
“Ma! Biar Varen tunggu diluar saja.”
“Enak saja! Diam disitu! Sudah mama bilang kamu harus belajar cara merawat istrimu.” sahut Indira.
“Duduk dulu! Lepaskan pakaian dan penutup dadamu.” ujar Indira sambil berusaha membuka pakaian putrinya. Varen terlonjak kaget dan dia segera memalingkan wajahnya dari tubuh Reina.
Reina pun segera menutup bagian tubuhnya yang sudah terbuka dengan tangan. “Ma! Varen biar diluar saja.” pinta Reina dengan wajah malu-malu.
Indira menatap putri dan menantunya bergantian,
“Kalian itu suami istri! Biasanya juga tidur tanpa pakaian. Jadi tidak perlu malu-malu seperti ini. Varen bantu mama dudukkan Reina!”
Tubuh Varen menegang seketika begitupun Reina. Mereka sama-sama bingung dengan keadaan yang sedang mereka hadapi sekarang. Indira mendengus kesal melihat menantunya yang masih duduk tidak bergeming.
“Dasar menantu tidak berguna!” umpatnya lalu menarik tangan Reina dengan kasar untuk membuatnya bangun. “Duduk sebentar!”
Reina meringis sambil berusaha untuk duduk. Tiba-tiba saja Indira melepas pegangan tangannya hingga tubuh Reina oleng dan hampir jatuh ke lantai. Beruntung Varen segera menangkap tubuh istrinya. Dia pun duduk dibelakang Reina untuk menyangga tubuh istrinya.
Dug Dug Dug…..
Jantung mereka berdua berdebar kencang saat tangan Varen memegangi bahu polos Reina, membuat wajah Reina yang sudah panas semakin panas. Apalagi punggungnya menempel pada dada Varen yang terasa keras membuat wajah Reina merah matang. Melihat wajah putrinya yang semakin memerah Indira kembali menempelkan telapak tangannya didahi dan leher putrinya.
“Suhu tubuhmu tidak naik. Kenapa wajahmu merah begitu? Apa jangan-jangan kamu alergi ya?” gumam Indira lalu menatap menantunya.
“Varen! Buka baju Reina. Jangan-jangan ada ruam ditubuhnya. Kalau sampai ada ruam, sakitnya akan lama.” ucap Indira seraya menilik tubuh putrinya.
__ADS_1
Varen menuruti perkataan mertuanya dan melepas baju atas Reina yang tersangkut di tungkai tangannya. Reina mendeongak menatap Varen dengan mata bergetar namun Varen tidak menunjukkan ekspresi apapun diwajahnya.
“Tidak apa-apa yang penting kamu sembuh.” ucap Varen menenangkan hati istrinya.
Reina pun menunduk malu sambil menyilangkan kedua lengannya menutupi bagian atas tubuhnya yang sudah polos terbuka tanpa ditutupi sehelai benang pun.
“Syukurlah tidak ada ruam. Kamu harus ingat kalau Reina demam dan muncul ruam jangan sampai etrkena air dan kedinginan. Dia bisa gatal-gatal dan lama sembuhnya.”
Varen mengangguk meskipun dada dan kepalanya bergemuruh hebat karena melihat tubuh polos istrinya tapi varen berusaha keras untuk mengingat setiap perkataan ibu mertuanya.
“Buka penutup dada Reina lalu telungkupkan badannya.” titah Indira lagi lalu beranjak dan mengambil sebuah botol berisi minyak. Lalu meneteskannya keatas mangkuk dan mengaduknya lagi.
Dengan tangan gemetar Varen menraik selimut dan menyampirkan di bahu Reina.menutupi tubuh bagian depan istrinya yang terbuka. Reina memegangi selimut yang menutupinya dan tubuhnya kembali menegang saat merasakan gerakan tangan Varen yang sedang membuka pengait kain penutup dadanya. Jantung Reina pun semakin berdebar ketika Varen melepas kain itu dengan perlahan.
“Ayo menelungkup biar mama oleskan obatnya.” ucap Indira sambil membawa mangkuk berisi minyak urut yang sudah dicampurnya tadi. Reina menelungkupkan tubuhnya, sesekali dia batuk karena tenggorokan yang gatal dan tidak nyaman. Varen merapikan selimut disisi tubuh istrinya yang terbuka lalu menutupnya.
Indira duduk disamping Reina lalu mengoleskan minyak yang dia racik keatas punggung putrinya. “Perhatikan bagaimana mama melakukannya. Lain kali kalau Reina demam segera pijat tubuhnya seperti ini. Pijat agak kuat sampai kulitnya sedikit memerah tapi jangan terlalu kuat. Nanti bekasnya susah hilang. Setelah memerah pijat lembut.” tutur Indira seraya mempraktekkan.
Walau varen tidak paham alasan Reina harus diperlakukan seperti itu tapi dia tetap memperhatikan gerakan tangan ibu mertuanya. “Kalau cuma di kompres atau diberi obat Reina tidak akan sembuh. Bisa-bisa sakitnya sampai satu minggu. Dan kamu harus ingat jangan sesekali mengompresnya jika Reina demam dan muncul ruam dikulitnya. Kamu itu suaminya harus tahu bagaimana merawat istrimu jika dia sedang sakit.”
__ADS_1
Indira kembali mengoleskan minyak ke punggung Reina. “Reina ini anaknya cengeng tidak seperti kakaknya. Kalau dia merasa sakit dia akan terus menangis. Tapi jangan dibiarkan nanti dia batuk-batuk dan kalau dia mual lagi beri saja air hangat seperti yang mama ajarkan sebelumnya.” ucap Indira. Dia melihat putrinya yang sudah terlelap.
“Lihat! Dipijat saja dia sudah tidur, Reina kalau sakit tidak perlu ke dokter. Hanya saja kamu harus tahan dengan suara tangisnya. Kamu paham apa yang mama katakan?” ucap Indira menoleh.
“Paham, ma.” ucap Varen lalu kembali memperhatikan gerakan tangan ibu mertuanya. Ternyata sekejam-kejamnya orang tua tetaplah orang tua.
Mereka menyayangi anaknya walau dengan cara yang berbeda. Meskipun Indira banyak mengomel dan berkata kasar pada Reina tapi dia mengetahui semua hal yang baik untuk putrinya.
“Mama tidak bisa lama-lama disini. Elora akan marah jika tahu kami pergi terlalu lama. Carikan baju kaos untuk Reina.” ucapnya seraya meraih handuk bekas kompres untuk mengelap punggung putrinya dari sisa minyak.
“Sweater boleh?” tanya Varen.
“Baju kaos biasa saja yang longgar biar dia selesa.” jawab Indira tanpa menghentikan aktifitasnya.
“Reina tidak punya baju kaos seperti itu ma. Dia hanya punya piayama dan gaun tidur saja.” ucap Varen. Indira menatap menantunya dan tersenyum hangat. “Bawakan saja kaosmu dan pakaikan untuknya.” ucapnya dengan nada lembut.
Varen tertegun karena baru kali ini mertuanya berbicara lembut kepadanya. Dia pun membuka lemari bajunya dan mencari baju kaos miliknya. Kemudian dia memakaikan pada Reina. Varen membalikkan tubuh istrinya sambil memakaikan kaos ketubuhnya.
“Berikan dia baju yang longgar kalau sedang demam biar dia merasa nyaman.” ucap Indira dengan suara bergetar.
Varen melirik ibu mertuanya yang ternyata sedang menangis seraya mengusap wajah putrinya. “Dugaan kami benar, walau kamu belum bisa memberikan Reina harta tapi kamu bisa memberinya kasih sayang dan perhatian.”
Indira mengusap airmatanya lalu meraih tangan kanan Reina memperhatikan cincin dijari putrinya. “Syukurlah! Kamu sudah memberinya cincin. Mama terpaksa mengambil cincin kawinnya dari Bobby karena kalau mama tidak segera mengamankannya nanti Elora yang akan mengambil paksa darinya. Lagipula Reina memang tidak membutuhkannya lagi. Bobby bukan pria yang baik untuknya.”
__ADS_1
Varen tertegun, dia tidak tahu kalau ada hal yang mertuanya sembunyikan dibalik sikap kasarnya selama ini. Varen pun terharu melihat ibu mertuanya yang menangis seraya mengecup wajah putrinya.
“Mungkin kamu pikir sikap kami kejam pada Reina tapi hanya ini yang bisa kami lakukan untuk kebaikannya.”