
Tapi sekarang dia merasa lebih tenang karena belum ada pengikat diantara Varen dan Reina. “Singkirkan keinginanmu untuk memiliki anak dari wanita itu. Segera ceraikan wanita itu! Nenek akan mencarikan wanita yang seratus kali lebih baik darinya.” ujar Samara. “Dia tidak pantas untuk menjadi istrimu! Cepat ceraikan dia!”
Ekspresi Varen langsung mengeras. “Walaupun nenek mendapatkan wanita yang seribu kali lebih baik dari Reina. Selama wanita itu bukan Reina maka aku tidak akan mau!” tolaknya dengan tegas.
Felix tercengang dengan perkataan sepupunya, tak pernah menyangka kalau Varen akan menentang neneknya lagi. Tapi dia hanya diam memperhatikan saja karena tidak mau terlibat dalam pembicaraan kedua orang itu.
Karena Felix merasa takut akan disuruh neneknya untuk menikah. Makanya dia memilh menghindari percakapan tentang pernikahan yang pasti akan merugikannya. Sedangkan Samara kaget mendengar jawaban Varen. Dia pikir pernikahan kedua Varen sama dengan pernikahan pertamanya hanya untuk mendapatkan warisan saja.
Setelah mendapatkan warisannya maka mereka akan bercerai. Tapi sepertinya Varen menjalani pernikahan keduanya dengan serius. “Wanita itu tidak pantas untukmu. Kamu berhak mendapatkan yang lebih baik dari dia.” tutur Samara.
“Darimana nenek tahu kalau Reina bukan istri terbaik untukku? Nenek harus mengenal Reina dulu agar bisa menilainya.” sangkal Varen berusaha mencari celah agar neneknya mau mengenal Reina.
Samara pun terdiam, dia memang belum terlalu mengenal istri cucunya. Dan lagi menurut informasi yang dia dapatkan bahwa Reina bukan wanita mata duitan. Reina berbeda dengan keluarganya.
Tapi, meskipun begitu Samara masih tidak mau mengakuinya. Baginya apapun yang berhubungan dengan keluarga Hasena adalah hal buruk bagi cucunya. Jadi dia harus menyingkirkannya. Melihat neneknya yang diam saja seulas senyum pun muncul diwajah Varen. Dia yakin neneknya akan terpengaruh juga akhirnya.
“Tolong jangan campuri urusan rumah tanggaku. Daripada nenek mencarikan wanita lain untukku lebih baik nenek mencarikan wanita untuk Felix! Dia masih bellum punya pacar.” ucap Varen.
UHUK!
Felix yang sedang menyesap tehnya langsung tersedak. Dia memelototi sepupunya. Bisa-bisanya Varen melibatkan dirinya dalam permasalahannya.
Melihat Felix protes, Varen menyeringai puas. Ekspresi wajahnya seakan berkata, ‘Siapa suruh mengumbar berita tidak benar tentang Reina.’ Varen masih kesal pada sepupunya itu.
__ADS_1
Samara berdehem ketika melihat kedua cucunya berperang tatapan tajam. “Tentu Nenek akan mencarikan wanita untuk Felix. Nenek sudah menyiapkan beberapa kandidat untuknya.”
“Tidak nek. Aku tidak mau sijodohkan! Seperti tidak laku saja. Memangnya ini jaman Siti Nurbaya pake dijodoh-jodohkan segala? Jodohku ada ditangan Tuhan bukan ditangan Nenek.” protes Felix.
Samara melotot tajam pada cucunya namun Felix malah mengacuhkan. Sifat Felix berkebalikan dengan Varen. Dia agak pecicilan dan tidak pernah serius.
Berbeda dengan Varen yang selalu fokus pada apapun. “Daripada nenek sibuk mencarikan jodoh untuk Felix, mendingan nenek mencarikan jodoh untuk mama saja. Kalau tidak, nenek biarkan saja mama dan papa menikah lagi.” ujar Felix.
Samara memijat pelipisnya, bukan hal mudah menghadapi penolakan kedua cucunya itu.
Kedua cucunya menolak ide perjodohannya bersamaan.
“Apa sebaiknya kita mencarikan jodoh untuk nenek saja? Nenek masih cantik pasti banyak pria berumur yang tertarik.” celoteh Felix.
Mendengar itu Varen pun tertawa. Felix selalu bisa memutar balikkan keadaan dan Varen merasa puas melihat wajah neneknya yang merah padam.
“Satu hot americano, satu ice pink latte dan dua hot mocha.” Reina meneriakkan pesanan yang baru saja masuk. Sejenak dia melirik kakaknya yang duduk disalah satu meja sambil menikmati ice caramel latte kesukaannya.
Kadang Reina bingung dengan Elora, dari dulu sesibuk apapun orang tuanya Elora tidak pernah mau membantu. Elora hanya akan duduk manis layaknya bos besar.
“Mbak…..pesanan saya sudah belum?” tegur salah satu pelanggan.
“Silahkan ditunggu di meja ya mbak. Pesanannya akan segera kami antarkan.” ujar Reina sopan.
Pelanggan itupun pergi ke mejanya membuat Reina menghela napas lega. Banyak pelanggan yang tidak sabaran padahal mereka baru datang.
__ADS_1
“Sepertinya mama harus merekrut karyawan baru.” gumam Reina.
“Kenapa tidak kamu saja yang bekerja disini? Atau kamu suruh Varen untuk membantu daripada dia menganggur, kerjaan tidak jelas.” ucap Elora yang tiba-tiba saja sudah berdiri dihadapan Reina.
“Aku sudah nyaman dengan pekerjaanku dan Varen juga punya kesibukannya sendiri.” ketus Reina.
Lagipula Reina tidak rela jika wajah Varen dinikmati banyak orang. ‘Tidak.’ pikir Reina. Dia tidak akan pernah mengijinkan Varen menjadi pelayan cafe. Baik di cafe orang tuanya atau dimanapun. Lebih baik Varen menjadi pengangguran saja.
“Kesibukan katamu? Memangnya Varen sibuk apa? Tadi dia bilang kalau dia belum bekerja.”
Elora sengaja memancing rasa penasaran adiknya. Reina pun menghentikan kesibukannya memeriksa pesanan. Dia menatap Elora dengan tajam, “Kamu bertemu Varen? Kapan?” tanyanya sengit.
Elora mengangguk. “Tadi sebelum kesini. Aku melihatnya dijalan dan kami mengobrol sebentar.” jawab Elora dengan sengaja.
Elora menautkan alisnya seakan sedang mengingat-ingat sesuatu. “Varen tidak banyak berubah ya. Walau kami sudah tidak bersama tapi saat kami berdua dia selalu banyak cerita. Aku jadi teringat masa-masa kami bersama dulu.” ucapnya seraya tertawa geli seakan ada yang lucu.
Deg!
Dada Reina bagai dihantam batu besar, dia merasa sesak dan panas dalam waktu bersamaan.
‘VAREN!’ geramnya dalam hati seraya mengepalkan kedua tangannya. Setelah dia selesai di cafe, Reina yang sudah kehilangan mood pun segera pulang. Sepanjang jalan dia diam tidak bersuara. Amarahnya belum reda dan dia memang sengaja cepat-cepat pulang karena tidak mau lama-lama melihat wajah kakaknya yang menyebalkan.
Beberapa menit yang lalu terjadi perang di Hasena Cafe. Reina yang kesal dengan ucapan Elora menyiram wajah Elora dengan ice pink latte milik pelanggan yang dibalas Ekora dengan menjambak rambut Reina dan mencakar wajahnya. Walau rambut Reina rontok dan wajahnya terluka, tapi Reina tidak menyesal sudah memicu pertengkaran.
Reina tidak mau kecolongan lagi untuk yang kedua kalinya. Dia tidak akan menyerahkan suaminya lagi kepada kakaknya. Dulu ketika Reina dan Bobby masih bersama, Elora selalu bercerita tentang kedekatannya dengan Bobby. Tapi Reina tidak terlalu menanggapi karena menganggap hubungan mereka masih dalam batas wajar.
__ADS_1
Sampai akhirnya mereka malah kebablasan dan berselingkuh darinya. Sekarang Reina tidak akan membiarkan kedekatan sekecil apapun antara Varen dan Elora. Dia akan bertindak tegas baik kepada kakaknya ataupun suaminya. “Berhenti didepan pak.” ucap Reina kepada supir taksi. Dia pulang sendirian tidak mau menunggu Varen menjemputnya.