TUKAR PASANGAN

TUKAR PASANGAN
BAB 40. PERTEMUAN PERTAMA


__ADS_3

“Nenek!” pekik Varen terkejut.


“Satu hal lagi! Jangan pernah berpikir untuk meminta bantuan dari sepupu atau bibimu. Kalau aku mengetahui mereka membantumu maka aku tidak akan segan mengusir mereka dari rumah tanpa sepeser uangpun! Aku akan membuat mereka hidup dijalanan!” ujar Samara penuh penekanan.


Klik……


 


Varen menatap Tanta dengan kesal. “Kamu dengar sendiri kan Tanta? Nenek mengijinkan aku membawa ponselku! Huh!” Varen mengangkat ponselnya kemudian pergi meninggalkan tempat itu dengan perasaan kesal.


Dia menghentikan taksi untuk pulang kerumah mertuanya. Melihat argo taksi yang sudah mencapai batas uang yang dipegangnya, Varen pun terpaksa turun sebelum sampai dirumah mertuanya.


 


“Seratus lima puluh ribu.” supir taksi memberitahu jumlah argo yang harus dibayarnya.


Varen pun memberikan uang taksinya lalu berjalan sampai ke rumah mertuanya.


Jaraknya cukup jauh dari tempat dia berhenti, sehingga dia sampai dirumah itu pada pukul sembilan malam. Dengan tubuh lelah dan perut yang kelaparan Varen memasuki rumah mertuanya.


 


Varen langsung masuk kedalam kamarnya, tampak Elora yang sedang berbaring sambil memainkan ponsel. Begitu melihat Varen masuk ke kamar, Elora langsung meletakkan ponselnya.


“Aku minta uang bulanan.” ujar Elira seraya beranjak dari atas tempat tidur menghampiri Varen.


 


Varen menatap istrinya dengan mengeryit. Dia tidak percaya dengan permintaan istrinya yang baru kemarin mendapatkan uang dua milyar sebagai mahar dan uang kebutuhan bulanannya. Karena uang mahar hanya sebesar lima ratus juta sedangkan sisanya adalah uang bulanan.


“Apa uang yang kuberikan sudah habis? Dua milyar loh? Itu jumlah yang sangat banyak.”


 


“Apa kamu bilang? Uang itu adalah maharku, itu milikku! Aku tidak mau uang itu dipakai untuk kebutuhan bulanan. Aku tidak mau tahu ya pokoknya setiap bulannya kamu harus memberiku uang belanja.” pinta Elora tak ada manis-manisnya.


 


Varen yang malas bertengkar pun duduk disamping Elora dan berkata, “Aku tidak ada uang sekarang. Maharmu kan hanya lima ratus juta! Masih ada sisa 1.5milyar rupiah lagi. Kamu pakai saja dulu uang itu dan berikan lima juta saja paddaku. Aku akan mengembalikannya bulan depan.” ucap Varen.

__ADS_1


 


Elora membulatkan matanya mendengar permintaan suami yang baru dinikahinya dua hari lalu. Dia tercengang dan tak habis pikir. “Eh jangan seenaknya ya meminta uang dariku! Aku bukan bank. Sisa uang 1.5milyar itu juga milikku! Enak saja menghitungnya sebagai uang bulanan. Aku tidak mau! Uang itu milikku dan kamu tidak berhak memintanya.”


 


Elora menatap sengit pada Varen, hatinya dipenuhi kekecewaan yang dalam karena ternyata pria yang dinikahinya tidak punya uang. Dia sudah salah menilai, dia mengira Varen orang kaya karena memberinya mahar sebesar itu dan sekaligus uang 1.5milyar. Didalam pikirannya, dia bisa mendapatkan lagi uang setiap bulannya dari Varen tapi ternyata oh ternyata……


 


“Pffff…..aku tidak menyangka ya ternyata kamu itu miskin! Pria tidak tahu malu yang hanya bisa meminta uang pada istrinya. Aku sungguh menyesal menikah denganmu. Pergi sana jauh-jauh! Aku tidak sudi punya suami miskin sepertimu!” Elora mengusir Varen seraya mendorongnya dan menarik selimut menutupi sekujur tubuhnya dan tidur.


 


Varen mengusap wajahnya dengan gusar. Dia pun membersihkan tubuhnya untuk mendinginkan kepalanya. Setelah selesai mandi, dia keluar kamar menuju ke dapur untuk mencari makanan karena dia kelaparan.


Namun tidak ada sedikitpun makanan di dapur, dengan langkah gontai Varen mengambil air minum lalu duduk dimeja makan. Dia termenung meratapi nasibnya yang berubah drastis dalam semalam. Dia tidak tahu mengapa neneknya melakukan itu padanya.


 


“Aku pikir tidak ada orang disini.” suara lembut wanita membuyarkan lamunan Varen, dia menoleh melihat wanita itu tersenyum manis padanya. “Kamu pasti Varen kan? Suami kakakku?” tebak wanita itu.


 


“Perkenalkan, aku Reina adiknya Elora.” wanita itu mengulurkan tangannya yang langsung disambut Varen dan memperkenalkan dirinya juga.


“Maaf ya kemarin aku tidak bisa menghadiri pernikahan kalian karena aku harus merawat mertuaku di rumah sakit. Aku tidak bisa meninggalkannya karena tidak ada orang lain yang bisa merawatnya.”


 


“Tidak apa-apa.” sahut Varen singkat.


“Kamu tidak lapar? Aku yakin kamu pasti lapar setelah berjalan jauh. Sebenarnya tadi aku berjalan dibelakangmu. Aku mau memanggilmu tapi aku takut salah orang.” ujar Reina.


“Benarkah?” Varen mengeryitkan dahinya.


 


“Tadi mama memintaku mengantarkan pesanan makanan ke komplek depan. Pas pulang kesini taksi yang kutumpangi mogok ditengah jalan. Aku sempat takut pulang sendirian karena jalanan sudah sepi tapi aku melihatmu turun dari taksi. Jadi aku berjalan dibelakangmu. Oh iya, tadi aku membeli nasi goreng. Aku tahu kamu pasti lapar juga kan? Kebetulan sekali tadi aku membeli dua bungkus jadi kamu bisa makan satu bungkus.”

__ADS_1


 


Reina berdiri mengambil piring lalu membuka bungkusan nasi gorengnya. “Kamu suka ayam atau seafood? Pedas atau tidak?” tanya Reina lagi sambil meletakkan nasi goreng ke piring.


“Tidak pedas. Aku tidak pilih-pilih makanan. Yang mana saja bisa asalkan tidak pedas.”


“Baiklah. Untung aku beli dua, satu pedas dan satu tidak. Nah, nasih goreng ayamnya tidak pedas tapi yang pakai seafood pedas sekali karena pakai bumbu tomyam.”


 


Varen tetap diam memperhatikan gerak gerik Reina yang lincah menyajikan makanan di meja lalu menuangkan air minum untuknya juga.


“Makanlah! Semoga kamu suka. Nasi goreng ini terkenal di daerah sini karena rasanya enak sekali.” Reina terus saja bicara.


Varen menatap sepiring nasi goreng ayam spesial didepannya, perutnya yang lapar semakin meronta mencium aroma nasi goreng yang menggugah selera.


 


Dengan rasa malu dia menyantap nasi goreng itu.


“Enakkan? Nasi goreng ini memang terkenal enak! Aku suka beli dibandingkan masak sendiri.”


Varen mengangguk, dia merasa bersyukur bisa makan malam ini. Mengingat kalau siang tadi dia tidak makan karena sibuk dengan pekerjaan dan rapat.


 


“Apa kamu kalau jalan selalu cepat ya? Kakiku sampai sakit mengejarmu, kakimu panjang sekali aku sampai kesulitan mengikuti langkahmu tadi.”


“Aku tidak tahu kamu mengikuti dibelakangku tadi.” ucap Varen mengangkat wajahnya menatap Reina. Ini pertama kalinya dia bertemu Reina dan sepertinya wanita ini ramah dan berbeda dengan Elora yang terlihat agak angkuh.


 


“Iya juga ya. Hehehe…..untung saja sampai dirumah.” Reina terkekeh. Keadaan kembali hening karena keduanya sibuk menyantap makanan masing-masing. Porsi nasi goreng itu besar sehingga Varen merasa perutnya penuh dan kekenyangan.


“Aku sudah selesai. Aku duluan ya?” ujar Reina.


 


Varen menjawab dengan menganggukkan kepalanya. “Terima kasih untuk nasi gorengnya.”

__ADS_1


“Tidak masalah! Untung juga aku beli dua jadi kamu bisa makan juga. Ya sudah dulu ya.”


__ADS_2