
Titttttttttt....
Terdengar suara Elektrokardiogram atau EKG berbunyi nyaring dan satu ritme suara.Garis lurus terlihat di layar EKG.
Team dokter yang selalu memantau perkembangan keadaan Hilman ayah Hanna pun langsung bertindak cepat untuk melakukan yang terbaik untuk pasiennya.
Sedangkan Hanna dan Liana yang menunggu dan harap-harap cemas dengan keadaan Hilman,kini keduanya saling berpelukan dan menangis.
Liana yang akhir -akhir ini lebih sering merawat kakaknya itu kini rasa takut kehilangan makin besar.Kedua perempuan yang kini saling menguatkan terlihat terduduk lemas di kursi depan ruang lCU dan keduanya memanjatkan doa untuk orang yang do dalam sana yang sedang berjuang.
Ceklek.
Pintu ruangan lCU kini terbuka dan menampakkan sosok dokter yang tadi sempat menangani Hilman.
"Bagaimana keadaan ayah saya dok?" tanya Hanna yang tak sabar mendengar berita sang ayah.
"Kami dan team sudah berusaha semaksimal mungkin namun,dengan berat hati kami sampaikan kalau pak Hilman sudah tiada dan beliau tercatat meninggal jam 9.30 WlB ." ungkap sang dokter.
Duaaarrr 💢
Bagai petir di siang bolong,hati kedua perempuan yang di hadapan sang dokter itu kini sangat terlihat sedih dan seketika tangis mereka pecah.
"Nggak mungkin dok,Abang saya pasti sembuh.Biasanya dia juga gini tapi dia baik-baik saja.Dokter jangan bohong yaa..!!" sentak Liana membentak dokter yang ada di depannya.
"Bibi..hiks hiks.." ucap Hanna dengan memeluk tubuh bibinya supaya lebih bisa mengontrol emosinya.
"Maafkan kami.Kami sudah berusaha semaksimal mungkin.Tapi,Allah lebih menyayangi pak Hilman dari kesakitannya.Sekali lagi kami ucapkan turut berdukacita atas meninggalnya pak Hilman,team medis akan membantu semu proses yang harus diselesaikan dan team medis juga aka. mengkoordinasi denga keluarga yang lain." ungkap dokter itu dan hanya bisa dijawab dengan ekspresi datar dan juga tangis Liana yang semakin pecah.
Hanna mencoba untuk membuat dirinya tak larut dalam kesedihan.
Dia sadar,jika hanya dia yang menjadi penanggung jawab ayahnya.
Hanna menghubungi uwa Muksin sepupu ayahnya mengabarkan berita duka cita keluarganya.
Muksin yang mendengar meninggalnya sang sepupu dengan cepat mengabarkan pada ketua lingkungan atau RT.
Sanak saudara dan tetangga sibuk menyiapkan segala sesuatunya untuk kepulangan jenazah Hilman dari Rumah Sakit.
__ADS_1
Muksin dan beberapa orang tetangga pun menyusul ke Rumah Sakit untuk membantu mengurus keperluan di Rumah Sakit.
Hanna menegarkan dirinya untuk ikut mensucikan sang ayah untuk tarakhir kalinya.Sementara Liana sejak mendengar sang kakak berpulang dia berulang kali pingsan dan di tangani team medis.
Entah perasaan menyesal atau apa saat ini Liana begitu terpukul dengan berpulangnya sang abang ke sisi llahi.
Setelah semua urusan di Rumah Sakit selesai mereka pun pulang ke rumah duka.
Hanna memutuskan langsung mengebumikan sang ayah.Walaupun Wak Muksin menanyakan soal Albian namun,Hanna bersikeras jika soal Albian tak mungkin bisa langsung sampai Bandung sore ini.
Padahal jika mereka tahu,Albian bisa saja datang ke sana hanya dengan waktu kurang lebih tiga jam dari Jakarta apalagi menggunakan pasukan patwal yang biasanya keluarganya lakukan.
"Kamu tanya Al bisa pulang atau tidak?" tanya Liana dengan mata sembabnya.
"Sudahlah bi,yang penting sekarang ayah harus segera di kebumikan.Nggak baik juga menunda-nunda kan,"
Ucapan Hanna sontak membuat Liana dan beberapa saudara yang ada di tempat yang sama pun mengernyitkan keningnya.Apa mungkin Albi dan Hanna sedang ada masalah.Untuk datang sebentar saja Albi tak bisa.
"Hanna.." panggil Rana yang baru saja datang bersama kedua orangtuanya untuk takziah.
" Rana,om,tante,maafin ayah jika semasa hidupnya membuat salah pada kalian baik di sengaja atau tidak." ucap Hanna dengan wajah sendunya.
Sebenarnya setegar apapun dia,pasti dia butuh sandaran untuk berbagi kesedihannya sekarang.
"lya nak,kita turut berdukacita atas meninggalnya ayah kamu ya,jangan sampai kamu merasa sendiri,ada kami yang sayang dan menganggap kamu sudah seperti anak kami sendiri,iya kan pah ." ucap mamanya Rana.
"Benar Han, ayah kamu sudah saya anggap sebagai saudara.Kamu perlu apapun atau hanya sekedar cerita berbagi kesenangan dan kesedihan ,kami siap ada bersamamu." ungkap papa Rana.
"Bestie.."ucap Rana memeluk sahabatnya itu.
"Thanks Ra.." ucap Hanna membalas pelukan Rana.
...----------------...
Pemakaman Hilman sudah selesai .Kini Hanna dan Liana serta sanak saudaranya menemani mereka di rumah duka.
"Ra,kamu istirahat deh,pasti kamu capek kan.." ucap Hanna pada Rana yang masuk ke dalam kamar Hanna.
__ADS_1
"Kamu juga lelah pasti Han,apalagi beberapa hari kamu nggak bisa tidur kan..?"
"Rasanya kayak mimpi Ra,ayah nggak ngeluh sakit dan sebagainya.Ayah juga nggak ngomong apa-apa sama aku sampai ayah nggak ada lagi.Sakit Ra,rasanya aku gagal jaga ayah..dua kali aku melakukan kesalahan besar pada ayah...hiks hiks.."
Pecah sudah pertahanan Hanna yang sedari tadi dia tahan dan kini sudah tidak bisa lagi dia bendung lagi.
"Dua kali,Han..apa yang terjadi sebenarnya? apa ada yang aku nggak tahu?"cecar Rana pada Hanna.
Drrrttt Drrrrrttt
📞Albi Calling..
"Albi,siapa dia Han?" tanya Rana saat melihat layar ponsel Hanna menyala.
"Kenapa kamu nggak angkat,ada apa dengan kamu Han?" tanya Rana lagi melihat sahabatnya itu masih diam tanpa menjawab pertanyaan yang dia lontarkan.
Dengan cepat Rana mengangkat panggilan dari Albi saat ponsel Hanna kembali berdering.
"Hallo,ada apa kamu telpon saya dari kemarin,saya sudah bilang..saya akan bertanggung jawab atas diri kamu untuk materi kalau untuk yang lain saya tidak bisa Hanna,saya punya Rossa.Kamu nggak lupa kan,apa yang saya katakan sama kamu hari itu !"ucap Albi panjang lebar saat panggilannya sudah diangkat.
Albi mengira jika yang mengangkat panggilannya itu adalah Hanna namun,Albi tak tahu jika ucapannya di dengar oleh tiga pasang mata yang ada di dalam kamar itu.
"Hallo Han,Hanna kamu dengar saya ,Ha...
Tut..Tut..tutttt..
Panggilan di putuskan oleh sosok yang tak sengaja masuk ke dalam kamar Hanna yaitu Liana.
"Bibi." gumam Hanna
"Jadi ini alasan dia nggak pernah datang bahkan untuk datang ke sini untuk melihat mertuanya untuk terakhir kalinya ,biada* !!" pekik Liana merasa marah dalam hatinya mendapati bahwa Rumah Tangga keponakannya tidak baik-baik saja.
"Bibi sudahlah,nggak perlu di pikirkan.." ucap Hanna lirih.
"Jadi dia sudah punya istri dan kamu istrinya yang kedua, JAWAB HANNA!!"
Hanna masih terdiam mendengar bentakan Liana sementara Rana yang mendengar penuturan Liana tentunya terkejut dan tak percaya apa yang dia dengar saat ini.Dia harus mendapatkan jawaban atas apa yang sebenarnya terjadi pada sahabatnya itu.
__ADS_1
Bersambung