
"Oke,aku akan turunin kamu didepan sana.Tapi, setidaknya naik taxi online sampai kentor." ucap Albi.
"Ya ampun mas,cuma lima ratus meter doang kok.." ucap Hanna dengan geleng kepala mendengar perintah suaminya.
"Mau atau tidak,setidaknya aku nggak lihat kamu jalan kaki." ujar Albi
Tin tin.
Suara klakson mobil membuat kedua orang itu melihat arah samping mobil Albi dan pucuk di cinta ulam pun tiba.Mobil Rana ternyata ikut menepi di depan mobil Albi.
"Itu mobil Rana,aku ikut sama Rana." ujar Hanna.
Namun,belum juga Hanna berhasil buka pintu dia ingat sesuatu.Dia adahkan tangan di depan Albi.
Albi yang melihat istrinya seperti meminta sesuatu akhirnya paham dan merogoh kentong celananya dan mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan dan memberikannya pada Hanna.
Hanna yang melihat suaminya salah sangka akhirnya dia mengembalikan uang itu ke tangan Albi.
"Aku nggak ada uang cash lagi Hanna,nanti aku transfer saja.Ribet bawa uang cash banyak-banyak." ujar Albi.
"Siapa juga yang mau minta duit sama mas,uang dari mas juga masih banyak di ATM.Aku cuma minta tangan mas,begini..
Hanna menarik tangan suaminya dan menyalami tangan itu dan menciumnya dengan takzim.Sementara Albi melihat kelakuan istrinya hanya bisa melongo melihatnya dan tanpa sadar jantungnya tiba-tiba saja berdetak kencang.Ada rasa haru yang menyelip di hati Albi.
Baru kali ini dia merasakan seperti begitu di hargai.
"Sudah,aku keluar.Assalamu'alaikum." pamit Hanna lalu keluar dari mobil Albi.
Setelah beberapa saat kemudian mobil Rana yang sudah melesat lebih dulu sudah terlihat menjauh baru Albi kembali menghidupkan mesin mobilnya dan langsung melajukannya menuju kantornya.
"Lo lama banget sih, ditungguin keluar dari mobil laki Lo lama banget." omel Rana.
"Sorry,tadi ada sedikit kesalah pahaman." ujar Hanna.
Sampai di parkiran kantor mereka pun langsung keluar dan masuk ke dalam gedung tinggi itu.
Mereka melihat Albi juga baru sampai dan dengan cepat dia melangkah mendahului para karyawan yang sibuk menyapanya.Namun,tetap saja Albi memasang wajah dinginnya.
"Dasar laki lo ya Han,mukanya itu nggak ada ekspresi -ekspresi ramah dikit saja.Tetep aja dingin kayak gunung es." ujar Rana.
"Sudah setelan pabrik juga Rana,jadi susah kalau mau di modifikasi." jawab Hanna enteng.
__ADS_1
Hahaha..
Rana mendengar jawaban Hanna sontak tertawa.
"Gue yakin suatu saat dia akan bucin sama lo." ucap Rana dengan berbisik pada Hanna.
"Mimpi jangan ketinggian woii..!" seru Hanna melangkah ke meja kerjanya.
"Tapi gue yakin itu Hanna !" teriak Rana membuat orang-orang yang sudah datang di ruangan laus itu pun melihat ke arah Rana.
Rana yang mendapat respon seperti itu hanya cengar-cengir nggak jelas dan langsung menyusul Hanna.
...****************...
Makan siang tiba.Para karyawan pun berhamburan keluar untuk makan siang baik di kantin atau restaurant dekat-dekat kantor atau Mall yang memang lumayan dekat dengan kantor GA Group.
"Hanna,kamu makan siang bareng kita kan?" tanya Jana pada Hanna saat mereka akan bergerak istirahat.
"Iya,kenapa memangnya? apa aku nggak boleh ikut kalian?"tanya Hanna memandang satu persatu seniornya.
"Siapa yang larang, kita malah seneng.Karena hari ini kita mau makan di luar.Mebetulan ada yang mau traktir habis jadian." ujar Veni.
"Arief.." jawab mereka
Hahahaha..
"Wah,aku nggak ngumpul sehari udah ketinggalan berita nih.." ujar Hanna dengan senyuman lebar.
"Kamu sih terlalu sibuk sama saudara kamu.Makanya,mendingan kamu kalau ketemuan sama saudara kamu mending dia saja yang nyamperin ke tempat kita." ujar Dian.
"Sudahlah kita buruan keluar yang ada waktu kita habis cumahuat rumpi disini." ujar Jana.
Mereka pun akhirnya turun menggunakan lift karyawan.Di lobby kantor ada seorag gadis yang duduk anteng dan saat melihat rombongan Hanna dia pun langsung berdiri melemparkan senyuman manisnya.
"Maaf nunggu lama yang.." ucap Arief pada gadis yang Hanna kenal bernama Febby seorang resepsionis kantor GA Group.
"Jadi pacar kamu Febby Rief?" tanya Hanna memastikan.
"Ehh..mba Hanna,kita ketemu lagi." ucap Feby sedikit membungkukkan tubuhnya dan tersenyum malu mendengar pertanyaan Hanna.
"Jangan di bikin malu dong Feby nya Han," protes Arief.
__ADS_1
"Kan aku cuma mastiin saja.Kalau gitu selamat official yaa.." ucap Hanna dengan kekehannya.
Mereka pun mengunjungi salah satu Mall dekat dengan kantor dan masuk ke dalam restorant yang berkonsep Korea.
Mereka menikmati makanan yang tersaji di depan mereka namun,saat mereka asyik menikmati makanan mereka tiba-tiba Jana nyeletuk membuat Hanna tersedak.
"Ehhhh... ternyata bos makan disini juga.." ucap Jana menunjuk ke arah dimana Albi dan Firman serta ada dua orang lain keluar dari ruangan private direstaurant itu.
Uhuk uhuk uhuk
Hanna yang sedang santai minum di buat terkejut dan alhasil tersedak .Rana dengan cepat membantu Hanna menetralkan batuknya.
"Aduh Hanna kamu nggak papa kan,maaf buat kamu kaget yaa .. sorry." ucap Jana merasa bersalah pada Hanna.
"Kenapa dia ?" tanya seseorang yang membuat mereka sedikit cemas melihat sosok yang terlihat tajam memandang wajah orang-orang yang ada di meja Hanna.
Orang yang sedang bertanya itu Firman namun,pandangan mereka tertuju pada Albi yang melihat karyawannya dengan mata tajamnya.
"Eehh..ini tadi Hanna kurang hati-hati waktu minum pak." ucap Rana memberikan alasan.
"Minum ini.Pelan-pelan.." ucap Albi menyodorkan sebuah botol air mineral pada Hanna.
Tanpa pikir panjang dia pun mengambil botol tersebut langsung menenggak minuman itu.
Tanpa berkata apapun Albi melangkah keluar dari restaurant tersebut dan di ikuti oleh Firman.
"Mimpi apa lo Hannaaaa..!!" pekik Veni dengan hebohnya.
"Apaan sih Ven,lo kerasukan setan dimana sampe kayak gitu kelakuan kamu " ujar Jana yang melihat kelakuan Veni yang bikin kaget teman-temannya.
"Gue nggak kesurupan kali, gue nggak nyangka aja bos ngasih minum buat Hanna,aaaa..baru kali ini sejarahnya si bos perhatian sama bawahannya,no debat !" ungkap Veni yang masih heboh sendiri.
"Hehh..kura,Lo ini apa-apaan sih..bos punya bini kali,jangan sampai karena mulut lo yang lemes itu buat isu skandal bos dan bawahan yaa.." ujar Diana melihat kesal dengan mulut lemes Veni yang terkadang tidak bisa ke kontrol.
"Tahu nggak sih, gue malah suka kalau bos cerai sama bini yang egois itu.Bisa jadi duren,siaplah aku daftar.. hehehehe.." ucap Veni tambah ngawur.
"Mimpi aja lo, walaupun si bos cerai pasti sudah ada cewek lain yang lebih baik dari istrinya itu.Bahkan aku rasa dia nggak akan menolak pesona perempuan itu." ucap Rana dengan melirik Hanna yang sudah mulai tenang.
Mendengar ucapan Rana sontak membuat mereka tertawa karena mereka menganggap mimpi Veni yang terdengar mustahal bin mustahil.
Bersambung
__ADS_1