TUKAR PASANGAN

TUKAR PASANGAN
BAB 52. BERTAHAN DARI GODAAN


__ADS_3

Perkataan Reina terpotong karena kedatangan Verdi yang tiba-tiba. Dia tercengang karena Verdi dan Felix datang tepat sebelum jam kerja selesai. ‘Aduh, Pak Verdi bos yang tidak tahu aturan! Semena-mena sekali dia? Kenapa sih datang jam segini? Aku kan mau pulang?’ dengus Reina dalam hati sambil menatap punggung Verdi dengan perasaan jengkel.


 


Elora melirik Reina, tatapan Reina pada Verdi disalah artikan olehnya. “Menjijikkan!” umpatnya.


Sontak saja Reina mengarahkan tatapan tajamnya pada Elora, terlihat kakaknya itu sedang menatapnya dengan tatapan tajam dan mencemooh, “Apa maksudmu bicara begitu?”


 


“Ternyata selain pembohong, kamu itu juga tukang selingkuh ya? Matamu jelas mengagumi Pak Verdi. Ingat Reina, kamu itu sudah punya suami. Dan lagi kamu disini untuk kerja kan? Kenapa kamu malah menggoda banyak pria di kantor ini? Apa karena Varen tidak bisa memuaskanmu? Hah! Sudah kuduga pria itu memang tidak berguna!” cibir Elora.


 


“Jaga mulutmu! Aku tidak menggoda siapapun. Soal Varen, dia benar-benar bisa memuaskanku! Kamu tahu kalau kekuatannya itu luar biasa diatas ranjang! Fuuhhh! Sayangnya kamu pasti belum pernah ya merasakannya?” cibir Reina tak mau kalah membuat Elora semakin marah.


 


“Oh benarkah? Aku tidak percaya dia sehebat itu. Lagipula kamu memang perempuan penggoda. Lalu ini apa? Masih mau bohong lagi?” Elora menunjukkan foto Kaifan yang memegang tangan Reina tadi pagi, Elora sengaja mengabadikan momen itu untuk mengirimnya pada Varen.


“Hapus foto itu!” teriak Reina yang kaget melihat Elora mefotonya dengan posisi yang bisa membuat orang salah paham. Elora merasa puas melihat reaksi adiknya yang tampak ketakutan.


Padahal waktu itu Kaifan mencekal tangannya dan Reina pun menghempaskan tangan Kaifan. Saat itu Reina tidak memperhatikan sekeliling saat kejadian itu dia sibuk ingin menghindari Kaifan.


 


“Kalian berpegangan tangan didepan lift. Kaifan bahkan menunggumu di lobi. Sungguh memalukan! Akan kupastikan Varen melihat ini! Kita lihat saja apa reaksinya nanti.” ucap Elora seraya tersenyum sinis. Kemudian dia pergi menuju ke ruangan CEO.


 


Reina terduduk lemas dikursinya, matanya bergetar dan sudut matanya sudah meneteskan airmata. Dia takut Varen salah paham jika melihat foto itu. “Apa yang harus kulakukan? Arrrggggg kenapa semua orang menyebalkan sekali? Mereka suka membully-ku?” gumam Reina dengan suara bergetar. Namun dia menguatkan dirinya bahwa dia tidak boleh menyerah.

__ADS_1


 


Saat dia keluar dari rumah orang tuanya, dia sudah bertekad bahwa Reina yang lama yang lemah dan selalu membiarkan orang-orang meremehkan dan membully-nya, tapi sekarang dia adalah Reina yang baru, yang kuat dan takkan mengalah pada siapapun yang ingin menyakitinya.


 


Sedangkan Elora berjalan seraya tersenyum puas, dia memang berencana akan mengirim foto itu pada Varen untuk mengacaukan hubungan mereka. Dia puas jika dia berhasil mengganggu adiknya, dia tidak akan membiarkan Reina bahagia dan hidup tenang. Semakin hancur dan menderita Reina maka Elora akan semakin puas.


 


Elora berharap hubungan Reina dan Varen merenggang setelah Varen melihat foto mesra istrinya dengan pria lain. Ketika dia akan membuka pintu ruangan CEO, tangan Elora terhenti karena teringat akan perkataan Bobby mengenai Reina yang menyerahkan diri pada Verdi dan Felix.


Elora tersenyum sinis, ‘Kalau Reina saja bisa memikat Pak Verdi, mengapa aku tidak? Tubuhku lebih indah daripada Reina. Wajahku juga lebih cantik. Aku yakin Pak Verdi pasti akan terpikat.’


 


Tangan Elora membuka dua baris kencing kemejanya menampilkan kulit bagian atas dadanya dan memperlihatkan belahan dadanya yang padat dan besar. Bagi pria yang melihat itu adalah pemandangan yang menggiurkan, dengan langkah penuh percaya diri Elora masuk dengan memasang senyum terbaiknya.


“Permisi Pak. Ini dokumen yang bapak minta.” Elora menyerahkan dokumen yang dibawanya sembari mencondongkan badannya kedepan memperlihatkan belahan dadanya agar semakin jelas terlihat.


 


Elora mendengus pelan, ternyata usahanya tidak berhasil. Verdi sama sekali tidak tergoda padanya. ‘Sialan! Kenapa dia tidak tergoda ya? Apa aku kalah seksi dibandingkan Reina?’ umpatnya didalam hati. Tapi dia masih belum mau menyerah. Dia kembali sengaja membusungkan dadanya seraya menggigit bibir bawahnya.


 


Wajah cantiknya terlihat sangat menggoda karena sikapnya. Verdi mendongak lalu kembali menundukkan wajahnya. “Tolong katakan pada Bobby, lain kali kalau saya yang memintanya menyerahkan dokumen harus dia sendiri yang mengantarnya. Terima kasih!” ucap Verdi seraya mengangkat tangannya kearah pintu mengusir Elora.


 


Mendengar itu wajah Elora menjadi merah padam. Bukan hanya dia ditolak oleh Verdi tetapi dia pun diusir. Elora dengan cepat mengambil map dari atas meja Verd kemudian pergi dari ruangan itu dengan langkah lebar.

__ADS_1


Sambil berjalan dia kembali mengancingkan kancing kemejanya seraya mengumpat, “Sialan! Dia meremehkan aku. Lihat saja nanti aku akan membuatnya bertekuk lutut!”


 


Begitu melihat kakaknya keluar dari ruangan Verdi dengan wajah merah padam, Reina tersenyum dan menghampiri Elora. “Elora! Kita harus bicara. Kamu harus menghapus foto itu karena kamu salah paham mengenai aku dengan Pak Kaifan!” ujarnya memegang tangan kakaknya. Dia hendak meluruskan kesalahpahaman kakaknya dan memintanya menghapus foto itu.


 


Elora menghentikan langkahnya dan menatap Reina dengan sengit, “Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu!” Elora menghempaskan tangan Reina lalu melangkah pergi meninggalkannya. Kekesalan Elora akibat penolakan Verdi membuat kebenciannya pada Reina semakin bertambah.


 


Reina mengejar Elora dan berkata, “Tanganku bahkan lebih bersih darimu! Kamu bukan hanya berhati kotor tapi juga tubuhmu kotor karena zinah dengan suami orang! Cih! Biar kutebak, pasti kamu dimarahin sama Pak Verdi ya didalam? Atau jangan-jangan godaanmu tidak mempan? Ha ha ha kasian sekali! Hanya laki-laki murahan saja yang akan tergoda padamu Elora!”


Reina langsung pergi setelah mengatakan itu membuat Elora semakin marah namun pintu lift sudah terbuka sehingga dia pun masuk dan tak mengejar Reina untuk membalasnya. Lagipula ini adalah lantai dimana ruangan CEO berada, dia harus berhati-hati untuk tidak membuat masalah pada dirinya sendiri.


 


“Apa sih yang dilihat Verdi dari Reina? Bisa-bisanya dia tidak memandangku? Sedangkan pada Reina dia selalu menatapnya dengan lembut dan tersenyum.” gerutu Elora seraya menatap pantulan dirinya di dinding kaca lift. Dia termenung mengingat reaksi Varen padanya dulu. Masih tergiang jelas semua perkataan Varen yang mempermalukan dirinya pada malam pertama mereka.


 


Malam itu Elora sudah berdandan dan memakai lingerie seksi terbaiknya. Dia ingin membuat suaminya bergairah tapi Varen malah menghindarinya. Elora pun berinisiatif mendorongnya ke tempat tidur dan menggodanya namun kata-kata yang keluar dari mulut Varen bagai pedang yang menghunus jantungnya.


 


Varen berkata, “Aku sama sekali tidak berminat pada tubuhmu. Ingat! Kita menikah hanya untuk mendapatkan warisan, tidak lebih dari itu. Sekarang menyingkirlah dari tubuhku! Kamu bisa menyerahkan tubuhmu pada pria lain dan aku tidak peduli! Kamu tidak pantas dan aku sama sekali tidak berminat padamu!”


 


Karena rasa kecewa dan terhina atas perkataan suaminya, malam itu Elora nekad mendatangi kamar adik iparnya. Dia tahu Reina berada dirumah sakit menjaga mertuanya. Dan Bobby menginap dirumah orangtua Reina karena Reina takut tidak ada yang mengurus kebutuhan suaminya dirumah mereka. Karena mereka tidak punya pembantu dirumahnya, sedangkan dirumah orangtuanya ada pembantu.

__ADS_1


 


Dengan sedikit godaan, malam itu Bobby terperosok dalam hubungan terlarang bersama kakak iparnya. Dia menggantikan tugas kakak iparnya yang tidak mampu menjalankan kewajibannya dengan benar. Dan sejak malam itu hubungan terlarang itu terus berlanjut hingga dihari Elora meminta kepada orang tuanya untuk bertukar pasangan.


__ADS_2