
“Kenapa mereka pergi tanpa menemuiku terlebih dulu?” ucapnya terisak dan batuknya mulai kambuh lagi karena tangisnya. Varen segera melepaskan pelukannya dan menatap wajah istrinya yang basah airmata. Sekelebat muncul bayangan seorang anak perempuan yang mempunyai ekspresi tangis yang sama seperti Reina.
Varen tersenyum seraya menghapus air mata istrinya, mungkin apa yang dikatakan ibu mertuanya benar bahwa dia dan Reina memang sudah saling mengenal sejak lama. “Jangan cengeng! Nanti kita naik sepeda kalau kamu sudah sembuh.” kata Varen tersenyum.
“Aku tidak bisa naik sepeda.” ucap Reina menggelengkan kepala.
“Nanti aku ajari. Tidak akan jatuh kan aku sudah ahli. Sekarang habiskan air kelapanya kemudian kamu makan dan istirahat biar cepat sembuh. Atau mau aku pijat?” Varen menaikkan satu alisnya menggoda Reina seraya tersenyum.
Reina buru-buru meringsut dan menjauhkan diri dari Varen. Dia malu mengingat Varen yang sudah melihat tubuh polosnya.
Reina mengusap airmatanya dengan asal, “Jangan melantur. Lebih baik kamu pergi beli makanan.” ucap Reina sambil memalingkan wajahnya dari Varen, dia salah tingkah.
Varen tertawa renyah melihat sikap istrinya yang lucu, dia pun mendekati Reina memegang pipinya seraya melayangkan tatapan tajamnya.
Tawa Varen pecah, “Sekarang aku ingat. Kamu memang tidak berubah.” ucap Varen seraya berdiri lalu mengecup kepala Reina. Dia melangkah pergi menuju kedapur sambil tertawa.
“Ada apa dengannya? Sepertinya Varen sedang sakit?” Reina menatap kepergian Varen dengan wajah berkerut. Dia heran melihat suaminya yang tiba-tiba tertawa.
...**********...
Di kediaman Bimantya. Samara tengah mendengarkan laporan dari Tanta yang setiap harinya harus melaporkan semua tentang Varen dan Reina.
“Jadi wanita itu sedang sakit?” Samara mendongak menatap wajah bawahannya itu.
Tanta mengangguk, “Iya, benar nyonya. Tuan muda juga tidak ke kantor karena harus merawar Nyonya Reina dirumah karena dia hanya sendirian saja.”
Samara berdecak kesal, “Menyusahkan sekali! Belum apa-apa dia sudah membuat cucuku repot! Sakit apa dia?” tanya Samara dengan suara tinggi. Ada rasa tak senang dinada suaranya.
Tanta menautkan alisnya, tadi pagi Varen tidak mengatakan apapun padanya tentang penyakit Reina. Namun Tanta juga tidak bertanya karena itu adalah kehidupan pribadi Varen.
__ADS_1
Dia bingung harus menjawab apa, “Tuan muda hanya mengatakan kalau Nyonya Reina sedang sakit. Tapi----” Tanta tak menyelesaikan kalimatnya. Dia teringat dengan apa yang didengarnya saat dia berada diluar rumah.
Samara memicingkan matanya, “Tapi apa? Katakan, jangan bicara setengah-setengah.” ucapnya dengan nada tegas dan tidak sabaran.
Tanta menundukkan kepala lalu berkata, “Saya sempat mendengar Nyonya Reina muntah-muntah nyonya.”
“Apa?” pekik Samara. Wajahnya langsung pucat pasi mendengar berita dari bawahannya. “Kurang ajar! Apa mungkin dia sedang hamil anaknya Varen? Dia pasti menggunakan cara licik itu untuk membuat Varen tetap berada disisinya. Cih! Trik murahan! Trik yang sama seperti yang dulu dilakukan Ivanna pada ayahnya Varen!”
Samara yang berang dengan napas kembang kempis karena marah.
“Nyo---Nyonya…..jangan dulu mengambil kesimpulan. si—siapa tahu Nyonya Reina hanya masuk angin saja. Cuaca akhir-akhir ini kan kurang bagus, bisa jadi dia hanya masuk angin.” ucap Tanta.
Samara melayangkan tatapan tajam pada Tanta, perkataan Tanta ada benarnya juga dan dia harus segera memastikannya. “Pergi kesana! Awasi rumah Varen dan laporkan semuanya padaku.” perintah Samara dengan marah.
Tanpa diperintah dua kalipun Tanta segera undur diri dari hadapan majikannya. Setelah Tanta pergi, Samara segera meraih ponselnya dan menghubungi Varen. Terdengar suara sambungan telepon.
Tak lama suara Varen menyapanya. “Iya nek.”
“Reina sedang sakit, nek. Tapi Varen sudah handle semua pekerjaan dari rumah. Semuanya sudah selesai, nenek tidak perlu khaw…...hoeek! Hoek!…...perutmu mual lagi?”
Samara menatap layar ponselnya, tangannya mencengkeram kuat ponselnya. “Kurang ajar! Dasar wanita ****** murahan!” geram Samara lalu dia mematikan saluran teleponnya. Kemudian dia menghubungi Felix.
“Felix! Segera pergi kerumah Varen dan cari tahu apa benar istrinya sedang hami!” titah Samara tanpa menunggu jawaban dari cucunya, Samara mematikan sambungan teleponnya.
“Aku harus segera bertindak. Jangan sampai dia menjerat Varen semakin kuat dan sulit untuk kupisahkan! Tidak boleh terulang kembali apa yang terjadi pada putraku dulu.” gumam Samara.
...******...
Felix terperangah menatap layar ponselnya seraya mengerutkan alisnya, “Reina hamil? Halo nek?” panggil Felix tapi panggilan sudah terputus.
“Reina hamil? Beneran?” gumamnya seraya tersenyum lebar. Didalam hatinya dia gembira sekali mendengar kabar itu. Sontak saja seluruh anggota rapat mengalihkan pandangannya pada Felix.
__ADS_1
Termasuk Bobby dan Kaifan yang saat itu sedang mengikuti rapat. “Ma—maaf pak. Siapa yang sedang hamil?” tanya salah seorang anggota rapat.
Felix melirik orang yang bertanya kepadanya, wajahnya terlihat ceria, “Reina! Sekretaris CEO kita. Sepertinya saya harus mengucapkan selamat secepatnya. Mari kita selesaikan rapat ini.”
Deg!
Dada Bobby terasa dihantam kuat, dia merasakan dadanya sesak dan dia terhenyak tak percaya pada apa yang barusan didengarnya. ‘Reina hamil? Tidak mungkin dia hamil secepat itu. Varen dan Reina baru menikah dua minggu lalu. Apa jangan-jangan……?’ Bobby terperangah dengan pemikirannya sendiri. ‘Apa mungkin Reina mengandung anakku?’
Seulas senyum muncul diwajah Bobby. ‘Ya. Kalau memang sekarang Reina hamil berarti ada kemungkinan besar bayi itu milikku! Tidak mungkin Varen bisa menghamili Reina secepat itu. Aku harus segera mencari tahu!’ batin Bobby. Jantungnya berdebar kencang membayangkan dirinya akan memiliki anak membuat hatinya senang dan berbunga-bunga.
‘Aku akan menjadi seorang ayah?” gumam Bobby dengan bangga.
Berbeda dengan Bobby yang terlihat senang tetapi Kaifan justru terlihat sangat gusar. ‘Sial! Beraninya pria pengangguran itu menghamili calon kekasihkku. Aku harus memisahkan mereka. Reina hanya milikku! Tidak akan kubiarkan pria pengangguran itu selamanya disamping Reina.
Sepulang kerja tampak Bobby yang kelihatan sangat senang dan suasana hati yang bagus. Wajahnya nampak berseri-seri dengan senyum lebar yang merekah dibibirnya.
Terbalik dengan wajah istrinya yang terlihat masam. “Kamu tuh kenapa sih sayang?” tanya Elora heran melihat suaminya yang terlihat bahagia.
Bobby melirik istrinya lalu menekan tombol lift. “Tidak apa-apa. Aku hanya senang saja karena rapat hari ini selesai cepat.” jawabnya asal. Tidak mungkin dia mengatakan pada istrinya jika dia senang karena bayi yang sedang dikandung Reina.
Elora kembali memfokuskan diri dengan ponselnya, dia tengah berkirim pesan dengan Agatha yang mengeluhkan tentang latar belakang Varen yang tidak bisa dilacaknya.
‘Aku akan meminta bantuan temanku untuk mencari tahu identitas asli pria itu. Siapa tahu dia membohongimu selama ini. Tapi kamu harus menambah bayarannya.’ tulis Agatha.
‘Baiklah. Tidak perlu memikirkan uang, aku akan membayar berapapun.’ balas Elora.
Elora sudah merasa penasaran dengan latar belakang mantan suaminya itu, dia ingin mengetahui segala hal yang bersangkutan dengannya.
__ADS_1