
“Baiklah ma. Terima kasih ya.” Reina memutuskan sambungan telepon. Dia menghela napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya dengan perlahan. Samara Bimantya, Reina mengulang nama itu beberapa kali. Sejak pertemuan terakhir mereka beberapa minggu lalu, wanita itu tidak pernah lagi mengganggu Reina. Tapi kali ini Reina yang berencana akan mengganggu wanita tua itu.
‘Sepertinya aku harus mempersiapkan diriku. Seperti kata mama, aku harus terlihat rapi dan bersih.’ gumamnya didalam hati. Dia pun menyalakan kembal laptopnya lalu melanjutkan pekerjaannya.
Reina fokus mengerjakan beberapa pekerjaan hingga tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Jam kerja pun berakhir, dia bergegas merapikan barang-barangnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, Reina baru saja keluar dari gedung kantornya. Saat dia melihat taksi Tanta sudah menunggunya dia pun menghampiri.
“Pak, saya harus mengantarkan barang dagangan mama jadi hari ini saya diantar sama supir mama.” Reina menunjuk kearah sebuah mobil sedan hitam yang terparkir tepat didepan mobil Tanta.
Tanta bingung dan merasa takut jika nanti ditanya oleh majikannya. Tapi dia juga tidak bisa memaksa Reina untuk naik ke mobilnya. “Baiklah Bu. Tidak apa-apa. Saya akan mencari penumpang lain saja.”
“Maaf ya pak. Saya pergi dulu.” ujar Reina berjalan mnuju ke mobil mamanya. Mobil itu meluncur menuju ke kediaman Bimantya.
Sedangkan Tanta, karena tidak mau kena marah Verdi dia pun segera melapor. “Tuan Muda. Maaf, Nyonya Reina berkata kalau dia pergi mengantar pesanan. Jadi nyonya pulang dengan supir mamanya…….baik Tuan.” Tanta pun memutuskan sambungan telepo lalu berbicara melalui speaker di telinganya dengan seseorang.
“Sudah sampai dimana mereka sekarang?”…...Tanta langsung memutar mobilnya untuk menyusul mobil yang membawa Reina pergi. Tak berapa lama Reina tiba di kediaman Keluarga Bimantya yang besar dan mewah.
Dia memperhatikan rumah mewah didepannya, sudah lima belas menit dia berdiri disana tapi belum punya keberanian untuk masuk kedalam.
Saat ini perasaannya tidak karuan sama seperti beberapa tahun lalu ketika Reina diajak menemui calon ibu mertuanya. Ddreeeettttt Dreeetttttt Dreeetttt…….ponselnya bergetar. Reina merogoh ponsol dari dalam tas lalu menjawab telepon,
“Kamu ada dimana sekarang? Mama bilang kalau kamu pergi ke rumah temannya?” tanya Varen.
Reina mengatupkan bibirnya mendengar suara Varen yang terdengar mencemaskannya. Hal itu membuat Reina semakin merasa bersalah karena tidak mengatakan yang sebenarnya kepada suaminya. Dia tidak mau berbohong tapi Reina menyakinkan dirinya untuk menemui Samara.
“Iya. Mama menyuruhku mengantarkan barang kepada temannya. Di cafe sedang sibuk.”
__ADS_1
“Kirimkan alamatnya sekarang! Aku akan menyusulmu kesana.”
“Tidak usah Varen. Kamu tidak perlu menyusulku kesini karena aku hanya sebentar saja kok.”
“Tapi ini sudah malam Reina. Kamu juga tidak menggunakan jaketmu, udara sekarang selalu dingin. Cepat beritahu aku dimana alamatnya. Aku akan menyusulmu kesana.”
Varen tetap gotot hendak menyusul Reina, hal itu membuat hati Reina berdenyut mendengarnya. “Varen! Tunggu saja aku dirumah. Aku pasti pulang sebentar lagi. Sampai jumpa ya.”
Reina langsung memutuskan sambungan teleponnya. Semakin lama Reina mendengar ke khawatiran Varen semakin hatinya terasa diremas-remas.
“Kenapa dengan Varen? Sikapnya aneh banget deh!” ucap Reina lirih seraya memukul dadanya yang terasa sakit dan sesak. Setelah dia menenangkan diri beberapa saat, dia meminta supir untuk memasuki rumah keluarga Bimantya.
“Selamat datang, Nyonya.” sapa Ezra. Reina tidak menjawab dan keluar sambil membawa hantaran yang sudah disiapkan ibunya.
Dengan sigap Ezra segera membawa barang bawaan Reina kedalam rumah. “Mari ikuti saya Nyonya.”
Sejenak Reina tertegun melihat foto Verdi yang terpajang dibawah foto besar itu. Foto Verdi dari masa kanak-kanak sampai dewasa terpajang berjejer disana. Reina mengedarkan pandangannnya memperhatikan dengan seksama sekelilingnya. Dia menatap dengan sorot mata sendri.
“Wah! Sungguh mengejutkan kamu berani datang kesini! Ada keperluan apa kamu bertamu malam-malam begini?” tanya Samara tanpa basa basi.
Reina berbalik lalu mengbungkukkan badan memberi hormat. “Maaf jika kedatanganku mengganggu waktu istirahat kalian semua.” jawab Reina.
Samara mendengus sinis, “Duduklah! Aku tidak punya banyak waktu untuk berbasa basi denganmu. Langsung saja pada pokok masalahnya.” lagi-lagi Samara bicara dengan nada ketus.
Reina pun mengambil barang-barangnya dari tangan Ezra kemudian meletakkan diatas meja. Lalu dia pun langsung duduk dihadapan Samara.
“Pergilah!” titah Samara dengan gerakan tangannya pada Ezra.
__ADS_1
“Apa ini? Kenapa repot-repot membawa buah tangan segala? Aku tidak memerlukan semua ini.” ucap Samara menatap barang-barang yang Reina bawa.
Ada rantang makanan dan kotak persegi panjang yang dibungkus dengan kain sutra. Reina tersenyum tipis lalu berkata, “Anggap saja sebagai tanda sopan santun saya. Karena semua ini terlalu sederhana jika dianggap buah tangan dari menantu untuk mertuanya.”
Samara terkesiap dengan mata melebar. Dia menatap Reina sambil mengepalkan tangannya. Tak menyangka jika wanita itu sudah mengetahui semuanya.
“Sejak kapan kamu mengetahuinya?” tanya Samara dengan nada datar.
Reina tersenyum getir, “Beberapa waktu lalu saat dirumah sakit.” jawab Reina. “Awalnya saya kira hanya mimpi saja tetapi setelah melihat foto-foto itu ternyata semuanya nyata!” ujar Reina menatap foto Verdi kecil. Wajah anak kecil itu sama persis dengan foto anak kecil yang terpajang di ruang tengah rumahnya.
Foto lama yang sudah usang tapi masih menampakkan wajah anak itu dengan jelas. Merskipun warna mata anak kecil yang ada dirumah Reina tidak terlihat jelas.
“Jadi selama ini kamu hanya berpura-pura? Kamu sudah menipu cucuku!” ujar Samara dengan ekspresi wajah tidak percaya.
“Siapa yang menipu siapa Nyonya?” sela Reina tak kalah sengitnya.
“Kalianlah yang sudah membuat semuanya menjadi rumit dan sulit untuk diperbaiki!”
Samara tertegun dan dia menatap Reina tak percaya dengan sikapnya yang cukup berani membalas ucapannya.
Berbeda dengan Reina yang selalu bersikap sopan dan lembut, wanita yang duduk dihadapannya ini terlihat arogan dan penuh dengan kebencian.
“Baguslah kalau kamu sudah tahu! Aku jadi tidak sungkan lagi untuk memintamu meninggalkan cucuku! Kamu bukan wanita yang pantas untuknya.” ucap Samara tanpa basa basi.
“Saya juga tidak ingin berurusan dengan cucu anda! Saya hanya ingin suami saya saja! Bisakah anda meninggalkan Varen untuk saya?” pinta Reina membalikan perkataan Samara.
“Apa maksudmu?” tanya Samara bingung dengan perkataan Reina.
__ADS_1
“Nyonya! Bukan keingingan saya berurusan dengan cucu anda Verdi. Saya juga tidak mau terlibat dengan keluarga Bimantya.”