Wanita Ke 2

Wanita Ke 2
Liburan part 2


__ADS_3

"Makan yang banyak, pokoknya kamu mau apa saja..bilang sama mama." ucap Mutia dengan semangat memberikan makanan yang membuat Hanna terperangah.


"Mama,maaf..Hanna nggak akan habis kalau makan sebanyak ini.Hanna kalau makan cuma secukupnya." ucap Hanna dengan wajah yang terlihat sungkan.


"Astaghfirullahal'adzim mama,semangat sih semangat tapi, nggak gitu juga kali ngasih makan Hanna. Masa kayak kasih makan pak Boim tukang kebon kita." protes tuan Emir melihat kelakuan sang istri yang benar-benar di luar Nurul .


"He-he-he..maaf pah, Hanna ,mama saking senengnya makan sama kamu. Terus kamu mau gimana ini ,sudaj terlanjur mama taruh piring gini." ucap Mutia dengan menggaruk kepalanya yang terasa tidak gatal itu.


Hanna tersenyum kikuk pada kedua orangtua Albi yang tak lain adalah mertuanya sendiri.


"Nggak papa mah,aku bisa makan berdua sama Rana, ya kan Ran?" tanya Hanna menanyakan kebenaran nya pada Rana.


"l_iya nyonya, biar kami akan makan sepiring berdua. Biar romantis walaupun kita jomblo kita bisa khayalin anggap saja kita lagi makan sama ayang.. he-he-he.." ucap Rana dengan konyolnya.


Hahahaha...


"Sebegitu mengenaskannya kalian ini jadi jomblo. Sampai cuma bisa khayalin. Coba si Albi belum punya istri mama akan jodohkan sama salah satu dari kalian." ucap Mutia membuat Hanna yang sedang mengunyah makanan nya terbatuk-batuk.


Uhuk uhuk uhuk...


Melihat Hanna yang tersedak ,


buru - buru Mutia menyodorkan air putih padanya semenjak Rana menepuk nepuk punggung Hanna.


"Mama ini ngomong sembarangan. Lihat tuh Hanna jadi kaget denger omongan kamu yang ngelantur." ucap tuan Emir.


"Yahh..mama kan cuma bercanda." ucap Mutia dengan wajah penuh rasa bersalah nya.


Melihat raut muka Mutia yang terlihat sedih membuat Hanna memegang tangan Mutia.


"Mama nggak salah kok, Hanna cuma terkejut sama lelucon mama tadi. Tapi, mama juga harus hati-hati kalau ngomong soal ini. Takutnya ada orang yang dengar,terus mba Rossa tahu, nanti yang ada mba Rossa sakit hati. Akibatnya akan berimbas sama mama juga. Mama tahu betapa cintanya mas Al sama mba Rossa." ucap Hanna dengan wajah sendu.


Melihat pembicaraan mereka makin kesini makin kesana akhirnya tuan Emir mengisyaratkan untuk cukup sampai di sana pembahasan soal Albi dan Rossa.


Setelah makan siang mereka pun melanjutkan perjalanan mereka di destinasi wisata lainnya.


Tiga hari dua malam mereka akan di Lombok. Para karyawan tentu nya merasa happy dengan reward yang di berikan oleh perusahaan untuk mereka.

__ADS_1


"Hanna,kamu yakin nggak mau ikut kita ke club' malam ini? mumpung kita lagi liburan manfaatkan dong Han.." ucap Jana pada Hanna


"Ternyata ajakannya,kalian saja.Aku lelah, mau istirahat." ucap Hanna.


"Lo yakin Han?" tanya Rana memastikan.


"Benar Ran," jawab singkat Hanna.


Jawaban Hanna mereka anggap finish. Akhirnya mereka pun pamit untuk berangkat ke club' yang akan mereka datangi.


"Have fun buat kalian !!" seru Hanna dengan menyunggingkan senyumnya.


Setelah melihat kepergian para teman-teman nya, dia pun langsung menatap sekeliling resort yang terlihat damai.


Hanna pun akhirnya memilih untuk berjalan-jalan sebentar untuk membuat otaknya sedikit fresh. Entah perasaan apa yang saat ini Hanna rasakan. Namun,dia saat ini hanya berpusat pada satu nama yaitu Albi.


Sedari pagi merasakan jika dia tidak bisa berpikir jernih dan selalu mengingat suaminya yang ada jauh dari jangkauannya.


"Kenapa kamu nggak menghubungi ku mas, aku terlalu banyak berharap kamu mengingatku.Pasti kamu sudah bertemu dengan istri tercinta mu kan?" gumam Hanna dengan memandang laut yang terlihat dari atas resort.


Angin malam kian menusuk kulit bahkan merasakan tulang-tulang nya pun ikut ngilu. Akhirnya Hanna memukul untuk kembali ke kamarnya .


Hanna membuka pintu resort yang memang terbilang ada di bagian ujung dan itu dikhususkan untuk Hanna. Awalnya Hanna menolak namun Mutia dan Emir tak mau di bantah. Sementara Rana bergabung dengan Jana. Team Hanna yang juga heran dengan perlakuan spesial bos besar pada Hanna akhirnya Hanna mengarang cerita jika dirinya masih kerabat dari Firman jadi Mutia dan Emir melakukan hal itu. Lagi-lagi Firman yang jadi bantalan tapi, walupun Firman tahu bahwa Hanna memanfaatkan dirinya, pastinya dia tak masalah.Karena memang Firman sudah menganggap Hanna pun sebagai adiknya.


Hanna membuka pintu dan betapa terkejutnya dia mendapatkan seseorang yang bediri tepat di hadapan Hanna dengan wajah terlihat sendu dan ada sedikit luka di sudut bibirnya.


"Mas Al," gumam Hanna dan dia mengucek matanya yang dia anggap hanya mengkhayal.


"Kok nggak ilang-ilang sih,astaga Hanna kamu sudah gil* karena mikirin mas Albi jadi mengkhayal begini." gerutu Hanna.


Sosok itu pun menggerakkan kedua tangannya dan menyentuh wajah Hanna.


"Kenapa di kucek gitu matanya,pasti perih nanti." ucapnya dengan menatap lekat wajah Hanna.


"Ma_mas Al ,ini kamu...kok bisa.Bukannya kamu ke Amerika? terus ini kenapa kamu disini? mana mba Rossa?bang Fir'aun juga mana?" sederet pertanyaan Hanna membuat Albi tersenyum dan menutup bibir Hanna dengan telapak tangannya.


"Ssssstttt..disini hanya ada kita." ucap Albi.

__ADS_1


Hanna menurunkan tangan Albi dan matanya membulat saat melihat telapak tangan Albi yang terdapat perban.


"Ya Allah mas, ini kenapa ?" tanya Hanna menatap Albi.


"lnsiden kecil." jawab singkat Albi.


"lnsiden kecil?"tanya Hanna membeo.


Albi mengangguk mengiyakan.


"Stres kamu,kayak gini di bilang insiden kecil...ayo sini, aku ganti perbannya." ucap Hanna dan menggandeng tangan Albi dan duduk di sofa.


"Tunggu sebentar." ucap Hanna beranjak dari tempat duduknya.


Albi mencegah Hanna dengan memegang tangan Hanna.


"Kamu mau kemana?" tanya Albi yang terlihat Hanna yang akan pergi.


"Aku mau ambil p3k saja.Tunggu sebentar.Kamu harus ganti perban." ucap Hanna.


"Aku nggak papa," ucap Albi.


"Nggak usah keras kepala.Menurutlah !!" ucap Hanna dengan nada tegas.


" Kamu memarahi ku?!"tanya Albi dengan mata melotot mendengar istri keduanya itu berbicara dengan sedikit keras.


"Untuk kali ini menurutlah!" ucap Hanna tak peduli lagi dengan ekspresi wajah suaminya itu.


Hanna pun akhirnya mengambil kotak obat yang memang sudah di sediakan di setiap kamar.


Hanna membersihkan luka yang ada di telapak tangan Albi dengan telaten dan mengibatinya dengan perlahan.Mengganti perban dengan wajah yang terlihat lucu menurut Albi.


"Alhamdulillah,sudah." ucap Hanna untuk beberapa saat lalu mengganti perban Albi.


"Terimakasih." ucap Albi dan di angguki Hanna.


Namun,siapa sangka tiba-tiba Albi memeluk tubuh Hanna.

__ADS_1


Hanna pun mematung dengan apa yang di lakukan Albi itu.


Bersambung


__ADS_2