Wanita Ke 2

Wanita Ke 2
Kedatangan Rossa.


__ADS_3

Semua yang di katakan oleh dokter Obgyn pada Rossa dan Albi membawa dampak untuk Rossa.


Dia terlihat banyak diam dan bahkan sering melamun.


Terhitung satu minggu sudah Rossa hanya bekerja dari rumah.


"Ros,kamu kenapa? Aku perhatikan sejak pulang dari Rumah Sakit kamu lebih banyak diam dan sering melamun?"


"Al, apa ini semua salah satu balasan buat aku.Rasanya aku nggak berguna Al...hiks hiks..."


Luruh sudah air mata yang sudah tak bisa dia tahan lagi.


Dari kemarin pun dia sudah menangisi nasibnya namun Albi selalu mengatakan semua akan baik-baik saja.


"Ssttttt...Ros, semua yang terjadi pada kita sudah Allah gariskan.Allah menciptakan kesusahan pasti ada kemudahan.Seperti saat ini, semua butuh waktu dan proses.Selama kita ikhtiar dengan ikhlas dan juga sabar, jangan lupa di sertai doa Insyaallah Allah akan mengabulkan apa yang kita harapkan." ujar Albi dengan memeluk tubuh istrinya.


Rossa mengangguk mengiyakan ucapan suaminya.


...----------------...


Lima bulan berlalu semenjak Rossa dan haruskan terapi dan menjaga pola makan dan pola hidup sehat Albi lebih banyak menghabiskan waktunya untuk Rossa.Sering kali dia merasa bersalah pada Hanna yang masih harus bersabar untuk menyisihkan waktu Albi untuk dirinya.


Selama lima bulan terakhir ini orang tua Albi lah yang sering berkunjung ke apartemen Hanna.


Apalagi Mutia sangat memanjakan menantu keduanya itu.


Albi pun kalau datang tak pernah menginap hanya sekedar makan siang saja atau sarapan kadang-kadang.


"Assalamualaikum.." ucap Albi saat pintu apartemen milik Hanna terbuka.


"Wa'alaikumsalam mas,masuk.." ucap Hanna memberikan jalan pada suaminya untuk masuk.


Albi langsung memeluk tubuh yang kini sudah terlihat berisi dan juga perutnya sudah membesar.


"Apa kabar sayangnya papa.." ucap Albi do depan perut besar Hanna dan mengusapnya dengan lembut serta menciuminya.

__ADS_1


"Masss ..,anakmu ini setiap kamu datang Masyaallah seneng banget kayaknya." ucap Hanna yang kini sudah duduk di sofa.


"Kangen sama papa ya nak, maafin papa ya ...dari kemarin mama Ros sakit jadi nggak bisa kesini nengokin kamu sama bunda." ucap Albi memberikan alasan pada anak yang masih ada dalam kandungan Hanna.


"Terus gimana keadaan mba Rossa mas, terapinya gimana?" tanya Hanna yang terlihat sedih mendengar kabar yang tak enak tentang kakak madunya itu.


Albi menggeleng lemah, lalu dia mencium kening Hanna dan mencium perut besar Hanna.


"Kemungkinan dia terlalu stress dan dia jadi drop.Tapi, kamu jangan khawatir..bibi selama ini memantau pola makannya." ujar Albi.


"Maaf yah, aku nggak bisa bertemu dengan mba Rossa dulu,kata mama lebih baik nanti-nanti saja setelah selesai dia terapi. Apalagi perut aku yang semakin lama semakin besar sangat buat aku kewalahan dan gampang capek mas." ucap Hanna.


"Tidak perlu di pikirkan.Aku sudah pernah bilang,kalau urusan Rumah Tangga ku dengan Rossa itu biar jadi urusan ku dan aku juga bilang pada Rossa kalau urusan Rumah Tangga ku dengan mu pun itu urusan ku dengan kamu.Sejauh ini Rossa paham hal itu." ucap Albi.


"Sebenarnya aku ingin semua baik-baik saja tapi, itu terlalu berat buat mba Rossa apalagi dengan keadaan aku saat ini pasti doa merasa sedih mas. Aku ingin bilang kalau anak ini juga anaknya.Dia juga bisa membesarkannya seperti anaknya juga.Tapi, kamu tahu sendiri semuanya itu terlalu sensitif untuk di bicarakan." ujar Hanna.


Albi mengangguk mengiyakan penuturan sang istri .Memang semuanya butuh proses yang panjang.Hidup di madu dan menjadi madu pun menjalani kehidupan berdampingan itu lumayan sulit.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Biar bibi saja yang buka ,kamu duduk saja." ucap Liana pada Hanna.


Hanna pun menurut ucapan Liana.Pintu apartemen terbuka dan terlihat seorang perempuan yang tak lain adalah Rossa.


"Boleh saya masuk?" tanya Rossa pada Liana yang masih bengong karena terkejut dengan kedatangan Rossa yang tak terduga.


"Saya hanya ingin bertemu dengan adik madu saya,tenang saja...saya nggak akan mencari keributan disini." ucap Rossa meyakinkan.


"Si_silahkan masuk,Hanna ada di balkon.." ucap Liana mempersilahkan tamunya untuk masuk.


Rossa masuk ke dalam apartemen.Dia meneliti setiap sudut ruangan yang ada di dalan apartemen milik Hanna.Apartemen yang tergolong mewah dan terlihat beberapa foto terpajang di dinding .


Terlihat foto Albi yang saat itu menikah dengan Hanna dengan pakaian seadaanya.Lalu ada foto Albi yang nampak tersenyum pada Hanna. Ada juga foto yang menampakkan Albi dan Hanna tertawa lepas di sebuah pantai dan ada foto dimana Albi memeluk tubuh Hanna yang sedang hamil dari beberapa foto yang menampakkan perbedaan besarnya perut Hanna yang sedang mengandung.


Difoto itu terlihat wajah bahagia keduanya dengan adanya calon anak mereka berdua di perut Hanna.Ada rasa iri di hati Rossa dan ada juga rasa sakit saat melihat Albi yang dulu sangat mencintainya namun, dia dengan sombongnya memperlakukan Albi dengan cara egois dan akhirnya bertemu dengan Hanna sebagai gadis yang begitu menghormati dan perhatian pada Albi.

__ADS_1


Walaupun raga Albi bersamanya dengan waktu yang lebih sering dan malam pun selalu bersamanya namun, Rossa tahu Albi tak pernah Absen untuk melakukan penggilan telpon bersama dengan madunya itu.


Saat Rossa tertidur Albi selalu mengecek keadaan madunya itu dan Rossa dapat mendengar percakapan antara keduanya.Terdengat sederhana namun bermakna.Dari Hanna yang mengingatkan makan ,menanyakan jadwal dan tidak lupa mengingatkan soal Rossa yang begitu membutuhkan dukungan dari suaminya itu.


Rossa dengan cepat air mata yang hampir saja menetes dan dia pun menarik nafas dalam dan melangkah ke arah balkon.


Terlihat Hanna yang sedang membaca buku dengan menikmati udara sore kota Jakarta di balkon apartemen nya.


"Ha_Hanna." panggil Rossa terbata.


Rasanya bibir Rossa Kelu menyebut nama adik madunya itu.


Hanna yang sedang fokus membaca pun mendengar namanya di panggil langsung menoleh dan ekspresi terkejut nya pun tak bisa dia sembunyikan.


"Mba Ro_Rossa..mba kesini?" tanya Hanna dengan senyum canggung nya.


"Iya, tak masalahkan? Aku cuma ingin melihat keadaan kamu." ujar Rossa yang membuat Hanna melongo di buatnya..


"Han...Hanna,are you okey?" tanya Rossa dengan lembut.


"Ah..i_iya mba, maaf..duduk mba.." ucap Hanna dengan sedikit gugup menghadapi kakak madunya itu.


Rossa pun duduk di seberang bangku yang di duduki Hanna.


"Sudah berapa bulan Han?" tanya Rossa.


"Sudah hampir delapan bulan mba, lagi begah-begahnya.Tidurnya pun nggak bisa tenang." ucap Hanna.


"Apa dia nggak mau tidur di dampingi papanya?" pertanyaan itu sukses membuat Hanna terpaku namun, dengan cepat dia merubah ekspresi wajahnya.


Dia menggeleng cepat dan Rossa pun hanya tersenyum menanggapi jawaban Hanna.


Padahal Rossa tahu jika setiap malam Hanna akan merengek pada Albi untuk menemani dirinya sampai tidur dengan bersholawat dan sampai Hanna tertidur. Walaupun hanya melalui ponselnya Hanna begitu pengertiannya terhadap dirinya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2