TUKAR PASANGAN

TUKAR PASANGAN
BAB 50. MENYAKINKAN NENEK


__ADS_3

Varen memperhatikan rumah mewah yang ada dihadapannya. Bangunan megah dengan arsitektur bergaya Eropa yang masih terlihat kokoh sudah berdiri sejak mendiang ayahnya masih kecil. Empat pilar rumah yang menyangga bagian depan rumah membuat rumah itu semakin terlihat megah. Varen tersenyum getir saat tatapan matanya tertuju pada jendela besar yang mengelilingi hampir seluruh bagian depan rumah itu.


 


Dia masih ingat kejadian dua puluh dua tahun yang lalu saat pertama kali dia menginjakkan kaki dirumah ini. Saat itu orangtuanya ingin mengenalkannya pada neneknya yang baru pulang ke Indonesia. Dengan sangat antusias, malam itu Varen membawa lukisannya kepada Samar akan tetapi setelah menunggu lama neneknya tidak kunjung menemui mereka.


 


Karena semakin larut Verdi memutuskan untuk mengajak anak dan istrinya pulang. Tapi Varen bersikeras menunggu sampai neneknya keluar menemuinya. Dia sangat ingin memberikan lukisan buatannya kepada sang nenek yang selama ini hanya dia dengar dari cerita ayahnya. Dia tidak pernah bertemu dengan neneknya bahkan tidak tahu wajah neneknya.


 


Varen menangis sejadi-jadinya berharap tangisannya akan membuat neneknya keluar untuk menemuinya tapi usahanya tidak sia-sia saja. Dengan semangat Varen kecil memeluk kaki neneknya namun yang dilakukan Samara bukannya menyambut pelukan cucunya.


Dia malah mendorong Varen dan meminta pengawal untuk mengusir mereka dari rumahnya. Sambil menangis Varen kecil menitipkan lukisannya kepada asisten neneknya dengan harapan neneknya akan senang dengan hadiahnya. Namun ketika mobil mereka pergi dan Varen menoleh kebelakang, dia melihat jendela kamar neneknya terbuka.


 


Varen kecil tersenyum mengira neneknya akan menatap kearahnya. Dia ingin melihat wajah neneknya namun senyumnya seketika memudar saat dia melihat tangan neneknya terulur membuang hadiah yang dia berikan. Perasaan sakit dan kecewa yang dia rasakan waktu itu masih terasa sampai sekarang seolah kejadian itu baru terjadi.


 


Varen menarik napasnya dalam-dalam berusaha menghilangkan kesedihannya yang menyesakkan dada. Karena kejadian itu dan kejadian-kejadian berikutnya membuat Varen enggan untuk tinggal dirumah neneknya. Dia lebih suka tinggal di sebuah bungalow kecil milik bibinya yang terletak dibagian belakang rumah megah ini.


 


“Selamat pagi Tuan Muda. Nyonya Samara sudah menunggu Tuan di taman samping.” ucap Ezra membuyarkan lamunan Varen. Dia pun segera menuju ke sisi kanan rumah dan melihat Samara yang sedang duduk sambil membaca koran dengan secangkir teh ditangannya. Wanita tua itu menyesap tehnya dengan pelan sambil meniup-niup.


 


“Selamat pagi Nek.” sapa Varen menghampiri neneknya lalu memeluk bahunya. Meskipun dia tahu neneknya tidak akan merespon namun Varen selalu melakukan itu setiap kali mereka bertemu. Seolah ingin memberi tahu neneknya kalau dia sangat menyayanginya tak peduli meskipun nenek tak pernah membalasnya.


 


“Duduklah. Aku sulit membaca koran kalau kau memelukku seperti ini.” ucap Samara dengan suara dinginnya. Samara bahkan tidak melirik ataupun menoleh pada Varen, sikapnya benar-benar acuh.

__ADS_1


Varen tersenyum getir lalu melepaskan pelukannya. Dia duduk disebelah neneknya agar bisa leluasa bicara dengannya.


 


“Ada apa kamu jauh-jauh kemari? Apa kamu ingin membicarakan masalah wanita murahan itu?” tebaknya tanpa basa-basi tanpa mengalihkan pandangannya dari koran.


“Nek, wanita yang nenek maksud adalah istriku dan dia bukan wanita murahan. Tolong jangan menyebut istriku seperti itu.” ujar Varen yang merasakan perih dihatinya.


Samara mengangkat wajahnya menatap cucunya. Kata-kata yang barusan didengarnya mengingatkan Samara pada kata-kata Verdi dua puluh tujuh tahun lalu. Kata-kata mereka mirip dan mengatakan hal yang sama padanya. Samara mendengus kesal dan mencibir tidak menyangka semuanya seperti dejavu.


 


Samara masih ingat, dulu Verdi bersikeras membela istrinya sekuat apapun Samara memberikan bukti dan sifat buruk istrinya. Tapi akhirnya Verdi sendiri yang menelan kekecewaan karena dikhianati oleh wanita yang dicintainya. Samara mengepal geram, hatinya selalu dipenuhi emosi setiap kali mengingat kejadian buruk yang menimpa putranya.


 


“Bagi nenek, dia tetap wanita murahan! Dia tidak segan-segan menerima uang yang nenek tawarkan dan masih juga ingin tetap bersama suaminya! Cih! Wanita serakah!” Samara bersikeras dengan pemikiran buruknya terhadap Reina.


Dia yakin kalau wanita itu tidak ada bedanya dengan ibunya Varen dulu. Mereka sama-sama wanita mata duitan yang akan melakukan segala cara untuk mendapatkan keinginan mereka.


 


 


“Benarkah? Lalu kenapa dia memintamu membelikannya baju, tas dan sepatu mahal?” Samara tersenyum sinis karena yakin kalau cucunya itu tidak akan bisa memberikan alasan tepat untuk itu.


“Barang-barang itu tidak mahal, nek. Itu hanya pakaian dan tas biasa.” ujar Varen membela istrinya.


“Cih! Sejak kapan Martin menjual pakaian dan tas berkualitas biasa ditokoknya?” Samara mencemooh.


 


Varen semakin yakin kalau neneknya selalu mengawasinya, dia bahkan tahu kalau dia membeli pakaian Reina di toko pamannya. Neneknya juga tahu berapa harga dan kualitas barang yang dibelikan Varen untuk istrinya. Padahal Reina sendiri tidak tahu apa-apa soal itu.


“Baiklah, nek. Aku akui memang barang-barang itu mahal. Tapi Reina tidak pernah minta dibelikan, itu adalah inisiatifku untuk membelikan semuanya.” ujar Varen menjelaskan.

__ADS_1


 


“Reina membutuhkan semua itu, nek. Dia tidak punya apa-apa, semua barang miliknya adalah barang lusuh dan dia tidak membawa banyak pakaian saat keluar dari rumah orang tuanya.” jelas Varen lagi dengan harapan neneknya akan percaya pada kata-katanya.


 


Samara kembali fokus menatap korannya, “Terserahmu, kamu mau bilang apapun tetap saja bagiku dia wanita murahan dan haus akan uang. Wanita serakah yang mau menerima uang tapi tetap menginginkan suaminya. Cih!”


 


“Nek…..” ucap Varen tak melanjutkan kalimatnya. Dia bingung bagaimana memberi pengertian pada neneknya agar tidak berpikiran buruk pada istrinya.


“Katakan saja apa tujuanmu datang kemari. Aku tidak punya banyak waktu, aku akan kedatangan tamu sebentar lagi.” tutur Samara yang masih fokus dengan korannya.


 


Varen menatap neneknya dengan sendu, belum ada setengah jam dia mengobrol dengan neneknya tapi wanita itu sudah mengusirnya. Padahal sudah empat bulan mereka tidak bertemu dan Varen sangat merindukan neneknya.


“Tolong jangan ganggu Reina lagi nek. Biarkan dia fokus pada pekerjaannya. Sebentar lagi Felix akan pergi jadi aku sangat membutuhkan Reina untuk menggantikannya.”


 


Samara diam, dia tidak menolak ataupun menyetujui permintaan cucunya. Sebenarnya Samara tidak suka melihat Reina berkeliaran di perusahaannya. Apalagi dia berada disekitar cucunya yang membuat Samara semakin sulit menjauhkan mereka.


 


“Perusahaan kita di London sangat membutuhkan Felix, jika nenek terus mengganggu Reina maka pekerjaannya akan terbengkalai. Itu akan membuat Felix semakin lama disini jadi tolong biarkan Reina bekerja dengan tenang tanpa ada gangguan apapun.” Varen kembali menyakinkan neneknya.


 


Samara diam tak merespon dengan penolakan ataupun menyetujui permintaan cucunya. “Nenek, diam bukan berarti aku setuju dengan pernikahan kalian.” ucapnya lalu mengambil cangkir dan mengisinya. Minumlah tehmu, ini teh licorice bagus untuk lambung.


“Terima kasih, nek.” senyum Varen mengembang, dia yakin untuk sementara waktu neneknya tidak akan mengganggu Reina lagi.


Tanpa pikir panjang dia meminum tehnya, dia senang mendapat perhatian dari neneknya, selama minum teh, tidak ada percakapan apapun yang Varen lakukan. Neneknya pun lebih memilih diam sambil menyesap tehnya.

__ADS_1


__ADS_2