TUKAR PASANGAN

TUKAR PASANGAN
BAB 61. CERITA MASA KECIL


__ADS_3

Indira meraih tangan menantunya, “Varen! Reina itu gadis yang baik. Sejak kecil dia tidak pernah mengeluhkan apapun dari kami. Kami sangat mencintainya. Jadi kami harap kamu tidak menyia-yiakan Reina.” Indira jujur mengungkapkan keinginannya pada Varen. Hanya dengan cara ini Reina bisa aman dari gangguan Elora.


 


“Kamu memang suami yang buruk dan menantu tidak berguna saat menjadi suami Elora. Tapi sekarang kami harap kamu bisa bertanggung jawab terhadap Reina. Jadilah suami yang baik untuknya. Kami tidak akan segan mengambil Reina kembali jika kamu menyakitinya.” timpal Chandra.


“Aku tidak akan menyakiti Reina. Tidak akan pernah dan aku janji akan menjaga dan melindunginya.” sahut Varen dengan cepat.


 


Varen bahkan terkejut dengan janji yang baru saja terlontar begitu saja dari mulutnya. Entah kenapa dia mengatakan itu tapi mendengar mertuanya akan membawa Reina pergi darinya membuat hati Varen merasa tidak nyaman.


“Reina adalah istriku. Aku akan menjada dan melindunginya dengan sepenuh hati. Kalian bisa pegang kata-kataku.” ucap Varen menegaskan janjinya.


 


Chandra dan Indira saling berpandangan dan merasa lega. “Baiklah. Kami percaya tapi kami akan tetap mengawasi kamu.” ucap Indira.


Varen menghembuskan napasnya dengan ringan, dia merasa lega mendengar perkataan mertuanya. Mendengar Reina akan dibawa pergi membuat hatinya tidak rela.


 


“Varen, mungkin kamu tidak ingat tapi kami sudah mengenalmu sejak kecil. Kami juga mengenal ayahmu, dia pria yang sangat baik. Dulu dia sering menitipkan kamu kepada kami.” tutur Chandra.


Varen menautkan alisnya, dia meragukan perkataan mertuanya. Dia sama sekali tidak ingat pernah bertemu dengan Indira dan Chandra Hasena sebelumnya.


 


Indira mengotak atik ponselnya seperti sedang mencari sesuatu. Kemudian dia memberikan ponselnya kepada Varen. “Dulu kamu anak yang menyebalkan. Setiap kali ayahmu menitipkan kamu di rumah, kamu selalu membuat Reina menangis. Kamu sangat senang mengganggunya, merebut mainannya sampai dia menangis.” ucap Indira.


 


Varen menatap foto yang diberikan ibu mertuanya. Foto itu memperlihatkan dirinya yang masih kecil sedang berebut mainan robot dengan seorang anak perempuan berjepit rambut kupu-kupu yang terlihat lebih muda darinya. “Anak perempuan ini?” tanya Varen seraya mengerutkan keningnya.


 


“Dia Reina! Kalian selalu berebut mainan setiap kali bertemu dan kamu selalu tidak mau mengalah padanya. Mama ingat dulu mama sampai harus menukar mainan milikmu dengan pensil dan buku gambar milik Reina.” tutur Indira seraya tersenyum hangat.


Varen mencoba mengingat tentang Reina tapi dia sama sekali tidak mengingat apapun dari masa kecilnya itu.

__ADS_1


 


Indira menggeser layar ponselnya, “Ini foto saat kamu membuat Reina jatuh dari sepedanya. Reina masih terlalu kecil untuk naik sepeda tapi kamu memaksanya naik sepeda. Setelah itu kamu mendorong sepedanya sampai Reina jatuh dan menangis.” ujar Indira menceritakan kembali. Didalam foto itu terlihat seorang anak perempuan menangis karena luka disikut dan keningnya.


 


“Kalau foto ini saat kamu terluka karena menyelamatkan Reina dari gigitan anjing tetangga. Mungkin lukanya masih berbekas.” ucap Indira seraya menilik tangan menantunya. Dia tersenyum ketika menemukan bekas luka gigitan ditangan Varen.


“Jadi kami sudah saling kenal sejak lama?” tanya Varen sambil menyentuh bekas luka ditangannya.


 


Indira mengangguk. “Iya benar. Meskipun kamu sering membuat Reina menangis, tapi dia tidak berhenti mengikutimu kemana-mana dan kamu pun selalu menjaganya. Mama ingat ketika keluarga ayahmu membawamu pergi, Reina sampai sakit selama satu minggu karena merindukanmu.” ucap Indira dengan tatapan menerawang.


 


Varen tersenyum melihat foto dirinya yang terluka sedang dipeluk oleh seorang anak perempuan yang sedang menangis.


“Kamu dan Reina sudah dekat sejak kecil. Jadi tidak heran kalau kalian cepat akrab. Sekarang Reina adalah istrimu dan tanggung jawabmu. Kami menitipkan dia padamu tapi ingat kami tidak akan segan mengambilnya jika kamu menyakitinya.” ujar Chandra mengangkat tekunjuknya.


 


“Aku akan menjada dan melindungi Reina dengan baik.” sahut Varen tanpa ragu.


 


“Baik Pa!” sahut Varen.


Indira pun ikut bangkit dari duduknya lalu memeluk menantunya. “Terima kasih sudah merawat Reina dengan baik. Kami percayakan dia padamu. Kami pergi dulu.”


Varen menegang, dia jarang mendapat pelukan sehangat itu makanya dia hanya diam mematung tak membalas pelukan mertuanya.


 


“Jangan sungkan untuk menghubungi kami jika membutuhkan apapun. Tapi kami harap kamu merahasiakan semua pembicaraan kita dari Reina. Biarlah dia mengobati luka hatinya terlebih dulu.” ucap Chandra Hasena sambil menepuk punggung Varen.


“Baik, pa, ma.” sahut Varen mengangguk.


 

__ADS_1


Chandra Hasena dan Indira menemui Reina dikamarnya untuk berpamitan tanpa membangunkannya. Mereka mengecup kening Reina bergantian lalu pergi meninggalkan rumah itu.


Ketika mobil melaju Indira menatap suaminya lalu berkata, “Pa, apa kita tidak perlu menceritakan tentang alasan perjodohan itu yang sebenarnya? Mengenai hutang itu?”


 


“Untuk apa ma? Apapun alasannya sekarang Varen sudah menjadi suami Reina dan menantu kita. Masalah paman Saskara bukan urusan kita. Jangan katakan apapun kecuali Varen sendiri yang bertanya.” ucap Chandra Hasena.


“Baik, pa.” sahut Indira.


 


Menjelang sore hari, Varen masih sibuk mengerjakan pekerjaannya karena kondisi istrinya sedang sakit, dia pun terpaksa menyelesaikan pekerjaannya dirumah.


“Sepertinya ada selisih harga dalam pembelian bahan bangunan pertama dan kedua. Kerahkan tim audit untuk mengeceknya tapi lakukan secara diam-diam.”


 


Varen sedang menelepon saat Reina keluar dari kamar dengan wajah pucatnya. “Lakukan secepatnya. Ingat jangan sampai berita ini bocor.” Varen pun buru-buru memutuskan sambungan teleponnya. Dia pun segera bangkit dan menghampir I istrinya lalu memapahnya duduk di sofa.


“Bagaimana perasaanmu sekarang? Masih mual?” tanya Varen menilik wajah istrinya seraya menempelkan telapak tangan dikeningnya. Wajah Varen berkerut ketika merasakan suhu tubuh Reina yang masih panas.


“Mama sama papa sudah pulang? Kenapa mereka buru-buru pulang?” tanya Reina dengan suara bergetar tanpa menghiraukan pertanyaan Varen.


 


Varen tertegun, dia merasa bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin dia mengatakan kalau mertuanya buru-buru pulang karena takut Elora akan marah dan mengamuk. “Papa membuat kelapa bakar untukmu. Aku hangatkan sebentar.” ucap Varen lalu bangkit dan melangkah ke dapur.


Air mata Reina menetes saat suaminya pergi. Dia merasa sedih mendapati orang tuanya telah pergi tanpa menunggunya bangun. “Seharusnya aku tidak tidur tadi.” gumamnya terisak.


Tak berapa lama, Varen datang membawakan sebuah kelapa hijau bakar. “Minumlah!”


Tanpa diminta dua kali, Reina meraih sedotan dan meminum air kelapa yang dipegang Varen. Begitu air kelapa itu melewati tenggorokannya, Reina kembali meneteskan air mata teringat akan ayah dan ibunya.


UHUK! UHUK!! UHUKK!!!


 


Reina terbatuk lalu melepaskan sedotannya sambil menutup mulut. Reina menundukkan wajahnya karena tidak mau Varen tahu kalau dia menangis. Reina terkejut saat tiba-tiba Varen memeluknya dengan erat.

__ADS_1


“Ada aku disini. Kamu tidak perlu bersedih, aku akan selalu menjagamu.” ucap Varen.


Reina pun membalas pelukan Varen dan menangis sejadi-jadinya.


__ADS_2