TUKAR PASANGAN

TUKAR PASANGAN
BAB 25. PESONA REINA


__ADS_3

Varen tertegun. Dia bahkan sempat lupa kalau hari ini dia harus membawa Reina keluar. Varen mengatupkan rahangnya saat sadar atasa yang Reina kenakan memperlihatkan lekuk pinggangnya yang ramping. Kalau sudah begini, ingin rasanya Varen mengurung Reina didalam kamarnya dan tidak pernah membiarkannya keluar rumah.


 


Sebenarnya Varen lebih setuju jika Reina menjadi ibu rumah tangga namun dia tak kuasa melarang keinginan istrinya. Apalagi dia tahu kalau Reina sempat direndahkan karena statusnya sebagai ibu rumah tangga.


“Apa menurutmu tidak lebih baik kamu memakai blazer? Kulitmu bisa terbakar kalau pakai baju lengan pendek begini.” ucap Varen seraya menyentuh lengan Reina yang terpapar.


 


Reina pun langsung menegang, napasnya tercekat dan jantungnya berdetak tak karuan akibat sentuhan tangan Varen yang selalu menimbulkan gelenyar aneh yang mengaliri tubuhnya. Membuat wajahnya memanas dan menumpulkan pikirannya.


Tanpa pikir panjang, Reina mengangguk cepat, “Kamu benar! Aku ambil blazernya dulu.” ucapnya seraya kembali kedalam rumah.


 


Varen tersenyum, dia suka melihat rona merah diwajah Reina. Anda Reina mengijinkan dirinya untuk disentuh mungkin Varen sudah melahap habis wajahnya dan menghujaninya dengan ciuman.Varen menggelengkan kepalanya mengenyahkan semua pikiran kotor dalam kepalanya. Tak lama Reina keluar dan penampilannya jauh lebih baik.


 


Dia mengenakan blazer krem dan berjalan menghampiri suaminya. Melihat senyum diwajah datar Varen membuatnya gemas. Dia pun tanpa sadar berjinjit dan mengecup pipi Varen. “Aku pergi ya.” ucapnya lalu masuk kedalam mobil dengan wajah merona yang sempurna.


 


Varen tertegun dengan matanya mengerjap berulang kali. Tangannya bergerak menyentuh dadanya yang berdetak kencang saat dia sadar Reina mengecupnya. Tangannya langsung berpindah menyentuh pipinya.


“Kamu menciumku ditempat yang salah!” ucapnya seraya tersenyum lebar.


Sementara itu, Reina merutuki dirinya sepanjang perjalanan karena perbuatannya yang sudah berani mencium suaminya.


 


Dia merasa sangat malu tapi senyum Varen memang begitu menggodanya. Membuatnya terpesona hingga melupakan kotmitmen tidak saling menyentuh yang mereka sudah sepakati. Meskipun malu, Reina tidak merasa bersalah toh dia hanya wanita biasa dan normal yang juga rentan godaan.


Apalagi yang menggoda adalah suaminya sendiri. Andai Varen menikahinya dengan benar, dia pun sudah pasti merelakan dirinya untuk disentuh pria itu.


 


“Bodoh! Dasar bodoh!” Reina memukul kepalanya pelan. Setiap kali dia berdekatan dengan Varen selalu membuat pikirannya kacau dan membuatnya hilang kendali diri. Dia berusaha mengatur napasnya membersihkan pikiran kotornya dan bayangan suaminya. ‘Fuuuh! Pagi-pagi sudah kacau!’


 


Begitu sampai didepan gedung kantornya, taksi yang dinaiknya berhenti. “Pak Tanta! Nanti tidak usah dijemput ya. Saya ada urusan pekerjaan diluar, takutnya lama baru selesai.” ucap Reina.


“Baik Bu.” sahut Tanta.

__ADS_1


 


Karena Varen memesan taksinya dan dia yang membayarnya. Entah darimana dia mendapatkan uang tapi Rein atak pernah bertanya lagi karena sekali bertanya maka Varen menjawab, “Aku hanya memilikinya.” jawaban itu yang membuat Reina jadi malas untuk bertanya lagi. Saat memasuki lobi kantor dia menyapa dua orang satpam yang selalu membukakan pintu untuknya.


 


Begitu sudah berada di lobi dia menyapa Shania dan berbincang sebentar dengannya. Mereka sudah mulai akrab karena kadang mereka makan siang bersama.


“Aku keatas dulu ya. Selamat bekerja.” pamit Reina melambaikan tangannya. Karena dia kurang memperhatikan jalan, tak sengaja Reina menabrak seseorang.


 


“Kalau jalan pakai mata dong!” teriak seseorang.


Mendengar suara wanita yang ditabraknya, Reina langsung menoleh. “Elora?”


“Reina?” kedua wanita itu terkejut.


“Ngapain kamu ada disini?” tanya Elora dengan nada tak senang. Matanya memicing menilik penampilan adiknya yang rapi dan cantik.


 


Elora tidak mau mengakui penampilan adiknya yang terlihat menawan dan elegan dalam balutan setelan kerjanya. Melihat name tag yang Elora kenakan, Reina menggeram kesal. Diantara sekian banyak perusahaan kenapa Elora harus bekerja di perusahaan yang sama dengannya.


Reina mengacungkan name tag miliknya, “Aku kerja disini. Sudah memasuki minggu ketiga.” jawabnya.


“Kembalikan!” Reina merebut kembali name tag miliknya.


“Aku terkejut, ternyata kita bekerja di perusahaan yang sama ya? Huh! Betapa sempitnya dunia ini.” ujar Reina berusaha bersikap tenang meskipun didalam hatinya dia merutuki pertemuannya dengan Elora.


 


Elora bahkan menatap nyalang adiknya, dia tidak menyangka akan mendapatkan kejutan yang tidak menyenangkan di hari pertamanya kembali bekerja. Setelah menikah, Elora mengajukan cuti dan baru masuk kerja lagi hari ini.


“Sudah berapa lama kamu bekerja disini? Dibagian mana kamu bekerja?” tanya Elora dengan nada tak suka.


 


“Untuk apa aku memberitahumu. Lagipula kita tidak akan bertemu, kamu kan sudah membaca name tag ku dan disitu tertulis jelas apa posisiku di perusahaan ini? Buat apa nanya lagi?” jawab Reina acuh.


Elora mencengkeram lengan Reina dan berkata,


“Aku tidak sudi bekerja di perusahaan yang sama denganmu. Akan kupastikan kamu dipecat dari perusahaan ini hari ini juga!”


 

__ADS_1


Reina menghempaskan tangan kakaknya. “Memangnya kamu itu siapa? Kamu tidak punya kuasa untuk memecatku! Tidak usah sok deh! Kita disini sama-sama karyawan!”


“Aku memang tidak bisa memecatmu tapi suamiku bisa! Asal kamu tahu ya, Bobby adalah direktur di perusahaan ini? Paham kamu?” ujar Elora dengan bangga.


 


“Apa? Bobby kerja disini juga? Kenapa sih aku sial banget ketemu dua pengkhianat disini?”


“Apa kamu bilang barusan? Eh, kamu tidak tahu ya kalau dia diangkat jadi direktur di perusahaan pusat. Bukan perusahaan cabang tempatnya dulu bekerja. Lihat saja nanti! Akan kupastikan kamu dipecat secepatnya dari sini!” ancam Elora.


 


Reina tak mengatakan apapun, dia hanya menatap kakaknya tak peduli dengan ancamannya. Didalam pikiran Reina cuma ada satu, memangnya Elora itu siapa? Bisa seenaknya minta Bobby memecatnya?


“Sayang, ada masalah apa disini?”


Mendengar suara pria yang mereka kenal, keduanya pun langsung menoleh.


 


Sungguh apes nasib Reina hari ini, setelah hari tenangnya tanpa Bobby dan Elora tapi hari ini dia dipertemukan dengan dua pengkhianat jahanam ini. Bobby adalah direktur perusahaan tempatnya bekerja.


Kenapa dunia ini begitu sempit? Kenapa Bobby dan Elora selalu muncul dimana-mana? Bak jelangkung yang datang tak diundang pergi tak diantar! Kenapa Reina tidak pernah bisa lepas dari mereka? Berbagai pertanyaan muncul dibenaknya dan dia yakin setelah hari ini tidak akan ada kedamaian di tempat kerja lagi.


 


Terlebih dengan kehadiran Bobby yang melihatnya dalam setelan kerjanya mengingatkan Reina pada masa lalunya bersama dengan pria iti.


“Reina? Ngapain kamu disini?” gumam Bobby.


Dia tertegun melihat Reina yang terlihat rapi dan cantik apalagi dengan jepitan rambut  yang terpasang di atas rambutnya membuatnya terlihat menggemaskan. Jantungnya berdebar melihat Reina.


 


Dia teringat kembali pada masa-masa indahnya bersama Reina. Bobby tidak bisa memungkiri kalau Reina masih mengisi ruang dihatinya.


Meskipun kini sudah ada Elora tetap saja bobby masih memiliki perasaan pada mantan istrinya. Mereka berpacaran cukup lama dan menikah selama tiga tahun, tidak akan mudah melupakan semua kenangan manis itu.


 


Elora menghampiri suaminya dan menatap sinis Reina. “Ternyata Reina bekerja disini, sayang.” ucapnya dengan suara lembut nan manja.


“Benarkah?” Bobby mengeryit.


Elora mengangguk cepat dan Bobby kembali menatap Reina, “Benar kamu bekerja disini?”

__ADS_1


Entah kenapa suara Bobby terdengar lembut ditelinga Reina berbeda dengan beberapa hari lalu saat terakhir mereka bertemu, betapa kasar dan tajamnya lidah Bobby berkata-kata.


Reina hanya menatap Bobby dengan malas, “Iya. Kenapa? Tidak boleh? Ada yang larang?” ketusnya. Dia berusaha untuk tegar didalam hati, dia gemetar karena masih menyimpan amarah dan dendam.


__ADS_2