TUKAR PASANGAN

TUKAR PASANGAN
BAB 55. BERPEGANG PADA JANJI


__ADS_3

“Varen. Ini aku, Reina!” ucap Reina ketika sambungannya terhubung.


“Reina! Aku----”


“Bisa jemput aku sekarang di rumah sakit? Aku tadi pingsan dan sekarang ada dirumah sakit. Maaf aku baru mengabarimu.” ucap Reina.


“Reina aku---”


 


Flashback on


Beberapa menit sebelumnya setelah Verdi keluar dari IGD. Dia mencengkeram ponselnya yang terus saja bergetar. Dia merasa bersalah pada Reina yang terus dibohonginya dengan menyembunyikan identitasnya.


Tapi Verdi bingung ingin memulai darimana untuk berkata jujur. Reina sangat tulus padanya dan itu yang membuat Verdi takut kalau hati istrinya itu akan terluka karena ketidakjujurannya.


 


Dreettttt dreeettttt dreeeettttt


Panggilan Reina kembali masuk dan dia pun bertekad ingin memberitahunya mengenai identitas sebenarnya. Verdi menggeser icon berlambang telepon berwarna hijau di layar ponselnya.


“Varen, ini aku Reina---”


“Reina aku---”


 


“Hiks...hiks….aku mau pulang saja. Bisakah kamu menjemputku? Hikss...hikssss..” isak Reina.


“Kamu kenapa menangis? Reina----” Verdi melangkah hendak memasuki IGD namun dia teringat dengan penampilannya yang masih menjadi Verdi. “Reina----”


“Aku mau pulang kerumah Varen! Tolong jemput aku! Huhuhuhuhu…..” tangisnya semakin kencang.


 


Verdi tergagap mendengar suara suara tangisan Reina yang semakin kencang, tangannya tergantung didepan gagang pintu ruang perawatan. Verdi pun mematikan sambungan teleponnya kemudian berlari menuju ke parkiran. Mungkin saat ini bukan waktu yang tepat untuk berkata jujur. Verdi tidak mau kondisi Reina semakin memburuk karena kejujurannya.


Flashback off


 


Felix mendekati Reina yang menenggelamkan wajahnya diatas kedua lututnya. Dia khawatir melihat Reina yang tiba-tiba menangis.


“Reina, kamu kenapa menangis? Apa ada yang sakit?”


Reina menggelengkan kepala sambil tetap menyembunyikan wajahnya. “Tolong biarkan saya sendirian."


Felix mulanya ragu untuk menuruti permintaan iparnya itu namun dia tetap berdiri sambil memandangi bahu Reina yang bergetar. Felix hendak menyentuh bahunya namun suara Reina sudah kembali terdengar sendu.


 

__ADS_1


“Saya butuh waktu sendirian. Saya mohon tinggalkan saya sendirian disini.” pinta Reina dengan tegas.


Felix mengepalkan jari tangannya yang hampir menyentuh pundak Reina. “Baiklah. Saya menunggu didepan. Kalau ada apa-apa kamu panggil saja.”


Felix pergi keluar menuruti keinginan iparnya. Dia memutar handle pintu dan menutupnya dengan pelan. Begitu dia keluar, terdengar isak tangis Reina yang semakin terdengar memilukan.


 


Nampak Reina mengangkat wajahnya dan menatap ponsel ditangannya dengan tatapan nanar. Dia merasa tertekan sekali saat ini dan dibutuhkannya adalah kehadiran suaminya.


45 menit kemudian…..Varen berlari menuju keruang IGD. Karena tadi dia berangkat bersama Felix maka dia tidak punya pakaian ganti dan terpaksa mencari pakaian dulu.


“Kenapa kamu disini? Bagaimana keadaan Reina?” Varen bertanya dengan heran saat melihat Felix yang berdiri didepan ruang IGD.


 


“Reina yang memintaku untuk keluar. Masuklah kedalam. Tadi dia menangis.” jawab Felix.


Varen memutar handle pintu dan dia melihat Reina duduk sambil memandang kearahnya, Varen berjalan menghampiri istrinya.


“Bagaimana keadaanmu? Kenapa kamu menangis?” tanya Varen menatap wajah Reina yang sembab.


 


Varen membugkuk untuk menghapus sisa airmata diwajah istrinya itu. Keduanya saling bertatapan, Varen menatap manik coklat Reina begitupun sebaliknya. Reina meraih tangan Varen yang ada dipipinya lalu menarik tubuhnya agar membungkuk. Reina memeluk Varen dengan sangat erat.


“Aku mau pulang.” pintanya dengan suara serak.


 


“Baiklah. Kita pulang ya, jangan menangis lagi.” sahut Varen. Kemudian dia pun keluar untuk mengurus kepulangan Reina. Setelah menyelesaikan pembayaran administrasi, mereka pun pulang dengan diantarkan oleh Felix.


 


Sepanjang jalan tidak banyak yang mereka bicarakan. Reina menyandarkan kepalanya didada Varen seraya memegang erat tangan suaminya itu. Varen merangkul pundak Reina sambil sesekali mengintip wajah Reina lewat kaca spion didepannya.


Meskipun mata istrinya terpejam tapi Varen tahu jika Reina tidak tidur. Remasan tangan Reina terasa sangat kuat hingga Varen merasa tangannya kebas.


 


Felix menatap jalanan dan fokus menyetir. Sesekali dia menatap kearah belakang melalui kaca spion didepannya dan beradu pandang dengan Varen.


“Turunkan kami di persimpangan saja.” pinta Reina dengan suara serak.


“Hah? Persimpangan?” ulang Varen dan Felic berbarengan.


 


Reina bangun dari pelukan suaminya lalu menatap Varen sambil tersenyum. “Aku butuh udara segar. Aku ingin berjalan kaki saja sampai kerumah.” ucapnya.


Varen melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan jam sebelas malam. “Reina, ini sudah hampir tengah malam. Kamu juga sedang tidak enak badan.”

__ADS_1


 


Reina meremas tangan Varen seraya menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Meminta Varen untuk menuruti keinginannya. Akhirnya Varen pun merasa tak berdaya dan hanya bisa menghela napas dengan pelan. “Baiklah.” ucapnya lirih.


Seulas senyum muncul diwajah Reina.


 


“Tolong turunkan kami di persimpangan saja. Terima kasih sudah mengantar kami.” ujar Varen lagi.


“Tidak masalah kok. Aku senang bisa membantu kalian berdua.” sahut Felix kemudian menghentikan mobilnya tepat di persimpangan jalan yang mengarah kerumah Varen. Lalu Varen turun dari mobil lebih dulu lalu dia membantu Reina keluar. Dia mengambil tas Reina dan menjinjingnya. Karena sudah hampir tengah malam jalanan nampak sepi.


 


Hanya ada beberapa warung nasi di pinggir jalan saja yang masih buka dan beberapa kendaraan yang berlalu lalng. Jalanan nampak lengang.


“Ayo kita pulang.” ucap Reina sambil melangkah dengan tangan kanannya yang bertautan dengan tangan kiri suaminya.


“Tunggu!” ujar Varen.


 


Reina menoleh dan tiba-tiba saja Varen melepaskan tangannya. Hati Reina langsung merasa seperti kehilangan. Namun sedetik kemudian, Reina terkejut saat Varen memasangkan jaket ketubuhnya.


Kejadian ini mengingatkannya pada malam pertama yang mereka lalui di jalanan.


“Lain kali aku akan membawakan mantel untukmu.” ucap Varen seraya menarik retsleting jaketnya dan melipat lengan jaket yang kepanjangan di tangan Reina.


“Lain kali.” dengus Reina dengan suara pelan.


 


“Kamu kenapa?” tanya Varen menatap wajah Reina yang terlihat muram.


Reina menggelengkan kepalanya dengan lesu,


“Akhir-akhir ini aku terlalu sering mendengar kata lain kali. Jadi aku mengulangi kata itu.”


“Oh benarkah? Maaf kalau begitu aku janji akan membawakan mantel setiap aku menjemputmu.”


 


Reina tidak merespon, dia kembali memegang tangan Varen dan melangkah kembali. Keheningan kembali terjadi diantara mereka. Hanya terdengar suara langkah kaki mereka dan suara kendaraan yang lewat.


Semakin mendekati rumah, suasana malam semakin terasa sangat sunyi. Varen menoleh dan menatap wajah Reina yang fokus menatap kedepan.


 


Dia ingin memecah keheningan namun dia bingung harus bicara apa. Varen bukanlah sosok pria yang pandai bicara apalagi pada perempuan. Merasa kalau dirinya sedang diperhatikan membuat Reina menoleh.


Dia tersenyum manis kepada suaminya, senyum di bibir Varen pun mengembang. Dadanya berdebar kencang karena senyum manis yang diberikan Reina padanya.

__ADS_1


__ADS_2