
"Hanna..sa_sayang.." ucap Albi gemetar
"Ma_s to_long aku.."
"Fi_Firman..tolong...tolong Hanna !!" teriak Albi dengan membopong tubuh Hanna sedikit berlari keluar rumah.
Firman dan Liana yang ada di teras rumah tentu saja terkejut dengan apa yang terjadi. Liana melihat darah pun menutup mulutnya.
"Hanna...ayok buruan,Hanna pendarahan !!" ucap Liana membuat Albi dan Firman terkejut.
Dengan secepat kilat Firman dan Albi membawa tubuh Hanna ke dalam mobil.Firman dan Liana ada di bagian depan dan Hanna di temani Albi di bagian belakang.
"Cepat Fir'aun !!" teriak Albi mengatai sahabatnya.
"Sayang maafin aku, maaf...jangan menghukum ku begini sayang..hiks hiks.."
"Sakit mas...selamatkan anakku..hiks hiks.." ucap Hanna membuat Albi makin syok mendengar kenyataan jika istrinya sedang berbadan dua.
"Sayang...maaf..." lagi-lagi Albi meminta maaf pada Hanna dengan semua kejadian yang terjadi selama ini.
Tak perlu waktu lama mereka sampai di Rumah Sakit Umun .
Albi langsung membopong tubuh lemah Hanna dan atas petunjuk petugas Hanna di bawa ke UGD.
Liana sudah menangis karena mengingat keponakannya yang tadi sempat dia lihat darah yang keluar dari dirinya sungguh membuat dirinya khawatir dengan keadaan Hanna.
Sedangkan Albi masih mondar mandir menunggu kabar tentang istrinya.
"Sekarang kamu puas setelah lebih menyakiti hati keponakan ku demi keegoisan kamu, orang serakah macam kamu nggak pantas buat Hanna !!" ucap Liana dengan wajah penuh air mata dan rasa kecewa pada suami keponakan nya itu.
"Tenang Li,kita tunggu kabar dari dokter..semoga Hanna dan calon bayinya tidak apa-apa." ucap Firman
"Tenang kamu bilang, kamu bilangin sahabat kamu yang jahat itu...lepaskan Hanna. Keponakan ku berhak bahagia. Kalau dia ingin mempertahankan Hanna ceraikan Istri pertamanya itu !!"
Sungguh hati Liana sudah sangat panas dan kemarahannya sudah di garis finish. Hanna baru saja merasa senang dengan kehamilan nya. Dia merasa senang walaupun tak bisa memiliki hati ayah si bayi tapi, dia sudah punya titipan yang begitu dia dambakan.
"Liana, tenang !!" bentak Firman dengan mengguncang bahu Liana.
Liana pun terduduk lemas kala mengingat kejadian tadi.Kenapa dia begitu bod*h meninggalkan Hanna hanya berdua dengan Albi.
"Lia..?" panggil seseorang.
Liana mendongakkan kepalanya dan melihat sepupu dari ibu Hanna.
"Uni, Hanna uni...hiks hiks.." ucap Liana dengan menangis dalam pelukan sepupunya.
"Berdoalah semoga Hanna dan janinnya nggak kenapa-napa." ucap Ratih memeluk Liana.
__ADS_1
"Apa yang terjadi Liana?" tanya seorang dengan suara bariton membuat Albi dan Firman mengernyitkan dahinya.
"Entahlah Uda, Lia nggak tahu apa yang terjadi di dalam rumah tadi.Tapi, Lia lihat Hanna mengeluarkan darah." ucap Liana menjawab pertanyaan laki-laki yang di panggil Uda tadi.
"Siapa mereka?" tanya laki-laki bernama Ikhram menunjuk dua pria asing baginya.
"Saya Firman bang, abang angkat Hanna dan dia...
"Saya Albi,suami Hanna.." ucap Albi mengulurkan tangannya namun,bukan sambutan tangan yang Albi dapat malah bogeman pada rahangnya yang lumayan keras membuat Albi tersungkur.
Bugh..
Bugh..
"Bang ,stop bang ..ini Rumah Sakit. Jangan sampai kita di usir dari sini.Kita lihat keadaan Hanna nanti." ucap Firman mencegah Ikhram yang akan menghajar Albi lagi.
"Laki-laki baji*gan kenapa kau kemari,hah !!"bentak Ikhram dengan mata yang terlihat melotot marah.
"Kalau terjadi apa-apa sama ponakan aku, kau akan menerima akibatnya !!" ancam Ikram
"Itu belum seberapa dibandingkan apa yang kau berikan kesakitan pada Hanna selama ini.Kalau kau tak sanggup kawin dua lebih baik lepaskan Hanna biarkan dia bahagia !!" ucap Ikram lagi.
Ceklek..
Pintu ruang UGD terbuka dan menampakkan seorang dokter.
"Bagaimana keadaan istri saya dokter?" tanya Albi tak peduli dengan rasa sakit di wajahnya.
"Al...!!" seru Firman.
Akhirnya Albi pun di tangani di UGD.Albi memang tak bisa istirahat selama kehilangan Hanna. Tidur pun tak nyenyak dan dia pun makan tak pernah teratur.Tubuhnya akhirnya tumbang juga.
"Apa kandungan Hanna tidak bisa di selamatkan dok?" tanya Liana.
"Kandungan Alhamdulillah bisa di selamatkan,beruntung pasien cepat ditangani. Namun, keadaan pasien masih sangat lemah. Pasien harus bet rest dengan waktu yang lama." ucap sang dokter.
"Lalu kandungan nya sehat kan dok?" tanya Ratih.
"Kandungan pasien masih sangat lemah dan dari itu kami sarankan untuk tidak membuat pasien stress dan juga tertekan.Jangan sampai terjadi pendarahan serupa karena itu bisa membuat kandungannya tidak bisa di selamatkan lagi."ungkap sang dokter.
"Apa kami sudah bisa melihat keponakan kami dok?"
"Bisa pak, tapi..setelah pasien di pindahkan ke ruang rawat."ucap si dokter.
"Baik dok, kami akan mengurusnya.Terimakasih dok.." ucap Ikram lagi.
"Sama-sama pak,semuanya sudah seharusnya saya lakukan.Saya permisi." pamit sang dokter meninggalkan keluarga Hanna.
__ADS_1
Semua nampak sedikit berlega hati karena siapa sangka jika kandungan Hanna berhasil di selamatkan.Sekarang mereka hanya akan membuat perhitungan pada Albi.
...----------------...
Sementara Albi yang tadi sempat pingsan pun sudah tersadar.
"Emmhhsstt..mata Albi mulai terbuka perlahan. Dia pun memindai yang terlihat oleh matanya.Awal mula hanya plafon berwarna putih yang terlihat akhirnya dia menjelajahi sudut-sudut ruangan yang ternyata terpisah dengan tirai.
Dia mengangkat tangannya yang terasa kebas.Ternyata jarum infus tertancap di tangan Albi.
"Akhirnya lo sadar juga Al.." ucap Firman yang nongol di balik tirai dengan membawa kantong plastik.
Albi berusaha duduk dan ingin turun dari brankar.
"Heh..lo mau kemana ,Lo nggak bisa kemana-mana dulu.Habisin dulu cairan infus lo dulu baru kita temui Hanna." ucap Firman.
"Hiks hiks hiks ..anak gue Fir, kenapa gue jahat gini Fir..anak gue..
"Anak lo nggak papa,tapi..Hanna harus bet rest dan juga dia nggak boleh stress dan semacamnya yang menimbulkan perasaan nggak nyaman buat Hanna apalagi tadi dia seperti nya sangat tertekan dan stres. Kalau bisa,buat keselamatan Hanna dan juga calon anak lo, seharusnya lo ngalah dulu..biarkan Hanna menjalani kehamilannya dengan hati tenang tanpa tekanan." ucap Firman membuat Albi terpaku dengan apa yang di katakan sahabat nya itu.
Firman mendengar semua penjelasan dari dokter saat menjelaskan ke Liana dan yang lain tentang kondisi Hanna sebenarnya.
"Apa bener yang lo bilang tadi Fir,calon anak gue selamat..gue calon ayah Fir.. Alhamdulillah ya Allah..Engkau masih mengijinkan aku memperbaiki semuanya walaupun harus di tunda." ucap Albi sangat bersyukur karena dia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri jika terjadi apa-apa dengan Hanna dan calon anaknya.
Sedangkan di sisi lain Hanna sudah di pindahkan ke kamar rawat.
Wajah pucat mendominasi paras ayunya.
Albi masuk ke dalam kamar rawat setelah meminta pada Ikhram untuk bertemu dengan Hanna yang terakhir kalinya jika Hanna yang meminta.
"Sayang..maafin aku, maafin papa sayang..jika kamu ingin papa pergi,papa akan lakukan.Tapi, papa mohon bujuk mama jangan lama marahnya sama papa.Papa nggak sanggup hidup tanpa kalian."ucap Albi dengan tangisnya yang terlihat pilu.
Berulang kali dia mengecup punggung tangan Hanna dengan mengucapkan kata maaf padanya.
"Emmmhhh.." terdengar lenguhan Hanna yang terbangun dari pengaruh obat bius tadi.
"Sayang, Alhamdulillah kamu akhirnya bangun juga.Maafin aku ya ..aku nggak bisa memaafkan diri ku sendiri jika sampai terjadi apa-apa sama kamu juga calon anak kita." ucap Albi dengan berkali kali mengecup tangan Hanna.
"Pergi...aku mohon, jangan pernah muncul lagi di sini..pergi.." usir Hanna setelah melihat siapa yang ada di samping nya saat ini.
Mendengar penuturan Hanna,Albi pun memejamkan matanya dan membukanya kembali.
"Baiklah kalau itu mau kamu aku akan menjauh dan aku minta jangan halangi aku untuk mengetahui kabar kalian.Jangan jadikan aku pria yang tak bertanggung jawab bahkan ayah yang buruk untuk anakku Han,aku mohon bertahanlah. Aku pastikan semua akan baik-baik saja." ucap Albi.
Hanna tak menjawab sama sekali ucapan Albi.Setelah mengatakan jika dirinya akan kembali ke Jakarta dan akan kembali menemui Hanna jika memang semuanya sudah memungkinkan.
Hanna menatap punggung Albi yang kian lama kian menjauh dan akhirnya tak terlihat lagi setelah terhalang pintu yang kembali tertutup.
__ADS_1
"Maafkan aku mas,mungkin ini yang terbaik buat kita terutama kamu dan mba Rossa.Maafkan mama sayang, kita pisah dulu sama papa yah,maafin mama yang egois karena tak ingin berlama-lama dengan papa." gumam Hanna dengan mengusap lembut perutnya yang masih rata.
Bersambung.