TUKAR PASANGAN

TUKAR PASANGAN
BAB 31. MENYELIDIKI


__ADS_3

Reina terbayang saat dia menyentuh tubuh kekar Varen membuat sesak napasnya hilang. Tapi malah memicu sakit jantungnya kumat karena detak jantungnya semakin tak karuan. Sepanjang jalan jantungnya berdetak kencang dan cepat.


‘Ada apa denganku? Kenapa aku seperti ini?' bisik hati Reina yang galau.


“Selesai!” ujar Varen merapikan jepitan rambut dibagian depan kepala istrinya.


 


Reina menatap penampilannya didepan cermin, Varen menyisir rambutnya sangat rapi dan menjepit poninya dengan sempurna. Jepitan itu membuat penampilan Reina lebih cantik dan imut. Dia terlihat seperti anak belasan tahun. Reina bangkit lalu menyambar tas kerjanya.


“Terima kasih. Aku berangkat kerja dulu ya. Sampai ketemu nanti malam.” ucapnya sambil tersenyum.


 


Varen membukakan pintu dan mengantarkan Reina sampai didepan rumah. Setelah taksi yang Reina tumpangi pergi dan tak kelihatan lagi dengan cepat Varen masuk dan segera bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Dia kembali mengubah penampilannya, membersihkan body paint ditubuhnya sehingga kulit putihnya terlihat kembali.


Tak butuh waktu lama dia sudah siap berkemas, lalu mengunci pintu depan dan berjalan sampai tempat parkiran dimana dia selalu memarkirkan mobilnya.


 


Sementara itu didepan gedung Kenz Corp tampak Elora sedang berbincang-bincang dengan seorang wanita didalam mobilnya.


“Aku hanya tahu dia cucu Saskara, dia pulang ke Indonesia empat bulan lalu dan dia tidak punya pekerjaan, kerjanya hanya malas-malasan dan main ponsel saja seharian. Aku ingin tahu bagaimana kehidupannya selama dia tinggal diluar negeri.” ucap Elora lalu diam sejenak.


 


“Siapa tahu mungkin dia mafia atau penyelundup gelap, atau mungkin *******. Aku harus tahu semuanya supaya aku bsia bertindak jika dia memang penjahat.” Elora menyerahkan foto Varen kepada wanita disampingnya. “Kamu harus mengabari aku secepatnya!”


 


Wanita disamping Elora mengeryit, “Pria setampan ini mah tidak mungkinlah mafia. Tapi kalau penjahat mungkin saja. Penjahat wanita, hehehe,” kekehnya.


“Penjahat wanita apaan? Dia tidak normal!” sanggah Elora seraya tersenyum mencemooh. Elora teringat kembali malam pertamanya dengan Varen. Malam pertama yang segarusnya indah itupun berakhir bersama Bobby.


 


Dia sudah dandan habis-habisan dan membayangkan pergulatan panas dengannya tapi apa yang terjadi? Jangankan mereguk madu dan bermandi peluh, Varen bahkan tidak memandangnya sedikitpun membuat Elora sakit hati karena selama ini tak ada seorang pria pun yang tidak tergoda padanya. Bukan itu saja, sikap Varen pun menunjukkan seolah dia merasa jijik pada Elora.


 

__ADS_1


“Aku yakin pria itu pasti punya orientasi seksual yang tidak normal.” tuduh Elora. “Coba pikir, dia sama sekali tidak tertarik padaku padahal aku sudah berpakaian seksi dan wangi. Selama ini tidak ada seorangpun yang menolakku.” ujar Elora dengan bangga.


 


“Maksudmu dia penyuka sesama jenis?” tanya Agata penasaran.


“Entahlah! Tapi bisa saja kan? Dan itu tugasmu untuk mencari tahu! Pokoknya kamu harus mendapatkan informasi lengkap tentang pria itu. Semakin cepat kamu mendapatkan informasinya maka semakin cepat pula kamu akan mendapatkan uangmu!”


 


“Oke oke….aku paham. Tapi aku juga butuh sedikit uang untuk bayar taksi! Bagaimana aku bisa melakukan pekerjaan dengan baik tanpa uang?”


“Ck! Kamu ini memang nggak pernah berubah! Dasar mata duitan!” Elora mengomel sambil meraih tasnya dan mengeluarkan lima lembar uang berwarna merah.


 


“Ini! Ambillah! Ku tunggu hasil kerjamu!” ucapnya menyerahkan uang pada wanita bernama Agata. Wanita itupun tersenyum puas, “Siap! Aku akan segera mengerjakannya dan membawakanmu informasi yang kamu inginkan.”


"Baiklah. jsngan khawatir soal itu!" Agata memasukkan uang pemberian Elora ke saku jaket kulitnya lalu keluar dari mobil Elora.


 


 


“Apa-apaan dia? Jam segini baru datang ke kantor? Ck! Hebat sekali ya? Bisa datang kerja sesuka hatinya.” gumamnya seraya mengejar Reina yang baru saja memasuki lobi. Seperti biasa, Reina selalu menyapa sekuriti dan resepsionis dengan singkat. Dia memang sedikit terlambat karena tadi jalanan macet akibat ada kecelakaan.


 


Ketika Reina baru saja mengscan ID Cardnya dan pintu lift terbuka, Elora langsung mencekal tangannya dan menghalanginya masuk kedalam lift hingga pintu lift tertutup kembali. “Hebat kamu ya? Dasar tidak disiplin! Jam segini baru datang ke kantor? Eh Reina! Kamu pikir ini perusahaan milikmu? Sesuka hatimu datang jam berapa?” bentak Elora.


 


Reina menghempaskan tangan kakaknya dan membalas tak kalah ketusnya, “Bukan urusanmu! Minggir! Kamu urus saja dirimu sendiri dan kerjaanmu.” Reina mendorong tubuh Elora menjauh dari pintu lift.


Namun Elora malah mendorongnya dan menghimpit tubuh Reina ke tembok. Tangan Elora mencengkeram kedua bahu Reina dengan kuat.


 


“Aku peringatkan kamu ya! Jangan sampai kamu mencemarkan nama baik keluarga kita! Aku tidak akan segan-segan mencoret namamu dari daftar keluarga jika kamu melakukannya.” ucap Elora memperingatkan.

__ADS_1


“Apa katamu? Mempermalukan keluarga? Apa hubungannya hah? Kamu sudah gila ya Elora? Masa datang terlambat ke kantor membuat malu keluarga? Jangan mengada-ngada deh! Kurasa otakmu sudah korslet ya? Nggak yambung!”


 


Reina melepaskan diri dari cengkeraman kakaknya namun Elora malah semakin menekannya dengan sekuat tenaga. Dia tidak mau melepaskan Reina begitu saja, membully adiknya adalah kesenangan Elora sejak dulu.


“Jangan pura-pura bodoh kamu, Reina!” desisnya.


 


“Aku tahu apa yang kamu lakukan untuk bisa bekerja disini. Kamu----”


“Apa yang kalian lakukan disini?”


Elora dan Reina terlonjak saat mendengar suara Verdi. Elora segera melepaskan cengkeraman tangannya dan menunduk hormat sambil memasang senyum termanisnya.


 


Begitu juga dengan Reina, dia menunduk sambil memegani lengannya yang sakit.


“Apa ada masalah?” tanya Verdi menatap Elora dengan tajam.


“Reina datang terlambat Pak. Makanya saya menegurnya supaya tidak mengulangi lagi.” jawab Elora.


“Tidak ada yang berhak menegur Reina kecuali saya! Dia itu sekretaris saya dan bekerja di bawah pengawasan saya dan kamu tidak berhak bertindak padanya! Memangnya kamu itu siapa?”


 


Rahang Verdi mengeras saat dia bicara. Meskipun Verdi bicara dengan suara pelan namun suaranya terdengar diri bagaikan es dan tegas. Membuat Elora dan Reina berdiri ketakutan.


“Ma----maaf pak.” ucap Elora terbata. Dia ketakutan karena tertangkap basah membully Reina.


“Ini peringatan pertama dan terakhir untuk kamu! Sekali lagi kamu merundung Reina maka kamu dipecat! Saya benci sama orang yang membully orang lain! Sekarang kamu pergi dan kerjakan pekerjaanmu! Saya menggajimu untuk bekerja bukan untuk mengganggu karyawan disini.”


 


Tanpa pikir panjang lagi, Elora langsung pergi dari hadapan Verdi dengan hati yang jengkel karena tidak berhasil membuat Reina menderita. Dia tidak mau mencari masalah dengan orang yang bisa memecatnya kapan saja.


Elora membutuhkan pekerjaaan ini, dia punya posisi bagus dengan gaji tinggi di perusahaan ini. Meskipun dia merasa tak senang mendengar ucapan Verdi namun apa daya, pria itu adalah pemilik perusahaan yang bisa menendangnya keluar kapan saja.

__ADS_1


__ADS_2