TUKAR PASANGAN

TUKAR PASANGAN
BAB 57. KESALAHPAHAMAN


__ADS_3

Reina menghapus airmatanya yang membasahi pipi. Dia menyembunyikan wajahnya ketika mendengar suara pintu ditutup dan suara langkah kaki yang semakin mendekat. Ekspresi Varen mengeras saat dia melihat istrinya sedang menangis.


“Apa wanita mempunyai stok airmata berlebih? Kenapa kamu selalu menangis hanya gara-gara hal sepele?” tanya Varen dengan nada suaranya yang terdengar kesal.


 


Reina menatap suaminya dengan tajam. “Hal sepele untukmu tapi hal besar untukku.”


Varen mendengus, wanita memang makhluk paling rumit dan sulit dimengerti. Tidak neneknya, tidak istrinya semuanya sama saja dimata Varen. Bahkan bibinya pun tidak jauh berbeda dengan yang lainnya.


 


“Lihatlah ini! Aku meninggalkan catatan untukmu diatas nakas. Aku juga mengirimkan pesan yang sama ke ponselmu.” Varen mengulurkan selembar kertas dan juga ponsel miliknya pada Reina.


Reina mengambil kedua benda itu dan langsung tersenyum setelah membaca pesan untuknya.


‘Aku pergi membeli bubur dan obat. Jangan turun dari tempat tidur.’


 


“Maaf! Aku tidak membaca pesanmu.” ucap Reina malu-malu. Ingin rasanya dia mencari lubang dan bersembunyi karena merasa sangat malu. Dia menuduh suaminya tanpa alasan.


“Aku tidak pergi diam-diam! Jangan pernah menangis gara-gara hal sepele…..jangan pernah berburuk sangka! Itu bukan hal baik untuk dilakukan!” ucap Varen menegaskan sambil duduk disamping istrinya. Dia mengusap airmata di pipi Reina.


 


“Maaf…..”


Varen terdiam dan mengambil mangkuk bubur dari atas meja. “Makanlah lalu kamu minum obat dan istrahat. Kamu harus segera sehat agar pikiranmu kembali jernih.”


Reina tertawa kecil kemudian membuka mulutnya walaupun perutnya terasa mual namun dia memaksakan dirinya untuk menelan bubur yang disuapkan suaminya.


 


Setelah bubur dalam mangkuk kandas, Reina menenggak dua butir obat yang Varen berikan padanya. Obat itu terasa pahit dimulutnya, lalu Varen menyoforkan teh manis untuk mengurangi rasa pahit didalam mulut Reina.


“Tunggu sebentar!” ucap Varen lalu beranjak membawa nampan berisi mangkuk dan gelas kedapur. Reina menatap punggung Varen dengan sendu lalu melirik ponsel suaminya dengan ragu dia membuka ponsel itu.


Dia teringat pada ancaman kakaknya dan mata Reina membulat ketika melihat foto yang dikirimkan Elora kepada Varen. Jantungnya seakan berhenti berdetak, muncul ketakutan yang luar biasa.


 

__ADS_1


“Bukankah tidak sopan membuka ponsel orang lain tanpa izin?” Varen segera merebut ponselnya dari tangan Reina. Dia menatap kearah Reina dengan alis berkerut.


“Fo---foto itu! ka---kamu sudah melihatnya?” tanya Reina dengan terbata-bata. Dia takut suaminya akan salah paham dan terjadi pertengkaran diantara mereka.


 


Varen menggangguk. Reina meraih tangan Varen dan berdiri, “Va-varen…..foto itu tidak seperti kelihatannya. Aku bersumpah tidak ada hubungan apa-apa dengan Pak Kaifan. Aku----”


Tubuh Reina limbung tapi Varen segera menangkapnya. “Duduklah!”


“Varen! Aku bisa jelaskan semuanya. aku----aku….tidak!” Reina bicara tergagap ingin menjelaskan.


 


“Felix sudah menceritakan semuanya padaku. Tidak ada yang perlu kamu jelaskan lagi. Aku percaya padamu.” potong Varen seraya membantu Reina untuk duduk lalu diapun duduk disamping Reina.


Reina menatap wajah suaminya lekat-lekat, “Ka---kamu tidak marah?” tanyanya.


“Tentu saja aku marah. Aku pasti akan membuat perhitungan dengan Kaifan!” jawab Varen dengan ekspresi wajah yang mengeras.


 


“Varen, maafkan aku.” ucap Reina dengan suara lirih.


 


“Reina….aku minta maaf! Mungkin kamu akan marah dengan apa yang akan kukatan. Aku dan Verdi adalah…..”


CUP!


Reina menarik wajah Varen dan menyatukan bibirnya. Varen yang kaget mencoba menjauh namun Reina menekan tengkuknya dan memperdalam ciumannya. Varen berusaha untuk mengendalikan dirinya untuk tidak membalas gerakan sensual bibir Reina yang menggodanya.


Reina mengendurkan jalinan tangannya di tengkuk Varen lalu melepaskan pagutannya.


“Tidak baik menyebut nama pria lain saat kesalahpahaman diantara kita baru selesai.” ucapnya. Reina menatap Varen tepat dimanik matanya.


 


Napas Reina terengah-engah lalu berkata, “Sama halnya ketika kamu diam-diam, aku juga tidak suka kamu menyebut nama pria itu. Aku tidak menyukainya, Varen! Jadi jangan membicarakan perihal pria itu dihadapanku.” ujar Reina mendekatkan wajahnya dan kembali menyatukan bibirnya. Dia menyesap dan ******* bibir Varen.


 

__ADS_1


Ketika bibir Varen sedikit terbuka, Reina segera menyusupkan lidahnya dan menggoda suaminya. Mendapatkan serangan yang bertubi-tubi membuat pertahanan Varen pun akhirnya runtuh.


Tanpa melepaskan pagutan mereka, Varen mengangkat tubuh Reina lalu mendudukkannya diatas pangkuannya. “Buat dirimu nyaman berada diatasku sayang.”


 


Varen mendekatkan wajahnya membalas setiap permainan Reina dengan permainan yang lihai dan menuntut. Membuai Reina dalam permainan lidah yang memabukkan dan saat kebutuhan oksigen menyerang mereka melepaskan pagutan dan meraup oksigen sebanyak-banyaknya.


“Sepertinya sakitmu menular. Aku juga tidak bisa berpikiran jernih.” ucap Varen.


 


Dia mengecup bibir Reina sekilas lalu mengulurkan tangannya menyentuh bibir basah Reina yang bengkak akibat ulahnya. Reina menunduk dengan wajah merona merah karena demam dan malu.


Varen mengulum senyum, dia merasa senang melihat rona merah menghiasi wajah istrinya. Varen menyentuh dagu Reina membuatnya mendongal agar menatapnya.


 


Pandangan mata mereka bertemu dan manik hitam Varen tenggelam dalam manik coklat istrinya. “Apa kamu sudah merasa baikan sekarang? Tidak marah lagi?”


Reina memeluk Varen menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya. “Bisakah kita tidak membahasnya lagi? Maaf sebelumnya karena aku marah padamu.” ucap Reina.


 


“Aku selalu merasa ketakutan setiap bangun tidur tapi tidak menemukanmu. Rasanya…...aku seperti ditinggal ditempat asing sendirian! Aku takut sendirian dan aku tidak suka perasaan itu.” ucap Reina.


“Rumah ini bukan tempat asing Reina! Tapi rumah kita. Kamu tidak perlu takut karena kamu tidak akan pernah sendirian lagi. Aku akan selalu bersamamu dan kita akan menua bersama.”


Varen mengelus rambut Reina sambil membalas pelukannya dengan satu tangan.


Reina tersenyum mendengar kata-kata Varen yang membuatnya membayangkan dirinya dan Varen menua bersama mambuat suasana hatinya menjadi lebih baik. “Tepati janjimu Varen. Jangan pernah tinggalkan aku.”


“Tentu sayang. Aku akan menepati janjiku.” timpal Varen seraya mengecup puncak kepala Reina.


 


Varen bersungguh-sungguh dengan janji yang dia ucapkan. Berbeda dengan pernikahannya dulu dengan Elora yang dilandaskan karena warisan tapi kali iniVaren bertekad untuk menjalani rumah tangganya dengan Reina berlandaskan cinta dan kesetiaan. Varen ingin hidup bersama Reina dan menua bersamanya.


 


Sedangkan ditempat lain, Elora menatap jalanan dengan mata berbinar. Wajahnya tampak cerah sejak bangun tidur dia terus saja tersenyum gembira. Hal itu menarik perhatian suaminya yang tengah mengemudikan mobil disampingnya.

__ADS_1


“Sayang….kamu ini kenapa sih? Sepertinya bahagia sekali?” tanya Bobby melirik istrinya sekilas.


__ADS_2