TUKAR PASANGAN

TUKAR PASANGAN
BAB 48. DENDAM DAN BENCI


__ADS_3

Matanya memicing saat melihat nama Kaifan HRD muncul dilayar ponsel istrinya. Dia pun menjawab telepon itu. “Halo Reina….”


“Tolong jaga sikap anda ya. Saya tidak akan segan-segan bertindak tegas jika anda masih saja mengganggu istri saya. Saya bisa melaporkan anda ke polisi!” ujar Varen langsung mematikan ponsel. “Dasar tidak sopan!”


 


Varen tertegun mendengar umpatannya sendiri, dia pun memeriksa riwayat panggilan masuk di ponsel istronya. Ternyata dugaannya benar, banyak sekali panggilan tak terjawab dari Kaifan. Dia pun melanjutkan memeriksa pesan masuk dan melihat banyak pesan masuk dari pria itu. Namun dia tersenyum setelah melihat kalau Reina tidak pernah membalas satupun pesan dari Kaifan.


 


Beberapa menit kemudian Reina keluar dari kamar. Tidak seperti biasanya, hari ini dia seperti tidak bersemangat sekali bekerja. Reina masih mengingat kejadian kemarin dan dia belum siap bertemu dengan Verdi dan dia takut jika neneknya Verdi akan datang lagi menemuinya. Dengan langkah gontai, Reina keluar rumah dan menghampiri Varen yang sedang bicara dengan Tanta.


 


Reina merasa terganggu dengan sikap Tanta yang selalu menunjukkan rasa takutnya kepada Varen.


“Varen.” panggil Reina.


Varen menoleh dan mengeryit saat melihat wajah istrinya yang terlihat muram dan tak bersemangat.


“Cuaca hari ini cerah, udaranya juga segar kan Varen?” ujar Reina berbasa basi.


“Ada apa denganmu?” tanya Varen,


 


“Tidak. Tidak ada apa-apa. Aku hanya bilang kalau cuaca hari ini cerah dan segar. Itu saja, tidak ada hal lain atau maksud lain kok.” Reina menekankan kata cuaca dan udara. Melihat tidak ada respon dari Varen, dia pun mengerucutkan bibirnya. Reina ingin Varen mengajaknya jalan-jalan dan bolos kerja.


 


“Aku berangkat ke kantor ya.” ucap Reina sedikit ketus. Dia melewati Varen dan masuk kedalam taksi. Tapi tangan Varen malah menahannya saat dia hendak menutup pintu taksi.


“Aku antar ya.” ucap Varen lalu masuk kedalam mobil.


Reina mengeryit karena merasa aneh dengan Varen yang tiba-tiba ingin mengantarnya bekerja.


 


Karena merasa kalau Varen memperhatikannya, dia pun menautkan jari-jarinya.


“Karena cuaca hari ini cerah dan udaranya juga segar, bagaimana kalau kita turun di belokan sebelum kantormu? Kita bisa berjalan-jalan sebentar di taman dekat sana, aku tidak mau kamu membolos karena kamu bukan pelajar. Aku akan menemanimu jalan-jalan sambil menenangkan pikiranmu sebentar sebelum kerja.”

__ADS_1


 


Reina langsung tersenyum lebar, dia mengeratkan tautan jari tangan Varen lalu menyandarkan kepalanya dibahu Varen


“Jalan.” perintah Varen kepada Tanta.


Mobil itupun melaju menuju ke kantor, seperti yang direncanakan Varen dan Reina pun turun tepat sebelum belokan ke kantor. Tanpa malu keduanya berjalan sambil bergandengan tangan menikmati suasana taman yang indah dipagi hari.


 


Terlihat beberapa orang yang berbisik-bisik saat melihat kemesraan mereka. Namun mereka tidak mempedulikannya. Dia fokus melangkah bersama Varen menikmati pagi hari sambil berbincang.


“Apa kamu sudah merasa lebih baik sekarang?” tanya Varen.


“Memangnya aku kenapa?” Reina balas bertanya sambil mengeryitkan dahi.


 


“Meskipun cuacanya bagus tapi kamu tidak pernah mengomentari sebelumnya. Ada apa? Apa ada yang sedang kamu pikirkan yang membuatmu tidak bersemangat pagi ini?”


Reina tertawa lalu mengeratkan tautan tangannya pada tangan Varen.


 


“Bersikap seperti biasanya saja. Aku yakin dia tidak akan bertanya apapun padamu. Apa yang kamu harus takutkan lagi?” Varen meremas tangan Reina dengan pelan seolah memberinya semangat.


“Semoga saja ya. Bagaimana kalau Nyonya Samara mendatangiku lagi? Apa yang harus kulakukan?”


“Apa sebaiknya kamu bolos kerja saja hari ini?”


 


Reina tertawa mendengar tawaran suaminya. Tidak mungkin dia bolos kerja hari ini disaat dia sudah berada didepan lobi perusahaan. Apalagi banyak karyawan yang sudah melihatnya. “Aku pegawai bukan pelajar. Tidak mungkin bolos lah. Aku akan coba menghadapi hari ini.” ucapnya.


“Tidak perlu memikirkan hal buruk. Fokus saja pada pekerjaanmu. Telepon aku jika terjadi sesuatu.”


“Baiklah. Aku masuk kedalam dulu ya. Kamu juga hati-hati dijalan.” Reina melambaikan tangannya lalu masuk kedalam lobi perusahaan. Setelah Reina tidak terlihat lagi, Varen membalikkan tubuhnya namun suara Elora menghentikan langkahnya.


 


“Wah sungguh mengejutkan. Aku kira kamu tidak pernah bisa bersikap manis dan romantis pada perempuan ya? Ternyata aku salah.” kata Elora dengan nada suara mencemooh namun sorot matanya berkata lain. Dia terlihat cemburu dan tak suka melihat sikap Varen pada adiknya.

__ADS_1


“Bukan urusanmu!” sahut Varen seraya melangkah pergi.


 


“Kenapa dulu kamu mengacuhkan aku? Tapi sekarang bersama adikku kamu sangat perhatian sekali?” tanya Elora ingin mengungkapkan rasa penasarannya.


“Karena Reina berbeda denganmu. Reina tidak pernah menuntut apapun dariku dan dia menerimaku apa adanya. Dia juga wanita yang baik hati dan tulus. Tidak sepertimu yang hanya peduli uang!” varen pun kembali melangkah meninggalkan Elora.


 


Elora menatap punggung pria itu dengan tatapan sendu. Tangannya mengepal kuat dan tersenyum getir, “Aku menuntut karena kamu tidak pernah memandangku sedikitpun!” Elora menghentakkan kakinya lalu berjalan masuk kedalam perusahaan. Didalam hatinya dia mendumel dan bibir mengerucut. Biasanya dia langsung masuk keruang kerja Bobby namun pagi ini dia langsung keruang kerjanya dan menghempaskan tubuhnya dikursi.


 


Sedangkan Varen langsung masuk kedalam taksi Tanta yang baru saja dipanggilnya. Sebenarnya taksi itu hanya digunakan untuk mengantar jemput Reina. Dengan bantuan Martin, ayahnya Felix akhirnya Varen mendapatkan kendaraan dan pakaian untuk Reina. Mantan suami bibinya itu bahkan tidak segan memberikan salah satu koleksi mobil mewahnya untuk Varen.


 


Mobil itu disimpan Varen di gedung basement perusahaan atau di tempat penitipan mobil dekat rumahnya sehingga Reina tidak pernah tahu. Orang tua Felix sudah bercerai, Martin dan  Evelyn bercerai sejak Felix masih kecil namun hubungan keduanya masih terjalin dengan baik. Martin bahkan menganggap Varen sebagai putranya sendiri. Walaupun sikap Varen selalu dingin padanya.


 


Karena kedekatannya dengan Martin Osahar, maka saat Varen dalam keadaan sulit dia memberanikan diri untuk meminta bantuannya. Varen tidak mau mengambil resiko dengan meminta bantuan kepada bibinya ataupun Felix. Varen tida mau bibi dan sepupunya terkena masalah karena dirinya.


“Bagaimana mungkin aku akan melupakannya?” gumam Varen saat teringat kepada pria yang akhir-akhir ini gencar menganggu istrinya.


 


Varen mengambil ponselnya lalu menghubungi Felix. “Kenapa kamu meneleponku? Kamu sudah sampai dikantor belum?” tanya Felix begitu panggilan tersambung.


“Aku ke kantor setelah makan siang. Aku harus menemui nenek dulu.” jawab Varen.


“Apa? Lalu bagaimana dengan persetujuan anggaran proyek baru? Kamu harus memeriksanya.”


 


“Kirimkan saja soft copynya. Aku akan memeriksanya setelah aku bertemu dengan nenek.”


“Baiklah, aku merasa lega sekarang karena kamu tidak memintaku untuk memeriksanya. Kepalaku bisa pecah dengan semua dokumen yang harus aku siapkan sebelum aku berangkat ke London.”


“Oh iya. Apa kamu sudah ada di kantor?” tanya Varen.

__ADS_1


__ADS_2