TUKAR PASANGAN

TUKAR PASANGAN
BAB 69. PERKELAHIAN


__ADS_3

Duk Duk Duk Duk


Reina menoleh mendengar suara pintu yang diketuk dengan kasar. Wajahnya mengeryit tidak biasanya ada orang yang datang bertamu kerumahnya.


“Saya permisi ke depan sebentar, nyonya.” Reina pun berjalan kedepan untuk membukakan pintu.


Ceklek!


 


“Pak Kaifan?” seru Reina terkejut dengan alis bertaut. Dia heran melihat wajah Kaifan yang babak belur dengan tangan kanan yang dibalut perban.


“Mana suami kamu, hah?” tanya Kaifan hendak menyelonong masuk kedalam rumah.


Reina segera mencekal tangan Kaifa, “Pak, tolong jaga sopan santun anda. Saya tidak tahu apa masalah anda dengan suami saya. Tapi jangan masuk rumah orang sembarangan.”


 


Reina merasa geram dengan tingkah orang itu, dia mendorong Kaifan ke luar dari rumahnya.


“Hahahaha! Suami dan istri sama saja. Sama-sama kasar! Tapi tidak apa-apa, bagaimanapun aku suka dengan sikap kasarmu itu Reina.” ucap Kaifan hendak mencolek dagu Reina tapi Reina sudah lebih dulu menepis tangan pria itu.


 


Kaifan merasa kesakitan karena kedua jarinya yang patah terkena kibasan tangan Reina.


“Sialan! Kamu memang tidak bisa dikasih hati ya?” hardik Kaifan kesal.


Dia mendekati Reina secara perlahan dengan tatapan matanya yang nyalang pada Reina. Kaifan nampak marah besar dan ekspresi wajahnya sangat menakutkan. Reina mundur perlahan, dia takut kalau pria itu menyakitinya.


 


Sedangkan Kaifan semakin mengikis jarak diantara mereka. Reina sangat yakin jika Kaifan pasti akan mengamuk dan melampiaskan amarahnya padanya.


“Lihat wajahku! Suamimu yang melakukan ini padaku dan sekarang giliran aku yang akan membalas perbuatannya. Kamu yang akan menanggung perbuatan suami terkutukmu itu!”


 


Kaifan langsung mencengkeram tangan Reina, dia hendak mendekatkan wajahnya kearah Reina namun tiba-tiba tubuh Kaifan terhuyung kebelakang.


“Brengsek! Bajingan! Bug! Bug!” terdengar suara umpatan yang disertai dengan pukulan bertubi-tubi yang cukup keras kearah Kaifan.


 


Reina menjerit saat melihat Varen yang sedang memukuli Kaifan dengan membabi buta. Dia segera menghentikan Varen dengan memeluk pinggangnya.


“Cukup Varen! Dia bisa mati kamu pukuli terus. Cukup! Aku tidak tidak mau kamu kenapa-napa.” pekik Reina ketakutan.


Varen menghentikan tinjunya yang hampir saja mengenai wajah Kaifan.

__ADS_1


 


Ketika dia lengah, Kaifan tiba-tiba menyerangnya dan karena kaget tubuh Varen terhempas ke belakang hingga membuat Reina tersungkur ke tanah. “Reina…...”


Varen hendak menolong istrinya tapi Kaifan kembali melayangkan tinjunya. Tak sempat menghindar, Varen mendapat pukulan mengenai rahang dan tulang hidungnya.


 


Reina yang melihat darah segar keluar dari hidung Varen langsung menjerit histeris. Ketika Kaifan hendak melayangkan pukulannya lagi, Reina pun langsung berlari melindungi Varen dari pukulan Kaifan.


BUG!


Tinju Kaifan mendarat dibagian samping kepala Reina dan mengenai tulang pipinya.


 


“Cepat hentikan pria itu!”pekik Samara kepada Ezra dan Tanta yang baru saja datang. Tadi ketika mendengar suara perkelahian dan teriakan Reina. Samara langsung menelepon Ezra yang sedang menunggunya disekitaran rumah Reina. Dengan sigap Ezra dan Tanta mencengkeram kedua tangan Kaifan yang mematung sambil menatap Reina.


 


Dia terlihat syok melihat tubuh Reina yang tumbang menimpa suaminya.


“Reina…...” Varen menggoyangkan tubuh Reina yang hampir tidak sadarkan diri.


Reina menatap Varen dengan mata setengah terepejam, “Jangan berkelahi, aku takut.” ucapnya sebelum kesadarannya hilang. Varen yang panik langsung mengangkat tubuh Reina dan membawanya masuk kedlaam rumah.


 


“Reina…...” gumam Kaifan. Terlihat kekhawatiran diwajahnya, dia merasa menyesal telah menyakiti Reina. Meskipun sebenarnya pukulan itu bukan ditujukan pada Reina.


 


Varen membaringkan Reina di sofa dan terus memanggil nama istrinya yang sedang pingsan.


“Jangan diam saja. Cepat ambilkan es batu dan air hangat.” hardik Samara.


Varen tercengang menyadari kehadiran neneknya dirumah itu. Tanpa sempat bertanya lagi, Varen kembali mendengar instruksi dari neneknya. “Ambilkan es batu dan air hangat! Cepat!”


 


Secepat kilat Varen berlari kedapur dan mengambil apa yang diperintahkan neneknya lalu meletakkan diatas meja.


“Darimana kamu mendapat istri bodoh seperti dia? Apa dia tidak tahu jika kamu pemegang sabuk hitam? Kenapa dia harus ikut campur dalam perkelahian kalian!” gerutu Samara seraya menempelkan kompres ke wajah Reina yang bengkak.


 


Samara merasa gemas dengan tindakan heroik Reina yang menjadikan dirinya sebagai tameng untuk melindungi Varen dari serangan Kaifan.


“Benar-benar bodoh! Memarnya akan lama sembuhnya” gerutunya sambil kembali mengompres wajah Reina.

__ADS_1


Varen tertegun mendengar omelan neneknya, Samara memang sering berkata kasar tapi jarang sekali dia mengomel seperti sekarang ini.


 


Tatapan Samara tertuju kepada wajah cucunya yang bengkak dan hidungnya yang berdarah. “Kenapa kamu belum membersihkan wajahmu? Jangan diam saja! Cepat bersihkan darah dihidungmu lalu kompres wajahmu. Nenek hanya punya dua tangan tidak mungkin mengobati kalian bersamaan.”


Varen tertegun sesaat, kemudian pergi ke kamar mandi. Dia tersenyum karena menangkap kekhawatiran didalam kata-kata ketus neneknya. Varen menatap cermin diatas wastafel dan menatap pantulan wajahnya.


Sudah lama sekali dia tidak terpancing emosi seperti tadi. Namun hari ini emosinya meluap tanpa bisa dikendalikan. Wajah Varen kembali mengeras kala mengingat Kaifan yang sudah memukul istrinya.


 


“Kalau sampai Reina mengalami luka serius, aku tidak akan segan menghabisimu.” gumam Varen sambil mengepalkan tangannya dengan erat.


Ketika dia keluar dari kamar, terlihat Reina sudah sadar dan sedang diperiksa oleh dokter yang dibawa Kevin. Reina menoleh kearah kamar dan tanpa mempedulikan kepalanya yang sakit dia bangkit.


 


Menghampiri suaminya, “Varen…..kamu tidak apa-apa kan?” langkahnya terhuyung tapi Varen langsung menangkap tubuhnya. Dia menatap Reina dengan ekspresi datar, rahangnya mengeras.


Bisa-bisanya Reina mengkhawatirkan orang lain disaat dirinya sedang dalam keadaan terluka.


“Obati dulu lukamu.” ujar Varen memapah istrinya dan mendudukkannya kembali di sofa.


 


Reina menatap wajah Varen dengan sorot matanya yang meredup kala melihat luka memar di sekitar pipi dan rahangnya. Bahkan hidungnya pun terluka. Ketika dokter akan memeriksa lukanya Reina langsung menghentikannya.


“Dokter, tolong obati dulu luka suami saya. Luka lebih parah.”


Varen mendelik menatap istrinya.


 


“Periksa saja dulu luka istri saya, dok. Tadi dia terkena pukulan di kepala dan pipinya.” ucap Varen seraya menyentuh luka memar di pelipis dan sekitar tulang pipi istrinya.


“Aku baik-baik saja, Varen. Hidungmu terluka. Apa patah? Dokter cepat obati luka suami saya saja dulu. Jangan sampai ketampanannya berkurang gara-gara lukanya.”


 


Reina berkata sambil menurunkan tangan suaminya. Varen menegang mendengar perkataan istrinya. Tanpa sadar dia menyentuh tengkuknya salah tingkah. Wajahnya menunduk kala melihat Samara menatapnya.


Dokter terlihat bingung, lalu berdiri sambil menatap Reina dan Varen bergantian. “Periksa saja keduanya bersamaan. Kalau lukanya serius bahwa kerumah sakit.” ucap Samara geram.


 


Mendengar kata rumah sakit sontak tubuh Reina menengang. Dia memegang tangan Varen dengan erat. Reina pun diam saja saat dokter memeriksa lukanya.


“Apa kepala anda terasa sakit?” tanya dokter seraya meneropong mata Reina dengan senter.

__ADS_1


“Tadi sakit dok. Tapi sekarang sudah mendingan.” jawab Reina.


 


__ADS_2