TUKAR PASANGAN

TUKAR PASANGAN
BAB 29. PRASANGKA BURUK-1


__ADS_3

Varen mengerjapkan matanya, perutnya masih kenyang! Dia tadi tidak kepikiran jika Reina memesan makanan itu untuknya. Wajahnya meringis membayangkan harus makan lagi.


“Aku lapar. Aku mau makan pakai nasi, kamu mau juga kan?” ucap Reina bersemangat.


Varen mengambil bungkusan yang dibawa Reina.


“Ya kita makan pakai nasi.” jawabnya.


 


Didalam hatinya Varen memikirkan cara untuk mengosongkan perutnya. Anda dia tahu kalau Reina membungkus makanan untuk dimakan bersamanya mungkin tadi dia tidak ikutan makan di restoran.


Tapi mau bilang apa? Dia sudah terlanjur makan banyak dan sekarang dia terpaksa makan lagi karena tak ingin mengecewakan istrinya yang tampaknya sangat senang dan bersemangat.


 


Sementara itu ditempat lain, Bobby melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia meluapkan semua emosi yang merebak didadanya dan mulai menjalar ke kepalanya.


Dia kembali teringat bayang-bayang bagaimana Felix dan Verdi memperlakukan Reina membuatnya semakin terbakar api cemburu dan emosi. Tidak sekalipun terlintas di benaknya Reina akan berani menjerat pria kaya seperti kedua atasannya itu.


 


Ketika sampai di gerbang rumah, Bobby buru-buru membunyikan klakson mobilnya dengan tak sabar. Terlihat satpam dirumah keluarga Hasena segera berlari dan membukakan pintu gerbang.


Dengan tidak sabaran Bobby melajukan mobilnya memasuki pekarangan rumah mertuanya dengan wajah kesal. Setelah dia memarkirkan mobilnya disebelah mobil Elora, dia turun dan melangkah masuk kedalam rumah dengan tergesa-gesa.


 


Elora yang melihat kedatangan suaminya pun berdiri menyambutnya namun Bobby malah mengacuhkannya dan langsung masuk ke kamar.


“Kenapa suamimu itu? Mukanya kusut sekali.” tanya Indira merasa heran dengan menantunya yang pulang dengan wajah kusut dan terlihat kesal.


 


Elora tak menjawab hanya mengedikkan bahunya. “Mungkin sedang ada masalah di proyek, Ma. Tadi Bobby pergi meninjau proyek kelapangan.” jawabnya acuh sambil duduk bersama orang tuanya.


“Pergi sana! Hibur suamimu supaya dia tenang. Kasihan dia kelelahan habis bekerja keras seharian, kamu harus memberikan perhatian padanya.” ucap Chandra.

__ADS_1


 


Elora menyandarkan tubuhnya dengan malas, “Nanti saja Pa! Tanggung nih sinetronnya lagi seru! Paling juga Bobby langsung mandi.”


Indira dan Chandra pun kembali fokus menonton sinteron dan melupakan masalah tentang Bobby sejenak. Sedangkan didalam kamar tampaknya Bobby uring-uringan. Dia kesal dengan sikap istrinya yang acuh dan tidak perhatian sedikitpun padanya.


 


“Percuma punya istri! Kalau mau mandi air hangat harus siapin sendiri!” omelnya seraya menyalakan air dan menampung di bathtub. Bobby menatap air yang mengalir dengan tatapan kosong dengan pikiran yang entah kemana.


Dia merenungi dan sadar jika dari segi penampilan, pemikiran dan pergaulan memang Elora lebih sempurna daripada Reina tetapi dari segi perhatian dan kasih sayang, Elora kalah telak. Dia tidak pernah melayani suaminya dalam hal kebutuhan sehari-harinya seperti makan, menyiapkan pakaian dan lainnya.


 


Elora tidak pernah sekalipun memperhatikan semuanya dengan detail. Dia hanya memperhatikan Bobby kalau ada yang melihat ataupun sedang ada maunya saja. Atau kalau mereka sedang berada diluar rumah, selebihnya Elora selalu meminta Upi untuk mengurusi kebutuhannya kecuali kebutuhan ranjang.


 


Kadang Bobby menyesali keputusannya bertukar istri, awalnya dia mengira akan lebih baik punya istri cantik, cerdas dan pandai bergaul daripada istri kuper yang hanya bisa melayani suami dan mengurus rumah.


Bobby pikir kebutuhannya itu bisa disiapkan oleh pembantu tapi ternyata dia salah besar. Sekarang dia sadar kalau tidak semua kebutuhannya bisa dilayani pembantu,


 


Bobby menghela napas panjang, dia teringat hari-harinya bersama Reina dulu yang sangat perhatian padanya. Bukan cuma melayani urusan perut dan ranjang saja.


 


Reina selalu peka kalau suaminya sedang lelah dan dia akan langsung memijatnya tanpa diminta. Membuatkannya kopi atau teh serta cemilan untuk menemani santai sorenya. Menyiapkan pakaiannya dan hal-hal kecil lainnya. Tapi sekarang, jangankan memijat untuk menyiapkan air hangat saja Elora tidak pernah mau.


Bobby harus melakukan semuanya sendiri karena jika dia meminta sesuatu pada Elora pasti ujung-ujungnya Upi juga yang akan melakukannya.


 


Setelah air hangatnya penuh, dia pun masuk kedalam bathtub dan merendam tubuhnya. Sambil memejamkan matanya pikirannya melayang mengingat Reina. Bayang-bayang wajah Reina tergambar jelas di pelupuk matanya.


Senyuman dan sikap lembutnya yang sangat dirindukannya sekarang. Hatinya berdenyut saat mengingat kejadian hari ini, dan dia mulai bertanya-tanya tentang kedekatan Reina dengan kedua bosnya itu.

__ADS_1


 


“Apa benar kamu merendahkan dirimu kepada pria kaya itu hanya untuk mendapatkan pekerjaan? Kalau benar begitu, kenapa kamu tidak mendatangiku saja? Aku juga bisa memberimu uang dan kehangatan! Tidak perlu mencarinya diluaran sana!’ pikirannya mulai dipenuhi berbagai prasangka buruk tentang mantan istrinya itu.


 


Setelah dia selesai mandi, dia keluar dan melihat istrinya berbaring di tempat tidur sambil memainkan ponselnya. Entah apa yang selalu dilakukan Elora dengan ponselnya, dia pun tak tahu.


Seringkali dia melihat Elora banyak menghabiskan waktunya bermain ponsel dibandingkan memperhatikannya. Bobby mulai merasa jengah dengan pernikahan yang baru dijalaninya dua minggu ini.


 


“Kamu itu kenapa? Ada masalah di proyek ya? Tadi mukamu kelihatan kusut dan kesal. Ada apa?”


“Tidak ada masalah dengan proyek, semua berjalan baik-baik saja. Aku hanya kesal dengan Reina!” jawab Bobby.


“Reina? Kenapa lagi dengan dia? Apa dia membuat masalah denganmu?” tanya Elora menautkan alis.


“Tidak! Bukan itu tapi aku tadi melihat Felix dan Pak Verdi memperlakukan Reina itu istimewa sekali.”


 


“Felix bahkan menawarkan diri untuk mengantarnya pulang. Kamu tahu sendirikan kalau biasanya Felix acuh pada perempuan manapun tapi sikapnya pada Reina berbeda sekali! Pokoknya dia sangat perhatian pada Reina! Begitu juga dengan Pak Verdi!” jelas Bobby dengan nada tak senang.


 


Elora mengerutkan keningnya seraya memicingkan matanya. Felix memang tipe pria yang pemilih dan tidak mudah didekati. Elora saja bisa dekat dengan Felix karena pria itu membutuhkan bantuannya untuk mengerjakan tugas penting saat kuliah dulu. Kalau bukan karena alasan itu mana mungkin mereka akan saling kenal walaupun sekelas.


 


“Apa jangan-jangan Reina menggoda mereka?” tebak Elora.


“Nah! Itu maksudku! Aku juga sempat kepikiran kesitu! Mungkin Reina butuh uang dan terpaksa menyerahkan dirinya kepada mereka! Kamu tahu sendiri kan kalau suaminya itu tidak berguna!” ujar Bobby menjentikkan jarinya.


 


 “Iya juga sih! Mana mungkin dia bisa bekerja di perusahaan sebesar itu dengan pengalaman kerja yang dia punya kalau dia tidak melakukan sesuatu, iyakan? Sekretaris CEO? Aku bahkan tidak bisa mendapatkan posisi itu yang sudah kuincar sekian lama.” ujar Elora semakin tak senang dengan pencapaian Reina setelah keluar dari rumah itu.

__ADS_1


 


__ADS_2