TUKAR PASANGAN

TUKAR PASANGAN
BAB 23. TIDUR BERSAMA


__ADS_3

Untuk membuat Elora dan Bobby semakin dekat, Varen bahkan menyetujui permintaan khusus Elora kepada Felix untuk menaikkan jabatan Bobby. Felix tidak bisa menolak permintaan Elora karena wanita itu sering membantunya saat mereka masih kuliah.


Semua rencana Varen sudah sempurna, dia hanya menunggu dua bulan lagi untuk mendapatkan rumah orang tuanya. Namun semua rencananya hancur berantakan saat ayah mertuanya menyetujui permintaan Elora untuk menceraikan Varen dan menikahi Bobby, suami adiknya.


 


Sebenarnya Varen tidak mempermasalahkan dengan siapa dia menikah, apakah Elora atau Reina. Karena tujuannya hanya satu yaitu mendapatkan rumah orangtuanya dan bercerai dengan istrinya. Tapi semuanya berubah setelah Varen mengenal Reina. Reina Kayona Hasena, wanita lembut berhati malaikat yang mampu menggetarkan hati Varen.


 


Tangis Reina selalu membuat Varen merasa bersalah dan turut andil dalam rencana Elora untuk mengambil suami adiknya. Andai saja Varen tidak menyetujui kenaikan jabatan Bobby dan tidak tinggal diam saat melihat perselingkuhan mereka, mungkin rumah tangga Reina dan Bobby masih baik-baik saja. Namun semuanya sudah terjadi dan tak bisa disesali lagi.


 


Reina sudah bercerai dengan Bobby dan sekarang Reina adalah istrinya. Kini hanya satu yang bisa dilakukan Varen untuk menebus kesalahannya, menjadi suami yang baik untuk Reina.


Varen memarkirkan mobilnya ditempat penitipan mobil. Kemudian dia berlari menuju ke persimpangan jalan menuju rumahnya untuk bertemu dengan Reina setiap pulang kerja.


 


Varen mencari keberadaan istrinya namun tidak menemukannya. Dia melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan hampir jam sepuluh malam. Dia segera berlari karena takut jika Reina berjalan kaki seperti biasanya. Ketika sampai didepan rumah, dia mengeryit melihat mobil mertuanya. Terlihat Chandra dan Indira keluar dari rumahnya.


 


Varen menghampiri mereka, “Mama, pa---”


“Dasar pria tak berguna! Istri kamu bekerja sampai malam tapi kamu malah keluyuran dan baru pulang! Malang sekali Reina punya suami nggak jelas seperti kamu.” potong Chandra seraya menunjuk kewajah Varen.


 


Varen diam saja tak menimpali, dia sudah terbiasa mendapat penghinaan dari mertuanya. Sebenarnya dia tidak bermaksud menyembunyikan identitas dan pekerjaannya.


Dia juga tidak bermaksud untuk tidak memberi nafkah saat masih menjadi suami Elora. Hanya saja, Varen benar-benar tidak punya uang saat itu karena Samara tidak memberinya uang sepeserpun.


 


Dia bahkan menggaji Varen seperti karyawan pada umumnya, makanya Varen tidak bisa memberi uang pada Elora. Lagipula dia sudah memberinya uang dua miliar yang menurut Varen itu sudah termasuk mahar lima ratus juta dan sisanya adalah bulanan untuk Elora. Kelak jika dia punya uang, dia pun berencana memberikan uang lebih.


 

__ADS_1


Namun Elora dan kedua orang tuanya tidak sabaran. Mereka terus saja mempermasalahkan tentang uang padahal Elora sudah mendapatkan seluruh uang warisan yang seharusnya milik Varen.


“Sudah pa. Jangan buang-buang waktu lagi. Lebih baik kita pergi, biarkan saja Reina melarat dengan suami tak bergunanya ini. Lagipula mama sudah tidak menganggap dia anak! Masa bodoh hidupnya seperti apa. Tidak perlu kita pedulikan lagi. Ayo, kita pulang.”


 


Indira menarik tangan suaminya dan masuk kedalam mobil. Setelah mertuanya pergi, Varen segera masuk kedalam rumah. Saat terdengar pintu yang dibuka, Reina mendongakkan wajahnya, “Varen…….” panggilnya lirih.


Saat melihat istrinya menangis, Varen segera mendekatinya. Hatinya bergetar mendengar tangis Reina yang selalu membuatnya sedih.


 


Padahal selama ini Varen adalah orang yang acuh pada orang lain bahkan dia sangat dingin dan berhati batu. Reina menghambur kedalam pelukan suaminya dan memeluk Varen dengan erat, “Aku takut saat tidak melihatmu dirumah. Aku takut sendirian.”


 


Reina menangis karena sakit hati pada orangtuanya dan juga karena rasa takutnya saat tidak menemukan suaminya dirumah. Varen merengkuh tubuh istrinya sambil menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut.


“Tidak ada yang perlu kamu takutkan. Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian.”


Tangis Reina semakin keras, dia terharu karena Varen mengingatkannya dia akan selalu menemaninya.


 


Dia takut jika Varen akan pergi dan meninggalkannya saat tidur. Varen awalnya hendak menolak karena dia tidak mau mendengar kemarahan Reina seperti sebelumnya. Dia juga takut tidak bisa menahan diri jika terus berdekatan dengan Reina.


Namun melihat wajah sedih dan sembab wanita itu, Varen jadi tidak tega membuatnya bertambah sedih.


 


“Jangan melewati batas ini.” ucap Reina seraya menunjuk tempat kosong diantara mereka. Varen hanya mengangguk dan membaringkan tubuhnya disamping Reina.


Beberapa saat kemudian Reina pun terlelap. Awalnya dia tidur dengan tenang tapi lama-kelamaan posisinya semakin bergeser. Dia mendekati Varen hingga akhirnya menyelusupkan diri ketubuh Varen.


 


Varen berusaha menjauh namun Reina malah memeluk pinggangnya dengan erat. “Rei, tanganmu membuatku tidak nyaman.” ujar Varen memindahkan tangan Reina dari pinggangnya.


Bukannya melepaskan pelukan, dia justru semakin menempelkan badannya ketubuh Varen. Reina bahkan menjadikan lengan Varen sebagai penyangga kepalanya.

__ADS_1


 


Varen merasa tidak nyaman dengan posisi mereka saat ini. Setiap gerakan yang dilakukan Reina membuat tubuhnya meremang hingga bagian sensitif tubuhnya menegang. Setiap gesekan kecil yang Reina buat membuat Varen menahan napas dan menahan dirinya agar tidak menyentuh tubuh Reina.


Varen menggeser sedikit tubuhnya menjauhi Reina namun Reina justru kembali mempererat pelukannya.


 


Tak lama terdengar suara tarikan napas Reina yang mulai teratur setelah membuat tubuh suaminya menegang. Setelah memastikan Reina tertidur pulas, Varen perlahan melepaskan tangan Reina dari pinggangnya dan mengganjal kepalanya dengan bantal.


Dia hendak pindah tidur ke sofa tapi sebelum dia sempat beranjak, Reina malah membuka matanya.


 


“Mau kemana?” tanya Reina dengan mata setengah terpejam.


“Tidur di sofa.” jawab Varen.


Reina menyingkirkan bantal dibawah kepalanya dan menarik kembali lengan Varen untuk dijadikan penyangga. Lalu dia kembali memeluk Varen bahkan mengaitkan kakinya diatas tubuh suaminya itu.


“Tidur disini saja! Jangan kemana-mana.” ucapnya kembali memejamkan mata.


 


Varen hanya bisa menelan salivanya dengan kasar. Pelukan Reina berhasil membuat tubuhnya kembali menegang. Sangat menyiksa Varen tapi dia tak kuasa menolak kehangatn tubuh Reina.


“Jangan marah ya Rei, saat kamu bangun nanti. Aku hanya menikmati apa yang kamu berikan.” bisiknya.


 


...****...


Keesokan paginya Reina merasakan tubuhnya hangat dan dia merasa nyaman. Reina melengkungkan ujung bibirnya keats membentuk senyuman seraya merapatkan tubuhnya pada guling keras yang tengah dipeluknya.


‘Guling? Dari kapan ada guling dikamar ini?’ pikirnya. Reina membuka mata dan dia melotot saat melihat tubuh Varen yang tengah dipeluknya.


 


“Akhirnya kamu bangun juga.” ucap Varen menatap Reina yang mendongak dengan ekspresi wajah merona merah. “Aku mengantuk, bisakah kamu melepaskan pelukanmu?”

__ADS_1


Reina mengerutkan keningnya memandang Varen.


“Tangan dan kakimu membelitku.” jelas Varen menjawab kebingungan Reina.


__ADS_2