
Pertanyaan Firman sontak membuat Albi terdiam sejenak.
"Itu urusan nanti.Saat ini yang jelas pernikahan aku dengan Hanna sah di mata hukum.
"Kenapa lo tiba-tiba mau melakukan apa yang Hanna mau?" tanya Firman.
"Gue pikir cuma dengan cara ini gue bisa tepati janji gue sama ayah Hilman.Di akhir hidupnya gue sebagai menantu satu-satunya, laki-laki satu-satunya yang harusnya diandalkan nyatanya gue nggak ada saat seharusnya menjadi penguat dan juga penanggung jawab keluarga Hanna."ungkap Albi dengan segala alasannya.
Firman mendengar penuturan Albi mengulas senyum tipis.
"Kenapa lo senyum-senyum gitu,nggak percaya apa yang gue bilang?" tanya Albi kesal dengan respon sahabatnya.
"Lo ini sensitif saja.Gue nggak ada maksud buat ngetawain lo,tapi..gue suka sama tindakan lo kali ini.Buat persyaratan tentang bagaimana caranya lo dapetin surat ijin menikah lagi dari Rossa biar itu urusan gue." ucap Firman meyakinkan sang sahabat.
Albi menjatuhkan tubuhnya di atas sofa dan menyandarkan punggungnya serta menengadahkan kepalanya keatas menarik nafas dalam-dalam.Rasanya tak pernah ada niatan terlintas di kepala Albi untuk menduakan Rossa.
Namun,nasi sudah menjadi bubur.Dia saat ini hanya bisa menjalani apa yang sudah dia mulai.
"Enatah bagaimana nanti kalau Rossa pulang,gue belum tahu gimana caranya ngasih tahu dia kalau gue sudah menikah lagi." ucap Albi dengan memijit pangkal hidungnya.
Rasanya memikirkan hubungan rumit antara dirinya dan juga Rossa serta Hanna membuat kepalanya pening.
"Hanna sekarang dimana?" tanya Firman karena memang dia belum melihat Hanna yang katanya ada di rumah itu juga.
"Ada di dalam kamar.Dia sedang istirahat.Kenapa,lo nggak ada niat buat nikung sahabat lo sendiri kan?" tanya Albi dengan penuh selidik.
"Hahaha..gil* kali gue mau rebut Hanna dari lo,malah gue berdoa supaya lo sama Hanna bisa saling cinta dan pastinya gue yakin kalau Hanna akan selalu menghormati lo sebagai suaminya." ujar Firman
__ADS_1
"Maksud lo Rossa nggak cukup menghormati gue gitu?"
"Yahh..itu no comment,hanya Lo yang bisa menilai.Tapi, jangan sekali-kali lo dengan gamblang membandingkan Hanna dengan Rossa.Lo nggak bisa,karena kekurangan dan kelebihan setiap orang beda-beda." ujar Firman.
Firman takut jika suatu saat Albi membandingkan Hanna dengan Rossa yang pastinya dalam segi penampilan lebih modis sementara Hanna dengan tatanan sederhana.Hanna jago masak sedangkan Rossa tak pernah bisa masak.
...----------------...
Malam berlalu dengan cepat.Kumandang adzan subuh pun sudah terdengar.Hanna dengan perlahan membuka matanya dan melihat sekeliling kamar yang dia tempati.
Dia duduk dengan perlahan dan saat akan turun dari tempat tidur dia tak sengaja melihat Albi yang tidur di atas sofa kamar itu.
"Dia tidur dengan nyenyak."gumam Hanna lalu dia pun ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan setelah itu dia biasa setelah sholat subuh langsung ke arah dapur.
Hanna mencari bahan makanan untuk membuat sarapan.Ternyata hanya ada roti dan telor ayam dua butir.Dia pun langsung mengeksekusinya.
Tak butuh waktu lama dia pun sudah menyusun sarapan dengan menu roti bakar dengan telor mata sapi.
"Pagi ma_mas.." ucap Hanna dengan wajah kikuk.
"Pagi, duduklah.Kita sarapan sama-sama.Kamu buat apa ?" tanya Albi dengan mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan.
"Ah aku cuma buat roti bakar sama telor mata sapi.Soalnya nggak ada bahan lain di dapur." ucap Hanna menuangkan teh hangat ke dalam cangkir di depan Albi.
"Terimakasih,maaf disini memang jarang sekali aku tempati.Kalau ingin menepi baru aku kesini.Tapi, nanti setelah pulang kerja kita bisa belanja untuk kebutuhan rumah ini." ujar Albi dengan menyantap sarapan sederhana yang di siapkan Hanna.
Nikmat,kata pertama yang terbersit dalam benak Albi.Walaupun begitu sederhana namun,Hanna bisa membuat menu sederhana itu jadi spesial.
__ADS_1
"Emm..mas,maaf aku nggak bisa tinggal disini." ucap Hanna ragu.
"Kenapa,ini rumah kamu.Rumah kita,apa kamu kurang suka dengan rumah ini atau kurang besar.Mas nanti suruh Firman untuk memberikan daftar beberapa hinian yang cocok dengan selera kamu." ucap Albi dengan ekspresi wajah yang terlihat serius.
"Bu_bukan perkara rumah,tapi..hubungan kita mas.Aku nggak mau kalau kita tinggal bersama maksudnya aku nggak mau menyakiti istri kamu mas,aku rasanya tidak punya perasaan kalau sampai kita tinggal bersama." ucap Hanna.
"Maksudnya kamu Rossa? dia nggak bisa tinggal disini.Dia tinggal di rumah utama.Karena orang tua ku tidak pernah mengijinkan kalau kami tinggal terpisah.Karena mama tahu tabiat Rossa yang pastinya tidak bisa memasak seperti kamu."ungkap Albi.
"Mas,bisa nggak kalau jangan pernah bandingkan kami.Aku punya porsi yang lain di dalam hidup kamu.Kita juga tahu kalau pernikahan kita hanya sebatas tanggung jawab.Sedangkan pernikahan kamu dan Rossa jelas-jelas di dasari oleh cinta." ungkap Hanna panjang lebar.
"Pernikahan kita sah secara agama dan sebentar lagi kita juga sah di mata hukum negara.Jadi,jangan bahas perpisahan lagi.Aku ingin kita mulai dari awal dan aku akan bertanggung jawab atas dirimu sesuai dengan janji ku pada ayah."ungkap Albi seraya menggenggam tangan Hanna.
Hanna yang tak menyangka jika Albi akan mengenggam tangannya pun sontak sedikit terkejut.Mengingat sang ayah rasanya begitu nyeri hatinya jika ada kesempatan dia ingin meminta maaf untuk semua kesalahannya.
"Sudahlah jangan terlalu banyak mikirin hal yang belum tentu terjadi.Sekarang kamu habiskan sarapan kamu dan kita berangkat ke kantor sama-sama." ucap Albi
"Ah..mas,sebaiknya aku pulang dulu.Aku nggak bawa ganti juga."ucap Hanna.
"Soal ganti,kamu tenang saja.. Firman sudah menyiapkan segala keperluan kamu di kantor."terang Albi.
Akhirnya Hanna dengan terpaksa harus mengikuti ucapan suaminya.Dia berangkat ke kantor satu mobil dengan Albi.
"Mas, stop..stop.. stop !!" pekik Hanna mendadak membuat Albi mengerem mobilnya dengan mendadak.
"Astaghfirullah..kamu nggak papa kan?" tanya Albi sesaat setelah mengerem mobilnya dengan mendadak dan membawa tubuh Hanna sedikit terbawa kedepan dan untung pakai seatbelt jadi kepalanya nggak kena dasboard mobil.
"I-iya aku nggak papa mas,maaf jika aku ngagetin kamu.Lebih baik aku turun disini,sudah dekat kantor juga.Aku nggak mau orang-orang kantor heboh kalau kita bisa berangkat sama-sama.Nanti yang ada berita itu kedengaran pak komisaris." ungkap Hanna membuat alasan.
__ADS_1
Albi baru ingat jika di kantot masih ada sang papa yang sewaktu-waktu datang ke kantor tanpa pemberitahuan.Jadi,dengan terpaksa Albi menyetujui ucapan Hanna.
Bersambung