
Sementara itu didalam lift, hanya ada Verdi dan neneknya. Wajah wanita tua itu dipenuhi kemarahan, tak sekalipun dia melirik cucunya yang berdiri disampingnya.
“Kenapa kamu membawa wanita murahan itu ke perusahaan? Pecat dia atau nenek sendiri yang akan melakukannya! Kalau kamu tidak menurutiku akan kupastikan wanita murahan itu akan menderita hidupnya!”
Suara wanita tua itu terdengar tegas dan dingin. Aura kemarahan dan kebencian terpancar jelas diwajahnya. Sejak memasuki lift dia enggan untuk menatap cucunya itu. Dia benar-benar marah pada Verdi. Ekspresi wajah Verdi terlihat sendu menatap neneknya.
“Reina bukan wanita murahan seperti yang nenek pikir! Dia istriku! Suka atau tidak suka, dia adalah istriku! Lagipula dia sudah terikat kontrak dengan perusahaan. Aku tidak bisa memecatnya begitu saja.”
“Aku tidak peduli! Segera usir wanita itu dari sini. Atau nenek sendiri yang akan menyeretnya keluar dengan paksa! Aku tidak peduli kamu sudah menikahinya! Aku tidak pernah merestuimu sampai kapanpun! Wanita seperti itu tidak pantas untuk menjadi menantu di keluarga kita! Camkan itu1”
Verdi mengeratkan kepalan tangannya menahan emosi. Dia tidak mau sampai kehilangan kendali dirinya dan memarahi wanita tua yang selama ini sudah merawat dan membesarkannya.
“Felix harus segera pergi ke London untuk mengurus perusahaan kita. Disini aku butuh asisten nek. Tidak ada orang yang cocok dan bisa kupercaya selain Reina.” ucap Verdi berusaha untuk membujuk neneknya.
Samara mendengus, “Kamu pikir nenekmu ini bodoh? Nenek tahu kalian merekrutnya lewat jalur belakang! Kualifikasinya tidak cocok untuk posisinya itu! Dia pasti memanfaatkan statusnya sebagai istrimu untuk masuk ke perusahaan dan bekerja disana. Dasar wanita licik! Murahan!”
“Nek cukup! Reina tidak mengenal Verdi karena aku tidak menampilkan identitas asliku padanya. Dia hanya tahu suaminya adalah Varen Saskara bukan Verdi Bimantya Kenzie!” jelas Verdi.
Samara mendelik tajam, “Kamu pikir nenek percaya? Bagaimana mungkin dia tidak mengenali suaminya sendiri? Bodoh sekali wanita itu? Meskipun penampilanmu di kantor dan dirumah berbeda, seharusnya dia bisa mengenali suaminya! Huuuuh tak kusangka kamu menikahi wanita sebodoh itu!”
Verdi tersentak karena dia juga sempat berpikiran sama seperti neneknya. Dia tidak percaya kalau Reina tidak mengenalinya sama sekali. Namun Reina benar-benar tidak mengenalnya, dia mengira Varen dan Verdi adalah orang yang berbeda.
“Nek, Reina itu wanita yang lugu. Percaya atau tidak dia memang tidak mengenali Verdi.” ujarnya membela istrinya.
__ADS_1
Samara kembali memicingkan matanya seraya tersenyum sinis. “Kalaupun benar wanita itu tidak mengenalimu tapi nenek tetap tidak mengijinkan dia bekerja dia perusahaan! Nenek akan mencarikan sekretaris yang jauh lebih baik dan lebih kompeten daripada dia! Pokoknya nenek tidak mau melihatnya lagi di perusahaan ini! Titik!”
“Tidak Nek! Verdi tidak butuh sekretaris baru. Meskipun Reina masuk lewat jalur belakang dan tidak punya pengalaman kerja yang cukup tapi dia pintar dan cukup kompeten dalam melakukan pekerjaannya. Dia cepat belajar dan menguasai semua tugas yang diserahkan padanya. Tolong berikan dia kesempatan bekerja disini.”
“Tidak bisa! Wanita itu harus pergi secepatnya!” Samara tetap pada pendiriannya.
Verdi pun tak mau kalah. “Baiklah! Kalau Reina pergi dari sini maka Felix tetap disini. Aku tidak bisa bekerja dengan orang asing! Kalau nenek tidak menyetujui permintaanku maka aku akan pergi!”
Samara terdiam, dia sangat mengenali sifat cucunya yang memang sulit bergaul dengan sembarang orang. Karena kesalahannya dalam mendidik Verdi-lah yang membuat cucunya itu menjadi pribadi yang pendiam dan tidak bergaul. Samara merasa sangat bersalah!
Akhirnya Verdi bisa tersenyum senang mendengar keputusan neneknya. Dia bertekad akan mampu membuat neneknya bisa menerima Reina.
Dia sangat yakin jika suatu haru nanti, Samara akan membuka hatinya pada Reina sama seperti Verdi dulu yang tidak menyukai Reina.
“Terima kasih nek.” ucapnya memeluk Samara. “Nenek kapan sampai? Kenapa tidak memberitahuku kalau sudah pulang? Aku akan bisa menjemput ke bandara.” Verdi menyusupkan kepalanya kebahu neneknya. Dia berharap sang nenek akan membalas pelukannya. “Aku rindu nenek.” lirihnya.
Samara tetap diam tak bergeming, tidak membalas pelukan cucunya yang sebenarnya dia rindukan juga. Walaupun hatinya sangat merindukan cucunya itu karena selama empat bulan tanpa Verdi tapi dia merasa gengsi untuk mengakuinya. Dia diam tanpa mengatakan sepatah katapun.
__ADS_1
“Lepas! Nenek harus pulang sekarang! Kalau kamu memang merindukan nenek, maka lupakan wasita kakekmu dan pulanglah! Tapi jangan kamu membawa wanita itu kerumah!” Samara mengurai pelukan cucunya dan menatap Verdi dengan lembut. Tampak binar kerinduan dimatanya tapi dia membohongi dirinya sendiri.
Setelah pintu lift terbuka, Samara langung pergi meninggalkan Verdi yang menatapnya dengan sendu. ‘Apa nenek tidak merindukanku sedikitpun? Dia bahkan tidak menjawab pertanyaanku. Kenapa dia mengeraskan hatinya? Bukankah jauh lebih baik melupakan masa lalu agar bisa hidup tenang di hari tuanya tanpa rasa dendam dari masa lalu?’
Verdi menatap punggung neneknya yang mulai menghilang. Perasaannya masih belum tenang karena rasa bersalah pada Reina yang harus merasakan kemarahan neneknya padahal dia tidak tahu apa-apa. Verdi pun pergi ke mobilnya dan duduk disana untuk menenangkan dirinya.
...*****...
Setelah menenangkan dirinya, Verdi menghubungi Felix untuk menanyakan keadaan Reina. Felix mengatakan jika Reina sudah turun. Dia mengatakan semuanya pada Verdi, bagaimana Reina yang menangis dan merasa sedih. Membuat Verdi yang mendengar pun semakin merasa bersalah dan kasihan. Reina adalah wanita yang berhati baik dan lembut dimata Verdi.
Verdi dengan cepat kembali mengubah penampilan dirinya. Dia mengenakan lensa hitamnya dan mennganti setelan kerjanya. Dia juga mengubah gaya rambutnya dengan menggerainya dan mengacak-acak. Setelah merasa penampilannya sudah berubah seperti Varen, dia pun keluar dari mobil dan berlari menuju tempat biasa Reina menunggu taksi.
Saat dia tiba disana, tidak ada Reina disana. Varen celingukan mencari keberadaan istrinya. Dia mulai merasa khawatir apalagi dia mengingat ucapan Felix yang mengatakan jika tamparan neneknya membuat wajah Reina bengkak dan merah.
“Tuan Muda.” sapa seorang pria.
“Sejak kapan kamu disini?” tanyanya pada Tanta, supir taksi yang selalu mengantar jemput Reina.
“Sejak satu jam yang lalu.” jawabnya.
“Apa kamu melihat Reina keluar dari kantor?”
“Belum ada Tuan Muda.”
Varen pun menjadi semakin khawatir. Sebenarnya Tanta adalah kepala pengawal Varen. Dia meminta Tanta menyamar sebagai supir taksi untuk menjaga Reina. Varen tidak mau jika Reina terlunta-lunta seperti waktu Reina berkeliling mencari pekerjaan. Waktu itu Varen meminta anak buahnya untuk mencari Reina namun mereka tidak menemukannya.
__ADS_1