
Samara terdiam sejenak, “Aku akan menemui mereka sebentar.” ucapnya. "Kamu tetap berkaga-jaga disini."
Mendengar itu dengan sigap Ezra keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk majikannya.
“Ezra, suruh Tanta untuk datang kerumah.” titah Samara tanpa menungggu jawaban dari asistennya itu. Samara pun melangkah memasuki cafe.
Ketika sampai didepan cafe, seorang sekuriti membukakan pintu untuknya. Samara mengedarkan padangan menyusuri bangunan cafe yang terdiri dari dua lantai. Meskipun dari luar cafe itu terlihat biasa saja tapi dibagian dalam cafe menyuguhkan interior yang menarik.
‘Pantas saja banyak pengunjung datang kesini.’ bisik hati Samara.
Dia cukup terkejut dengan suasana cafe yang nyaman. “Maaf Nyonya mau memesan tempat untuk berapa orang?” terdengar suara seorang wanita menyapa Samara. Dari pakaian wanita itu Samara tahu kalau dia adalah pelayan cafe.
“Apa disini menyediakan private room?” tanya Samara. "Saya ingin memesan private room."
Pelayan itu etrsenyum ramah. “Tidak Nyonya. Cafe ini diperuntukkan untuk semua kalangan jadi tidak ada tempat seperti itu.”
Samara kembali mengedarkan pandangannya, tatapannya tertuju pada meja kosong dipojok ruangan. “Aku akan mereservasi meja itu dan enam meja disekitarnya. Sampaikan juga kepada pemilik cafe, Samara Bimantya menunggu mereka.” ucap Samara.
Tanpa menunggu jawaban pelayan itu Samara langsung melangkahkan kaki menuju meja di pojok. Dia menarik kursi dan duduk dengan tangan terlipat dan kaki yang bersilang. Samara tampak angkuh dengan posisi duduknya.
Sedangkan sang pelayan langsung pergi ke kantor. Setelah dia masuk kedalam ruang kerja dia pun menyampaikan pesan Samara, Chandra dan Indira terkesiap mendengar nama orang yang disebut pegawainya.
“Siapa katamu?” tanya Indira menegaskan.
“Nyonya Samara Bimantya. Dia bilang sedang menunggu bapak dan ibu.” jawab pegawai Indira itu.
Chandra Hasena dan Indira saling melempar pandangan. Mereka terlihat resah walau sebelumnya mereka sudah mengira jika nenek Verdi akan mendatangi mereka. Tapi mereka tidak menyangka jika Samara akan datang secepat itu.
__ADS_1
“Akhirnya wanita congkak itu datang juga.” ucap Chandra Hasena.
Indira mengangguk, “Berapa banyak yang akan dia tawarkan kepada kita?”
“Entahlah. Tapi aku tidak akan mau menuruti kemauannya. Aku tidak menyukai wanita itu tapi bukan berarti dia boleh memperlakukan kita seenaknya.”
Beberapa menit kemudian, Chandra Hasena dan Indira menghampiri Samara yang duduk di meja pojok ruangan. Melihat penampilan Samara dan cara duduknya, mereka membenarkan perkataan orang yang mengatakan bahwa Nyonya Besar pemilik Kenz Group adalah orang yang angkuh dan sombong. Banyak juga desas desus yang mengatakan jika wanita itu kasar dan tegas.
Dan sekarang waktu yang tepat untuk membuktikan semua kebenaran berita tersebut.
“Maaf Nyonya. Apakah ada yang bisa kami bantu?” tanya Indira dengan sopan ketika dia dan suaminya sudah berada dihadapan Samara.
Samara menatap kedua orang tua Reina dengan tatapan menilai. Sebelumnya dia pernah melihat wajah mereka dalam layar ponsel Reina dan sekarang Samara melihat mereka secara langsung.
“Duduklah! Aku yakin kalian pasti sudah tahu siapa aku.” Samara tersenyum sinis. Dia tidak suka dengan hal bertele-tele apalagi dengan basa-basi yang dilakukan Indira.
“Aku tahu apa yang sudah kalian temukan dari keluargaku beberapa bulan lalu. Detektif yang kalian sewa mengatakan semuanya.” ucap Samara.
Indira mendengus mendengar jawaban Samara membuatnya sadar bagaimana harus bersikap. Sebenarnya dia cukup terkejut Samara mengetahui tentang detektif yang dia sewa untuk menyelidiki Varen beberapa bulan lalu.
“Baiklah kalau begitu. Kami tidak akan sungkan.” Indira menarik kursi dihadapan Samara begitu juga dengan suaminya. Mereka bertiga duduk saling berhadapan. “Katakan apa sebenarnya tujuan anda datang kemari nyonya? Tidak mungkin anda kemari hanya untuk segelas teh.” tanya Indira seraya menatap cangkir teh yang ada didepan Samara.
Samara meraih tasnya kemudian mengeluarkan sebuah cek lalu menuliskan deretan angka. Lalu dia memberikannya kepada Indira. “Aku rasa ini cukup untuk membantu mengembangkan usaha kalian.”
Melihat angka satu milyar itu, Chandra dan Indira menelan salivanya. Itu jumlah uang uang Samara tawarkan sangat besar. Dengan yang sebanyak itu mereka bisa membuka beberapa cabang cafe.
__ADS_1
Chandra menatap besannya lalu berkata, “Maaf Nyonya tapi kami tidak ada niatan untuk mengembangkan usaha kami. Memiliki cafe dan resto seperti ini saja sudah membuat kami kewalahan. Apalagi sekarang putri kami Reina tidak bisa lagi membantu disini.”
“Lalu berapa banyak uang yang kalian inginkan?” tanya Samara tanpa basa basi. "Katakan saja berapa jumlahnya. Tidak perlu malu-malu!"
Chandra tersenyum sopan, “Apa jawaban saya barusan kurang jelas? Kami tidak berniat mengembangkan usaha kami. Jadi kalau ingin berinvestasi silahkan cari tempat lain saja.”
Wajah Samara berubah masam karena dia tidak menyangka jika orang tua Reina akan berpura-pura bodoh. “Aku ingin mengambil cucuku kembali. Jadi berapa harga yang harus kubayar untuk membuat putri kalian pergi darinya.”
“Oh jadi maksud anda, uang ini untuk menebus menantu kami?” tanya Indira menyakinkan. Wajahnya terlihat lebih serius dari sebelumnya.
“Aku ingin putri kalian menjauhi Varen dan pergi dari kehidupannya selamanya! Bukankah kalian menikahkan mereka untuk uang?” tuduhnya. Samara teringat tujuan Saskara menjodohkan Varen dengan cucu Hasena.
Indira mendengus, “Sepertinya nyonya sudah salah paham. Kami memang menjodohkan mereka untuk uang. Tapi bukan untuk mendapatkan uang anda. Kami hanya ingin mengambil uang mendiang ayah kami kembali.” ucapnya dengan ekspresi serius.
Samara mengeryitkan keningnya tidak menyangka kedua orang tua Reina mengetahui alasan sebenarnya dibalik pernikahan Varen dan putri mereka.
“Jadi kalian mengetahui kebenarannya?” tanya Samara. Rasa penasarannya terlihat jelas diwajahnya.
“Tentu saja. Kami tidak akan menikahkan putri kami dengan sembarang pria. Apalagi untuk alasan yang tidak jelas.” Indira tersenyum.
“Baguslah kalau begitu. Sekarang kita tidak perlu bertele-tele. Sebutkan jumlah yang kalian inginkan untuk membuat putri kalian menjauh dari cucuku?” ujar Samara dengan nada ketus.
Indira tertawa geli, “Maaf Nyonya. Seperti yang saya katakan sebelumnya kalau kami menikahkan Varen dan putri kami bukan untuk mendapatkan uang anda. Tapi untuk mendapatkan uang milik mendiang ayah kami.”
“Apa maksud kalian?” Samara mengerutkan keningnya. "Aku bisa memberikan uang berapapun yang kalian inginkan."
__ADS_1
“Kami sudah mendapatkan uang warisan itu? Adapun kelanjutan hubungan Varen dan Reina, sebagai orang tua sudah bukan urusan kami lagi. Kami tidak berhak ikut campur karena semuanya tergantung kepada mereka berdua yang menjalani. Dan lagipula kami hanya menjual makanan, tidak menjual menantu. Jadi saya harap anda mengerti dan tidak ikut campur dengan urusan mereka.” sambungnya.