun akhirnya mengangguk dan pergi bersama Felix meninggalkan Verdi dan Reina.


Tak terasa dua jam sudah berlalu. Pemantauan proyek pun selesai karena jam sudah menunjukkan pukul lima sore mereka pun memutuskan untuk singgah di restoran sebelum pulang.


 


Reina menatap menu makanan yang ada dihadapannya, karena dia tidak terbiasa makan di restoran dia merasa bingung mau memilih apa.

__ADS_1


“Reina mau pesan apa?” tanya Felix.


“Entahlah saya bingung. Saya ikut kalian saja.” jawabnya.


Felix tertawa mendengar jawaban Reina sedangkan Bobby tersenyum mencemoooh, dia merasa kesal karena sikap Reina yang menurutnya kecentilan kepada atasnnya.


 


“Untuk Reina pesankan saja sup iga sama ikan bakar madu saja dan jus jeruk segar. Kalau saya ayam sambal matah dan lemon tea.” Verdi menyebutkan pesanannya untuknya dan Reina. Beberapa minggu hidup bersama satu atap dia mengetahui makanan kesukaan istrinya, Reina menyukai sup dan ikan bakar.


 


Melihat perhatian Verdi kepada Reina membuat hati Bobby semakin panas, dia tidak suka melihat mantan istrinya itu diperhatikan pria lain.


“Pak, saya permisi ya mau ke toilet sebentar.” ucap Reina pada Verdi yang menjawab dengan anggukan. Reina pun pergi meninggalkan ketiga pria itu. Beberapa saat kemudian Bobby juga pergi dengan alasan yang sama.


 


Bobby pergi menuju ke toilet namun dia bukannya pergi ke toilet pria tetapi malah berdiri didepan toilet wanita. Dia marah dan ingin meluapkan kemarahan dan rasa kesalnya kepada Reina.


Ketika wanita itu keluar dari toilet, Bobby langsung menghampirinya, ‘Reina! Aku tidak menyangka ya kalau kamu ini ternyata wanita penggoda sekarang! Cih! Untung saja aku menceraikanmu! Dasar wanita murahan!”


 


“Apa maksudmu?” Reina mendelik tak terima dengan ucapan Bobby. “Jangan nuduh sembarangan ya!”


 


PLAAKKK!


Satu tamparan mendarat di wajah Bobby.


“Jaga mulut busukmu itu! Ternyata hidup selama beberapa tahun denganku kamu tidak mengenalku! Aku sangat bersyukur bisa lepas dari pria brengsek dan toxic sepertimu! Menjijikkan! Sudah selingkuh malah menuduh orang sembarangan! Dasar brengsek tidak tahu malu!” umpat Reina lalu pergi meninggalkan Bobby.


 


“SIAL! Berani sekali dia sekarang!” geram Bobby seraya mengelus pipinya yang panas. Dia tidak menyangka jika Reina akan berani menamparnya. Padahal dulu Reina selalu bersikap lemah lembut padanya. Jangankan menampar, berkata dengan nada tinggi pun tidak pernah.


 


“Ternyata menjadi istri Varen membuat sifatmu berubah total jadi bar-bar! Dia pasti kurang memperhatikanmu sampai kamu berubah menjadi wanita nakal dan kasar!” tuduh Bobby lalu pergi menyusul Reina kembali.


Dia bukannya mengoreksi kesalahannya karena sudah menuduhReina tapi dia malah menyalahkan Varen untuk membenarkan prasangkanya.


 


Kecemburuannya menutup mata dan akal sehat Bobby. Reina menatap makanan dihadapannya dengan malas, dia sudah kehilangan selera gara-gara Bobby.

__ADS_1


Dia jadi teringat suaminya, dia sudah berjanji akan makan malam bersamanya. Reina melirik Verdi yang makan dengan lahap. Melihat ayam yang dimakannya membuat Reina teringat pada suaminya. ‘Ini makanan kesukaan Varen.’ batinnya.


 


Verdi menatap Reina yang sedang memperhatikan piringnya, dia merasa heran melihat piring milik Reina masih utuh dan belum disentuh makanannya. “Kamu kenapa? Mau makan ayam juga ya?”


“Tidak, Pak.” jawabnya menggelengkan kepala.


“Lalu kenapa kamu tidak makan?”


“Makanan punya saya bisa dibungkus saja? Saya masih kenyang.” jawab Reina berbohong.


 


“Felix! Minta pelayan bungkuskan makanan untuk Reina.” perintah Verdi.


“Ada yang mau dipesan lagi selain sup?” tanya Felix pada Reina.


“Memangnya boleh ya pak?” tanya Reina dengan tampang polosnya.


“Boleh saja! Kamu mau pesan seluruh makanan disini juga tidak masalah. Biar nanti Pak Verdi yang bayar! Hehehe….” kekehnya.


 


“Kalau begitu saya mau pesan ayam matah seperti yang Pak Verdi makan ya.” Reina tersenyum senang.


“Oke! Cukup itu saja? Tidak mau pesan yang lainnya juga?” tanya Felix lagi.


“Tidak pak. Itu saja!”


Felix memanggil waiters dan menyebutkan pesanan Reina dan menyodorkan akrtu kreditnya. Tak lama makanan pesanan Reina pun datang dan dibungkus rapi.


 


Setelah selesai makan, Felix menawarkan untuk mengantarkan Reina pulang namun ditolak wanita itu. Selain tidak mau membuat Bobby semakin salah paham, dia juga tidak mau Varen akan berpikir macam-macam.


Akhirnya Reina pun memesan taksi untuk mengantarnya pulang. Dua jam kemudian Reina tiba di persimpangan tempat biasa Varen menunggunya.


 


Senyum Reina merekah saat melihat Varen sudah berdiri disana menunggunya. Dia berlari menghampiri suaminya. “Kamu sudah lama nunggunya ya?”


“Tidak, baru saja.” jawab Varen.


“Ayo pulang!” Reina langsung menggandeng tangan Varen tanpa canggung. Menyalurkan kerinduan yang seharian ini mengganggunya.


“Aku bawain sup iga sama ayam sambalmatah. Sepertinya ayamnya enak kamu pasti suka. Kita makan sama-sama ya.”

__ADS_1


__ADS_2