TUKAR PASANGAN

TUKAR PASANGAN
BAB 56. KETAKUTAN


__ADS_3

Reina kembali memandang kedepan. “Sudah berapa lama kita menikah?”


“Dua belas hari.” jawab Varen dengan cepat.


“Kamu menghitungnya?”


“Ya tentu saja. Sepuluh menit lagi akan menjadi hari ketiga belas pernikahan kita.” ucap Varen seraya tersenyum tipis.


 


Reina menahan napas, senyum Varen selalu saja mampu menimbulkan getaran aneh didadanya. “Haahhh! Kenapa waktu berjalan cepat ya? Aku ingin segera melalui bulan depan. Aku ingin cepat-cepat disahkan. Aku takut kalau terlalu lama.” muncul ketakutannya jika Varen akan meninggalkannya seandainya foto itu dikirimkan Elora pada Varen.


Varen mengeryit tak paham maksud perkataan istrinya. “Apa yang kamu takutkan? Apapun yang terjadi, kita akan tetap menikah. Sekarang kita sudah suami istri dan itu akan berlaku selamanya. Waktu empat puluh delapan hari tidak akan pernah mengubah apapun.”


 


“Banyak hal yang bisa terjadi dalam empat puluh delapan hari. Bagaimana kalau kita berdua nantinya merasa ragu untuk melanjutkan pernikahan? Atau mungkin saja salah satu dari kita memiliki keraguan? Tidak ada seorangpun yang tahu apa yang akan terjadi dimasa depan.” tutur Reina dengan suara pelan.


 


Varen menghentikan langkahnya lalu menarik Reina agar menghadap kepadanya dan mereka saling bertatapan. “Kita memang tidak pernah tahu apa yang mungkin akan terjadi di masa depan dan keraguan mungkin juga hadir diantara kita. Reina, bukankah kita sudah saling berjanji setia? Jika keraguan itu muncul maka kita harus berpegang pada janji yang sudah kita ucapkan.”


 


“Varen….” lirih Reina, dia tertegun dan air matanya kembali menggenang.


Varen memalingkan wajahnya seraya mengatur napas. Dia berusaha meredam luapan emosi karena perkataan istrinya. Setelah merasa cukup tenang, Varen pun melangkah dan menempelkan telapak tangannya di kening Reina.


 


“Kamu demam. Pantas saja kamu bicaranya meracau. Naiklah ke punggungku! Aku tidak mau angin malam semakin mengotori pikiranmu.”


Varen berjongkok dan menarik tubuh Reina agar naik ke punggungnya. Reina sempat berontak namun tenaga Varen lebih kuat. Varen pun melanjutkan perjalanan.


 


“Lain kali kalau kamu butuh udara segara, tunggu sampai pagi datang. Jangan memaksakan diri menghirup udara malam. Kamu bisa jatuh sakit seperti sekarang.” gerutu Varen seraya mempercepat langkahnya agar segera sampai dirumah. Varen mengerjapkan matanya yang terasa lelah, dia melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 3 dini hari.


 

__ADS_1


Setibanya dirumah belum sedetikpun matanya terpejam karena istrinya yang sedang demam. Varen mengambil handuk basah dari dahi Reina lalu mengarahkan telapak tangannya ke kening istrinya. Suhu tubuh Reina sudah turun lalu Varen kembali mencelupkan handuk kompres ke dalam air kemudian mengelap keringat diwajah istrinya.


 


Karena demam Reina sudah turun, diapun memutuskan untuk berbaring disebelah istrinya. Varen bergeser merapatkan diri ketubuh istrinya. Walaupun tubuh Reina terasa panas tapi dia tidak merasa terganggu sedikitpun apalagi takut tertular sakit.


 


Bukannya memejamkan matanya, Varen malah memperhatikan wajah istrinya. Tangannya mengelus wajah Reina yang masih terlihat sembab karena tangisannya semalam. Pikirannya melayang mengingat foto yang dikirimkan oleh Elora beberapa jam yang lalu.


Foto Reina dan Kaifan yang terlihat sedang berpegangan tangan. Walaupun Varen tahu foto itu tidak mesra tapi tetap saja Varen kesal melihatnya.


 


Felix sudah menceritakan kejadian yang dialami Reina saat foto itu diambil oleh Elora. Dan amarah Varen semakin membara karenanya, dia marah karena tidak bisa menjaga dan menjauhkan Reina dari gangguan pria hidung belang seperti Kaifan. Varen merasa sangat lelah dengan identitas ganda yang harus dia perankan ini.


 


Varen ingin selalu berada disamping Reina sebagai suaminya dan dia ingin menjaga Reina sepenuhnya. “Maafkan aku. Aku tidak bermaksud membohongi kamu Reina.” ucap Varen. Dia semakin merapatkan tubuhnya ke Reina dan mengecup puncak kepalanya dengan penuh perasaan sayang.


“Aku akan menjelaskan semuanya saat kamu bangun nanti.” gumamnya sambil mendekap erat tubuh Reina dan ikut terlelap bersamanya.


 


“Kenapa Varen tidak membangunkan aku?” keluhnya seraya turun dari tempat tidur.


 


Badannya terasa limbung namun Reina tetap memaksakan dirinya untuk berjalan sambil berpegangan pada dinding. Dia erpgi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya lalu pergi ke luar kamar dan hendak menuju ke dapur.


“Kenapa kamu bangun? Kamu kan sedang sakit.” Varen segera menghampiri Reina yang baru keluar dari kamar. Dia langsung memapah Reina dan mendudukkannya di sofa.


 


“Aku merasa baik-baik saja. Kenapa kamu tidak membangunkan aku? Kita bisa terlambat bekerja.” ucap Reina yang terlihat khawatir.


“Tidak. Hari ini kamu tidak boleh kemana-mana. Kamu harus beristirahat dirumah sampai kamu benar-benar sembuh. Aku tidak mengijinkanmu untuk pergi bekerja hari ini.”


Varen menyandarkan punggung Reina ke sofa dan melipat kain untuk alas kakinya yang terjuntai kebawah. Lalu dia menyelimuti sebagian tubuh Reina dengan selimut tipis.

__ADS_1


 


“Aku bawakan sarapan untukmu.” ucap Varen seraya melangkah menuju ke dapur. Reina menatap punggung pria itu yang terlihat sedang sibuk memasukkan sesuatu kedalam mangkuk. Tak lama kemudian Varen kembali dengan membaa nampan berisi makanan untuk Reina.


 


“Kamu makan bubur dulu lalu minum obat.” ucap Varen seraya menyimpan nampan di atas meja dan duduk disamping Reina.


“Kamu membuat bubur untukku?” Reina menatap mangkuk berisi bubur yang dipegang suaminya. Aroma wangi bubur itu menggugah selera Reina untuk segera menyantap sarapannya.


 


“Aku membelinya ditempat biasa. Aku tidak bisa memasak bubur.” ucap Varen. Mendengar perkataan itu, muncul perasaan tidak suka dihati Reina. Lagi-lagi Varen meninggalkannya saat dia masih tidur.


“Aku tidak lapar! Kamu saja yang makan.” kata Reina ketus ketika Varen mendekatkan sesendok bubur ke mulutnya.


 


“Bukan masalah lapar atau tidak. Kamu harus sarapan karena setelah makan kamu harus minum obat. Kalau kamu tidak mau bagaimana kamu bisa sembuh?” Varen kembali mendekatkan sendok ke mulut Reina namun wanita itu kembali menolaknya.


“Aku tidak mau.” tolak Reina dengan tegas seraya memalingkan wajahnya.


 


Nampak raut kemarahan diwajahnya yang terlihat pucat. Varen mengerutkan keningnya, dia merasa bingung dengan sikap Reina yang tiba-tiba keras kepala.


“Kamu kenapa sih? Apa aku berbuat salah lagi? Tiba-tiba kamu bersikap ketus seperti itu?” tanya Varen menatap Reina.


 


Reina balik menatap suaminya dengan sengit, “Aku tidak suka kamu pergi diam-diam saat aku masih tidur. Apa salahnya kamu bangunkan aku atau kamu tinggalkan pesan untukku?”


Varen tertegun, ternyata Reina marah karena dia pergi ketika Reina masih tidur. Padahal dia pergi untuk membeli bubur dan mencari obat penurun panas.


 


Tanpa mengatakan apapun, Varen menyimpan mangkuk ditangannya lalu bangkit dan pergi ke kamar. Tatapan Reina melemah ketika dia melihat suaminya pergi begitu saja.


Airmatanya mulai menggenang karena dia tahu Varen marah padanya tapi dia selalu ketakutan setiap kali tidak melihat keberadaan suaminya.

__ADS_1


__ADS_2