
Reina menatap Varen dengan nanar. Tangannya mengepal. “Penjelasan apa yang harus aku dengar lagi? Penjelasan tentang bagaimana kamu menceritakan hari-harimu kepada Elora seperti yang sering kamu lakukan saat kalian masih bersama?” tuduh Reina lagi. Pikirannya selalu saja salah paham dan melenceng karena rasa takut kehilangan.
“Reina!” bentak Varen. “Jangan menuduh! Aku tidak pernah menceritakan tentang diriku, kehidupanku atau apapun padanya. Hubungan kami tidak sedekat itu.” ucap Varen lagi.
“Menuduh? Aku tidak menuduhmu tapi Elora sendiri yang mengatakan kalau kalian mengobrol dan bercerita banyak hal.” pekik Reina dengan emosi. "Dia mengatakan semuanya padaku!"
“Dan kamu percaya begitu saja?” Varen mendelik tajam.
“Tentu saja. Kenapa tidak? Dia mantan istrimu dan tidak menutup kemungkinan kamu masih memiliki perasaan padanya. Benarkan? Banyak pasangan yang seperti itu, masih menyimpan perasaan pada mantan mereka setelah berpisah.”
“SIALAN!” umpat Varen seraya memukul sofa disampingnya. Reina tertegun karena baru kali ini dia melihat Varen marah dan memperlihatkan emosinya.
Biasanya dalam kondisi apapun Varen selalu terlihat tenang. Ketika orang lain merendahkan dirinya atau menghinanya Varen selalu pandai mengendalikan ekspresi wajahnya.
Bahkan ketika berurusan dengan Kaifan pun ekspresi wajah Varen nampak tenang dan biasa saja. Wajahnya selalu datar tanpa menunjukkan sedikitpun emosi. Tapi kali ini? Reina melihat berbagai emosi dalam raut wajah Varen.
Dalam suasana temaram seperti ini Reina bisa melihat kebingungan, kekesalan dan amarah dalam raut wajah suaminya. Reina pun merasa sedikit bersalah sudah membuat suaminya semarah itu.
Varen mengusap wajahnya dengan gusar. “Hanya lima minggu Reina! Hanya lima minggu aku bersama Elora dan tidak pernah ada waktu untuk kami bersama. Dia terlalu sibuk menghabiskan waktu dengan selingkuhannya!” Varen meluapkan amarahnya dalam kata-kata.
Deg!
Kegetiran merayapi hati Reina karena Varen ternyata sudah mengetahui perselingkuhan Elora dan Bobby sejak awal.
Dada Reina terasa sesak bukan hanya orang tuanya saja bahkan Varen pun mengetahui perselingkuhan itu hanya dirinya saja yang tidak tahu apa-apa. Varen menghela napas setelah sadar pengakuannya akan membuat luka dihati Reina kembali terbuka.
__ADS_1
Tapi Varen tidak mempunyai pilihan lain dan harus menjelaskan semuanya. Dia tidak mau ada kesalahpahaman dalam hubungannya dengan Reina.
“Malam saat aku melihat kebersamaan mereka adalah malam pernikahan kami. Malam itu aku mencarinya untuk meminta maaf karena sudah menolak ajakannya untuk bersama. Seperti yang kamu tahu aku menikahinya karena perjodohan dan untuk warisan.” ujar Varen mulai menjelaskan.
“Aku juga bukan tipe orang yang bisa menerima orang asing dalam hidupku dengan mudah. Waktu itu aku belum bisa menerima Elora sebagai istriku.” gumamnya.
Reina menelan ludahnya dengan kasara, hatinya bergemuruh mendengar kata-kata suaminya. “Tapi…..rasa bersalahku hilang ketika aku melihat kebersamaan Elora dan Bobby.” kata Varen.
“Aku sengaja diam dan bersikap acuh walau tahu hubungan mereka itu salah. Maafkan aku Reina! Sejujurnya aku senang melihat kebersamaan mereka karena aku memang berniat mengakhiri pernikahanku setelah warisan kakek berhasil aku dapatkan.”
Reina menggigit bibirnya menahan rasa sakit yang menyeruak dalam hatinya. “Kenapa kamu tidak pernah mengatakan apapun padaku Varen?” tanya Reina dengan suara tercekat.
Matanya panas dan bergetar, cairan bening keluar dan mengalir dipipinya. Kenyataan yang dikatakan Varen sungguh pahit dan sangat menyakitkan. Hati Reina remuk mendengarnya sehingga membuat Varen tertegun lalu dia mengusap airmata istrinya.
Varen tahu jika Reina kan menyalahkannya karena sudah ikut andil dalam menyembunyikan perselingkuhan mantan suami dan kakaknya.
“Bukan itu masalahnya sekarang Varen!” hardik Reina dengan cepat. Dia menarik napasnya dalam-dalam seraya meredam isakannya. Dia menatap Varen dengan sorot mata terluka.
“Kenapa kamu tidak pernah mengatakan kalau kamu akan mengakhiri pernikahanmu setelah mendapatkan warisan? Bukankah aku juga berhak untuk tahu?” ujar Reina.
“Andai aku tahu dari awal mungkin aku tidak akan banyak berharap dari hubungan kita. Aku akan mempersiapkan diriku untuk menghadapi perceraian. Dan aku tidak akan memikirkan banyak rencana untuk pernikahan kita. Aku bahkan sudah merencanakan untuk berbulan madu setelah kita menikah. Aku rajin bekerja untuk mengumpulan uang.”
“Varen…..kenapa kamu memberiku harapan kalau akhirnya kamu dan Bobby akan melakukan hal yang sama padaku? Kamu juga akan menceraikanku dan aku akan menjadi janda untuk kedua kalinya. Apa salahku?” tangis Reina menggema memenuhi seluruh ruangan yang gelap dan sunyi.
“Apa maksudmu kamu bercerai?”
__ADS_1
Varen tercengang, ada perasaan senang mendengar pengakuan Reina yang sudah merencanakan sesuatu untuk pernikahan mereka. Tapi dia juga bingung dengan maksud istrinya tentang perceraian.
“Apa maksud kamu bilang bercerai?” tanya Varen mengulangi pertanyaannya.
Reina malah menekuk kakinya keatas sofa lalu menenggelamkan wajah diatas lututnya.
Varen menghela napas panjang, berbicara dengan Reina memang bukan hal yang mudah.
Butuh kesabaran karena pemahamannya yang kadang menguras tenaga dan pikiran. Tapi hal itulah yang membuat istrinya menarik. Reina berbeda dari wanita lainnya.
“Coba jelaskan padaku apa maksudmu dengan bercerai?” tanya Varen dengan suara yang lembut.
Reina dengan terisak menjawab, “Kamu bilang akan mengakhiri pernikahan setelaj mendapatkan warisanmu. Itu artinya kita akan bercerai bukan? Huuuuu aku tidak mau jadi janda lagi.” jawab Reina dengan suara teredam sambil menangis.
Varen kembali mendengus, benar dugaannya kalau pikiran Reina melenceng. Varen mengira jika Reina akan marah dan kecewa padanya.
Karena Varen sudah menutupi perselingkuhan Bobby dan Elora. Tapi nyatanya Reina malah mengkhawatirkan hal lain yang tidak masuk akal. Varen tidak tahu apakah dia harus menangis atau tertawa. Entah apa yang harus Varen lakukan kepada istrinya itu tapi Reina memperkenalkan banyak emosi yang selama ini belum pernah dia rasakan.
Termasuk rasa gemas dan kesal yang sekarang sedang dialaminya. “Reina….tadi kita sedang membicarakan pernikahanku dan Elora. Kenapa kamu menghubungkannya dengan pernikahan kita? Jangan menarik benang merah dari permasalahan yang sudah jelas berbeda.”
“Berbeda bagaimana? Sudah jelas ada hubungannya antara pernikahan kita dan pernikahanmu sebelumnya.”” ucap Reina.
“Andai Elora tidak meminta bertukar suami, mana mungkin kita menjadi suami istri? Aku hanya meneruskan nasib buruk yang seharusnya menimpa kakakku. Kamu akan menceraikan aku stelah mendapatkan warisan itu. Iyakan?” tangis Reina kembali terdengar. Varen tertegun menatap istrinya dalam-dalam.
Ada perasaan kecewa yang merambati hatinya. “Aaahhhh! Sekarang aku ingat pada hari pernikahan kita, kamu juga pernah membahas penikahan singkat sampai kamu mendapatkan warisan kakekmu.” ucap Reina teringat dengan perkataan Varen pada hari pernikahan mereka.
__ADS_1
“Tapi kamu menolaknya dengan tegas. Apa kamu lupa?” tanya Varen cepat.