
Reina berhenti lalu menoleh menatap Varen yang masih menyuap nasi goreng. Lalu dia memberanikan diri bicara. “Ehem! Maaf ya tadi aku tidak sengaja mendengar pertengkaran kalian pas kebetulan aku lewat didepan kamar kalian. Pintunya tidak tertutup…...” Reina diam tak melanjutkan kalimatnya karena sejujurnya dia juga merasa tidak enak hati.
Varen menatap Reina, tak paham maksud dari adik iparnya itu. Reina mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya lalu meletakkan didepan Varen sambil berkata, “Aku tidak punya uang lima juta. Tapi aku punya ini, cuma ada lima ratus ribu. Kamu pakai saja dulu uang ini, tidak usah diganti! Aku masih punya uang cukup untuk diriku sendiri.”
Lalu Reina melangkah pergi meninggalkan Varen yang tercengang dengan sikap adik iparnya. Varen menoleh menatap punggung Reina yang menghilang dibalik pintu kamarnya. “Terima kasih.” ucap Varen lirik dengan perasaan yang berkecamuk.
Dia mengambil uang berjumlah lima ratus ribu itu dengan perasaan penuh syukur. Untuk pertama kalinya seseorang yang tidak pernah bicara dengannya sebelum ini membantunya disaat dia sedang terpuruk.
Ini benar-benar menyentuh hati Varen yang terdalam. Dan kebaikan Reina malam itu selalu membekas di hati pria itu. Reina membuat Varen merasakan berbagai perasaan yang belum pernah dirasakannya selama ini.
Perasaan berkecamuk antara sedih, malu, terharu, bersyukur, lega semuanya berbaur menjadi satu. Wanita itu berhasil membuat Varen memiliki penilaian tersendiri tentang Reina.
Tapi setelah malam itu, dia tidak pernah lagi melihat Reina dirumah mertuanya. Yang dia tahu kalau Reina dan Bobby tinggal dirumah mereka disebuah komplek perumahan. Varen tak pernah bertemu lagi untuk sekedar mengucapkan terima kasih maupun memberikan kembali uangnya.
Hingga pada hari itu, dimalam terjadinya pertukaran pasangan yang dipaksakan oleh mertuanya. Dia melihat Reina menangis dan terpuruk dalam kesedihan mendalam.
Flashback off
“Tuan Muda, kita sudah sampai.” ucap Tanta membuyarkan lamunan Varen yang jauh mengembara.
Varen menggelengkan kepalanya, mengusir semua pikiran yang memenuhi benaknya lalu melirik Reina yang masih tertidur pulas. “Tanta!” panggilnya pada supir yang duduk didepan.
“Ya Tuan Muda?” sahut Tanta.
“Kamu sudah menjadi pengawal pribadiku sejak aku masih kecil sampai sekarang bukan? Sudah hampir dua puluh tiga tahun.”
__ADS_1
“Iya benar Tuan. Tidak terasa sudah lama sekali.” jawab Tanta seraya tersenyum mengingat masa-masa kecil Varen. Dia yang selalu mengawal Varen kemanapun dia pergi.
“Aku mau kamu berjanji padaku.” pinta Varen tiba-tiba yang membuat supir sekaligus pengawalnya itu heran dan mengeryitkan keningnya.
“Janji apa itu Tuan Muda?”
“Berjanjilah padaku, apapun yang terjadi nanti, pastikan Reina tetap aman dan kamu harus selalu menjaga dan melindunginya. Kamu boleh tetap setia pada nenekku tapi jangan pernah menyakiti Reina. Dia adalah wanita yang baik dan tulus. Aku tidak mau dia menderita dan disakiti oleh siapapun.”
Tanta menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. “Saya berjanji Tuan Muda. Saya akan menjaga dan melindungi Nyonya Reina dengan baik. Jangan khawatir! Saya memegang janji saya pada Tuan.”
“Terima kasih Tanta! Aku percaya padamu.”
Tanta turun dari mobil untuk membukakan pintu untuk Varen. Dengan sangat berhati-hati Varen turun dari mobil sambil menggendong Reina dan membawanya kedalam rumah.
Sementara itu dirumah kediaman Keluarga Hasena, tampak Indira yang berwajah masam dan terus saja menggerutu. Entah apa saja yang dia keluhkan membuat suaminya Chandra Hasena hanya menggelengkan kepala. “Kenapa lagi? Kamu masih jengkel dengan kejadian dirumah Reina?”
“Aku juga heran! Sejak keluar dari rumah ini sikapnya banyak berubah. Mungkin dia merasa hebat karena sekarang sudah bekerja dan bisa berpakaian bagus! Tapi….darimana dia punya uang membeli pakaian sebagus itu?” tanya Chandra yang teringat dengan penampilan Reina yang berubah draktis.
Pakaian, tas dan sepatunya bukan murahan! Sedangkan suaminya tidak jelas pekerjaanya. Darimana Reina mendapatkan uang untuk membeli semua itu? Mendengar perkataan suaminya, Indira pun jadi berpikir. Apa selama ini Reina menyimpan uang secara sembunyi-sembunyi? Dia baru beberapa hari keluar dari rumah itu tanpa membawa apa-apa, tidak mungkin bisa punya uang banyak untuk belanja.
“Kira-kira si Reina kerja dimana ya? Kalau lihat pakaiannya sepertinya dia kerja kantoran.”
“Coba tanyakan pada Elora dan Bobby nanti, mungkin mereka tahu.” ucap Chandra lagi.
“Nah itu mereka pulang. Kamu saja yang tanya sama mereka.” ujar Chandra saat melihat anak dan menantunya memasuki rumah dengan wajah kusut.
“Kalian kenapa? Kok muka kalian kusut begitu?”
__ADS_1
Bobby dan Elora saling melempar pandang seolah meminta persetujuan jika mereka harus memberitahu kedua orang tua itu tentang apa yang terjadi tadi.
“Kami ke kamar dulu ma. Nanti saja aku ceritakan!” jawab Elora. Melangkah memasuki kamarnya bersama dengan Bobby.
Sedangkan Chandra dan Indira mengangkat bahu, merasa heran dengan sikap kedua orang itu.
“Ada apa dengan mereka? Apa ada masalah di kantor?”
“Tidak tahu! Tunggu saja sampai mereka keluar dari kamar. Aku akan tanyakan nanti.” ucap Indira.
“Apa? Reina bekerja di perusahaan yang sama dengan kalian?” Indira kaget setelah mendengar penjelasan Elora. Setelah makan malam mereka duduk di ruang keluarga menonton TV. Elora menceritakan semua yang terjadi di perusahaan dengan menambah-nambahkan sedikit bumbu agar terdengar lebih dramatis.
“Iya ma, pa! Makanya aku kesal sekali! Reina itu tidak sebaik yang kita kira selama ini. Dia benar-benar menggoda kedua orang atasan dikantor? Sangat memalukan kan? Belum lagi tadi Varen datang menjemputnya ke kantor!” ujar Elora dengan mimik wajah jijik.
“Dasar laki-laki tidak tahu diri! Dia hanya memanfaatkan Reina saja!”
“Ma, Pa! Kalian harus melakukan sesuatu supaya Reina keluar dari perusahaan!”
“Loh kenapa kami? Bukankah kamu dan Bobby punya kedudukan tinggi di perusahaan itu?”
“Ma, Pa…...Reina itu posisinya bahkan lebih tinggi daripada Bobby! Dia sekretaris CEO! Coba bayangkan dengan pengalaman kerja yang dia punya mana mungkin dia bisa mendapatkan posisi itu kecuali dia menyerahkan dirinya!”
“Benar Ma, Pa! Dan aku sangat yakin itu ulah Varen! Pasti dia yang sudah menyuruh Reina melakukan itu? Atau bisa saja dia yang mengenalkan Reina pada laki-laki kaya untuk merayu dan menggoda mereka untuk mendapatkan uang!” ujar Bobby menimpali. Dia masih merasa geram dan cemburu pada Reina yang bersikap posesif dan mesra pada Varen.
“Ini tidak boleh dibiarkan! Dia tidak bisa lebih hebat dari kamu Elora! Mama tidak akan biarkan anak itu mengalahkanmu! Pendidikanmu lebih tinggi, pengalaman kerjamu juga lebih banyak! Bagaimana bisa dia memiliki jabatan yang lebih tinggi daripada kalian berdua? Tidak masuk akal! Kecuali, seperti yang kalian katakan tadi! Reina melakukan hal memalukan untuk mendapatkan pekerjaan itu.” kata Indira semakin terpancing dengan ucapan anak dan menantunya.
__ADS_1