TUKAR PASANGAN

TUKAR PASANGAN
BAB 27. MERASA LEGA


__ADS_3

Varen tersenyum mendengar kekhawatiran istrinya. “Tidak perlu khawatir. Tidak ada yang bisa memecatmu kecuali atasanmu! Memangnya Elora itu atasanmu? Bukan kan? Kamu tenang saja, dia hanya mengancammu untuk menakutimu!”


“Hah? Benarkah? Tapi Bobby itu direktur disini dan dia juga pasti akan berusaha membuatku dipecat! Mereka tidak suka melihatku bekerja disini.”


 


“Kamu itu sekretaris CEO. Atasanmu Verdi bukan Bobby! Tidak ada hubungannya dengan mereka!”


“Hahahaha…..iya ya benar juga. Kenapa aku tidak kepikiran sampai sana? Hehehe!”


“Jadi kamu menelepon hanya gara-gara khawatir dipecat?” tanya Varen menahan tawanya.


“Iya. Apa aku mengganggumu?” tanya Reina.


 


Varen tersenyum simpul karena dia merasa kalau Reina tidak mengganggunya. Tapi Varen harus meninggalkan meeting hanya untuk mendengarkan curahan hati istrinya yang cengeng itu.


“Tidak kok. Kamu boleh menghubungiku kapan saja. Sekarang kamu sudah merasa lebih tenang?”


“Haaaahh! Iya aku merasa lebih tenang. Aku hanya perlu bersikap baik pada bosku Verdi yang menyebalkan itu. Benarkan?”


 


“Ehm….” jawab Varen singkat menahan senyum. Lagi-lagi Reina menyebutnya sebagai bos yang menyebalkan. Apa yang akan terjadi seandainya dia tahu kalau Verdi itu adalah Varen?


“Kalau begitu aku tutup dulu teleponnya ya? Oh iya, nanti malam kita makan bersama. Sampai jumpa nanti malam.Muaahhh!” Reina tak sadar memberikan ciuman jarak jauh lalu memutuskan panggilan.


 


Varen tertawa kecil seraya menatap layar ponselnya. Dia merasa lega ternyata dugaan Felix salah. Reina tidak fokus karena takut dipecat bukan karena masih menyimpan perasaan karena masa lalunya dengan Bobby.


“Sepertinya kamu sedang senang. Siapa yang meneleponmu barusan?” tanya Felix saat melihat sepupunya itu tersenyum.


 


“Reina!” jawabnya.


“Reina istrimu?” tanya Felix mengeryit.


“Iyalah. Memangnya Reina yang mana lagi?” jawab Verdi kesal.


“Oh! Aku kira Reina sekretarismu.”


 


Verdi langsung memberikan tatapan tajam pada Felix yang langsung tertawa, “Aku hanya bercanda. Kenapa kamu ini serius sekali?” ucapnya sambil duduk didepan Verdi.


Dia menatap sepupunya itu dengan serius dan berkata, “Sampai kapan kamu akan menyembunyikan identitasmu dari Reina? Apa kamu tidak takut kalau semuanya terbongkar dia akan membencimu karena telah membohonginya selama ini? Wanita tidak suka dibohongi!”

__ADS_1


 


Verdi terdiam, dia tidak ada maksud untuk menyembunyikan identitasnya dari Reina tapi dia juga tidak bisa mengungkapkan sekarang. “Kalau aku mengatakannya sekarang, nenek pasti akan mengganggunya. Biarlah untuk sementara begini saja lebih baik.”


Felix menghela napas, “Nenek memang keterlaluan. Sudah membuatmu miskin dalam semalam, dia juga tidak mau mengakui istrimu sebagai menantunya. Hah! Nenek bahkan selalu mengawasiku karena takut aku memberimu uang.”


 


Verdi mengalihkan pandangannya menatap Reina yang sudah kembali ke mejanya. Felix benar, Samara memang membatasi semuanya bukan hanya menarik fasilitas keuangannya tapi dia juga melarang anggota keluarga lainnya untuk membantunya.


“Pastikan saja gajiku dibayar setimpal! Karena aku butuh uang untuk menghidupi istriku!” ucapnya.


 


Setelah jam istirahata makan siang, Reina berangkat meninjau proyek bersama Verdi dan felix. Ketika mereka sampai disana mata Reina tercemari saat melihat keberadaan Bobby. Reina mendengus kesal saat dia melihat Bobby mencuri pandang padanya “Dasar brengsek! Menyebalkan!” gumamnya.


Ketika sadar jika istrinya diperhatikan, Verdi segera menggeser tubuhnya menutupi Reina sehingga menghalangi tatapan Bobby.


 


“Jadi semua permasalahan mengenai bahan baku sudah selesai?” tanya Verdi saat melihat Bobby kembali mencuri pandang kearah Reina yang membuatnya menjadi kesal.


“Sudah pak.” Bobby mengangguk cepat.


“Semuanya sudah beres dan mereka juga sudah meminta maaf dan setuju akan bertanggung jawab atas kerugian yang kita alami.”


 


Bobby adalah orang yang kompeten dan bertanggung jawab dalam pekerjaannya. Verdi harus mengakui kemampuan pria itu terlepas dari sikapnya yang berbeda jika diluar pekerjaan.


 


Hanya saja Bobby terlalu mudah terpengaruh dan kurang konsisten terutama dalam masalah hati. Terbukti dari tatapan matanya yang selalu mencuri pandang pada Reina.


Dia sendiri yang membuang wanita itu dan memilih menikahi Elora tapi sekarang dia malah terlihat mengaguminya dan selalu mencuri pandang pada Reina.


 


“Pak Verdi….sepertinya kita harus mengecek lantai atas. Proses finishing disana sudah hampir selesai.”


“Baiklah! Ayo kita kesana.”


Verdi dan Bobby berjalan mengikuti Felix sedangkan Reina berusaha menyusul mereka dengan langkah kecilnya. Wanita itu merutuki didalam hatinya karena lelah mengejar langkah para pria didepannya. Dadanya terasa sesak karena kepulan asap dan debu yang ditimbulkan pekerja.


 


Uhukkk! Uhukkkk!…..Reina terbatuk saat melewati pekerja yang sedang memotong keramik. Padahal dia sudah menggunakan masker namun masih terhirup juga debunya. Verdi menghentikan langkahnya saat mendengar suara batuk Reina.


“Kemarilah! Kamu tunggu saja disana tidak terlalu banyak debu.” ucapnya seraya menunjuk kearah dekat jendela.

__ADS_1


 


Reina mengangguk dan berjalan menuju tempat yang ditunjukkan Verdi tadi. Verdi pun melanjutkan berkeliling bersama Felix dan Bobby. Mendengar Reina yang kembali terbatuk, dia pun menghampiri Reina.


“Minumlah! Tenggorokanmu akan lebih baik setelah minum.” ucap Verdi menyodorkan sebotol air mineral padanya.


 


Reina tertegun mendengar kata-kata Verdi, dia merasa de ja vu menatap Verdi dengan kedua alisnya yang bertaut, “Varen….” ucapnya lalu Reina segera menggelengkan kepalaya mengusir bayangan Varen dari pikirannya.


Dia merutuki dirinya sendiri karena selalu teringat pada suaminya itu. ‘Sadarlah Reina! Belum tentu juga Varen mengingatmu!’ bisik hatinya.


 


Terima kasih.” ucapnya mengambil botol air yang diberikan Verdi padanya. Entah kenapa Reina terlalu lelah atau tutup botolnya yang memang kerasa sehingga dia kesulitan membuka botol minumnya. Dia pun mendongak menatap bosnya dengan wajah memelas.


“Lain kali kamu tidak perlu ikut kunjungan proyek seperti ini.” ucap Verdi mengambil botol air dari Reina lalu membukanya.


 


“Saya juga lebih senang duduk dikantor, pak. Disini panas sekali dan banyak debu.”


“Seharusnya kamu menolak ketika saya mengajakmu kesini.” ujar Verdi menyodorkan botol minum itu kembali pada Reina. Tanpa menghiraukan perkataan bosnya itu dia segera meneguk air minumnya hingga kandas setengahnya. Dia sangat kehausan.


 


“Akhirnya lega juga tenggorokanku. Terima kasih pak.” ucapnya.


“Ayo ikut! Udara disana sangat nyaman.” ujar Verdi yang tanpa sengaja memegang tangan Reina dan menuntunnya membuat wanita itu terkesiap dan segera melepaskan tangan Verdi.


Dia merasa risih, “Saya bisa jalan sendiri, Pak!”


 


Verdi terhenyak, tiba-tiba muncul perasaan kecewa saat Reina menolak pegangan tangannya. Tapi dia pun memahami karena Reina tidak mengenalinya. “Maaf!” ucap Verdi berjalan mendahului Reina.


“Lihatlah! Disini bagus bukan? Udaranya juga segar!” ucap Verdi saat mereka sampai di balkon lantai dua puluh tempat mereka berdiri sekarang.


 


Reina tercengang melihat pemandangan kota dihadapannya benar-benar indah, seperti lukisan. Dia memejamkan matanya merasakan hembusan angin yang menerpa wajahnya.


“Kamu suka?” tanya Verdi,


“Suka apanya pak?” Reina membuka matanya dan bertanya balik.


 


“Apartemen ini.” Verdi melangkah ke pembatas balkon. Tatapannya lurus kedepan, “Apartemen ini hanya dua puluh lantai saja selain pemandangannya yang bagus dan udaranya yang segar tempatnya juga strategis. Semua unit di apartemen ini sudah habis terjual kecuali yang ini.” ujarnya.

__ADS_1


Reina melangkah dan berdiri disamping Verdi lalu menatap bosnya. “Bapak menawarkan apartemen ini untuk saya?” tanya Reina ragu-ragu. Dia bingung mendengar perkataan Verdi yang terdengar seperti seorang sales property.


__ADS_2