
Setelah menerima telepon, Felix menghampiri Verdi sambil berbisik. “Nenek sedang ada dikantormu.”
Mendengar itu Verdi langsung berdiri membuat semua peserta rapat menatapnya. Bahkan karyawan yang sedang presentasi pun berhenti bicara dan menatapnya dengan penuh tanya mengira jika dia membuat kesalahan saat presentasi.
“Selanjutnya rapat akan dipimpin Pak Felix. Saya ingin semua rancangan proyek baru harus segera selesai secepatnya. Mengenai pengajuan dana, silahkan serahkan langsung pada saya paling lambat besok pagi.” ucap Verdi menyapukan matanya keseluruh ruangan menyusuri wajah seluruh karyawan yang terlihat penasaran.
Verdi langsung berbalik lalu meninggalkan ruang meeting dengan langkah lebar. Verdi tidak peduli lagi tentang rapat itu, dia hanya ingin segera memastikan istrinya baik-baik saja. Dia takut neneknya akan melukai Reina lagi dan membuat istrinya menangis. Dan ternyata dugaannya benar, saat dia masuk keruang kerjanya dia melihat istrinya tertunduk.
...********...
Verdi mengusap wajahnya dengan kasar, dia geram dengan sikap neneknya yang suka bertindak sesuka hatinya. Apalagi mendengar perkataan neneknya yang kasar menuduh Reina, tentu saja Reina dengan senang hati meninggalkannya karena istrinya itu tidak tahu kalau dia adalah Varen. Bisa-bisanya neneknya memanfaatkan hal itu untuk membuat Reina pergi.
Verdi menghembuskan napasnya dengan pelan mencoba menenangkan diri. Senyumnya muncul mengingat penjelasan Reina yang mengatakan dia mau menggunakan uang itu untuk modal usaha bersama suaminya. Hati Verdi merasa senang, ternyata Reina memikirkannya dan bahkan rela meninggalkan Verdi demi uang yang akan dia berikan untuk Varen.
Verdi tidak percaya saat neneknya bilang Reina tergoda uang dan dia menggincar hartanya saja. Melihat airmata Reina yang membasahi pipinya membuat hatinya terasa nyeri. Dia merasa tidak nyaman setiap kali melihat Reina menangis. Verdi sudah menduga kalau Reina tidak mengerti tujuan neneknya memberikan uang.
Dalam kekhawatirannya, Verdi merutuki isi kepala istrinya yang selalu menyimpang. Verdi keluar dari ruangannya dan mendapati Reina yang berada dibawah kolong meja kerjanya, ingin rasanya dia tertawa melihat tingkah istrinya itu. Bisa-bisanya dia masuk kedalam sesempit itu dan menangis disana, Verdi kesulitan meraih istrinya agar keluar dari sana.
Saat dia hendak mengangkat meja yang menghalangi Reina, ponselnya bergetar, dia mengeluarkan ponselnya dan ternyata istrinya yang sedang menangis dibawah meja yang meneleponnya. Verdi mengangkat panggilan istrinya sambil berjalan menjauh, “Varen…..aku mau pulang. Tolong jemput aku sekarang.”
__ADS_1
Suara Reina yang terdengar dua arah membuat Verdi bingung apa yang harus dilakukannya? Apakah dia harus menenangkan Reina yang masih menangis di bawah meja? Atau memenuhi panggilan Reina yang minta dijemput pulang. Verdi semakin bingung dan menoleh kearah meja dimana Reina berada. Verdi meraih kertas dan pulpen yang ada diatas meja Reina lalu menulis.
“Maaf! Sudah membuatmu menangis.” kemudian dia menyimpan kertas itu didekat laptop yang masih menyala. Dengan langkah terburu-buru dia segera meninggalkan Reina. Dia tetap ingin menyembunyikan identitasnya meskipun merasa bersalah pada Reina karena terpaksa berbohong. Tapi dia tidak ingin mengungkapkan identitasnya sekarang, itu bukan pilihan bijak.
Waktu yang ditentukan di surat wasiat kakeknya belum tiba dan dia harus bertahan sampai batas waktu itu tiba dan dia mendapatkan warisannya maka dia akan mengungkapkan identitasnya pada Reina. Meskipun Verdi selalu saja merasa bersalah dan tidak nyaman harus menjalani hidup dengan dua identitas sekaligus tapi dia tak punya pilihan untuk saat ini.
Jika Reina tahu identitasnya yang asli maka Verdi yakin neneknya tidak akan tinggal diam. Samara pasti akan semakin gencar mengganggu dan mencecar Reina bukan hanya Reina tapi juga keluarganya. Sama seperti yang dilakukan neneknya pada keluarga ibunya. Samara membuat keluarga ibu Verdi bangkrut dan terlilit hutang.
Verdi tidak mau semua kejadian buruk yang menimpa keluarga ibunya terulang kembali. Secara perlahan dia yakin akan mampu meluluhkan hati neneknya untuk menerima Reina.
Ting!
Begitu pintu lift terbuka, Verdi segera keluar dan berlari menuju mobilnya. Setelah selesai merubah penampilannya sebagai Varen, dia pun pergi menemui istrinya. Varen melihat Reina yang sedang berdiri di pinggir jalan sambil menunduk dan terisak.
“Reina!” panggilnya.
“Varen!” Reina menatap suaminya dengan suara parau dia berhambur kedalam pelukan suaminya dan kembali menangis terisak membuat hati Varen semakin sakit. “Varen…...aku sedih sekali! Semua gara-gara Pak Verdi!”
Varen tidak mengatakan apapun, dia membiarkan istrinya bicara dan menjelaskan.
“Kalau saja dia tidak datang aku pasti sudah mendapatkan uang itu dan Nyonya Samara tidak akan menghinaku. Uang itu banyak, aku pikir bisa buat modal usaha kita. Meskipun aku tidak bekerja lagi tapi kalau kita punya usaha sendiri, kita bisa bekerja sama-sama mengembangkan usaha bersama.”
__ADS_1
Reina menyalahkan Verdi tas semua yang terjadi padanya. Dia tidak terima dihina dan kehilangan uang pesangonnya. Dia tidak peduli jika harus kehilangan pekerjaannya, yang penting dia punya usaha bersama Varen. Mereka bisa buka bisnis cafe kecil-kecilan. Tapi semua rencananya hancur karena kehadiran Verdi.
“Coba saja bayangkan kalau aku mendapat uang pesangon itu. Kita bisa buka usaha dan bulan depan kita bisa merayakan pernikahan. Ck! Pak Verdi memang menyebalkan sekali! Dia menghancurkan rencana surprise untuk suamiku!”
Varen tertawa mendengar keluhan istrinya. Dia sudah merasa khawatir kalau istrinya akan menangis semalaman tapi ternyata Reina uring-uringan mengumpati bosnya. Tiga puluh menit berlalu akhirnya mereka sampai dirumah. Meskipun sepanjang jalan Reina tak berhenti menangis tapi tangisnya reda setelah sampai dirumah.
Setelah membersihkan diri dan bertukar pakaian, Reina mengajak Varen duduk santai di ruang tengah sambil bercerita tentang kejadian yang dialaminya di kantor tadi. Reina tertegun melihat Varen yang malah tertawa.
Tawa yang jarang ditampilkan suaminya itu membuat Varen terlihat sangat tampan dan lebih manusiawi dibandingkan dengan wajah dingin yang biasa ditunjukkannya. Reina memperhatikan wajah tampan Varen yang tertawa, pikirannya melayang.
“Kamu melamun ya?” Suara Varen menyadarkan Reina dari lamunannya.
Dia menggeleng sambil tersenyum, “Tidak. Aku hanya teringat sesuatu saja.” jawabnya.
Senyum diwajah Varen memudar, “Jangan mengingat hal-hal yang buruk. Ingat yang bagus-bagus saja supaya suasana hatimu juga bagus.” ujarnya menatap Reina dengan tatapan lembut.
Reina mengangguk menatap Varen. Lalu Varen bertanya, “Bagaimana dengan pekerjaanmu? Apakah kamu akan berhenti bekerja?”
Reina mengerutkan alisnya, dia merasa terhina dan kesal yang membuatnya ingin berhenti kerja tapi jika dia berhenti kerja sekarang maka dia tidak akan mendapatkan gaji penuh.
Sedangkan dia sudah berencana saat menerima gaji pertamanya akan dia gunakan untuk mengajak Varen pergi bulan madu. Reina teringat sorot mata Samara saat Verdi membentaknya, dia tampak sedih.
__ADS_1